Viola

Viola
53


__ADS_3

Viola berada di tengah tengah keluarga Andi. Canggung. Takut salah bicara di hadapan calon mertuanya. Ini perasaan yang sangat nyaman, tenteram dan seperti mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama.


"Ekhemm!!". Rendra berdehem.


"Usia kamu berapa, Nak???". Rendra menatap ke arah Viola.


"Agustus ini saya berusia 17 tahun, Kakek!!".


"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan cucuku??".


"Baru dua hari ini, Kek!!". Jawab Vio jujur.


"Enam bulan lalu putus dan baru dua hari yang lalu kami nyambung lagi, Kek!!". Andika meralat jawaban Viola.


Rendra hanya menanggapi sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu anak sambung Awan, ya???".


"Iy ya kakek!!". Vio menunduk takut.


"Siapa nama ibu dan ayahmu???". Rendra bertanya kembali.


"Ibuku bernama Ana dan ayahku hmm ayahku". Vio terlihat gusar.


"Katakan, Nak!!". Rendra semakin menekan Vio.


"Kata ibuku, ayahku bernama Devan. Aku juga belum pernah bertemu dengannya!!!". Vio menjawab dengan lancar tanpa berniat menutupi apapun.


"Ibu dan ayahmu bercerai saat kamu masih terlalu kecil, Nak???". Rendra malah mengintrogasi Vio.


"Tidak tahu, Ibuku hanya berkata bahwa aku lahir dari sebuah jebakan!!". Jawab Vio dengan lirih.


"Kakek, jangan tanyakan yang menyinggung privasinya!!". Andi menyela.


"Sayang, apapun dan bagaimana pun masa lalu kamu. Aku percaya bahwa kamu adalah gadis yang baik!!!". Andi memeluk Vio yang berada di sampingnya.


"Maafkan kakek, Nak. Bukan bermaksud ingin menyinggungmu!!!". Rendra menjadi sedikit merasa bersalah.Vio hanya tersenyum.


"Sudah, ini lumpia buatan Viola tadi. Ini enak sekali. Nenek saja sangat menyukainya!!!". Rima menyodorkan sepiring lumpia kepada suaminya.


"Nek, aku mau pamit duluan ya!!!". Rani beranjak dari tempat duduknya setelah membaca sebuah pesan singkat dari ponselnya.


"Iya sudah, hati hati!!!". Rima memeluk cucu perempuannya.


" Iya. Dadah Viola!!!". Rani melambaikan tangannya kepada Vio.


"Kak Andi, awas saja bila kakak macam macam dengan Viola!!". Rani membisikan kalimat itu tepat di telinga Andika.


.


.


"Wah lumpianya enak sekali!!!". Rendra memuji rasa lumpia buatan Viola.


"Terima kasih, Kek!!!". Vio hanya tersenyum.


"Iya, ini enak sekali!!!". Dev ikut ikutan memuji makanan yang baru saja di kunyahnya itu.


"Lumpia ini yang mempertemukan aku dengan Viola!!!". Andi mengangkat tinggi tinggi lumpia yang ada di tangannya lalu memasukan ke mulutnya.


"Oh iya???". Rima menatap cucu laki lakinya itu.


"Iya, di SMP Intra saat itu. Vio menjual lumpia di kantin sekolah itu. Tidak sengaja aku menabraknya di koridor!!". Jelas Andi singkat sambil menikmati lumpia itu.


"Kamu jualan lumpia, Nak???". Nenek menatap teduh ke arah Vio yang hanya duduk diam.

__ADS_1


"Iy ya, Nek. Sebelum Ibu dan Ayah Awan menikah. Aku berjualan lumpia dan kue basah sambil berkeliling dan berakhir di titipkan di kantin sekolah Intra dan SMPN XX setiap pagi". Vio tanpa malu menjelaskan.


"Wahh kenapa tidak kamu kembangkan saja bisnis lumpia itu, Nak???". Rima bertanya kemudian.


"Ingin, Nek. Namun saya masih mengumpulkan modalnya!!!". Jawab Vio jujur.


"Siapa yang mengajarimu membuat lumpia seenak ini, Nak???". Kini kakek ikut nimbrung.


"Ibu saya, Nek!!".


Di sela sela obrolan mereka, tiba tiba ponsel Dev berdering, tanda ada panggilan masuk di nomor ponselnya.


"Halo???". Dev menyapa seseorang di seberang sana.


"Dev, apakah putriku masih di mansionmu???". Tanya seseorang dari seberang sana.


"Ada. Dia masih di sini. Sedang ngobrol di ruang keluarga ini!!".


"Baik, Hmmm Dev, bolehkah aku menitipkan putriku padamu untuk sehari ini dan besok????".


"Tentu. Dia baik baik saja di sini. Maaf ya, semalam dia pingsan. Aku tidak tahu bahwa Putrimu alergi buah jeruk. Kemarin salah satu pelayan memberinya jus jeruk!!!". Dev berkata jujur sambil sesekali menatap Vio yang ada di depannya.


" Iya, Viola memang tidak bisa mengonsumsi buah ataupun jus jeruk. Hmmm... Dev, keadaan Shasha memburuk pasca operasi. Dia depresi. Jadi terpaksa aku menitipkan Viola padamu!!!".


"Iya, Wan. Akan aku jaga Viola. Ada Andika juga yang menjaga Vio. Maafkan Floren yang keterlaluan, Wan. Aku pasti akan membantu biaya pengobatan Shasha!!".


"Tidak, Dev. Ini bukan salah putramu. Ini adalah salah Shasha yang memang keterlaluan dan mencari gara gara!!".


"Tapi???".


"Dengan cara kamu bertanggung jawab menjaga Viola, aku sudah sangat berterima kasih, Dev!!".


"Tentu, putrimu adalah calon menantuku. Biarkan calon suaminya yang menjaganya. Bila terjadi sesuatu, tinggal menikahkan mereka. Beres kan???". Dev menatap jahil kearah putranya.


" Hahahahaaaa enak di Andika sengsara di Viola!!!". Dev tertawa mendengar jawaban Awan.


"Apaan sih, Ayah???". Andi yang sedari tadi mendengar namanya di sebut kini protes.


"Andika ada di sana, Dev????. Bolehkah aku bicara dengannya???".


"Tentu. Sebentar ya!!!".


"Andika, ayah mertuamu mau bicara!!!". Dev tersenyum jahil lalu memberikan ponsel itu kepada putranya.


"Halo, Paman???". Andi menyapa Awan.


"Andika, Paman titip Viola ya. Terus bila dia mau belanja, antarkan dulu ya. Kemarin Paman sudah mentransfer uang ke rekeningnya!!!".


"Iya, tentu!!!". Andi menjawab.


"Jaga dia, ya!!!. Tapi awas, jangan sampai kebablasan!!".


"Tidak, Paman!!!".


"Yasudah, paman tutup dulu. Paman mau menemui dokter dulu!!!".


"Iya, Paman!!". Panggilan telepon telah berakhir.


...


...


"Kenapa dengan Awan, Dev????". Rendra bertanya saat panggilan telepon telah terputus.


"Dia masih menitipkan Viola padaku, Ayah!!!". Dev menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Hmmm, sayang. Ayahmu tadi bilang bahwa dia kemarin mentransferkan uang untuk mu berbelanja kebutuhanmu. Aku akan mengantarkanmu!!!".


"Iya, Kak!!!!". Vio hanya menunduk.


"Ayo bersiap siap, Sayang. Kita keluar!!!". Andi menarik tangan Vio menuju ke kamarnya tanpa mengiraukan tatapan tiga orang dewasa di sekitarnya.


"Tapi, Kak???".


"Sudah berapa kali aku katakan, aku bukan kakakmu!!!". Andi sedikit merengut.


"Maaf, sayang!!!".


_____________________


Di sinilah mereka sekarang, di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.


"Apa yang akan kamu beli, sayang???". Andi menggandeng tangan kekasihnya.


"Sebenarnya kita bisa ke rumahku dan mengambil keperluanku untuk hari ini dan besok, Sayang!!!".


"Beli saja. Atau aku akan mengambilkan sesukaku dan langung membayarnya???".


"Tidak!!!".


"Yasudah, ambil keperluanmu!!".


Vio pun akhirnya membeli pakaian untuknya berganti dan juga alat make up tidak lupa juga Underware.


Di saat ingin membayar,


"Pakai ini saja, Kak!!!". Andi menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pada petugas kasir.


"Lalu tambah ini!!!". Andi menyerahkan beberapa potong Baju dan beberapa pasang sepatu ke meja kasir.


"Tapi???". Vio hendak memprotes tindakan Andi.


"Sstttt... Diam saja!!!". Andi malah menyentuh bibir manis yang pagi tadi sempat Ia cicipi itu menggunakan jari telunjuknya.


____________________


Setelah mereka melakukan transaksi pembelian, Andi malah tidak langsung mengajak Vio untuk pulang ke Mansionnya.


"Lohhh... bukannya ini arah ke apartemen kamu ya, Sayang???". Vio berkata sambil mengingat jalur yang Ia pernah Ia lalui.


"Kamu ingin kita ke apartemen dulu???". Andi malah tersenyum jahil ke arah Vio.


"Enggak, bukan gitu maksudku!!!".


"Baiklah baiklah... Aku akan mengajakmu ke Apartemenku barang sebentar!!".


"Sungguh. Bukan seperti itu!!!".


"Sssttt.. diamlah, atau aku akan membungkam mulutmu menggunakan mulutku, sayang???". Andi malah menyeringai.


"Tapi???".


Andi menepikan kendaraanya, lalu hendak mencium Bibir manis di hadapannya.


"Kamu sungguh ingin mulutmu di bungkam di tempat ini, Sayang???. Hemm??". Andi tersenyum jahil.


Perkataan Andi langsung membuat Viola kicep.


____________________


...****************...

__ADS_1


__ADS_2