
Masih di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda.
Dua orang remaja laki laki yang sudah bersahabat sedari kecil menuju ke taman belakang Rumah sakit itu.
"Aku baru saja jadian dengan Shasha!!!". Yoga membuka percakapannya.
"Oh!!". Andi menjawab singkat tanpa menanggapi apapun.
Yoga tidak bisa melanjutkan obrolannya, dia pun akhirnya diam di samping Andika.
"An???". Yoga memanggil nama Andi yang sedari tadi hanya diam menatap lurus kedepan.
"Hm??". Jawab Andi dengan singkat.
"Maafin Shasha ya, An. Aku janji akan merubah arah pandang Shasha yang selalu tergila gila padamu!!!".
"Aku nggak peduli!!". Jawab Andi kemudian.
"An??".
"Aku nggak punya waktu untuk membahas jal lang itu!!!". Andi meninggikan suaranya menandakan bahwa rasa bencinya pada Shasha sangat besar.
"Apa maksudmu, An???".
"Kamu tahu, ke dua pipi itu terluka karena apa???".
Yoga hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia menyelakai dan mengirimkan teror pada Violaku. Aku yang membuatnya merasakan apa yang Violaku rasakan.
Sebab dia dengan tidak tahu malunya, melemparkan dirinya padaku dan dengan kurang ajarnya duduk di pangkuanku!!!". Andi dengan mati matian menahan emosi dalam dirinya.
"Apa???". Yoga tidak percaya. Setahunya Shasha hanya mengejar Andi bukan melakukan hal yang rendah.
"Apakah kamu sudah memakainya, An???". Yoga bertanya dengan tenang. Sebab, Ia tahu bahwa Andi tidak akan pernah berbohong padanya.
Cih!!!. Andi membuang air liurnya dengan kasar ke sembarang tempat.
"An???".
"Tidak sudi aku memakai barang murahan yang menjatuhkan harganya di pangkuanku. Sekalipun dia cantik pun aku tidak berselera!!!".
Yoga menghembuskan nafasnya lega.
"Maafkan dia. Aku berjanji dia tidak akan melirik lagi ke arahmu dan mengganggu hidupmu!!!".
"Hm!!!". Andi berlalu meninggalkan Yoga sendirian di tempat itu.
__________________
Andika kembali ke ruangan Shasha dengan tujuan menemui kekasihnya. Pemandangan yang indah dari sebuah keluarga inti yang bahagia tersuguh di hadapannya, membuatnya canggung dan enggan untuk mendekat.
"Florentinus Andika!!!". Suara Awan membuatnya mengurungkan niatnya untuk menjauh.
"Paman!!!". Andika menghampiri Awan lalu mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Ikut aku sebentar!!!". Awan berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu yang di ikuti Andika di belakangnya.
Setelah menjauh, Awan memulai dengan obrolannya.
"Nak, apakah Viola merepotkanmu???". Tanya Awan serius.
"Tidak sama sekali, Paman!!!".
"Apakah kalian tidur sekamar berdua semalam???". Awan menatap mata Andi.
deggh. Andi sangat kaget dengan pertanyaan Awan.
"Iy ya, Paman!!". Andi menjawab dengan jujur.
"Apakah kamu menjaganya dengan baik, dan tidak mengambil yang belum menjadi hakmu, Nak???. Secara kamu adalah laki laki beranjak dewasa!!".
"Aku menjaganya. Tidak terlintas sedikit pun di otakku untuk melakukan hal terlarang itu, Paman!!!". Andi menjawabnya dengan lancar tanpa gugup sama sekali.
"Bagus!!". Awan menepuk bahu lelaki beranjak dewasa di depannya yang tingginya sama dengannya itu.
"Terimakasih paman telah mempercayai aku!!".
"Tentu aku mempercayaimu, Nak. Paman mohon, bawalah kembali Vio bersamamu untuk malam ini!!!".
"Tentu Paman!!". Andi menyanggupi permintaan Awan.
"Paman, aku ingin minta maaf atas perbuatanku pada Shasha!!!". Kata Andi kemudian.
"Biarkan ini buah dari perbuatannya. Aku tidak menyalahkanmu. Malahan aku berterimakasih padamu mau menyadarkannya dari semua kesalahannya!!!". Jawab Awan.
_____________________
Hari menjelang sore, langit senja telah menampakan dirinya. Andika dan Vio juga telah kembali ke apartemen pribadi Andi.
"Sayang, hmmm apa yang ayahku katakan padamu tadi???". Vio yang sedang bersender di dada Andi membuka suaranya.
"Hmmm apa ya kira kira???". Andi malah berbalik tanya.
"Uhhh bila aku tahu, aku tidak akan bertanya!!!". Vio memanyunkan bibirnya.
Cup!!. Andi malah mengecup singkat bibir Vio.
"Kak Andi!!!". Vio berteriak karena kaget.
"Jangan panggil aku dengan sebutan kakak, saat kita hanya berdua!!!. Perlu ku katakan berapa kali????. Hmmm jangan salahkan aku, bila belum genap 24 jam aku mengucapkan janjiku untuk tidak kurang ajar padamu, saat ini juga aku akan mengingkarinya!!!". Wajah Andi kini berhadapan dengan posisi duduk di atas ranjangnya.
"Iya iya maaf, tadi aku refleks karena kaget, Sayang!!". Vio memajukan wajahnya dan mengecup bibir Andi dengan singkat.
"Loh???. Kamu sekarang berani ya???". Andi mencubit hidung Vio gemas.
"Kan kamu yang ajarin!!!". Vio malah menjulurkan lidahnya sambil menutup rapat kedua matanya.
Dengan kecepatan super, Andi menyambar lidah Vio. Sambil tangan kanannya menahan tengkuk Vio dan tangan kirinya bertumpu pada kasur empuk itu. Ji latan, lu mata n hingga sesapan pada bibir dan lidah yang membuat ciuman itu semakin dalam. Vio sudah terbiasa dengan perlakuan Andi seperti ini. Dengan gerakan perlahan, Andi mengarahkan tubuh Vio agar berbaring di ranjangnya dengan posisi Ia berada diatas tubuh Vio. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut, membuat Vio semakin terbuai hingga tidak sadar dengan posisi mereka saat ini. Lama, Andi tidak kunjung melepaskan ciuman itu, hingga akhirnya...
"Maaf, Boss!!!". Suara Reyhan yang membuka pintu kamar Andi mengejutkan Mereka.
__ADS_1
Andi mengepalkan kedua tangannya sambil mendesis dan menghela nafas kasar, sedangkan Vio, Ia sangat malu hingga menutupi wajahnya menggunakan bantal.
"Sayang, tunggu sebentar ya!!!". Andi menyingkirkan bantal yang di gunakan Vio untuk menutupi wajah cantik itu lalu mengelus lembut bibir manis yang kini nampak bengkak.
Andi bergegas keluar lalu menghampiri Rey yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa???". Tanpa basa basi, Andi mendekati Reyhan.
"Tuan Dev menghubungi saya untuk mencari Boss kesini. Sebab sedari tadi beliau menghubungi nomor ponsel Boss tapi tidak menyahut!!!".
"Mentang mentang kamu punya kartu akses Unit ini, kamu lancang masuk. Ketuk pintu kamar dulu kan bisa!!!". Andi mengomel.
"Maaf Boss, kan aku nggak tahu kalau si Boss sama Vio mau begituan!!!". Rey memainkan kedua telapak tangannya membentuk sebuah gerakan dewasa.
"Sembarangan!!!". Andi memukul dahi Reyhan.
"Itu tadi udah pemanasan kan Boss???". Rey tersenyum jahil.
"Tahu apa kamu soal begituan??? Hee??". Andi menatap curiga kearah Reyhan.
"Lah kan memang kalau mau begituan kan pakai pemanasan dulu, kaya aku sama Rani juga gitu kok Boss!!!". Rey ternyata tidak sadar mengatakan kalimatnya.
"Apa????". Andi menatap Rey dengan tajam.
"Apanya yang apa Boss???". Jawab Rey tanpa dosanya.
"Kamu udah mengambil yang belum menjadi hakmu pada adikku???". Andi melotot ke arah Rey.
"Astaga!!!". Rey baru saja sadar dengan perkataannya lalu memukul bibirnya.
"Reyhan!!!!!". Andi memukul Rey hingga wajah tampan Rey tidak lagi berbentuk.
"Ampun Boss, saya janji akan bertanggungjawab. Saya janji bila sudah waktunya saya akan menikahinya!!!". Jawab Rey bersungguh sungguh.
"Kapan kamu melakukannya???".
"Baru saja Boss, he he!!". Rey memilih jujur dari pada berbohong dan akhirnya Ia tambah babak belur.
"Kamu main aman apa tidak????". Andi bertanya. Walaupun Ia masih suci namun otaknya bukan otak suci. Hah otak Andi selain encer, Namun juga sudah tercemar sejak lama. Namanya juga anak laki laki. Soal hal begituan dia sudah sangat paham walaupun belum pernah melakukannya.
"Kelepasan, Boss!!!". Jawab Rey.
"Astaga!!!!. Kalau jadi anak gimana?????". Andi seketika menghawatirkan masa depan adik perempuan satu satunya itu.
"Iya ya, Boss. Kalau hamil gimana ya????". Rey baru teringat akan mata pelajaran biologi bab reproduksi yang sedang Ia pelajari di sekolah.
"Kamu itu bodoh apa gimana sih, Rey?????". Andi mencengkram kerah baju Reyhan.
"Alkohol???. Kamu minum alkohol, Rey?????". Kata Andi kemudian saat aroma alkohol yang menyengat menusuk indera penciuman Andi.
"Aku tadi memang sedang menegak minuman keras sendirian. Namun tiba tiba Rani datang ke unit apartemenku. Entah mengapa, aku ingin sekali melakukannya, Rani juga mau dan tidak menolak kok Boss!!!". Jawab Reyhan dengan santai.
"Sekarang dimana adikku????". Tanya Andi.
"Dia sedang tidur di kamarku!!!".
__ADS_1
"Cegah dia, agar tidak keluar. Aku akan segera mencari solusinya!!!". Andi mengusir Rey keluar.