
Andi meninggalkan ruang kesiswaan itu dengan hati yang hancur. Dengan langkah angkuhnya, ia berjalan menuju tempat Ia memarkirkan mobilnya. Kemudian melajukan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan di kota itu. Kecewa, Ia sangat kecewa dengan Viola yang gampang menyerah hanya dengan sebuah ancaman dari seorang pengecut.
Sepanjang jalan Ia menangis, lupakanlah semboyan bahwa laki laki pantang menangis disaat putus cinta. Ponselnya ia nonaktifkan, sehingga tidak ada satupun orang yang bisa mengganggunya. Nalar dan pemikiran seorang remaja kelas 11 Sekolah menengah atas memang belum dewasa. Tujuannya mungkin hanya apartemen pribadinya, tempat yang pas dan cocok untuk menyendiri. Ini adalah kali pertamanya Ia mencintai seseorang begitu dalam, hingga sudah selesai pun Ia masih tetap mencintai gadis itu dengan begitu dalam.
Memasuki unit pribadinya setelah menscan barkode pada sebuah kartu yang Ia miliki. Ia menuju kamar pribadinya dengan perasaan campur aduk. Sedih, kecewa, marah namun tetap mencintai gadis itu dengan sepenuh hatinya. Dia melampiaskan kekecewaannya pada sebatang rokok dan beberapa botol minuman keras yang memang Ia selalu menyetoknya di kamar itu.
"Viola, kenapa kamu tidak mau bertahan???. Pengecut itu pasti akan aku temukan!!".
" Kenapa kamu begitu takut, sedangkan aku selalu berada di sisimu????".
"Vioooolaa!!!".
Andi menangis di kamar itu, di temani 4 botol redwine yang sudah tandas dan beberapa puntung rokok.
" Cintamu padaku sudah di kalahkan oleh rasa takutmu?????".
"Aku kecewa pada sikapmu itu!!".
"Violaaaaa!!!".
Andi tetaplah seorang remaja, belum bisa mengontrol dan mengolah emosinya. Melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Menangis sejadi jadinya, kini Ia mulai membuka segel botol kelimanya. Kacau dan semakin kacau.
Ini kali pertamanya minum hingga hangover parah seperti ini.
"Kamu meragukan cintaku yang bisa melindungimu!!!".
"Kamu bodoh, Viii!!".
" Hahahaha!!!".
"Hahahahaha.. Bukankah kamu sekarang senang dan tidak takut lagi???".
" Hahahahaha!!!".
Lama kelamaan, fokus mata Andi seperti ada kabut yang melingkupi. Ia pun terjatuh hingga tidak sadarkan diri.
__________________
Dilain tempat,
Vio telah kembali ke kelasnya bersama Feli. Sesekali Ia meneteskan air matanya. Menyesali perkataannya, Ia ingin bertahan dan berjuang bersama orang yang mencintainya. Remaja labil yang belum bisa berfikir kedepannya.
" Fel, aku tadi harusnya bertahan ya bukannya malah takut dengan sebuah ancaman????". Vio meminta pendapat Feli.
__ADS_1
"Vi, semua tergantung kamu. Bila ini jalannya, yasudah. Kamu bisa tenang tanpa ada teror dan gangguan lagi. Mungkin rentetan peristiwa yang kamu alami kemarin memang ada hubungannya dengan teror itu!!".
" Fel, aku menyesal. Dia pasti kecewa sama aku yang nggak mau berjuang sama dia untuk bertahan!!". Vio menyeka air matanya menggunakan tisu yang ada di genggamannya.
"Sudah, guru sudah masuk. Jangan nangis!!". Feli menunjuk seorang guru yang memasuki ruang kelas itu.
Vio mengikuti pelajaran pada pagi hari itu tanpa bisa fokus sedikit pun.
.......
.......
Saatnya waktu istirahat. Ruang kelas sangat sepi hanya meninggalkan Viola dan Feli yang tidak pindah dari tempat duduk mereka. Vio masih sesekali mengeluarkan air matanya, menyesal.. Ia sangat menyesal, memutuskan hubungan dengan Andi yang begitu mencintainya.
"Vi!!!". Suara Rani yang memasuki ruang kelas Vio yang di ikuti oleh Bella di belakangnya.
"Ran, Aku menyesal sudah memutuskan hubunganku dengan kakakmu!!!". Vio memeluk Rani.
" Apa????. Jadi apa yang Kak Rey katakan, semuanya benar?????". Rani menanggapi perkataan Vio.
"Maaf, Ran!!!. Aku menyesal... sungguh... aku ingin menghubunginya namun nomor ponselnya tidak aktif!!!". Vio menangis.
"Apa kamu tahu dimana dia, Ran???". Vio menatap Rani.
"Sebentar... aku akan mencarinya!!". Rani keluar dari ruang kelas Vio.
" Kak Rey, Kak Andi mana????". Rani berteriak sambil mendekat ke arah Reyhan.
"Aku tidak tahu!!. Dia tadi menghubungi aku, katanya ingin sendiri dan tidak mau di ganggu!!". Rey menjawab singkat.
"Ada apa, Rey???". Dio bertanya.
" Andi dan pacarnya putus!!". Rey menjawab singkat.
"Hahhh?????". Keempat sahabat Rey yang ada disana sangat terkejut.
Tidak jauh dari mereka berkumpul, ternyata ada seorang siswi berambut panjang yang sedari tadi mengikuti langkah Rani, menyimak perkataan mereka. Puasss.... sangat puas... Andika hanya miliknya, bukan milik Viola ataupun orang lain tidak sia sia Ia membayar orang untuk mengerjai Viola selama ini.
"Kak Rey, ikut aku!!". Rani menarik tangan Reyhan dengan paksa menuju tempat parkir kendaraan.
Sesampainya disana...
" Kak Andi bawa mobil apa motor tadi, Yang????".
__ADS_1
"Bawa mobil. Mobilnya nggak ada!!!". Rey menyadari bahwa tadi dirinya dan Andi memarkirkan mobilnya di tempat itu.
" Gawattttt!!!. Bearti dia tidak berada disini!!!!". Rani berteriak.
"Yasudah, biarkan dia sendiri dulu!!". Rey menenangkan Rani.
" Kak Andi itu pintar tapi juga bodoh. Sekarang kamu cari dia!!!". Rani sangat panik hingga Ia meninggikan suaranya di depan kekasihnya itu.
"Sini kunci mobilmu, sayang!!". Terlintas di pikirannya, sebuah tindakan konyol yang pasti akan Andi lakukan.
"Kamu tahu dimana Kak Andi, sayang????".
" Tentu!!!. Dia pasti di sana!!!". Rey sangat yakin.
"Hati hati ya, sayangku!!!!".
"Baik, aku akan ijin dulu kepada guru piket. Kamu harus kembali ke kelas!!!.". Rey menarik Rani untuk masuk kembali ke dalam gedung sekolah itu setelah mendapat kunci mobil itu.
________________
Reyhan tahu, tempat yang pasti menjadi tujuan Andi hari ini.
Keluar meninggalkan gedung sekolah itu, Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan kelewat batas. Tujuannya hanya satu, yaitu Apartemen milik Andi. Ia sangat yakin bahwa Andi sedang sangat kacau.
Beberapa belas menit kemudian, Ia sampai. Tidak lupa untuk memarkirkan mobil yang Ia kendarai itu. Ia kemudian menuju Unit Andi yang terletak di lantai atas gedung itu.
Dengan modal kartu akses yang Ia miliki, Reyhan bisa memasuki penthouse milik Andi itu.
Begitu masuk, Rey terkejut melihat beberapa barang barang mahal milik bossnya itu sudah tergeletak di lantai, bahkan tidak sedikit yang pecah. Reyhan semakin yakin, bahwa Andi berada di tempat ini. Masuk kedalam kamar Andi, di lihatnya Andi yang terlihat sangat kacau masih dengan seragam sekolah yang masih menempel di tubuhnya sedang tidak sadarkan diri bersama beberapa botol redwine yang telah kosong.
"Bosss!!". Reyhan berusaha membangunkan Andi.
Karena tidak kunjung bangun, Ia memindahkan tubuh Andi ke atas ranjang lalu Ia bergegas mencari obat yang biasanya Andi gunakan saat hangover parah. Saat Rey membuka mulut Andi, terciumlah aroma alkohol yang sangat menyengat yang Ia yakini tidak hanya satu jenis minuman yang di tegak bossnya itu.
Sambil menunggu Andi sadarkan diri, Rey menghubungi Rani untuk memberitahu keadaan Andi.
Setelah dering ke lima, barulah sambungan telepon itu tersambung.
" Halo, Andi ada di penthouse nya, kacau sayang. Dia tidak sadarkan diri!!". Ujar Rey dengan gemetar.
"Apa????. Baik. Aku akan beritahu viola!!". Suara Rani terdengar lirih, sebab ini masih jam pelajaran bahkan suara guru yang mengajar pun terdengar jelas.
"Iya, sepulang sekolah bergegaslah kemari!!". Reyhan memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
________________
Viola tidak fokus sama sekali, hingga sesekali Ia terkena teguran dari guru yang mengajar. Bukankah ini yang Ia inginkan?????, hanya karena sebuah paket tidak dikenal, Ia terlalu takut dan memilih melepaskan seseorang yang sangat di cintainya!!!. Viola memang bodoh.