
Ini adalah kali pertama Vio diajak pergi jalan jalan oleh Andi. Ya anggap saja ini adalah kencan pertama mereka. Setelah mereka mengisi perut, Andi mengajak Vio menyambangi sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
"Sayang, aku ingin membeli ponsel!!!". Andi menarik Vio untuk memasuki outlet penjualan ponsel berlogo buah apel sisa.
" Bukankah ponselmu masih bagus???".
"Hmmmm aku hanya ingin, sayang!!!". Andi memasang wajah memelasnya.
" Oke baiklah baiklah". Vio akhirnya diam dan tidak berkomentar lagi.
"Mari Kak, silahkan!!!". Seorang laki laki penjaga outlet itu terlihat sangat ramah.
"Mau cari cari yang seri apa, Kak???, silahkan ini katalognya!!!".
" Sayang, harganya lebih mahal dari sekuter maticku!!!". Vio berbisik di telinga Andi.
"Pilihkan satu untukku ya, sayang!!!". Andi membisikan kalimatnya di telinga Vio.
" Mending pindah ke outlet pipo atau nggak oopo di sebelah sana saja, sayang!!!". Vio masih berbisik.
"Ssttt... pilihkan satu untuk ku, aku tidak ingin ke outlet sebelah!!!".
" Tapi sayang, merk apel sisa itu mahal. Kalau beli di outlet sebelah bisa dapat delapan!!!".
"Kak, saya ambil yang ini!!!". Andi sambil menyerahkan kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya tanpa menghiraukan perkataan Vio yang malah membuatnya pusing.
" Baik. Saya proses dulu ya, Kak!!!!". Ujar penjaga outlet itu.
Beberapa saat kemudian, Andi dengan menggandeng tangan Vio keluar dari outlet itu.
"Kamu ingin apa, sayang???. Ambil apapun yang kamu inginkan, aku yang akan membayarnya!!".
" Tidak, aku tidak ingin apapun. Lebih baik kita pulang saja!!!". Vio menyahut.
"Yakin???". Andi menatap Vio.
"Iya!!!".
"Baik, tapi jangan ngambek ya. Soalnya aku nggak bisa bahasa kebatinan untuk membaca keinginanmu, sayang!!!".
" Hahhaaha apaan sih, Aneh!!!". Vio mencubit pinggang Andi.
__ADS_1
"Hahaha iya iya!!". Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu.
____________________
Andi melajukan mobil mewahnya membelah kota itu dengan kecepatan sendang. Menikmati kebersamaannya dengan Vio hingga sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik kekasihnya itu.
" Lihat depan, sayang!!!".
"Iya, ini aku lihat depan!!!". Andi tersenyum jahil ke arah Vio.
"Issshhh... lihat depan. Ini bahaya, Aku takut!!!". Vio sedikit ngegas.
" Galak ih kamu sekarang!!!". Andi malah mengacak acak rambut Vio hingga berantakan.
"Isshhh.. berantakan kan rambut aku!!!". Vio merapikan rambutnya.
"Iya iya, maaf!!".
" Lohhh loh loh kok berhenti, sayang. Kan mau pulang!!!". Vio protes sebab kendaraan yang di tumpanginya malah menepi dan akhirnya berhenti di sebuah taman kota.
"Sssttt.. diam dan jangan banyak protes!!!". Andi turun dari mobilnya dan bergegas membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
Vio hanya diam, sebab sedari tadi kekasihnya itu sedikit aneh. Terlintas dalam pikirannya, apakah efek samping minuman keras yang sempat di tegak Andi tadi membuat Andi sedikit aneh??.
" Sayang, kamu ingat nggak dulu kita pernah ke tempat ini???". Andi mengajak Vio untuk duduk sejenak di bangku itu.
Vio hanya merespon dengan anggukan kepala.
"Di tempat ini pula, kita saling menyatakan perasaan kita. Aku memberimu sebuah kalung dan pagi tadi malah kamu kembalikan padaku". Andi mengeluarkan kembali kalung itu dan hendak memakaikannya pada Vio.
"Sayang, ini adalah milikmu. Jangan kamu kembalikan lagi padaku!!". Andi memasangkan kembali kalung itu lalu memeluk kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
"Sayang!!!". Andi menguraikan pelukannya lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.
" Maukah kamu jadi kekasihku selamanya???, Suatu saat nanti bila usia kita sudah layak untuk menikah, apakah kamu bersedia berdiri di altar bersamaku???". Andi mengeluarkan sebuah cincin emas dan berlutut di hadapan kekasihnya.
Beberapa saat Vio hanya diam. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yang membuatnya sangat ragu untuk mengeluarkan kata kata dari mulutnya dan bisa menjawab dengan kalimat 'Iya, aku bersedia'.
"Sayang???". Andi melihat raut wajah Vio yang menunjukan suatu keraguan. Vio masih diam.
"Sayang, kamu ragu akan perasaanmu padaku???". Andi masih berada di posisi yang sama.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Mungkin untuk saat ini aku belum bisa menjawabnya dan belum bisa menerima pemberianmu. Mending kita jalani dulu hubungan kita seperti ini. Suatu saat nanti kembalilah bersama orang tuamu dan temui ayah dan ibuku!!!. Aku tidak ragu sedikit pun dengan perasaanku. Namun, untuk menerima lamaranmu aku masih ragu". Vio meraih kedua tangan Andi dan mereka pun berdiri berhadapan.
" Iya, aku mengerti. Kita masih kecil untuk melangkah sejauh itu. Kamu benar. Maaf, aku terlalu terburu buru hingga meragukan perasaanmu padaku. Aku berjanji padamu sayangku, Aku akan bawa ayahku untuk menemui ayah dan ibumu. Tunggu aku ya, Tidak lama. Setelah aku mendapatkan gelar sarjana, aku pasti melamarmu!!!!". Andi lalu membawa gadis di hadapannya itu kedalam pelukannya.
"Aku akan menunggu saat itu tiba. Maaf bila saat ini aku mengecewakan kamu, sayang. Sungguh bukan maksudku untuk menolak lamaranmu!!!". Vio sangat merasa nyaman di pelukan Andi. Menghirup aroma Citrus yang sangat khas dari tubuh Andi yang sangat dia suka itu.
" Aku tidak kecewa, sayang. Sungguh. Aku sangat mencintaimu!!!". Andi mengecup puncak kepala Vio berulang kali.
"Aku juga sangat mencintaimu, perpisahan sesaat kita kemarin membuat aku sadar bahwa kamu sangat berharga dalam hidupku. Aku bahagia di dekatmu, entah mengapa aku menyayangimu sejak pertama kita bertemu dan itu tidak berubah hingga saat ini!!". Tanpa sadar, air mata Vio tumpah di pelukan Andi.
"Sayang, kamu juga sangat berharga dalam hidupku!!!". Andi mengeratkan pelukannya.
" Sayang, Aku akan tidur dimana malam ini???". Vio menguraikan pelukannya lalu menghapus air matanya.
"Hmmm kamu pilih saja, mau di apartemenku atau di rumah ayahku atau dirumahmu sendiri???". Andi memberikan tawarannya.
" Bila di apartemenmu, aku sedikit ragu!!!".
"Kamu khawatir aku akan mengajakmu berbuat dosa???". Andi menatap jahil ke arah Vio. Sedangkan Vio hanya menganggukan kepalanya.
" Lah kira kira kamu mau nggak kalau seandainya aku ajak kamu berbuat dosa???". Andi mulai menjahili Vio.
"Enggak mau!!!!!. Aku pasti akan memukul kamu dengan botol minuman keras yang kamu simpan di pojok nakasmu itu!!!!". Wajah sangar Vio tercetak jelas.
" Bila aku terluka gimana bila kamu pukul???".
"Biarin saja. Yang penting aku nggak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Palingan kamu cuma masuk Rumah Sakit bukan masuk Neraka!!!". Jawab Vio enteng.
" Memangnya memukul aku dengan botol, tidak melanggar???". Andi semakin giat menjahili Vio.
"Iya tapi kan itu untuk membela diri. Bukan niatnya untuk membunuh!!!".
"Lalu bila kamu pukul aku terlalu keras dan aku terbunuh bagaimana???".
" Ihhh kamu kok malah kayak Pak Pendeta yang lagi ngajar bimbingan sih????". Vio malah sewot.
" Hahahaha iya maaf aku hanya becanda dan tenang saja, kita akan tidur terpisah. Kamu di kamarku dan aku di kamar yang lain. Kalau di rumahmu, aku tetap akan menemani kamu disana. Sedangkan bila mau ke rumah ayahku, kamu bisa tidur di kamarku sedangkan aku akan tidur di kamar lain. Mau sekamar denganku juga aku nggak bakalan ngapa ngapain kok. Paling cuma tidur. Itu aja!!!".
"Kita ke rumah ayahmu saja!!!". Vio akhirnya memutuskan pilihannya.
" Baik, kita nanti akan langsung ke sana, biarkan barang barangmu menginap di apartemenku!!".
__ADS_1
Vio menganggukkan kepalanya.
"Sayang, aku masih ingin seperti ini!!!". Andi kembali memeluk Vio dengan penuh cinta dan kasih sayang.