Viola

Viola
16


__ADS_3

Di dalam toilet, Vio merintih kesakitan. Kakinya yang tadi hanya lecet sedikit, kini malah keluar darah hingga merembes ke luar dan menjadikan kaus kaki panjang putihnya terkena noda merah itu. Ulah ketiga siswi tadi memang keterlaluan. Mendorong Vio hingga terjatuh lalu menguncinya dari luar.


Ingin meminta bantuan pun Ia tidak bisa, bagaimana tidak??? Ponselnya tertinggal di meja kantin sedangkan mau berteriak pun tidak mungkin ada yang mendengar teriakannya. Sebab seluruh fasilitas di Sekolah ini di lengkapi dengan dinding yang kedap suara.


Sudah beberapa puluh menit berlalu, hingga Vio mendengar suara bel berbunyi dari speaker kecil yang terpasang di sudut toilet.


Kakinya sangat perih dan nyeri, hingga tak sadar Ia mengeluarkan air matanya.


Di lain tempat, Rani dan kedua temannya masih mencoba membuka kunci toilet dengan paksa, walaupun hasilnya nihil.


"Kalian kembali saja ke kelas, biar ini aku yang mengurus!!". Andi berseru sambil berjalan tertatih.


" Tapi, Kak???". Rani seakan berat hati untuk meninggalkan tempat itu.


"Ini tanggungjawab Kakak. Kamu tenang saja, Vio pasti baik baik saja. Kakak akan mengambil kunci duplikatnya di ruang OSIS!!". Andi menyakinkan mereka.


" Iya, Kak!!". Jawab mereka bertiga bebarengan.


"Oh iya, tolong sampaikan ke guru yang mengajar di kelah Vio, bila Vio sekarang sakit di UKS!!!". Andi berkata pada mereka bertiga.


" Iya, Kak. Kebetulan aku sekelas sama Vio!!!". Feli menyahut.


"Yaudah, sana kembali!!!". Andi mengusir mereka bertiga.


Setelah Rani dan kedua temannya pergi, Andi mengeluarkan kunci duplikat yang ada di saku celananya.


____________


#Flashback.


Tadi dia pamitnya kemana????, Bukankah kalian berempat selalu sama sama???". Andi masih menyembunyikan kepanikannya.


"Ke toilet, Kak!!!!, Tapi saat kami mencarinya disana, ternyata toiletnya rusak!!!". Rani menjelaskan.


" Haahhh??? nggak mungkin. Karena tidak ada pemberitahuan di grup kesiswaan!!!". Andi menunjukkan grup Chat dari ponselnya.


"Bisa jadi???". Feli berlari menuju toilet yang katanya rusak tadi dan di susul oleh ketiga temannya, sedangkan Andi menyusul jauh di belakang dengan tertatih.


Andi berhenti sejanak, mengambil ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang.


" Halo, Ray??".


....


"Tolong ambilkan duplikat kunci dengan kode 003A di ruanganku!!".


...........


" Cepat, aku tunggu di depan Koperasi sekolah!!!".


.............


"Bagus!!".


tutt tuttt tuttt


Tidak sampai 5 menit, Ray datang sambil membawa sebuah kunci duplikat di tangannya.


" Bagus, pergilah dan katakan pada guru piket bahwa aku ijin pulang duluan!!!".


"Oke, Boss!!!". Ray terlihat patuh pada Andi.


#Flashback off.


______________


Andi membuka pintu itu hanya dengan sekali percobaan menggunakan kunci duplikat di tangannya. Ia dengan langkah tertatih, meneliti beberapa bilik untuk mencari keberadaan Vio. Dan benar, Andi menemukan Vio yang sedang terduduk di lantai sambil menangis dan merintih kesakitan di dalam bilik nomor 4.


"Viola??". Andi mendekati Vio.

__ADS_1


" Kak Andi???". Vio refleks mendongakkan wajahnya dan menatap Andi.


"Kaki kamu berdarah!!!. Ayo Kakak obati di UKS!!!". Andi mengulurkan tangannya.


" Iya, Kak!!!".


"Mari Kakak bantu kamu berdiri!!!. Pelan pelan!!!". Andi menarik tangan Vio.


" Terimakasih, Kak!!!".


"Iya, ayo ke UKS!!!".


________________


Sesampainya mereka di UKS, Andi mengambil kotak P3K yang terletak di meja samping tempat tidur.


" Maaf, Kakak buka dulu ya kaus kaki kamu!!!". Andi melepaskan kaus kaki Vio yang terkena noda darah itu dan Vio hanya meringis karena luka di kakinya sangat perih akibat kain kaus kaki itu sudah sedikit kaku terkena darah dan perban yang di pasangkan Andi tadi pagi malah menempel pada luka itu.


"Maaf ya kalau sakit!!!". Andi tidak tega melihat wajah Vio yang menahan sakit.


" Iya, Kak. Nggak papa!!!". Vio memejamkan matanya.


"Aduhhhhhh pelan pelan Kak!!!!. Perihhhhhh!!!". Vio menjerit kala kapas basah itu menyentuh luka di kaki Vio.


" Ssssttttt.... Iya ini Kakak pelan pelan!!!!". Andi tetap telaten membersihkan luka Vio.


"Sudah Kak, ini perihhh bangettt!!!". Vio mengeluarkan air matanya.


" Diamlah, ini bila tidak di bersihkan pasti infeksi!!!". Andi tidak berhenti.


.


.


"Sudah, tinggal di balut perban!!!". Andi kemudian menggunting kain kasa untuk menutupi luka itu.


Vio hanya diam. Merasakan kenyamanan yang hinggap di relung hatinya.


"Sebentar, Kakak belikan kamu kaus kaki baru di koperasi. Kamu pakai ukuran apa???".


" L , Kak. Kalau tidak ada ya XL nggak papa!!!".


"Oke!".


"Terima kasih ya, Kak!!!".


" Iya sama sama!!!".


Beberapa saat kemudian, Andi kembali sambil membawa sepasang kaus kaki baru di tangannya.


"Sini aku pakaikan!!!". Andi menyentuh kaki Vio.


" Aku bisa sendiri, Kak!!!".


"Ssttttt... Sekalian biar aku yang pasangkan". Andi memasangkan kaus kaki di kaki Vio yang terluka dengan hati hati. Sedangkan Vio hanya diam.


"Kaki kakak sudah membaik belum????". Vio bertanya.


" Sudah kok, tinggal nyerinya saja!!!".


"Syukurlah!!!". Vio tersenyum setelah mendengar jawaban Andi.


" Kamu mau pulang sekarang???? Biar aku antar. Nanti sekalian aku nebeng, hehehe kan motorku ada di bengkel!!".


"Heheehe iya, terserah kakak saja, toh ini juga sebentar lagi bel pulang sekolah berbunyi!!!".


" Yaudah, Ayok. Nanti biar barang barangmu Rani yang urus ponselmu juga ada sama dia. Nanti biar aku hubungi dia!!!".


"Iya Kak terimakasih!!".

__ADS_1


" Ayok sekarang saja, jalan pelan pelan!!!". Andi membantu Vio berjalan sampai tempat parkir.


____________________


"Rumahmu dimana Vi????". Andi bertanya saat mereka mulai meninggalkan gerbang sekolah.


" Di Jalan Cendrawasih, Gang Mawar Kak!!!". Vio menjawab singkat.


"Baik, Sebentar biar aku hubungi sopirku untuk jemput aku di sana!!". Andi menghentikan kendaraannya di tepi jalan.


" Iya, Kak!!".


________________


Sesampainya di alamat yang di tunjukan Vio, ternyata sopir pribadi keluarga Andi sudah menunggu disana.


"Kak, terimakasih untuk hari ini!!!".


" Iya, Dek!!. Harusnya aku minta maaf, karena sudah membuat kamu kesusahan sepanjang hati ini!!!".


"Tidak perlu meminta maaf, Kak!!!. Ini kan kecelakaan, tidak ada yang merencanakan!!!". Vio menjawab.


" Sampai ketemu lagi ya, besok sekuter maticmu aku ganti!!!". Andi kemudian melangkah menuju mobilnya.


"Tidak perlu, Kak!!!". Vio berteriak.


" Ya sudah, besok uang ganti rugi servisnya aku ganti!!!". Andi memasuki mobilnya. Lalu mobil mewah itu pergi berlalu meninggalkan Vio.


______________


Vio memasuki gerbang megah rumah Awan, lalu menuju garasi untuk memarkirkan sekuter maticnya.


Dengan langkah tertatih, Vio memasuki rumah itu.


"Loohhh sudah pulang, Sayang????". Ana yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga, menegur Vio.


" Iya, Bu!!!!". Vio menghampiri Ana dengan tertatih tatih.


"Kaki mu kenapa, Sayang???? Kok jalannya gitu???". Pandangan mata Ana tidak lepas dari kaki Vio.


" Aku tadi di tabrak orang, Bu!!!".


"Lohhh kok bisa???". Ana kaget mendengar perkataan Vio.


" Ban motornya pecah terus oleng dan tidak sengaja menyenggol sekuter matic ku!!!".


"Terus gimana kejadiannya????". Ana menggeser tempat duduknya agar Vio bisa duduk di sampingnya.


" Sekuter matic ku kesenggol motor sportnya, lalu aku jatuh di trotoar dan tertimpa sekuter maticku". Vio menjelaskan.


"Kejadiannya dimana, Sayang??".


" Di jalan permai indah depan Mini market Indomei, Bu!!!".


"Mana yang sakit???".


" Cuma lecet kakiku. Semuanya aman, kan Aku pakai helm, sarung tangan dan jaket tebal, jadi cuma betisku yang kena trotoar tadi. Sudah di obati kok!!!". Vio menunjukan luka yang berada di balik kaus kakinya.


"Badan ku nyeri semua, mungkin karena syok tadi".


" Yasudah ayo kita ke dokter dulu!!!".


"Tidak perlu lah, Bu!!!".


" Sayang, setidaknya nanti bisa di beri obat nyeri yang sesuai. Sebentar Ibu ambil tas dulu. Kamu tunggu disini. Jangan membantah!!!". Ana berlalu menuju kamarnya.


"Iya, Bu!!!". Vio hanya pasrah.


_________________

__ADS_1


...****************...


__ADS_2