Viola

Viola
56


__ADS_3

Masih menggunakan Rumah Sakit Sehat sebagai latar tempatnya,


"Sha, aku tahu bahwa aku jauh berada di bawah Andika dalam hal apapun. Otak, harta, tampang dan lainnya. Aku memang tidak bisa bila di bandingkan dengan dia. Sha, lihatlah ke arahku. Di sini aku mencintaimu!!!". Yoga berkata dengan lirih sambil menatap lembut ke arah Shasha.


"Sha, maafkan aku. Jangan menangis!!!". Yoga menghapus air mata Shasha dengan kedua ibu jarinya.


Shasha masih diam dengan air mata yang jatuh hingga mengenai kain kasa yang menutup luka di kedua sisi pipinya.


"Aku sudah tahu apa keputusanmu, buang saja bunga itu dan terimakasih sudah mau mendengar isi hatiku!!!". Yoga menyimpulkan secara sepihak lalu kemudian berdiri dengan wajah kecewanya.


"Bunga ini cantik, Yoga. Aku tidak akan membuangnya!!!". Jawab Shasha lirih.


"Itu artinya????". Yoga kembali menyejajarkan tingginya dengan Shasha yang sedang duduk di kursi roda.


Shasha menjawab pertanyaan Yoga dengan sebuah anggukan kepala.


"Shaphira, Terimakasih. Aku mencintaimu. Sungguh!!!". Yoga membawa Shasha kedalam pelukannya.


Air mata Shasha terjun lebih deras lagi.


Seperti inikah rasanya di cintai???".


"Yoga, namun aku sekarang jelek!!!". Suara Shasha membuat Yoga menguraikan pelukannya.


"Ssttt... kenapa kamu bicara seperti itu, hemm????".


"Iya, itu faktanya!!!".


"Sayang, aku mencintaimu bukan karena wajahmu yang cantik. Sungguh!!". Yoga menggenggam tangan Shasha dengan lembut lalu kembali memeluk Shasha dengan penuh kasih sayang.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati mereka sedari tadi.


"Ekkheem!!!". Suara laki laki dewasa mengagetkan mereka, sehingga Yoga secara refleks menguraikan pelukannya.


"Tuan Hermawan!!!". Yoga menunduk takut.


"Ayah!!!". Shasha terkejut saat mendapati Ayahnya ada di sampingnya.


"Ayah???". Yoga bingung mengapa Shasha memanggil rekan kerja ayahnya dengan sebutan ayah.


"Dia putri sulungku!!!. Bukankah kamu anak dari Mahendra???". Awan menatap Yoga dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Iya Tuan. Memang benar Mahendra adalah Ayah saya!!!". Yoga menjawab sambil menunduk takut.


"Bangunlah, Nak!!". Awan membantu Yoga berdiri.


"Maafkan saya, Tuan. Yang telah lancang!!!". Yoga masih menundukan kepalanya.


"Apakah aku tidak salah lihat dan tidak salah dengar tadi???".


"Maafkan saya, Tuan!!!". Yoga malah semakin ketakutan.


"Angkat kepalamu dan lihat aku!!!".

__ADS_1


Yoga dengan takut setengah mati, mengangkat kepalanya lalu menatap Awan dengan gemetar.


"Kamu mencintai putriku????". Awan menatap Yoga.


"Maafkan saya, Tuan. Saya telah lancang mencintai putri Anda!!!". Yoga mengaku.


"Kenapa kamu meminta maaf????, Kamu bebas mencintai putri saya. Asalkan jangan sampai mengajak putri saya berbuat hal hal yang belum saatnya kalian lakukan!!!".


"Tuan???". Yoga sedikit terlambat dalam mengartikan maksud dari perkataan Awan saking takutnya.


"Jaga putri saya. Jangan sakiti dia ataupun merusak dia!!". Awan menepuk bahu Yoga.


"Tentu, Tuan. Terimakasih!!!!". Air mata bahagia Yoga terjatuh begitu saja.


Awan menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan dua remaja yang baru beberapa menit yang lalu menjadi sepasang kekasih.


"Yoga???". Panggil Shasha dengan lirih.


"Iya???". Yoga menatap kekasihnya itu dengan lembut.


"Bantu aku untuk menghapus rasa cintaku untuk Andika. Dan ajari aku untuk mencintaimu!!!!". Shasha menatap kekasihnya.


"Tentu, Sayang!!!". Yoga mengecup kening Shasha.


__________________


Di sebuah ruang inap, Shasha dengan Yoga yang menemaninya sepanjang hari ini. Selain itu pula Ana juga tidak pernah meninggalkan Shasha sedetik pun.


Tok tok tok


Ceklek.


Pintu terbuka, menampilkan Andika yang menggenggam tangan Vio.


"Bagaimana keadaan kakak, Ibu???".


"Kakakmu sudah stabil sayang. Ayo masuk dulu. Nak Andika, ayo masuk dulu!!!". Ana mempersilahkan mereka masuk.


"Viola!!!". Shasha merentangkan kedua tangannya tanda ingin di peluk oleh Vio yang baru datang.


"Kakak!!!". Viola memeluk Shasha sangat erat.


"Dek, maafin kakak ya!!!". Shasha meminta maaf, tulus dari dalam lubuk hatinya.


"Sudahlah Kak, Aku sudah melupakannya!!". Vio berkata dengan tulus.


"Tapi Andika???". Shasha berkata dengan lirih sambil menatap kearah laki laki yang sedari tadi memasang wajah tidak bersahabat kepadanya.


"Kak Andika?????". Vio menguraikan pelukannya lalu menghampiri kekasihnya yang masih berdiri di depan pintu.


"Sayang, jangan seperti itu. Bagaimana pun juga, Kak Shasha adalah saudariku!!!". Vio membisikan kalimat itu tepat di telinga Andi.


"Andika???". Sontak mereka semua menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari depan toilet yang terletak pada pojok ruangan itu.

__ADS_1


"Apa??". Jawab Andi singkat.


"Ngapain kamu di sini???". Tanya Andi kemudian.


"Aku?? , hmmmm aku eehh emmmm hanya menjenguk Shasha!!". Jawab Yoga kikuk.


"Oh!!". Andi menanggapi dengan singkat.


"Ayah dimana, Bu????". Viola mendekat pada ibunya.


"Keluar sebentar ayahmu tadi. Palingan sebentar lagi juga kembali!!!". Jawab Ana.


"Bro, ikut aku bentar yuk!!". Yoga mendekati Andi.


"Sayang, aku keluar dulu ya!!!". Kata Andi di telinga Viola sambil mengacak rambut gadis itu.


"Jangan jauh jauh, lekas kembali!!!". Vio menanggapi.


"Iya sayangku!!!". Andi mengedipkan sebelah matanya ke arah Vio lalu menyusul Yoga keluar.


"Dek, Maafin kakak ya. Karena kakak, hubunganmu dengan Andika pernah hancur. Maafin kakak ya, karena kakak kamu mendapat perilaku tidak menyenangkan. Kakak janji, kakak tidak akan mengganggu Andika lagi!!!". Shasha menangis.


"Kakak, sudahlah. Kakak nggak pernah salah. Kakak adalah kakak yang terbaik yang aku miliki. Sebab hanya kakak saudaraku di dunia ini!!!". Vio merentangkan kembali tangannya lalu memeluk Shasha.


Deggh.


Ana terkejut mendengar perkataan Viola sontak menoleh ke arah kedua gadis itu.


Ana menangis di dalam diam. Ingat akan orangtua dan kakak satu satunya. Apa kabar mereka???. Mengapa rindu itu tiba tiba hadir begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis kecilnya???".


"Sayang, Ibu keluar dulu ya!!!". Ana menyembunyikan tangisannya dari kedua gadis itu.


Disaat yang bersamaan Ana yang hendak membuka pintu, Awan terlebih dahulu membuka pintu itu dari luar. Terkejutlah Awan yang melihat Ana berlinang air mata melewatinya begitu saja.


"Ana!!!". Awan memanggil Istrinya yang semakin menjauh.


"Ana!!!". Awan berhasil menggapai tangan Ana lalu membawa Ana ke dalam pelukannya tanpa peduli dengan orang orang yang lalu lalang di sekitarnya.


"Ana???. Apa yang terjadi????? Kenapa kamu menangis????". Awan terlihat sangat khawatir melihat Ana yang tidak pernah menangis, hari ini menangis di pelukannya.


"Mas, aku merindukan Orangtua dan saudaraku!!!". Jawab Ana sambil terisak.


"Sssttt... biarkan mereka tenang di surga!!!". Awan mencoba menenangkan istrinya.


"Sebenarnya mereka masih ada, Mas!!!". Akhirnya Ana jujur pada suaminya.


"Apa???". Awan terlihat sangat terkejut. Bagaimana tidak????. Selama ini Awan hanya mengetahui bahwa satu satunya keluarga Ana hanyalah Viola.


"Maafkan Aku, Mas. Papa Mamaku juga Kakak perempuanku masih ada, jauh di kota Z. Karena sebuah alasan, aku kabur dari rumah!!!".


"Ssstt... semua itu pasti ada alasannya, aku bisa mengerti. Besok bila Shasha sudah sembuh. Kita kunjungi mereka sekalian meminta maaf juga meminta doa restu untuk keluarga kita!!!". Awan menenangkan Istrinya.


"Aku takut, bila bertemu dengan Ayah Vio. Aku belum siap dan aku tidak ingin mengacaukan kebahagiaan mereka!!!. Sebab rumah Papaku terletak tidak jauh dari rumahnya, Mas!!".

__ADS_1


"Ssstt.. Ana, buktikan bahwa kamu sudah bahagia setelah bercerai darinya. Berdamailah dengan masa lalu. Masa depanmu adalah aku dan kedua gadis cantik kita. Sakit hati pasca perceraian itu wajar terjadi. Namun, berdamailah dan jadikan pelajaran yang berharga, jangan menyimpan dendam apalagi amarah!!!".


Ana hanya menganggukkan kepalanya. Belum siap menceritakan semuanya pada Awan saat ini.


__ADS_2