Viola

Viola
61


__ADS_3

Andika rela di hajar oleh Ayahnya asalkan kehidupan Adik perempuan satu satunya itu bahagia. Andika selalu melindungi Rani, Rani sangat berharga baginya. Bukan masalah besar Andi mengakui kesalahan yang di perbuat oleh adiknya. Bukan sekali dua kali seperti itu.


"Maharani, cepat katakan apa maksud dari perkataanmu itu atau perlu ayahmu Paman panggil kesini????". Gertak Dev.


"Kak Andi tidak bersalah, Paman. Ini semua salahku. Aku yang kebablasan dan Kak Andi hanya membantuku!!!!". Rani mengakui kesalahannya.


"Apa yang kamu katakan, Maharani???". Andi mendesis namun masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di tempat itu.


"Sudah cukup bagi Kakak untuk melindungi aku dan mengakui segala kesalahanku!!!".


Dev hanya diam dan menatap tajam ke arah Rani yang sudah Ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri sambil mengotak atik ponselnya.


"Sandy, cepatlah ke Mansionku!!!!".


"Ada apa, Kak???".


"Cepatlah. Aku tunggu di kamar Andika!!!".


Dev kemudian memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


"Hubungi laki laki itu sekarang!!!". Dev memberikan perintahnya sambil menatap tajam ke arah Rani.


"Tolong jangan di hajar lagi, Paman!!!. Kakak sudah menghajarnya kemarin!!!. Lagi pula dia nggak bersalah. Ini semua salahku!!!". Rani memohon kepada pamannya dan tidak menghubungi Rey.


Beberapa saat kemudian,


"Kakak, apa yang terjadi???". Sandy terkejut melihat Andi dengan wajah babak belur dengan baju bernoda darah sedang terbaring di atas tempat tidur.


"Tanyakan sendiri saja pada putrimu itu!!!". Dev menunjuk ke arah Rani yang sedang menangis di kaki Andi.


"Maharani, ada apa ini sayang??". Tia mendekat pada putrinya.


"Maafkan aku, Mah. Aku...". Rani mencoba mengakuinya, namun.


"Diamlah kamu, Maharani!!". Andi kembali mendesis.


"Diam kamu Andika!!!". Rendra yang sedari tadi diam kini bersuara.


"Nak, diamlah. Bila kamu benar benar mencintai putriku!!". Awan berkata dengan lembut kepada Andi.


Akhirnya Andi pun diam dengan posisi masih di peluk Viola.


"Awan, ku mohon. Ceritakan semuanya pada ku, ada apa ini sebenarnya!!!". Sandy berbisik pada Awan lalu mengajak Awan untuk keluar.


"Baiklah!!!". Awan mengikuti langkah Sandy.


.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, Sandy masuk kembali bersaman Awan.

__ADS_1


"Sayang, hubungi laki laki itu sekarang!!!". Sandy berkata lembut ke telinga putrinya dan memendam kekecewaannya pada putri tunggalnya itu.


"Pah, dia nggak bersalah!!".


"Sayang, hubungi dia sekarang. Atau Papa dan Paman Dev akan mencari sendiri. Kamu tidak ingin kan??". Sandy mengelus surai putrinya.


"Tapi jangan di hajar, Pah!!!. Dia sudah cukup babak belur di hajar Kakak kemarin!!!". Rani menatap Sandy dengan penuh harap.


"Kapan Papamu ini suka menghajar orang, hem????". Ucap Sandy dengan halus.


"Ada apa ini sebenarnya, Pah???". Tia belum tahu apapun.


"Sekarang hubungi dia untuk datang kemari, sayang!!!". Sandy mengabaikan pertanyaan Istrinya.


"Pah, sungguh dia tidak bersalah!!!". Rani menangis.


"Andika, katakan padaku siapa laki laki itu!!!". Dev kembali bersuara.


Andi hanya diam.


"Katakan atau aku akan menghajarmu lagi!!!!". Dev menarik kerah baju Andika.


"Jangan, Paman. Baik. Aku akan menghubunginya!!!". Rani dengan gemetar mulai mengotak atik ponselnya.


Setelah dering ke tiga, sambungan telepon itu terhubung.


"Halo sayang???". Jawab seseorang di seberang sana.


"Hikks hikss ha lo cep pat hikss ke man si on hiks hiks ka kak!!!".


"Cep pat ke si ni hikss hikss hiks!!!".


"Iya, aku jalan sekarang!!!".


tut tut tut tut Rey menutup telepon secara sepihak.


"Kita tunggu di bawah saja!!". Dev keluar dari ruangan itu di ikuti Rendra dan Rima.


"Sayang, kita tunggu orang itu di bawah saja!!!". Sandy menarik tangan Rani keluar dan Tia mengekor di belakang tanpa tahu ada masalah apa sebenarnya.


Tersisalah Awan dan Vio yang menemani Andika yang terbaring lemah.


"Nak, mengapa kamu melindungi adikmu hingga mengorbankan dirimu????". Awan mengelus surai Andi.


"Ayah Awan, Maafkan aku. Rani adalah satu satunya saudara yang aku miliki dan aku sangat menyayanginya!!". Kata Andi dengan lirih.


"Niatmu melindungi adikmu benar, Nak. Tapi kali ini tidak tepat, Adikmu berbuat dosa sama saja kamu juga ikut masuk dalam dosa itu!!. Suatu saat adikmu pasti akan mengulangi lagi, dan kamu ikut menanggung dosa itu. Sebab kamu tahu???, dosa zina itu memabukkan dan membuat pelakunya kecanduan!!!". Awan menasihati Andika dengan pelan.


"Maafkan aku, Ayah!!!". Andi menangis dalam diam. Merenungi bahwa apa yang di katakan oleh Awan adalah benar.


"Untuk hubungan kalian, pertahankan!!. Menikahlah di saat usia dan pikiran kalian sudah benar benar matang. Saya tunggu Andika datang kepada saya untuk melamar Viola!!". Kata Awan.


"Iya Ayah!!!". Jawab Andika dan Viola bersamaan.


"Saya percaya kamu akan menjaga Viola dengan sungguh sungguh, Nak!!!". Awan kembali mengelus kening Andi.


________________

__ADS_1


Di ruang utama Mansion itu, Rendra, Dev dan Sandy sedang menunggu seorang laki laki yang telah Rani hubungi tadi.


"Mohon maaf, Tuan besar!!". Seorang pelayan menghadap.


"Katakan!!!". Rendra menanggapi pelayan itu.


"Ada tamu di depan, Tuan!!!". Jelas pelayan itu dengan kepala yang menunduk.


"Suruh dia kemari!!!". Perintah Rendra.


"Baik, Tuan!!!". Pelayan itu melaksanakan perintahnya.


"Dev, jangan berbuat kasar pada laki laki itu!!. Biarkan aku yang mengurusnya!!!". Rendra mewanti wanti Dev.


"Baik, Ayah!!!". Dev tunduk pada ayahnya.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, munculah seorang laki laki yang seumuran dengan Andika masuk ke ruang utama rumah itu dengan diantarkan oleh seorang pelayan yang tadi sempat menghadap Rendra.


"Reyhan!!". Dev mengenali pemuda itu.


"Mohon maaf saya di hubungi oleh Maharani untuk datang kemari, Tuan!!!". Rey menundukan kepalanya.


"Kamu adalah kekasih Maharani??". Sandy mendekati Reyhan sambil berkata dengan lembut.


Walaupun Devanendra dan Sandy adalah saudara kembar, wajah mereka tidak mencerminkan bahwa mereka itu kembar, sifat dan sikap mereka juga malah bertolak belakang. Hanya kepintaran mereka sajalah yang terlihat kembar. Bila di tanya apakah Sandy marah pada Rey, pasti jawabannya adalah benar. Sandy marah. Namun buat apa marah, marah bukanlah sebuah solusi namun hanya menambah masalah saja.


"Mohon maaf, Tuan atas kesalahan saya!!!. Saya akan bertanggung jawab!!!!. Mohon maaf Tuan, saya lepas kendali dan melakukan yang tidak seharusnya saya lakukan!!!". Rey sangat ketakutan hinga Ia gemetaran.


Plakk!.


Sebuah tamparan meluncur begitu saja di pipi Rey yang masih terlihat memar itu.


"Kamu yang sudah melakukan perbuatan tidak terpuji pada putriku???". Tia yang baru muncul bersama dengan Rani langsung menampar pipi Reyhan. Ia sudah mengetahui masalah yang sebenarnya, kini tampak sangat marah.


"Maafkan saya, Tante. Saya akan bertanggung jawab!!!". Rey berlutut di kaki Tia sambil menangis.


"Tia, tenanglah!!". Sandy tiba tiba memeluk Tia dari belakang untuk menenangkan kemarahan istrinya itu.


"Reyhan, bangunlah Nak!!. Hubungi orangtuamu, saya tunggu di sini siang ini jam 2!!!". Sandy memberikan perintahnya.


"Ba baik, Tuan!!!". Jawab Rey.


"Pergilah, saya tunggu!!!. Bila sampai jam 2 kamu dan orang tuamu tidak datang, saya tidak akan segan segan untuk menghancurkan hidupmu dan keluargamu!!!". Kata Sandy dengan penuh penekanan di setiap kata katanya.


"Ba baik, Tuan. Saya pamit undur diri!!!". Rey bergegas meninggalkan tempat itu.


__________________


...****************...

__ADS_1


__ADS_2