Viola

Viola
17


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, Vio dan Ana baru tiba dari Rumah Sakit. Kaki Vio sudah di tangani dengan benar oleh dokter. Ia juga sudah di berikan suntikan anti infeksi dan obat nyeri. Memasukki rumah mewah itu dengan di gandeng oleh sang Ibu.


"Maaf Non, tadi ada temennya kesini nganter ini tas sama ponsel!!!". Mbak Ira yang menerima titipan itu bergegas menghampiri Vio yang sedang duduk di sofa kecil di ruang keluarga.


" Iya Mbak. Terimakasih ya!!!". Jawab Vio sambil tersenyum.


"Iya, Non. Sama sama!!!.Terus katanya si Eneng tadi, Non Vio di suruh menghubunginya kalau sudah pulang. Namanya Rina kalau nggak salah". Mbak Ira menyampaikan pesan yang di titipkan teman Vio padanya.


" Rina???". Vio kebingungan. Sebab Ia tidak mempunyai teman bernama Rani.


"Eneng cantik, Non. Tinggi, putih, rambut nya hitam lurus sepunggung. Pakai bando warna Silver". Mbak Ira mengingat ingat ciri ciri gadis cantik yang kira kira 2 jam yang lalu mengunjungi rumah itu.


" Rani mungkin Mbak. Bukan Rina!!!". Vio mengingat ingat penampilan teman temannya saat masih di sekolah tadi.


"Hehehe iya sepertinya, Non!!!".


" Maksih ya Mbak!!".


"Iya, Non!!. Saya pamit ke belakang dulu, Non Vio mau minta di ambilin apa nih???".


" Hmmm apa ya????. Aku ambil sendiri saja Mbak, nanti!!". Vio menyahut.


___________________


Vio membuka tas sekolahnya dan mencari keberadaan ponselnya. Setelah di dapat, Ia segera menghubungi nomor ponsel Rani.


"Halo, Rani????".


" Halo, Vi!!!. Aku nungguin kamu telpon aku tau nggak dari tadi????. Gimana keadaan kamu????. Kok kamu nggak bilang kalau tadi pagi habis kecelakaan???". Suara Rani di seberang sana.


"Hehehehe iya. Maaf, aku baru pulang dari Rumah Sakit sama Ibu ini. Memangnya kamu tahu dari mana???".


" Kak Andi telpon aku tadi. Kasih tahu ke aku kalau dia itu jadi tersangka. Dan Aku di suruh ke rumah kamu lihat keadaanmu sama nganter itu tas dan ponselmu!!!".


"Makasih ya, Ran!!!".


" Gimana keadaan kamu???. .


"Udah jauh lebih baik. Udah nggak nyeri dan nggak perih. Lukanya juga udah di bersihkan sama dokter dan di beri obat supaya cepat kering. Ini udah nggak di balut perban!!". Vio menjelaskan kondisi kakinya.


" Kak Andi khawatir loh sama kamu!!!. xiixixixixii". Rani menggoda Vio dari seberang sana.


"Karena ngerasa bersalah kalik!!". Vio menutupi kegugupannya.


" Kayanya dia suka deh sama kamu!!!". Ujar Rani frontal.


"Apaan sih, enggak mungkin lah dia suka sama modelan kaya aku. Udah dekil, cupu, culun, miskin, nggak cantik!!!". Vio merendahkan dirinya.


" Beneran, kalau seandainya dia suka kamu gimana?????. Kak Andi itu cuek loh sama cewek. Baru soal kamu ajah dia cerewet banget!!!".


"Jangan ngarang deh kamu!!!". Sarkas Vio.


" Yeeeeee.. orang di bilangin kok kamu itu!!!".


"Udahlah aku jadi pusing ini nanti denger ocehan kamu!!!". Ujar Vio sedikit ngegas.


" Pusing apa salting???? cieeeehhh!!!". Suara Rani melengking di telinga Vio, sehingga yang empunya telinga menjauhkan ponselnya.


"Apaan sih. Gak jelas banget!!!". Sebenarna Vio sangat salting mendengar ocehan Rani yang nggak bermutu itu.


" Kira kira kalau aku kasih nomor ponsel mu ke Kak Andi boleh nggak nih?????". Rani masih menggoda Vio dari seberang sana.


"Orang dia nya udah punya nomor ponselku kok, tadi pagi dia minta". Vio tidak menyadari bahwa kata katanya menggiring Rani untuk semakin hebohhh.


" Apaaaaa??? cieeee cieeeeee......". Suara Rani sangat heboh di telinga Vio.


"Maksud aku............"


Belum sempat Vio selesai ngomong, Rani sudah menyahut.


"Maksud kamu, Kak Andi udah ngajakin pdkt. Cieeee cieeeeee hahahahahahahahhaaa !!".


Wajah Vio semerah tomat busuk. Hingga tidak bisa menyahut sorakan Rani di seberang sana.


" Kok malah diem???. Beneran ya????".


"Enggak, Maharani. Tadi Kak Andi minta nomor ponselku karena mau tanggung jawab karena udah nabrak aku tadi. Nggak ada yang lain kok. Aku juga bukan levelnya dia kalik!!!". Vio menormalkan suaranya agar tidak terlihat salah tingkah.


" Iya iya, aku percaya sama kamu!!!. Oh iya, tadi ada pengumuman, katanya besok libur dua hari. Karena para guru ada seminar di Ibu kota. Besok aku main ke rumahmu ya!!!!". Rani mulai serius.


"Iya. Udah dulu, ya. Aku mau mandi dulu!!!".


" Oke, besok aku ke rumahmu jam 10 ya, sekalian jenguk kamu. Kalau kak Andi mau ikut boleh nggak nih???" Rani sedikit menggoda Vio.


"Jangan dong, nggak enak sama Ayah!!!". Vio menjawab.

__ADS_1


" Yaudah yaudah, aku matiin. Dadahh see you!!!. Emmmuuaacchh!!!".


"Iya!!!". Vio menjawab singkat dan panggilan telpon sudah dimatikan.


___________________


Vio berjalan pelan pelan menaiki satu demi satu anak tangga untuk menuju ke kamarnya.


Badannya sangat gerah, dengan seragam khas Roses International masih melekat di tubuhnya. Sesampainya d kamar, Vio melepas seluruh pakaian yang Ia kenakan dan di gantikan dengan handuk mandinya.


Menghidupkan shower yang suhu airnya telah @di atur senyaman mungkin untuk mandi. Membersihkan tubuh dan rambutnya agar merasa segar kembali.


Setelah prosesi mandinya selesai, Ia mengelap lukanya menggunakan tisu antiseptik kemudian menyemprotkan obat yang dibawanya dari Rumah Sakit agar cepat kering.


Kaus oblong dan celana training setutut tidak lupa juga mengaplikasikan make up tipis di wajahnya. Setelah selesai dengan ritualnya, Ia mengecek ponselnya dan melihat terdapat 5 video call dengan nama Andi, di daftar panggilan tak terjawab.


"Kak, Andi????. Ada apa dia menghubungi ku hingga 5 kali tak terjawab???".


"Ku telpon balik nggak ya????".


Dua menit kemudian,


Panggilan video call masuk, tertulis nama 'Kak Andi' di layar ponselnya. Di gesernya tombol berwarna biru pada layar ponselnya.


Seketika wajah khawatir Andi tergambar jelas di layar ponsel Vio.


" Halo, maaf Vio nya ada???". Suara Andi terdengar sangat halus.


"Halo, Kak Andi ini Vio!!".


" Hahh???". Andi terlihat kebingungan.


"Memangnya ada yang aneh ya Kak???".


" Wajahmu berbeda!!!". Andi menunjukan keterkejutannya. Bagaimana tidak???. Bedak tipis dan lipgloss natural serta Tanpa kacamata, membuat Ia memang terlihat berbeda, apalai kaus oblong yang di kenakan sangat pas di tubuhnya. Satu lagi, furniture yang terlihat di kameranya juga bukan main main.


"Oh Tuhan!!!". Vio bergumam sambil menutup wajahnya. Ia lupa bahwa Wajahnya berbeda dari biasanya. Dan dimana posisinya sekarang. Sontak Vio memposisikan dirinya di pojok kamarnya, biar hanya dinding kamarnya yang terekspos.


" Maaf Kak, ini karena filter kameranya!!!". Vio berdalih.


"Ohhh... memang video call ada fitur filter kamera ya, Dek????". Andi mengetahui kebohongan Vio.


" Ada!!!. Punyaku ada fitur filter kameranya!!!". Vio gugup.


" Ada perlu apa kakak video call aku????".


"Kata Rani, kamu pergi ke Rumah Sakit?????".


" Iya, tadi Ibuku memaksaku untuk periksa ke Rumah Sakit!!!".


"Ohhhh... sekarang gimana keadaanmu????".


" Sudah jauh lebih baik, Kak!!!. Luka nya juga sudah mengering serta rasa nyeri dan perih juga sudah tidak ada lagi!!!". Vio menjelaskan.


"Syukurlah.. Aku lega mendengarnya!!!". Andi menghembuskan nafas lega.


" Iya!!".


"Bisa kirim no rekeningmu sekarang, Dek????".


" Buat apa Kak???".


"Aku harus bertanggung jawab atas kecelakaan tadi, juga biaya pengobatanmu!!!. Maka dari itu beri aku nomor rekeningmu akau akan mentransfernya sekarang!!!". Andi menjelaskan maksud dan tujuannya Ia menelpon Vio.


" Tidak perlu, Kak!!!". Vio menolak.


"Atau aku akan ke rumahmu sekarang dan membawa sekuter matic yang sama persis dengan milikmu yang aku tabrak tadi saja????". Andi membuat opsi kedua.


"Eh.. Jangan jangan jangan!!!". Vio malah tambah merasa tidak enak hati.


" Ya sudah, sekarang kirim no rekeningmu!!!".


"Baiklah, Kak!!!". Vio akhirnya mengalah dan mengetikkan nomor rekeningnya lalu Ia kirimkan ke nomor WA milik Andi.


" Sudah, Kak!!".


"Oke, sebentar!!". Andi mengecek notifikasi pesan masuk di layar ponselnya.


" Ini benar nomor rekening kamu???". Andi ragu. Sebab Ia tahu rekening itu atas nama bank apa.


"Iya, Kak!!!. Mau aku kirim foto buku tabunganku sekalian apa gimana???". Vio heran dengan pertanyaan Andi.


"Tidak perlu!!!".


" Ini sudah aku transfer!!!".

__ADS_1


"Seharusnya tidak perlu repot repot, Kak!!!".


" Kan aku harus bertanggung jawab dengan perbuatanku!!!".


tok tok tok


Terdengar suara pintu kamar Vio di ketuk dari luar dengan suara Awan terdengar memanggil namanya.


"Maaf, sebentar ya Kak. Ayahku memanggil, tidak perlu di matikan telponnya!!!".


" Iya, Dek!!".


-"Iya ayah"- Vio berteriak.


-"Apa Ayah boleh masuk, Sayang????"-


-"Iya, Ayah. Pintu tidak di kunci!!!"- Vio mempersilahkan Awan masuk.


-"Sayang, Ayah mau bertanya sama kamu!!!"- Awan masuk ke dalam kamar putrinya kemudian menutup pintu lalu mendekati putrinya itu.


-"Iya silahkan, Ayah!!!"-


-"Siapa yang mentransfer uang begitu banyak ke rekening kamu??? Dan apa maksudnya???"- Awan memperlihatkan aplikasi mobile banking Rekening milik Vio.


-"Ini?????"- Vio kebingungan.


-"Ayah mengawasi keluar masuk saldo di rekeningmu lewat aplikasi ini, Sayang!!!. Dan jelaskan pada Ayah apa maksudnya ini???. Mengapa ada dana masuk senilai 20 juta lima menit yang lalu dari rekening atas nama Florentinus Andika???"- Awan meminta penjelasan pada putrinya itu.


-"Hahhhhh????? Kok banyak sekali, Yah????"- Bukannya menjawab malah Ia bertanya balik pada Ayahnya.


-"Jawab dulu pertanyaan Ayah, Sayang!!!"- Awan mendesak jawaban dari Vio.


-"Apa jangan jangan dia adalah orang yang menabrak aku tadi pagi ya, Yah????. Memang tadi dia minta nomor rekening untuk mengirim uang ganti servis dan ganti biaya pengobatan. Tapi kenapa banyak sekali???"-


-"Yasudah!!!!"- Awan keluar dari kamar Vio.


"Halo, Kak Andi???". Vio menatap kembali kearah layar ponselnya yang masih tersambung Video call dengan Andi.


" Iya, Dek???".


"Kenapa transfernya banyak sekali????".


" Nggak papa kok, Itu nggak seberapa!!!". Andi menampilkan senyumannya.


"Sebentar, dek!!!".


" Iya, Kak!!!".


"Lah kenapa malah di transfer balik, Dek???".


Ternyata baru saja Ia menerim notifikasi dari aplikasi mobile banking.


" Haaaaahhhh???". Vio tidak paham.


"Ayahmu sepertinya menolak uang yang aku transfer, Dek!!!!". Andi memasang wajah kecewa.


" Ya memang nggak usah Kak. Kan Kakak nggak sengaja tadi pagi nabrak aku!!!".


"Kakak minta maaf ya, Dek!!!". Andi memasang wajah kecewa.


" Iya, udah aku maafin!!!". Vio tersenyum sangat manis.


"Maaf Kak, video call nya aku matiin ya. Nanti di sambung lagi. Aku mau keluar benar!!!".


" Bearti berharap aku video call lagi dong ini???". Andi menggoda Vio.


blussshhh.. pipi Vio seketika memerah.


"Ehh.... enggak, maksudku ahhhh gimana ya???". Vio salah tingkah.


" Tidak apa apa, aku ngerti kok!!. Yaudah, aku matiin yaa!!!. Love You!!!".


"Hahhh???". Vio semakin salah tingkah.


" Hmmmm maksudku. Sampai ketemu lagi!!!".


"Oalahh.. See you too!!!". Vio merasa dirinya salah dengar.


tuut tuttt tutttt tuuttt


Panggilan Video sudah berakhir.


___________________


...****************...

__ADS_1


__ADS_2