
#Andi POV
Aku belum ingin mengungkapkan perasaanku karena kebimbangan dan keraguan masih melimputi hati dan pikiranku. Aku belum berpengalaman saat Ini. Inilah kali pertamanya aku jatuh hati pada seorang gadis. Dan aku belum bisa membedakan apakah ini Cinta atau hanya sebatas kagum.
Sejak kejadian aku tidak sengaja menabraknya saat Ia mengantarkan lumpia di kantin sekolahku dulu, Aku merasakan ada hal aneh yang melingkupi hatiku. Aku selalu menunggunya di pintu gerbang sekolahku tiap pagi buta. Agar aku bisa sekedar bertegur sapa dengannya. Tiap pagi aku menunggu, namun aku tidak menjumpainya. Gadis manis berseragam SMP Negeri XX dengan wajah polosnya tanpa make up sedikit pun serta kaca mata minus yang bertengger di hidungnya, Jangan lupakan bahwa Ia membawa dua buah keranjang. Aku menunggu hingga waktu kelulusan tiba dan aku tidak lagi berjumpa dengannya. Aku tidak mengetahui dengan pasti alasan mengapa Gadis itu tidak datang mengantar lumpia ke kantin sekolah. Aku sampai bertanya pada Bu Ismi, Ibu kantin di tempatku bersekolah dulu. Namun aku tidak mendapatkan jawabkan yang aku inginkan.
Sampai satu tahun kemudian, aku bertemu dengannya di Sekolah menengah atas tempatku belajar saat ini. Dengan penampilan yang masih sama dengan hari itu bertemu, minus dua buah keranjang di kedua tangannya. Dia tampak manis dengan seragam putih abu abu yang memang sedikit longgar. Di tempat parkir yang begitu luas, Ia menuntun sebuah sepeda lipat sambil celingukan mencari dimana Ia bisa memarkirkan sepeda itu. Dengan rasa gugup luar biasa, aku menegurnya. Dan yang tidak pernah aku duga sebelumnya adalah, ternyata dia adalah sahabat dari sepupuku satu satunya. Dan dari sanalah aku mengetahui nama gadis itu. Viola.
Beberapa minggu Ia bersekolah di tempat yang sama denganku, aku selalu mengamatinya dalam diamku. Dapat kurasakan perasaan tenang di hatiku saat aku berada di dekatnya dan mengetahui kabarnya. Aku selalu menanyakan setiap hal tentangnya pada Rani, sepupuku.
Hingga suatu hari yang tak kusangka dan tak ku duga, diluar kendali dan rencanaku. Motor Sport yang ku kendarai ban nya bocor di saat aku melaju dengan kecepatan tinggi. Aku mencoba menghentikannya namun sialnya Saat motorku hampir berhenti di tepi jalan, malah tidak sengaja menyerempet sebuah sekuter matic yang berada di depanku.
Bruaaakkk...
Aku terjatuh dari motorku untung saja aku memakai perlengkapan keamanan berkendara, jadi hanya mata kaki kiriku yang terluka. Aku tengok pada seorang gadis yang jatuh di dekatku dengan posisi kaki orang itu ketindih sekuter maticnya.
Aku bergegas bangkit lalu menolongnya, biar bagaimana pun, ini salah ku. Dan aku harus bertanggung jawab. Sekuter matic itu sudah aku bangunkan kemudian ku ulurkan tanganku untuk menolong dia bangkit berdiri.
Setelah ku dengar suaranya mengucapkan terimakasih padaku, Jantungku merasa berhenti berdetak. Dia adalah gadis itu, Viola. Ku amati kondisinya, ternyata hanya betis kirinya lecet akibat bergesek dengan trotoar.
Syukurlah, dia baik baik saja.
Aku melanjutkan perjalananku ke Sekolah setelah memberbaiki sekuter maticnya di bengkel terdekat. Ini kali pertamanya aku sangat dekat dengannya, berboncengan denganya, walaupun Ia mungkin malu untuk sekedar memelukku.
Sesampainya di Sekolah, aku ajak dia ke UKS untuk sekedar mengobati lukanya dengan obat seadanya. Aku buka kaus kaki putih yang nampak kotor itu, ternyata benar, betisnya terluka walaupun darah hanya sedikit tapi itu terlihat sangat perih. Aku bersihkan luka itu dengan kapas dan cairan antiseptik agar tidak infeksi lalu aku tutup dengan perban agar luka itu tidak tergesek dengan kaus kakinya. Ini adalah kali pertama aku berada pada posisi sedekat ini dengannya. Ini pertama kalinya aku hanya berdua di sebuah ruangan tertutup. Tidak ada perasaan napsu terhadap lawan jenis atau gairah kotor sama sekali di otakku. Yang ada hanya kenyamanan dan ketenangan. Aku ingin sekali memeluknya, namun aku tidak ingin di cap sebagai laki laki mesum dan akhirnya dia membenci aku. Dia juga membersihkan luka di kakiku dan juga mengganti kaus kakiku dan kaus kakinya yang kotor.
Hari itu aku absen tidak masuk kelas, karena memang tubuhku sakit semua, kakiku rasanya kaku dan kepalaku sedikit pening. Aku hanya tiduran di bilik UKS hingga ada dua orang siswi yang histeris melihat aku tidur dengan posisi yang bisa di bilang cool.
Makin lama di biarkan, mengapa mereka sangat kurang ajar???. Wajahku di elus elus lalu tangan tangan itu mengelus dadaku dan kemudian turun ke perut. Sebelum tangan tangan lancang itu berjalan lebih turun, tangan tangan itu aku cengkram dengan satu tanganku hingga mereka meringis kesakitan. Aku pasang wajah sedingin mungkin hingga mereka berlari meninggalkan bilik UKS yang ku tempati.
__ADS_1
Huuuhhh... Hampir saja aku di lecehkan!!!. Ku hubungi Reyhan sekertarisku dan juga teman sekelas yang merangkap sebagai sahabatku. Aku mengabarinya tentang keadaanku sekarang. Dan Ia mengerti apa yang akan Ia lakukan. Aku memejamkan mataku, menikmati rasa sakit di seluruh badanku dan juga perih di kakiku hingga aku tertidur.
Braakkk
Aku kaget setelah pintu bilik UKS yang ku tempati di buka secara paksa. Dan nampaklah Rani dan dua temannya yang tidak ku ketahui namanya dengan wajah panik. Aku bertanya ada apa yang terjadi. Dan jawaban dari adikku bagaikan petir yang menyambar, Viola menghilang. Aku pasang raut muka sebiasa mungkin agar mereka tidak menyadari bahwa aku juga panik bahkan lebih panik dari mereka. Petunjuknya hanyalah, Vio pamit ke toilet di lantai dua namun saat mereka berniat menyusul Vio ke dalam bilik toilet, terdapat papan peringatan bahwa toilet itu rusak. Terlintas kekhawatiran di pikiranku, dan ku otak atik ponselku untuk melihat grup chat kesiswaan, dan ternyata tidak ada informasi bahwa ada toilet yang rusak di lantai dua. Aku mencurigai satu hal, namun harus ada bukti yang kuat terlebih dahulu.
Rani dan kedua temannya pun panik langsung berlari ke arah toilet tadi. Bukannya Sombong, Aku bisa menjadi ketua OSIS memang karena isi otakku yang cerdas. Baik itu akademik dan non akademik, berfikir secara rasional maupun menalar. Ku hubungi sekertarisku lagi untuk mengambilkan kunci cadangan di laci ruanganku, memang aku mempunyai kunci cadangannya di setiap pintu di sekolah ini. Reyhan datang sambil membawa satu kunci utama beserta 8 kunci biliknya dan menyerahkannya padaku.
Setelah sampai ke depan toilet itu, Rani dan kedua temannya sedang berusaha mendobrak pintu yang terkunci. Nahhh, sesuai dengan apa yang aku pikirkan kan????. Ku bujuk mereka agar kembali saja, dengan dalih aku akan menghubungi anggota OSIS dan akan mencari Vio hingga dapat. Mereka pun akhirnya kembali ke kelas.
Ku pakai kunci itu untuk membuka pintu besar itu dengan sekali percobaan. Berhasill!!!!. Toilet itu terdiri dari delapan bilik, jadi aku harus mencoba membuka satu persatu. Dan..... akhirnya kutemukan apa yang tengah ku cari, menangis dengan darah yang merembes keluar melalui luka di betisnya yang tadi memang sempat ku obati.
Ingin rasanya aku membopong tubuhnya dan ku bawa ke UKS namun, keadaan kakiku yang sangat nyeri belum lagi seluruh tubuhku juga merasakan hal yang sama. Alhasil aku hanya mengulurkan tanganku guna membantunya untuk berdiri.
Setelah aku selesai mengobati lukanya, aku menawarkan untuk mengajaknya pulang. Dan Ia menerima ajakanku, Aku pulang mengantarnya hingga di gang masuk perumahan elit. Aku sedikit curiga, apakah dia tinggal di perumahan itu???. Tapi mengapa penampilannya seperti itu???. Ahh sudahlah itu bukan masalah. Dan kulihat mobilku sudah terpakir rapi di tepi jalan dekat gang itu.
Ku hubungi Rani untuk mengantarkan ponsel dan tas Vio ke rumah Vio, dan juga untuk kutanya gimana keadaan sahabatnya itu.
Sore hari aku mencoba menghubungi Vio hanya sekedar menanyakan keadaannya, aku sangat mengkhawatirkan dia. Ku hubungi melalui fitur Video call pada aplikasi chat WA. Alahkah terkejutnya aku, wajah Vio sangat cantik, Putih bersih dan jauh dari kata dekil. Lalu, tunggu tunggu... Furniture kamar Vio jauh dari kata sederhana. Apa kiranya rahasia Vio???. Setelah basa basi sebentar, aku minta no rekeningnya untuk mentransfer sejumlah uang, walau awalnya menolak namun akhirnya aku dapatkan juga nomer rekeningnya. Saat hendak ku transfer, loohhh kok rekeningnya berasal dari bank yang sama dengan milikku????. Apakah hanya Vio pura pura dekil???.
Ya Tuhan... aku mencintai nya apa adanya, bukan karena rupa dan harta. Dan dua menit kemudian, aku mendengar suara Vio seperti menyahut ketukan pintu. Dan yaaaa.... Itu mungkin ayahnya. Dari suara yang kudengar, ayahnya bertanya mengapa ada saldo masuk begitu banyak. Dan yaaa aku tahu, ayahnya selalu memantau pengeluarannya. Sosok Ayah yang patut ku contoh. Hahahahahha.
Dan tunggu tunggu, ada notifikasi saldo masuk ke rekeningku. Ohhh astaga rupanya ayah Vio mengembalikan seluruh uang yang ku transferkan. Ya sudahlah.. mungkin besok suatu saat aku bisa mengembalikan dengan cara lain. Saat hendak ku matikan sambungan video call itu, ku katakan kata 'Love You' sambil kutatap wajahnya yang begitu cantik dan manis itu. Tapi rupanya dia tidak sadar, ahh untunglah.
Keesokan harinya, Aku mengubungi Vio lagi. Menanyakan keadaannya dan sedikit basa basi dengannya dan tak lupa juga ku katakan, 'Love you' dengan singkat, rupanya dia sadar, sebab ku bisa mendengar kegugupannya dalam menyahutku. Siaaalll siaaallll tanpa ku ketahui bahwa Rani sepupuku berada di tempat yang sama saat itu. Padahal aku terlanjur bilang padanya bila aku suka sahabatnya. Ohh Tuhan...... Ini di luar rencanaku.... Vio terlihat takut bertemu denganku, padahal aku hanya ingin mengklarifikasi secara langsung. Bukan maksud lain.
Ku ajak Ia ketemuan di luar gang perumahan tempatku mengantar dia kemarin, namun sepertinya dia enggan bertemu denganku.
Hingga Rani menghubungiku, Rani membantuku kali ini, dengan modal ponsel dia melakukan Video call tanpa memutuskan sambungannya denganku tanpa sepengetahuan Vio. Posisiku berada di luar pintu mobil Rani. Aku mendengar sebuah pengakuan yang mengejutkan untukku
__ADS_1
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu malu ketemu Kak Andi???". Rani menanyakan alasan Vio tidak mau bertemu denganku, tanpa di curigai.
" Lohhhh kok kamu jadi salah tingkah????. Oke, sebelum kamu keluar. Jawab dulu pertanyaanku tadi!!!".
"Sebenernya, aku malu. Eeeee sebenernya sih eee anu eee anu itu , eeee aku kaget denger pernyataan Kak Andi saat dia telpon kamu tadi. Tapi, eemm aku ahhh entahlah Ran!!!". Kalimat Vio terdengar tidak beraturan, yang membuatku penasaran.
" Sebenarnya kamu suka kan sama Kak Andi???".
"Iya kan, Vi???". Rani bertanya tentang perasaan Vio kepadaku????
" Aku nggak tahu. Di dekat dia dan mendengar suaranya saja aku merasa nyaman!!!". Oh Tuhan??? Apakah aku tidak salah dengar ini????. Jantungku berdetak sangat cepat, Apakah ini di namakan jatuh cinta tanpa bertepuk sebelah tangan?????.
"Sekarang kamu keluar, ya!!!. Kasihan Kak Andi kepanasan di luar!!!". Rani masih membujuk Vio untuk bertemu denganku. Tapi kenapa aku malah jadi sangat gugup???????.
" Tapi, Ran!!!!". Sepertinya Vio masih enggan bertemu denganku.
"Bukankah kamu nyaman berada di dekatnya?? Kenapa kamu enggan bertemu dengannya???".
" Emm aku, aku!!!". Vio sepertiny sangat gugup bila di dengar dari suaranya.
"Keluar sekarang, atau tidak sama sekali????". Rani yang lembut dan manis kenapa bisa ngegas seperti itu??????
Dan pintu mobil Rani terbuka dan muncullah Vio dengan menundukkan wajah nya.
Dia menyapaku, dengan gugup. Jujur saja, aku pun sama.
Aku ingin mengungkapkan perasaanku, mungkin inilah saat yang tepat. Ku ajak dia untuk masuk ke mobilku sambil ku lihat Rani yang juga mendukungku.
#Andi POV. end
__ADS_1
_____________________
...****************...