Viola

Viola
74


__ADS_3

Di sinilah mereka sekarang, cepat sekali mereka saling akrab. Apalagi Awan dan ayah mertuanya yang memang rekan bisnis. Tunggu dulu!!!.


"Proyek pembangunan cabang pusat perbelanjaan dan hotel yang ada di kota T kapan di lakukan kembali???". Andreas yang memang ikut menanam saham malah membahas pekerjaan.


"Rencana nya mungkin dua atau tiga pekan lagi, Tuan. Yaaaahhh.. tahu sendirilah korupsi bahan bangunan yang di lakukan oleh anak buahku sendiri tidak main main, Empat ratus milyar itu tidak sedikit, Tuan. Belum lagi saya harus merombak total bangunan yang sudah setengah jadi itu demi keamanan konsumen, sebab mereka menyalahi aturan takaran penggunaan material. Kerugian yang saya dapatkan begitu luar biasa banyaknya, Tuan!!". Awan malah mencurahkan isi hati nya.


"Bagus itu, daripada kita bermasalah nantinya. Lebih baik di perbaiki sejak awal. Soal biaya coba kita rembukan dengan para investor, tentu mereka pasti mau ikut andil dalam masalah ini!!".


"Ayah, ini bukan di kantor!!". Deandra ternyata telinga nya risih mendengar obrolan mertua dan menantu yang baru dipertemukan beberapa menit yang lalu itu.


"Hahahaha iya. Mulai hari ini, panggil aku Ayah, Nak Awan!!. Aku mertua mu. Hahaha padahal kita sering bertemu, entah di kantor ataupun di lapangan. Kenapa kamu tidak bilang bila kamu itu suami dari putri ku??". Andreas menepuk bahu rekan kerja nya, ehh menantunya.


"Iya, Tuan. Ehh maksud saya Ayah!!!". Jawab Awan.


"Nah begitu, masak kalian malah membahas pekerjaan!!!". Deandra menggelengkan kepalanya.


"Mana yang kakak dan mana adiknya ini cucu cantik ku???". Fokus Andreas beralih pada kedua gadis cantik yang sedang bermanja-manja dengan istri nya.


"Shasha adalah putri sulung ku, Ayah!!!. Dan Viola adalah adiknya!!". Ana menjawab dengan tersenyum.

__ADS_1


"Yang satu mirip ibunya yang satu mirip ayahnya. Cantik semuanya!!!". Andreas mengacak rambut kedua gadis itu.


"Sebenarnya, Shasha adalah anak ku dari mendiang istri ku, Ayah!!!". Awan menyela.


"Maksudnya, dulu kalian menikah namun posisinya kamu itu duda gitu???. Tidak masalah. Shasha akan aku anggap sebagai cucu kesayanganku juga!!!". Andreas berkata dengan tulus dari hati nya sambil membawa Shasha kedalam pelukan hangatnya.


Ana berdiri dari duduknya lalu menghampiri ayahnya dan bersimpuh di kakinya.


"Ayah, maafkan aku. Aku pergi begitu saja. Aku meninggalkanmu dan membuatmu bersedih sepanjang waktu. Maafkan kesalahanku, Ayah!!!!". Andreas langsung membawa Ana kedalam pelukannya sambil mengecup puncak kepala putri bungsunya itu dengan penuh kasih sayang, bahkan beberapa bulir air mata jatuh ke pipinuya. Ana menangis sejadi jadinya. Hingga Deandra yang sedari tadi bergurau dengan kedua cucu cantiknya kini menghampiri putri bungsunya itu.


"Sudahlah, Sayang!!!. Lupakan masa itu. Kamu pulang, kami sudah bahagia. Mungkin saat itu pilihan pergi dari rumah adalah pilihan yang terbaik buat kamu. Kami tidak akan mengungkitnya. Yang terpenting adalah, kamu baik baik saja. Bahkan kehidupanmu juga baik. Satu lagi, terimakasih kamu sudah memberi kami dua orang cucu yang sangat cantik dan manis seperti mereka!!!". Deandra ikut nimbrung memeluk Ana.


Suasana di tempat itu sangat mengharukan, sehingga Awan dan kedua putrinya ikut menangis menyaksikan sebuah pemandangan di hadapan mereka.


"Ayah, maafkan aku!!!!". Ana malah kembali menangis.


"Tentu sudah kami memaafkanmu, Sayang!!!". Andreas mengecup dahi putrinya.


"Kemana kah kamu dan apa yang terjadi selama ini, Ibu yakin kamu berada di tempat yang aman dan dengan situasi yang baik. Apapun yang terjadi dan masalah apapun yang kamu hadapi dan kamu alami, kami berada di pihakmu. Sesalah apapun kamu, kami tetap mencintaimu. Kami tetap percaya kepadamu, sejak manusia lahir kedunia ini pun sudah membawa dosa. Banyak memang gosip di di kalangan keluarga kita bahkan hingga sampai ke telinga kolega bisnis ayahmu juga tentang kabar kamu yang pergi dari rumah, Sayang. Tapi, Ibu lebih tetap membela kamu. Kamu anak Ibu!!". Deandra memeluk semakin kencang tubuh putri bungsunya.

__ADS_1


"Maafkan, Aku. Ibu!!!". Ana kini bertelut di kaki Ibunya.


"Sudah. Kami sudah memaafkanmu, Sayang!!!". Deandra mengecup wajah putrinya berulang kali


Sedangkan Awan, hanya diam. Sebab Ia tidak tahu menahu tentang masa lalu istrinya. Karna memang bukan urusannya. Sebenarnya Awan juga terkejut, Istrinya ternyata bukan orang sembarangan. Di lubuk hatinya dia juga penasaran dengan peristiwa apa yang mengharuskan apa tadi??? Ana pergi atau lebih kasarnya itu, minggat dari rumah orangtuanya?????. Dan satu lagi, Tina adalah nama Ana. Tina Hermantyo????. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Tidak!!!. Bahkan sangat tidak asing di telinganya. Nama Tina Hermantyo itu.


"Tina Hermantyo????". Awan menyela dengan ragu.


Semua mata dan perhatian kini jatuh kepada Awan.


"Iya, Ana Christina Hermantyo!!. Aku Ana, aku juga Tina. Di masa laluku aku adalah Tina!!!". Ana dengan sungguh sungguh. Sebab itu memang namanya.


"Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu???". Awan berkata dengan ragu.


"Dia putri bungsu keluarga Hermantyo. Benar bahwa kamu tidak asing. Di dunia bisnis, Ara dan Tina Hermantyo sangat di kenal sebagai pewaris Hermantyo. Aku adalah Andreas Hermantyo!!". Andreas menjawab keraguan Awan.


"Jadi???.. Investor terbesar proyek kita adalah anda sendiri, Tuan Hermantyo????". Awan malah gugup sendiri.


"Ayah!!!. Panggil Tuan Hermantyo yanga ada di depan mu ini dengan sebutan 'ayah'!!!". Andreas memeluk Awan yang semakin mematung saja.

__ADS_1


"I iya!!!". Awan semakin gugup.


"Takdir yang mempertemukan kita. Soal aku berinvestasi pada proyek itu adalah, karena aku tertarik dengan proyek rancanganmu dan keuntungan jangka panjangnya tentunya. Bukan karena hal lain. Dan ternyata kamu adalah menantuku. Kita bisa bekerja sama lebih dalam lagi dalam mengatasi kasus di proyek kita. Jangan canggung. Dan jangan sebut aku dengan nama Tuan Hermantyo bila di luar. Biarkan pemilik Hermantyo Corp menjadi rahasia. Sebab aku adalah Andreas Herman yang hanya mengurusi sebagian kecil usaha yang di ketahui publik!!!". Andreas mewanti wanti menantunya.


__ADS_2