Viola

Viola
36


__ADS_3

"Jadi benar kata Rani, karena gadis cantik ini yang membuatmu disini dan tidak mengadiri rapat pertemuan???". Suara ayah Andi terdengar saat Andi membuka pintu itu.


" Bu bukan seperti itu, Ayah!!!". Sesungguhnya Ia pun sangat takut pada ayahnya itu.


"Siapakah gadis manis ini???, kekasihmu???".


Vio sangat ketakutan, dia gemetar hingga tidak berani untuk sekedar menatap kearah orangtua Andi.


"Dia Vio, Ayah. Hmmm eee pacar aku!!!". Andi memperkenalkan kekasihnya itu pada ayahnya.


" Cantik dan manis. Hemmmm... bila Ayah perhatikan, kalian berdua mirip ya????". Ayah Andi membandingkan wajah dua sejoli di hadapannya itu.


"Itu tandanya mereka berjodoh, Paman!!!". Rani berceletuk sambil terkekeh.


" Hmmmmm..... Terserah kamu sajalah!!!". Ayah Andi memandang ke arah Rani.


"Ayah harap satu jam lagi kamu harus sampai kantor. Bila tidak, Ayah akan memecatmu tanpa pesangon!!!. Bertanggung jawablah akan semua pekerjaanmu, tidak seperti hari ini yang tidak menghadiri rapat!!!. Ayah tunggu di ruanganku!!". Ayah Andi dengan cepat mengubah ekspresinya kemudian menatap Andi dengan tajam.


" Iya, Ayah!!!". Andi memandang ke arah Ayahnya yang sudah berlalu.


Andi menghembuskan nafasnya lega.


"Maafkan aku, Kak!!!". Vio menundukan kepalanya.


" Tidak, sayang. Itulah Ayahku. Dia memang seperti itu!!!". Andi merengkuh kembali kekasihnya kedalam pelukannya tanpa peduli ada Rey dan Rani di tempat itu.


"Ekkhemmm!!. Cepat atau kakak akan benar di pecat????". Rani terlihat malas melihat kelakuan sepupu dan sehabatnya itu memadu kasih tidak ingat tempat.


Akhirnya mereka meninggalkan sekolah itu.


___________________


Sesampainya di tempat tinggalnya, Viola melangkah menuju kamar pribadinya dengan langkah perlahan. Mengingat sebelah kakinya masih belum sembuh dan membutuhkan perawatan.


Sesampainya di depan pintu kamarnya,


"Nak, tumben baru pulang???. Apakah tadi kamu di antar oleh pacarmu itu???? Sehingga tidak mau di jemput sopir????". Suara Ana membuat Viola menoleh ke sumber suara.


" Ibu, iya. Tadi aku di antar olehnya dan juga Maharani. Maaf Ibu!!!". Vio menjawab.


"Kamu sudah tidak menyembunyikan wajahmu, sayang???". Ana mendekati putrinya itu.


"Hmmmm.... Sebenarnya ee huhhhh tadi ada sedikit kejadian, Bu!!".

__ADS_1


"Ayo, ceritakan pada Ibu!!!". Ana mendahului Vio untuk masuk ke kamar putrinya itu.


"Bukan apa apa, Ibu!!!". Vio masuk ke kamarnya lalu menutup pintu itu dan tidak lupa untuk menguncinya.


"Sayang, ceritakan semuanya tentang apa yang terjadi hari ini!!!". Ana duduk di atas ranjang empuk putrinya.


"Itu tadi kondisi kantin sangat ramai dan berdesak desakan, lalu ada seorang siswi yang membawa nampan berisi beberapa gelas jus, tidak sengaja menumpahkannya di atas aku yang sedang duduk, Bu!!!". Vio menjelaskan yang di alaminya pagi ini.


"Lalu?????".


" Lalu aku membersihkan diriku di toilet sekolah dan temanku membelikan seragam baru ini tadi!!".


"Lalu????".


" Ya lalu aku bingung Ibu, gimana caranya aku menutupi wajahku. Sedangkan aku tidak membawa alat make up sama sekali. Untunglah tadi jam kosong dan aku berada di ruang kerja Kak Andi!!".


"Ruang kerja Kak Andi bagaimana maksudmu????".


" Dia adalah ketua organisasi kesiswaan, Ibu!!". Vio menjelaskan.


"Ohhh... Besok lagi, bawalah masker dan alat make up. Untuk jaga jaga!!". Ana memberikan sarannya.


"Iya, Ibu!!".


" Sekarang kamu bersihkan dulu tubuh kamu, Ibu tunggu disini!!!".


_________________


Beberapa menit kemudian, Vio sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu Ia mendekat pada Ibunya yang tengah rebahan di ranjang Vio.


" Ibu!!". Vio ikut berbaring di samping Ibunya.


"Sayang.. Bolehkah Ibu bertanya, Nak???". Ana mengelus rambut Vio yang halus dan lembut itu.


"Tentu, Ibu!!". Vio tersenyum sambil memandang Ibunya.


" Sayang, sudah berapa bulan kamu punya pacar???".


"Hmm.. Lima bulan, Ibu!!". Vio menjawab dengan ragu.


" Kamu mencintainya, Sayang???".


"Iyy yyaa, Ibu!!". Jawab Vio takut.

__ADS_1


" Jangan tegang gitu, Ibu cuma tanya!!". Ana tersenyum melihat ekspresi putrinya itu.


"Iyyy yaaa Ibu!!". Vio malah semakin tegang.


" Apakah dia anak baik baik, sayang???".


"Iyy yaa, Ibu!!!".


"Jaga terus cinta kamu, sayang. Terus berjuang dan jangan menyerah. Apapun yang terjadi, buktikan cinta kalian!!!". Ana berkata sambil sesekali mengusap air matanya.


" Iya Ibu, doakan yang terbaik untukku!!". Vio memeluk Ibunya.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu, sayang!!". Ana mengecup kening putrinya.


" Ibu, apakah bila suatu saat nanti aku menikah. Apakah Ayah kandungku bisa menjadi pendampingku, yang akan menyerahkan aku ke tangan suamiku???". Perkataan Vio membuat air mata Ana jatuh tidak terkendali.


"Tentu. Sayang!!". Ana mengusap air matanya dengan kasar, Ia sangat merasa bersalah kepada putrinya itu.


" Ibu, Apa Ibu ingat akan ayah kandungku??". Vio menatap Ana yang menangis di dalam diam.


"Ayahmu baik, seperti dirimu. Wajahnya mirip denganmu. Bahkan saat kamu lahir, wajahmu adalah jiplakan dari wajahnya. Dia baik dan lembut, ramah serta perhatian. Namun bila berhadapan dengan orang lain, Ia sangat dingin dan menyebalkan. Dia tampan, putih tinggi dan tegap. Banyak perempuan yang mengincarnya, itu sebabnya Kakekmu menjodohkannya dengan orang pilihannya!!".


" Ibu, bolehkah aku meminta alamat rumah ayahku???. Aku berjanji hanya untuk sekedar tahu saja. Aku berjanji tidak akan mengganggu, aku hanya ingin melihat wajahnya!!". Vio akhirnya mengutarakan keinginan hatinya yang selama ini Ia pendam.


"Ayahmu ada di kota yang sangat jauh dari sini. Di Ibu kota Z. Butuh waktu setidaknya sembilan jam agar bisa sampai sana!!". Ana berterus terang.


" Apakah suatu saat nanti ayahku mau mengakui aku dan mau mendampingi aku ketika aku menikah, Ibu???". Vio sangat berharap dengan perkataannya.


"Tentu, sayang. Dia bukan orang yang arogan. Dia penyayang dan Dia pasti menerima keberadaanmu. Tapi, dia memiliki seorang istri dan mungkin memiliki beberapa orang anak. Ibu mohon, jangan mengusik kebahagiaannya. Sebab kamu lahir hanya karena jebakan di masa lalu. Ibu mohon, jangan temui dia sekarang. Namun tunggu saat itu tiba, saat dimana kamu akan menikah dan membutuhkan Dia di altar suci, setelah itu jangan mengganggu kehidupan rumah tangganya!!".


" Tentu Ibu, aku mengerti posisiku. Aku juga tidak ingin berselisih dengan anak anak ayahku yang lain sehingga mereka memusuhi aku. Aku bahagia hidup bersamamu Ibu, apalagi saat ini ada ayah Awan yang mencintai aku sepenuh hatinya!!". Perkataan Vio membuat sebaris senyum di wajah Ana mengembang.


"Jaga dirimu baik baik, sayang. Ingat, jangan lakukan tindakan tidak bermoral yang sangat di benci Tuhan. Jangan sampai anakmu kelak mengalami hal yang sama sepertimu!!!". Ana mengelus puncak kepala putrinya itu.


" Ibu, aku berjanji padamu dan padaku sendiri. Aku yakin Kak Andi adalah orang yang baik yang tidak akan mengajakku untuk bersenang senang di dalam dosa!!". Vio meyakinkan Ibunya.


"Siapa namanya tadi sayang???".


" Kak Andi. Florentinus Andika, Ibu!!".


"Cintai dia yang mencintai kamu sayang. Landasi hubunganmu dengan Kasih dan hukum Tuhan. Jangan menyerah dan mengalah untuk memperjuangkan cintamu bersamanya. Tidak seperti Ibumu ini, yang mengalah dan merelakan ayahmu di jodohkan. Padahal bila dulu kami mau berjuang sebab kami saling mencintai, mungkin kamu hari ini bisa berkumpul dengan ayahmu!!". Ana berkata dengan kesungguhan, meluapkan emosi yang selama ini Ia pendam.


"Iya, Ibu!!". Vio memeluk Ibunya.

__ADS_1


________________________


...****************...


__ADS_2