Viola

Viola
72


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, Acara pertunangan antara Shasha dan Yoga juga sudah di gelar. Kini kita kembali ke cerita Vio dan Andika.


Libur semester genap sudah tiba. Viola berhasil mendapatkan nilai terbaik dalam ujian kenaikan kelas.


Hari ini anggota keluarga Awan telah di sibukan oleh persiapan akan pergi keluar kota. Kota Z yang akan menjadi tujuan mereka. Ana rindu dengan kedua orangtua serta saudari perempuannya yang sudah sangat lama Ia tinggalkan.


"An, apa yang kamu pikirkan???". Awan menegur Ana yang nampak melamun di ruang tengah bangunan itu.


"Aku ragu dan takut, Mas!!". Ana berkata sambil memainkan jari jari tangannya.


"Jangan takut. Aku akan ada di sisi kamu!!!". Awan menenangkan istrinya.


"Aku sebenarnya itu lebih takut bila bertemu dengan ayah Vio, Mas!!!". Ana malah semakin gelisah.


"Kenapa takut???, Walaupun mantan suamimu ada di kota itu, belum tentu kita bertemu kan???". Awan memeluk Ana yang sedari tadi bergulat dengan rasa takut dan ragunya.


"Rumahnya berada pada kompleks yang sama dengan rumah orangtuaku!!". Ana bergumam di pelukan suaminya.


"Bila saat ini takdir Vio akan bertemu dengan Ayahnya, maka kita juga harus mempertemukan mereka. Vio membutuhkan sosok Ayah kandung dalam hidupnya. Walaupun ada aku, tapi aku yakin bahwa anak itu pasti merindukan sosok laki laki yang darahnya mengalir di dalam tubuhnya. Berdamailah dengan masa lalu. Aku tidak masalah, dan juga tidak akan cemburu. Bagaimanapun juga aku harus menerima masa lalu kamu apapun itu konsekuensinya!!!".


"Iya, Mas. Terimakasih!!". Ana masih mempertahankan fakta tentang bagaimana masa lalunya.


"Sekarang, kamu panggil anak anak!!!. Aku akan memasukan tas ini ke mobil". Awan melepaskan pelukannya lalu membawa sebuah tas berukuran sedang yang berisi pakaian ganti mereka ke dalam kendaraannya.


Sedangkan Ana bergegas naik ke atas untuk memanggil kedua putri cantiknya.


Beberapa saat kemudian, anggota keluarga Awan telah bersiap untuk berangkat dengan formasi tempat duduk, Awan yang mengemudikan dengan Ana di sampingnya sedangkan Shasha duduk di belakang bersama Viola.


"Sebelum berangkat, kita berdoa dulu. Mari Ayah hantarkan. Puji syukur kami naikan ... ... ... ... ... ..................... Amin!!". Awan memimpin doa.


"Lokasinya tinggal ngikut rute yang ada di google map, Mas!!!". Kata Ana.


"Iya, An!!!". Awan tersenyum lalu mulai melajukan kendaraannya.


Perjalanan mereka di selingi oleh canda tawa mereka, hinga tidak terasa mereka sudah menempuh perjalanan selama 4 jam. Karena Awan merasa lelah mengemudi, mereka beristirahat sejenak di sebuah rest area di kota Q sambil membeli makan siang, walau ini sudah terlewat jadwal makan siang.


"Masih jauh lagi ya, Bu???". Vio membuka keheningan.


"Iya, ini baru separuh perjalanan. Palingan kita nyampenya malem, sayang!!". Ana menjawab.


"Jauh juga ya, Bu ternyata????". Vio mengangguk tanda setuju.


"Eh kok kamu tadi nggak lihat google map sih, Mas???". Ana baru sadar, bahwa jalan yang baru saja mereka lalui memang tidak sesuai dengan rute yang tertera pada petunjuk arah yang ada di ponsel pintarnya.


"Sebenarnya, Kota Z adalah kota kelahiranku. Setelah selesai kuliah, aku baru pindah ke kota X sedangkan kedua orangtuaku sekarang menetap di Prancis". Awan menjelaskan.

__ADS_1


"Oh seperti itu???". Ana mengangguk tanda mengerti.


"Kalian berdua makan yang banyak. Setelah ini kita tidak berhenti di Rest Area lagi. Ayah usahakan sebelum petang kita sudah sampai. Jadi, belilah makanan atau apapun yang kalian butuhkan selama perjalanan di minimarket sebelah sana!!!". Awan berbicara kepada kedua putrinya yang sedang melahap seporsi menu makan siang itu.


"Iya Ayah, aku ingin beli camilan sama minuman sari buah. Setelah ini selesai, ayo kesana, Dek!!!". Jawab Shasha sambil menyenggol lengan adiknya yang duduk di sebelahnya.


"Boleh, aku juga mau beli, Kak!!". Vio meladeni.


Di tengah tengah istirahat mereka, suara ponsel mengejutkan mereka.


"Kak Andika". Vio bergumam.


"Angkat saja, nanti khawatir loh!!!". Shasha tersenyum jahil ke arah adiknya.


"Halo?". Suara Vio menjawab panggilan suara dari kekasihnya.


"Halo!. Udah nyampe mana, Sayang??". Suara Andika terdengar khawatir.


"Kami berhenti dulu di Rest Area daerah Q. Kata Ayah, sebelum petang sudah sampai!!". Viola menyahut.


"Oh!!". Suara Andika terdengar lega, panggilan teleponnya terhubung. Sebab sedari tadi nomor ponsel Vio tidak bisa di hubungi. Entah karena apa.


"Iya!". Jawab Vio singkat.


"Ini aku baru selesai makan!!". Jawab Vio.


"Oh!!". Sahut Andika.


"Iya!!". Jawab Vio singkat.


"Kamu nggak bertanya apa aku udah makan atau belum gitu, Sayang???". Suara Andika terdengar kesal sebab Vio terlewat cuek.


Vio menghela nafasnya dengan kasar.


"Kamu sudah makan atau belum?????". Kata Vio dengan suara yang di buat semanis mungkin.


"Sayangnya mana???, kok nggak pakai sayang???". Andika sedikit merajuk.


Vio kembali menghela nafas kasar. Eh maksudku sangat kasar malah. Sambil memutar matanya malas.


"Ekhemm... Maksudku, Apa kamu sudah makan, Sayang???". Vio yang kesal memaksakan suaranya agar terdengar semanis mungkin. Jangan hiraukan Ayah, Ibu dan Kakaknya yang diam diam memperhatikan raut wajah Vio yang terlihat sangat kesal itu.


"Heheehehehehehe... Sudah tadi sayangku!!". Andika terkikik sendiri.


"Oh!!". Sahut Vio.

__ADS_1


"Sayang, aku kangen ih!!!". Suara Andika terdengar manja.


"Apaan sih??, lusa aku juga sudah pulang!!". Jawab Vio sambil menyembunyikan wajah merahnya.


"Kamu nggak kangen aku, sayang????".


"Iya!". Jawab Vio singkat.


"Iya apa, sayang???". Andika malah menggoda Vio.


"Iya itu tadi!!!". Jawab Vio sambil salah tingkah tidak sadar bahwa sedari tadi Ia sudah menjadi tontonan ketiga anggota keluarganya.


"Apa, Sayang???". Pertanyaan Andika membuat Vio semakin salah tingkah.


"Kangen!!". Jawab Vio sambil tersipu malu.


"Ekhem!!!". Awan berdehem lumayan keras, sedangkan Ana hanya geleng geleng kepala dan Shasha tertawa cekikikan, lalu Viola????. Wajahnya semerah cabai busuk sekarang, ingin rasanya ia menenggelamkan wajahnya pada segelas es teh manis yang ada di hadapannya.


Andika???. Dia menampilkan senyum lima jarinya, berhasil menggoda kekasih hatinya. Sebab Ia sangat yakin bahwa Vio sekarang pasti sedang tersipu malu, apalagi suara dehaman Awan terdengar sampai ke telinganya.


"Sudah, aku matikan dulu ya!!!". Vio berkata, setelah menetralkan nafas dan detak jantungnya.


"Kok kamu menghilangkan kata sayang lagi???". Andika ternyata tidak berhenti untuk membuat Vio merona.


"Aku matikan dulu ya, sayang teleponnya. Mau berangkat lagi ini!!!". Vio berkata dengan lirih.


"Iya, tetep hubungi aku. Jangan di nonaktifkan ponselnya. Biar aku nggak khawatir!!". Andika mewanti wanti.


"Iya, sayangku!!!". Jawab Vio lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Tidak peduli pada Andika yang pasti saat ini sedang nggedumel tidak karuan.


..


"Sayang, yang , sayang. Hahahahahaha!!". Shasha sangat puas menjahili adiknya itu.


"Apaan, sih kak????". Wajah Vio semakin merah.


"Kangen uluh uluhh... Pisah belum ada dua hari, udah kangen!!. Hahahahhaha!!". Suara Shasha terdengar semangat dalam membully adiknya.


"Ihhh apaan sih, Kak??". Vio menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Sudah!!!. Kalian jadi ke minimarket sebelah sana, atau tidak???. Kita akan berangkat lagi!!!". Awan beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Ayah!!!". Kedua gadis cantik itu akhirnya berdiri dari duduknya lalu menuju minimarket.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2