Viola

Viola
55


__ADS_3

Setelah menikmati sebatang rokok, Andi mengajak Vio masuk ke kamarnya.


Jangan berpikiran macam macam. Andi bukan laki laki brengsek yang akan mengajak Vio menikmati surga dunia yang belum menjadi hak dan kewajibannya.


Setelah menyuruh Vio duduk di kasurnya, Andi kemudian membuka nakasnya, lalu meraih sebuah kotak dari dalam laci nakas itu.


"Ini milikmu, aku membelinya untukmu!!!". Andi menyerahkan kotak ponsel dengan logo apel sisa kepada Viola.


"Tidak. Kalaupun aku ingin, aku bisa membelinya sendiri!!". Vio enggan menerima pemberian Andi.


"Sayang, aku percaya bahwa kamu sanggup membelinya sendiri. Tapi, ini anggap saja hadiah dariku!!!".


"Tapi, aku masih memiliki ponsel. Dan masih bisa di gunakan, sayang!!!". Vio menolak dengan cara halus.


"Coba lihat ponselmu, sayang!!!".


"Untuk apa, sayang???". Vio terlihat bingung lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya.


"Sini lihat!!!". Ucap Andi dengan sedikit dingin.


Vio menyerahkan ponselnya ke tangan kekasihnya.


Lalu..


Pyarrrr!!!.


Ponsel itu di banting oleh Andi dan pecah berkeping keping tidak bisa di gunakan lagi.


Vio sangat terkejut di buatnya.


Seketika Ia teringat akan perkataan Rani waktu itu. Bahwa Andika tidak suka perkataannya di bantah apalagi pemberiannya di tolak. Namun, Vio bukan termasuk kategori manusia materialistis.


"Sudah kan????". Andi menyeringai.


Vio hanya diam. Meratapi ponsel perjuangannya hancur di tangan kekasihnya.


"Sayang???". Vio menatap Andi sambil berkaca kaca.


"Ambil ini. Aku tidak suka bila pemberianku di tolak!!!".


"Aku bukan perempuan materialistis, Kak!!".


"Aku yang memberi, bukan kamu yang meminta. Perlu ku ingatkan lagi, aku bukan kakakmu. Jadi, jangan panggil aku dengan sebutan kakak. Apalagi di saat kita hanya berdua seperti ini!!!". Andi menyentuh dagu Vio. Mengucapkan kalimatnya dengan sebuah penekanan di setiap katanya.


Tidak terasa, air mata Vio jatuh di pipinya.


"Jangan menangis!!!". Andi menghapus air mata Vio menggunakan kedua ibu jarinya.


"Terimakasih, besok lagi jangan seperti ini lagi, sayang. Aku mencintaimu bukan karena harta!!!". Akhirnya Vio menerima pemberian Andi dengan berat hati.


"Bagus!!". Andi tersenyum senang.


____________________


Dilain tempat namun di waktu yang sama.


Ana dengan setia menemani Shasha yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Ibu!!!". Shasha menoleh ke arah Ana yang duduk di sebuah kursi di sampingnya.


"Shasha, sayang!!!". Seketika mata Ana berbinar melihat putrinya bangun dengan cepat Ia meraih segelas air mineral untuk Shasha minum.

__ADS_1


"Ayah dimana, Bu????". Shasha mengedarkan pandangannya setelah meminum air pemberian Ana, namun sosok yang biasa Ia sebut dengan panggilan ayah itu tidak ada di sana.


"Ayahmu baru saja keluar, mungkin menemui dokter, Sayang. Apa yang kamu butuhkan akan Ibu ambilkan???". Ana mengelus surai Shasha dengan lembut.


"Ibu, Aku sekarang jelek!!!!. Andika pasti tambah jijik padaku!!". Ujar Shasha sambil meneteskan air matanya.


"Ssttt.. Sayang, takdir perempuan itu di kejar bukan malah mengejar. Jangan membuat dirimu rendah, Nak!!". Ana masih pada posisinya.


"Tapi aku sangat mencintainya, Bu!!!. Aku mencintainya sejak aku SMP!!!". Suara Shasha parau.


"Nak, bedakan antara cinta dan obsesi. Cinta itu datang dalam diam, mengharapkan di dalam doa. Sedangkan Obsesi adalah keinginan manusiawi yang berujung pada tujuan tertentu dengan mengejarnya dengan berbagai macam cara!!".


"Ibu!!!". Shasha malah semakin menangis di pelukan Ana.


Tok Tok Tok


Suara pintu rawat inap Shasha di ketuk dari luar.


"Sebentar, Sayang. Ibu akan membuka pintu dulu!!!". Ana menguraikan pelukannya dan Shasha menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.


"Temannya Shasha ya???. Mari, Nak. Silahkan masuk!!!". Ana mempersilakan sang pengetuk pintu itu masuk.


"Iya, Tante!!!". Lalu Ia mengekor Ana.


"Sha, ini temenmu dateng. Ibu keluar dulu ya!!!". Ana berbisik di telinga Shasha.


Dan di jawab dengan sebuah anggukan kepala oleh gadis itu.


"Nak, Tante titip Shasha, ya!!!". Ana berkata pada teman Shasha lalu keluar meninggalkan mereka. Tidak lupa menutup pintu.


Setelah Ana menutup pintu.


"Ekhem.. Sha, aku bawakan bunga untukmu!!!". Orang itu menyerahkan buket bunga mawar merah berukuran sedang ke tangan Shasha.


"Kamu kenal aku kan, Sha???". Ucap orang itu menatap teduh ke arah Shasha.


"Yoga???. Teman sekelas Andika???". Shasha berkata dengan lirih.


"Iya. Aku Yoga!!". Orang itu tersenyum sangat manis.


"Kenapa kamu kesini???". Tanya Shasha lirih.


"Aku ingin menjengukmu. Kamu tahu???, Kemarin aku sempat datang kemari. Namun kata perawat yang menjaga, kamu belum bisa di jenguk oleh orang lain. Dan ya, aku pulang lalu sekarang kembali lagi!!!". Aku Yoga.


"Terimakasih!!!". Shasha tersenyum simpul.


"Gimana keadaanmu???". Yoga terlihat khawatir saat melihat kedua sisi pipi Shasha tertutup kain kasa.


"Seperti inilah!!!". Jawab Shasha singkat sambil menatap ke arah jendela.


"Kamu mau jalan jalan ke taman????". Yoga mengikuti arah pandang Shasha.


Shasha hanya menganggukan kepalanya.


"Ayo aku bawa kamu kesana. Tapi, kamu hubungi dulu Mama kamu. Takutnya beliau khawatir saat mendapati kamu tidak ada di tempat ini!!!". Kata Yoga sambil mengambil sebuah kursi roda dari pojok ruangan itu.


Shasha hanya menganggukan kepala, lalu menulis sebuah pesan singkat pada sebuah buku catatan yang tersedia di atas nakas.


" Ibu, aku ada di taman Rumah Sakit bersama temanku. Jangan khawatir. Aku hanya sedikit bosan!!!.


Shasha". Tulis Shasha pada notes kecil itu lalu menaruhnya di atas nakas.

__ADS_1


"Kamu bawa ya bunga ini!!!". Kata Yoga setelah mendudukkan Shasha di kursi roda itu lalu menyerahkan buket bunga mawar yang Ia bawa tadi.


Shasha menerima bunga itu, lalu Yoga mulai mendorongnya menuju taman Rumah Sakit ini.


Sesampainya di sana.


"Sha, kamu mau ke sebelah mana???". Yoga berjongkok di depan Shasha.


"Terserah, deh!!!". Jawab Shasha singkat.


Yoga membawa Shasha berkeliling taman itu. Sesekali Yoga melontarkan candaannya hingga Shasha tertawa lepas tanpa beban.


"Hmm Sha, lihat deh itu!!!". Yoga menunjuk ke arah seekor kupu kupu yang hinggap di mahkota bunga melati.


"Kupu kupu???". Jawab Shasha sambil melihat arah yang di tunjuk oleh Yoga.


"Cantik, namun kamu masih lebih cantik!!!". Ujar Yoga kemudian.


Blusssh..


Ini pertama kalinya Shasha merasakan wajahnya semerah tomat busuk.


"Cie pipinya merona!!". Yoga malah lebih menggoda Shasha.


"Apaan sih???". Shasha menundukan kepalanya malu.


"Hmmm... Sha!!".


"Iya, Yoga??". Shasha menoleh ke arah sumber suara.


"Kita ke sana, Ya????". Yoga menunjuk ke arah tengah taman yang terdapat kolam dengan air mancur.


Shasha hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.


Setelah mereka sampai di tempat itu, Yoga tiba tiba berjongkok di depan Shasha untuk menyejajarkan tinggi mereka tanpa lupa mengunci kursi roda Shasha agar tidak bergerak.


"Shaphira, Lihatlah kepadaku. Lupakan Andika yang tidak melirikmu sama sekali!!!". Kata Yoga sambil menggenggam lembut tangan Shasha.


"Maksudmu???". Shasha tidak mengerti arah perkataan Yoga barusan.


"Shaphira, Aku mencintaimu sejak kita pertama kali bertemu, di gerbang sekolah saat kita masuk sebagai siswa baru. Shaphira, Lihatlah ke arahku dan terimalah aku sebagai kekasihmu!!!". Yoga menyatakan perasaannya dengan sungguh sungguh.


"Yoga????". Shasha menatap Yoga tidak percaya.


Inikah yang di maksudkan oleh Ibunya, bahwa perempuan itu di kejar dan bukan mengejar???.


"Iya???". Yoga menatap Shasha penuh harap.


"Aku aku!!". Shasha kehilangan kata katanya.


"Sha, coba lihat bunga mawar yang ada di pangkuanmu!!!". Shasha menuruti perkataan Yoga.


"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Shaphira Fransisca, Maukah kamu melihat kearahku untuk membalas perasaanku dan menjadi kekasihku???. Lempar saja bunga di pangkuanmu itu ke sembarang arah bila kamu tidak mau membalas perasaanku dan menolak menjadi kekasihku!!!". Ujar Yoga dengan bersungguh sungguh.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Empat detik

__ADS_1


Lima detik


Shasha hanya diam dengan wajah datarnya, bahkan Ia tidak menunjukan reaksi apapun.


__ADS_2