
Vio menangis sejadi jadinya, mengingat akan tindakan pelecehhan yang Andika lakukan.
Canggung!!.
Andika tidak mengingat apapun. Secuil memori pun dia tidak bisa ingat.
"Apa saja yang sudah aku lakukan padamu, sayang???". Andika bertanya sungguh sungguh.
"Banyak sekali!!!". Andi menyentuh kissmark di leher Vio namun Vio menepisnya dengan kasar lalu melangkah menuju pintu kamar itu.
Ceklek!!!.
Vio membuka pintu.
Aroma menyengat dari botol alkohol berbagai jenis dan merk yang sudah tergeletak berserakan.
Pandangan Vio tertuju pada empat sahabat Andi yang baru akan sadarkan diri.
"Jangan keluar, Sayang!!!". Andi menahan Vio, agar tidak keluar lalu menutup kembali pintu itu.
Vio hanya diam.
Grepp.
Andi membawa Vio kedalam pelukannya.
"Aku minta maaf, jangan seperti ini!!!". Andi berkata masih dalam kondisi merasakan pening di kepalanya.
"Maaf, aku sudah kurang ajar!!". Andi berkata dengan lirih di telinga Vio.
"Katakan apa yang sudah aku lakukan???". Perkataan Andi membuat tubuh Vio menegang dan wajahnya bersemu merah di pelukan Andi.
"Sayang, apapun yang aku lakukan, aku minta maaf. Aku juga minta maaf karena membuatmu merasa takut. Maaf aku terlalu banyak minum alkohol!!!". Kata Andi tulus dari dalam hatinya.
Vio hanya menganggukkan kepalanya.
"Tetaplah di sini!!!". Andi menangkup pipi Vio.
Vio kembali menganggukan kepalanya.
Andi mengecup kening Vio dengan kasih sayang, tidak ada napsu sedikit pun kemudian membelai lembut wajah cantik itu.
"Apa ini juga gara gara aku, Sayang???". Andi mengelus bibir Vio yang bengkak dan terdapat darah yang sudah mengering.
Lagi lagi Vio hanya menganggukan kepalanya.
"Aku minta maaf. Aku belum pernah hangover sampai separah ini!!!". Andi bersuara lirih.
"Katakan apa aku berbuat kurang ajar padamu, sayang???". Andika mengulangi pertanyaannya.
Vio kembali menganggukan kepalanya.
"Itu sebabnya kamu menamparku???? Hemm???". Andi meraih tangan Vio lalu menariknya menuju pipinya yang sebelah kiri.
Vio menatap wajah Andi, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tampar lagi pipiku yang kanan, Sayang!!!". Andi meraih tangan Vio lalu mengarahkannya ke pipinya yang sebelah kanan.
Vio malah menggelengkan kepalanya.
"Sia sia kamu menamparku saat aku tidak sadar apa yang telah aku lakukan dan sekurang ajar apa aku juga tidak bisa mengingatnya. Tampar kembali aku, biar aku bisa merasakan perih dan sakitnya saat kamu menamparku!!!". Andika berkata lembut.
"Aku tidak ingin seperti itu!!!". Jawab Vio sambil terisak.
Andi melepaskan tangan Vio lalu Ia berlari menuju ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
Hoeekkkkkk hukkk hoeeekkk hoookkk haaakkk hoekkk.
Minuman beralkohol yang tadi di tegak oleh Andi, sekarang sudah keluar. Walaupun tidak seratus persen.
Vio dengan setia mengelus tengkuk Andi.
__ADS_1
"Sudah???". Vio bersuara dengan lembut.
"Sebentar, aku ambilkan minum!!!".
Sebelum Vio keluar, Andi dengan sigap menahannya agar tidak keluar.
"Aku akan ambilkan air minum!!!".
"Tidak. Aku akan mengambilnya sendiri!!. Kamu jangan keluar. Masih ada teman temanku di ruang utama!!!!". Andi menahan Vio agar tidak keluar dari kamarnya.
"Aku akan ambil sendiri. Kamu tetap di sini!!!". Andi melangkah keluar.
__________________
Di Ruang tamu,
Reyhan dan Rani memberikan pil yang sama dengan yang di berikan pada Andika untuk ke empat sahabatnya. Dengan cara yang sama.
Andi keluar dari kamarnya dengan wajah pucat dan terlihat lemas tanpa tenaga. Masih berjalan sedikit sempoyongan akibat pening di kepala masih Ia rasakan.
"Kakak!!!". Rani menegur Andika.
"Hm??". Jawab Andi cuek.
Rani mengoceh, namun ocehan Rani tidak di dengarkan oleh Andi sama sekali.
"Kak Andi denger nggak sih???". Rani protes sebab Andika masih terlalu pening untuk sekedar mendengarkan Rani yang membeo.
"Apa????". Jawab Andi sedikit berteriak.
"A pa yang ka kak la ku kan pa da Vi o la???". Rani menekankan setiap kata katanya.
Andi diam. Lalu Ia melanjutkan langkahnya untuk mengambil Air minum.
"Kak Andika!!!". Rani memanggil Andi dengan sedikit berteriak.
"Apa???".
"Sudahlah, Sayang!!!". Rey menyentuh pundak Istrinya.
Beberapa saat kemudian, Andi kembali dengan sebotol air minum.
"Rey, urus mereka!!!. Setelah itu kamu keluar!!!. Aku ingin tidur!!!. Dan tidak ingin di ganggu!!!". Andi menunjuk ke empat sahabatnya yang masih tertidur di sofa sambil berjalan.
"Lalu Vio???". Rani menyelidik.
"Tidur disini bersamaku!!!". Andi menghentikan langkahnya.
"Gila kamu, Kak!!!". Rani berteriak.
"Apa???". Jawab Andi cuek.
Jangan salah, semenjak Rani dan Rey menikah, Andi memang sangat dingin pada adik kesayangannya itu.
"Kakak kenapa sih???". Rani merengut.
"Rey, Kalau mereka bangun, langsung di suruh pergi. Jangan ganggu aku!!!". Andi mengulangi kata katanya.
"Siap, Bos!!". Rey menjawab dengan mantap.
Andi masuk ke kamarnya, tanpa lupa mengunci pintunya.
___________________
Di dalam kamar Andi, Vio masih trauma dengan pelecehan yang Andika lakukan. Ingin keluar, tapi takut namun di dalam kamar berdua dengan pelaku pelecehan Ia juga takut.
Hampir saja Vio di perrkosa oleh kekasihnya sendiri, dan itu membuat mentalnya sedikit terganggu.
"Sayang???". Andi mendekati Vio yang sedang berdiri di balkon kamar itu.
Vio hanya menoleh, lalu sedikit bergeser dengan mengikuti irama langkah kaki Andi.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa???". Andi mendekat, namun Vio malah melangkah mundur.
"Sayang, kamu takut sama aku????". Andi semakin melebarkan langkahnya.
Vio menggelengkan kepala, sambil terus melangkah mundur kebelakang. Tidak terasa, bulir bulir air mata luruh melewati pipinya.
Vio terpojok. Tidak bisa melangkah lagi hingga kini Andi benar benar ada di hadapannya.
"Aku minta maaf. Aku tidak sengaja. Aku khilaf. Aku tidak ingat apa yang sudah aku lakukan padamu, Sayang!!!". Andi meraih pipi Vio.
Vio gemetar karena ketakutan.
"Apa aku begitu kasar menciummu, hingga bibirmu berdarah???". Tanya Andika kembali.
Vio menganggukkan kepalanya.
"Apa aku menghisap kulit lehermu juga dengan kasar dan menyakitimu???". Andi menyentuh leher Vio yang penuh dengan kissmark berwarna merah keunguan dengan jumlah sangat banyak.
Vio kembali menganggukan kepalanya.
"Lalu apakah aku melakukan lebih kepadamu setelah itu???". Andi menatap mata Vio untuk mencari jawabannya.
Dengan takut campur malu Vio lagi lagi menganggukan kepalanya.
"Katakan apa yang sudah aku lakukan????. Sungguh, aku tidak ingat sama sekali!!!".
Vio hanya diam dan tanpa ekspresi sedikit pun kecuali air mata yang terus berjatuhan.
"Sayang???". Andi berkata lembut.
Vio malah menggelengkan kepalanya dengan air mata terus mengalir.
"Apa aku menyentuh itu???". Andi menunjuk ke arah aset depan milik Viola.
Dengan takut bercampur malu, Vio menganggukan kepalanya dengan singkat.
"Benarkah???". Entah pengaruh setan mana, Andi malah tersenyum dengan lebar.
Plakkk!!!.
Tangan Vio kembali menampar pipi Andika, hingga meninggalkan bekas kemerahan pada pipi itu.
"Aduhh!!!". Andi menyentuh pipinya sambil meringis menahan perih di pipi yang kena tamparan dua kali oleh orang yang sama.
"Kita udahan saja, Kak!!". Vio menangis sesenggukan.
"Apa????". Andi mengangkat wajahnya.
"Kita udahan saja!!!". Vio gemetar.
"Tidak!!!!. Kamu bebas mau tampar aku lagi tapi asalkan kita nggak putus!!!". Mata Andi memerah dengan air mata yang hampir tumpah.
"Katakan apa yang sudah aku lakukan tadi, sayang!!!". Andi berkata lirih.
"Ak ku a ak ku ham pir di perr kos sa!!". Jawab Vio dengan gemetar dan air mata yang mengalir tambah deras.
Degghh!!.
Jantung Andi seakan berhenti. Ini adalah kali pertamanya Ia hangover hingga separah dan sebangssat serta sebeejat ini. Bahkan sampai hampir melakukan hal gila.
"Apa???". Andi mematung seketika.
"Kakak hampir perrkossa aku!!". Vio menundukan kepalanya.
"Aku minta maaf. Aku salah, aku khilaf, aku nggak bisa mengendalikan diriku!!!. Jangan minta untuk mengakhiri hubungan kita, Sayang!!!". Andi bersimpuh di kaki Vio.
"Tampar lagi aku, sayang!!!. Aku tidak ingin seperti ini!!!". Andi malah menangis.
Vio hanya diam mematung. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
__________________
__ADS_1
...****************...