Viola

Viola
43


__ADS_3

" Aaaayyy yaaahh!!!". Shasha sangat takut melihat ayahnya.


"Baik, sekarang saya akan memperlihatkan sesuatu!!!". Seketika layar proyektor itu hidup, dan menampilkan sebuah video.


.


.


.


" Kamu harus hancurkan wajahnya!!!". Siswi berambut panjang memberikan perintah kepada seorang siswi berkuncir kuda di depannya.


"Tapi, Kak. Saya takut, kemarin saja saya hampir ketahuan!!!".


" Oohh kamu mau semua orang tahu bahwa kamu hanyalah wanita simpanan, alias sugar baby???".


"Tii daakk!!!".


" Aku akan mencarikan kamu Daddy baru bila kamu berhasil membuat luka di wajahnya!!".


"Baaa iik!!".


" Satu lagi, dia berada di meja nomor 14 kursi nomor 2 dengan penampilan berbeda, Hancurkan wajahnya itu!!!".


"Ta pi??".


" Seperti biasa, lakukan se natural mungkin!!!".


....


...


Layar Proyektor telah dimatikan.


"Shasha!!!". Ini adalah kali pertamanya Ia membentak Shasha.


" Aayyaahh, aku bisa jelaskan!!". Shasha sangat ketakutan.


"Dia adalah adikmu!!. Kenapa kamu tega????".


" Maaafff ayah!!!".


"Jelaskan apa masalahmu dengan Viola???".


" Diiiaa meeerebut Andi dariku!!". Shasha menundukan kepalanya.


"Kamu gila!!!. Ayah malu punya anak sepertimu, tidak punya harga diri sebagai seorang gadis!!!!". Awan sangat kecewa dengan kelakuan putrinya itu.


Andi mengeluarkan sebuah kotak dari dalam laci mejanya.


" Jelaskan!!!". Andi melemparkan kotak itu hingga isinya berserakan di lantai.


"Aaakkkkuuu akkkuu mencintaimu, Andi!!!". Shasha terlalu ketakutan.


" Shasha!!!!. Kamu ingin merusak wajah adikmu????". Awan menatap Shasha tidak percaya setelah membaca secarik kertas yang merupakan bagian dari kado itu.


Kemudian Andi mengeluarkan sebotol zat kimia dari dalam lemari kecil di samping tempat duduknya. Sisi lain dari seorang Florentinus Andika telah bangkit dan menguasai Andi sepenuhnya.

__ADS_1


"Aanndiii, aaapaaa yaangg akaan kammu laaakuukann???". Shasha sangat gemetar saat mengetahui bahwa Andi menuangkan isi dari botol itu ke dalam sebuah gelas reaksi.


" Bukankah ini adalah zat yang sama yang kamu gunakan untuk menyiram kaki Viola???". Andi menyeringai sambil menghampiri Shasha dengan sebuah gelas reaksi di tangannya.


"Kamu sukses membuat hubunganku hancur. Kamu sukses membuat aku menderita dan kamu sukses membully adikmu dengan cara yang sangat halus dengan bantuan orang lain!!!". Andi menghampiri Shasha dengan seringaian iblis di wajahnya.


" Ttiiidaaakkk aaanndii!!!". Shasha melangkah mundur.


"Kamu sudah membuat aku gila, Kamu sudah membuat aku kacau sekacau kacaunya!!!. Sekarang, rasakan apa yang aku rasakan!!!". Andi sangat menyeramkan di mata Shasha.


" Aakkkkuu mintaaa maaaaff!!!". Shasha sangat ketakutan. Ini adalah pertama kalinya Shasha melihat Andi berubah menjadi menyeramkan.


"Lakukan apa yang kamu ingin lakukan. Aku tidak akan melarangmu. Biarkan dia menerima konsekuensinya!!!". Awan hanya duduk manis di sofa di ruangan itu sambil melihat ke arah Andi.


Awan tahu bahwa Andi memiliki sifat yang sama persis dengan sahabatnya. Bila di cegah maka semua akan menjadi korban, bahkan tega berbuat di luar nalar. Sebab Awan juga tahu bahwa Andi memiliki kepribadian ganda yang sama persis dengan sahabatnya.


" Ayahhhh!!!". Shasha tidak percaya dengan apa yang di katakan Ayahnya.


"Reyy, panggil Siswi tadi kemari!!".


" Iya, Boss!!!". Rey bergegas masuk kedalam dan mendapati Indah yang sangat ketakutan.


"Katakan, apakah dia yang menyuruhmu???". Andi menatap dingin ke arah Indah lalu menunjuk ke arah Shasha.


" Bbuuu kann!!". Indah benar benar takut.


"Apakah ini yang kamu siramkan ke kaki Viola???". Andi menunjukan sebuah botol reaksi dengan simbol korosif di labelnya. Kemudian Andi menuangkan zat itu kedalam sebuah gelas reaksi.


" Buuu buukan akkku!!!". Indah sangat ketakutan hingga keringat dingin kembali mengucur deras di dahinya.


"Katakan dengan jelas, siapa yang menyuruhmu!!!!. Atau cairan ini akan aku siramkan ke wajahmu, agar tidak ada pria hidung belang yang melirik ke arahmu!!!".


"Jelaskan!!!!". Andi terlihat sangat menyeramkan dengan mata merah dan senyum iblis di wajahnya.


" Diiiaaa membaayaarkuu satu jutaa setiap kalli akku seelesaii meelakukannya. Tarrgetnyaa adalah wajah Siiswi itu. Bila ak ku bisa meng han cur kan wajahnya, maka akku akan di bayaarr ma hall!!". Indah menjawab dengan terbata bata dan dengan tubuh gemetar.


"Baguss!!!". Andi mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi uang pecahan seratus ribuan.


" Ambil, itu adalah bayaranmu karena kamu mau membuka mulutmu!!!". Amplop itu di lemparkannya di wajah Indah.


"Taapp pii???". Indah terlihat ragu.


" Ambil dan pergilah dari tempat ini!!!. Ingat, tutup mulutmu rapat rapat atau aku akan menghancurkan hidupmu!!!".


Indah dengan tergesa gesa mengambil amplop itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Shaphira Fansisca, kamu benar benar mencintaiku bukan????". Seringaian iblis itu kembali terbit di wajah Andi sembari membawa satu gelas reaksi berisi Asam sulfar, mendekat ke arah Shasha.


" Iyyy yaaa!!". Shasha menjawab dengan ragu.


" Aku akan menghancurkan wajahmu dengan tanganku, agar kamu tahu siapakah aku yang sebenarnya!!!". Andi memainkan isi gelas reaksi itu menggunakan pipet kecil.


"Tii daaakk, Andi!!!". Shasha gemetar.


" Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan langsung menyirammu, tapi... dengan pipet kecil ini!!!". Andi mengambil beberapa tetes cairan itu menggunakan pipet kecil di tangannya lalu......


"Aahhhhhhh.... Panassss!!!". Shasha berteriak saat ujung pipet itu menyentuh pipinya.

__ADS_1


" Enak kan, Sayang????. Anggap saja itu adalah ciuman pertamaku untukmu!!!!". Andi menyeringai.


"Jangan, Andi. Kamu gilaaaa!!!".


" Hahahahahahahaaa aku memang gilaaa, sayang!!!". Andi mencelupkan kembali ujung pipet itu ke dalam gelas reaksi yang di pegangnya.


"Jangan... aku mohonnn.... ampuni aku, Andi!!!". Shasha menangis di kaki Andi.


Saat Andi ingin menumpahkan seluruh isi gelas reaksi itu, tiba tiba...


" Kak Andi, jangan Kak!!!". Vio memeluk Andi dari belakang.


Andi diam mematung saat Viola memeluknya.


"Dia Kakakku, biar bagaimanapun dia adalah saudariku!!!!!. Jangan lakukan itu, aku mohon!!!".


" Hahahhaaaaaaa mana ada seorang kakak tega menyelakai adiknya???". Andi menatap tajam ke arah Shasha yang menangis.


"Aku janji, tidak akan mengganggu Viola lagi. Andi, aku janji. Kamu bisa pegang janji aku. Lakukan apapun yang kamu inginkan bila aku melanggarnya!!!". Shasha mengatakannya dengan sungguh sungguh.


" Hahahahaha.... di kamusku tertulis, telinga ganti telinga, mata ganti mata dan nyawa ganti nyawa!!!".


"Tidak Kak Andi, kasihanilah Kak Shasha. Dia saudariku!!!!. Aku ikhlas menerima perlakuan dia terhadapku. Aku mohon, ampuni dia!!!". Viola menangis di kaki mantan kekasihnya itu.


"Rey, singkirkan Viola dari kakiku!!!".


" Viola, menyingkirlah. Dia bukan Andi!!!". Rey menarik tangan Vio agar menjauh dari Andi.


"Maksudmu???".


" Nanti kamu akan tahu!!!".


"Aku akan menghancurkan wajahmu!!!". Andi mengangkat pipet kecil itu kembali.


" Aaaaaaaaaaaaaaaa, panassss ayahhh!!!". Teriakan Shasha memenuhi seluruh ruangan itu, saat Andi mengeluarkan isi pipet itu ke pipi Shasha.


" Aku telah mengabulkan keinginanmu, bukankah wajahmu sudah seperti boneka itu?????". Andi menunjuk kearah boneka dengan pipi terluka.


"Sekarang giliran Kakimu!!!!!". Andi menyiramkan seluruh isi gelas reaksi itu ke kaki Shasha.


" Panaaaassssssssss Ayaaahhhhhh!!!". Shasha menjerit saat cairan itu mengenai kaki kirinya.


"Bagaimana????, enak kan?????. Mulai hari ini jangan ganggu hidupku!!!!". Andi mulai menghisap sebatang rokok.


" Iya Andi, aku minta maaf!!!". Shasha menahan panas yang amat sangat di kaki dan wajahnya.


"Hahahahaha aku bukan Andi yang lemah. Aku ini Floren!!!". Seketika Shasha dan Viola kaget mendengar pengakuan Andi.


" Pergi dari hadapanku!!!!". Andi berteriak di wajah Shasha.


Shasha di bantu oleh Awan dan Rey, meninggalkan ruangan itu. Tinggallah Andi dan Vio yang masih berada di tempat itu.


"Siapapun kamu, Aku minta maaf atas kesalahanku!!. Aku menyesal dengan sangat telah memutus hubungan denganmu!!". Vio menunduk takut.


" Pergi dari hadapanku!!!". Teriak Andi.


"Baik, aku akan pergi. Terimakasih atas segalanya. Aku bahagia pernah merasakan cinta darimu. Terimakasih atas waktu dan kasih sayangmu untukku!!!. Aku mencintaimu Kak Florentinus Andika!!!. Dan ini adalah kalung pemberianmu, aku kembalikan. Sebab aku tidak layak untuk mengenakannya. Sekali lagi, terimakasih!!". Dengan tenang dan air mata yang Ia tahan, Vio mengucapkan salam perpisahannya dan mengembalikan sebuah kalung beserta liontinnya pada Andi.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan, Vio menuju pintu dan ingin melangkah keluar, sehingga Ia bisa melepaskan air mata yang sedari tadi Ia tahan.


__ADS_2