
Satu tahun sudah berlalu, hubungan Andika dan Viola berjalan baik baik saja dan sebagaimana mestinya.
Andika sebentar lagi akan mengikuti Ujian Nasional sebagai syarat kelulusannya. Tepatnya satu minggu lagi. Sedangkan Viola masih berkutat dengan materi kelas sebelas yang membuat seluruh isi kepala hampir meledak.
Di apartemen Andi hari ini, mereka menghabiskan waktu. Andi benar benar menepati janjinya dalam menjalin hubungan dengan Viola. Masih sama, hanya sebatas Deep kissing tidak lebih.
"Sayang, aku jadi buka kios lumpia goreng di samping kantor pusat milik Ayahmu!!!". Vio membuka keheningan mereka.
"Bagus itu, setelah kelulusan aku sambil kuliah juga mengemban tanggung jawab sebagai direktur kantor pusat!!".
"Bagaimana bisa???, sedangkan kamu baru lulus sekolah menengah atas!!". Tanya Vio.
"Aku sudah mengetahui seluk beluk perusahaan, sebab itu aku menjabat sebagai bawahan ayah. Sambil aku menyelesaikan kuliahku, aku juga sambil belajar tentang tanggung jawab pemimpin perusahaan. Setelah aku meraih gelar sarjana, Perusahaan ayahku akan langsung menjadi tanggung jawabku sepenuhnya!!". Jelas Andi.
"Ohh begitu???". Vio mengangguk paham.
"Huummm... Sayang, kapan rencananya kamu buka Kios nya????".
"Senin depan mungkin!!".
"Terus gimana cara kamu bagi waktunya???, Kamu kelas sebelas sekarang, sebentar lagi kamu Ujian kenaikan kelas loh!!!".
"Rencananya sih, untuk isian dan kulitnya aku di bantu Ibu buatnya di rumah. Sambil berangkat sekolahnya, aku mampir dulu ke kios. Karyawan tinggal melipat dan menggoreng, setelah itu mengemas. Beres!!".
"Oke oke. Semoga yang kamu harapkan tercapai, Sayang!!!". Andi mengelus puncak kepala Vio.
"Ternyata buka kios butuh modal yang sangat banyak!!!".
"Lah iya, apapun itu butuh modal. Asal optimis, pasti berhasil. Mungkin satu sampai tiga bulan pertama belum ramai, lanjut terus. Suatu usaha akan terlihat untung atau ruginya, setelah satu tahun beroperasi!!".
"Iya Pak Direktur!!!". Jawab Vio.
"Hahaha belum, sayang!!!. Aku masih pembantu ayah. Belum jadi direktur!!!".
"Lah bearti bila kamu Direkturnya, terus Paman Dev menjabat Direktur utama gitu??? dan terus Kakek Rendra, Sayang???".
"Kakek sudah menyerahkan kekuasaannya pada Ayahku dari dulu sebenarnya. Namun ayah dari dulu enggan menjabat sebagai Direktur utama. Terpaksa Kakek masih turun tangan mengurusi ini itu. Dan karena sebentar lagi Jabatan Direktur pindah ke tanganku, mau tidak mau Ayah harus menduduki Direktur utama dan Kakek sudah lepas tanggung jawab!!!". Jelas Andika panjang lebar.
"Hmmm iyain aja. Aku nggak paham tentang perusahaan!!!". Vio malah nyengir kuda.
Andika terlalu gemas, hingga Ia menarik hidung Viola.
"Aaaaaaaaaaaa aaaaawwwwww.. Sakit sakit sayang!!!". Vio mencubit pinggang Andi.
"Setelah aku menyelesaikan gelar sarjana dan menjabat sebagai direktur utama, aku akan datang melamar kamu, Sayang. Tunggu ya!!". Andi menggenggam tangan Vio.
"Aku tunggu saat itu tiba, Sayangku!!!". Vio menjawab sambil tersenyum.
"Kamu selalu terlihat cantik, Sayangku!!!". Andika mendekati Vio lalu mencium kening Vio.
"Sayang????". Vio menatap wajah Andi lekat.
"Iya???". Andi menjawab dengan lembut.
"Nggak jadi!!". Vio lalu membuang muka.
__ADS_1
"Loh kok nggak jadi sih??? Hemmm?????". Andi menjawab tepat di wajah Vio. Bagaimana tidak???, hidung mereka bersentuhan. Hingga nafas mereka bersahutan.
"Aku takut, jauh dari kamu!!!". Jawab Vio dengan sangat lirih.
"Besok libur, kamu temani aku tidur di sini ya???". Kata Andi masih dengan posisi yang sama.
"Takut Ibu marah kalau aku nggak pulang!!". Jawab Vio dengan jujur.
"Tapi sebenarnya kamu mau kan???". Andi tersenyum menggoda.
"Huu umm!!". Vio dengan malu malu, menganggukan kepalanya satu kali.
"Nanti biar aku yang meminta ijin pada Ayah Awan!!!". Andi mengelus surai Kekasihnya itu dengan lembut.
"Sayang, lihat sini!!!". Kata Andi dengan lirih.
Cup!!. Andi dengan cepat mengecup bibir Vio dengan lembut. Kecupan kecupan lembut itu berubah menjadi lummattan dan gigitan, sehingga memberikan rasa yang aneh dan membuat mereka enggan untuk melepaskan paggutan itu setelah ciuman itu semakin dalam dan semakin dalam lagi. Sepertinya Andika semakin lihai dalam permainan lidahnya.
Derrrttt derrrrttt derrrtttt derrrrrrrrtttr..
Ponsel Andika bergetar, tanda ada panggilan masuk ke nomor teleponnya.
Dengan berat hati Andika menghentikan ciuman itu lalu melihat siapa nama penelepon yang mengganggu kemesraanmya.
"Jojo!!". Andi membaca nama si penelepon.
"Angkat aja,, sayang!!!". Kata Vio.
Andi menganggukan kepala sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"An, bukain pintu dong!!!. Aku ada di luar!!!".
"Hemmm!!!". Jawab Andi singkat lalu mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
..
"Jojo ada di depan, sayang!!!. Kamu disini saja ya!!!". Andi mengacak rambut Vio lalu mengecup kembali bibir manis milik kekasihnya itu. Kemudian meninggalkan Vio yang sedang rebahan di kamarnya. Tidak lupa menutup pintu itu.
.
.
Andi membukakan pintu Unitnya.
"Ngapain kalian kesini???". Andi berkata setelah melihat Jojo, Dio, Rio dan Yoga ada di balik pintu.
Kemana Rey???. Rey mungkin sedang bermanja manja dengan istrinya.
"Main, An!!!". Mereka langsung masuk sebelum di persilahkan.
Ck!!.
"Reyhan mana, kok tumben nggak sama kamu????". Yoga bertanya.
Pernikahan Reyhan dan Rani masih menjadi rahasia, bahkan sahabat sahabat mereka tidak mengetahuinya, kecuali Vio tentunya.
__ADS_1
Andi hanya menghendikan bahunya.
"An, punya wine nggak????". Rio bersuara.
"Ada!!!". Andi bangkit lalu menuju kamarnya.
Yoga mengikut di belakangnya.
"Mau ngapain kamu???". Andi berhenti tanpa menoleh ke belakang.
"Ikut!!!".
"Nggak boleh!!!". Andi nyengak.
"Aneh banget, biasanya juga boleh!!!". Yoga bergumam.
"Kamu beli aja sana, sepertinya stokku habis!!!". Ucap Andi berbohong, Ia langsung mengambil dompet dari saku celananya kemudian langsung mengambil uang dan di berikan pada Yoga.
"Semua ini buat beli Wine???". Yoga ternganga saat menerima uang dari tangan Andi.
"Kurang???". Andi menatap remeh ke arah Yoga.
"Ini terlalu banyak untuk satu krat Wine!!!".
"Sisanya untuk satu krat Vodka!!". Ucap Andi sambil menjauh dari pintu kamarnya.
"SIAP!!!". Yoga sangat bersemangat.
"Rio, ayo ikut aku!!!". Yoga berteriak sambil mengibaskan uang pecahan seratus ribuan.
Rio sangat antusias mengekor Yoga di belakang.
Tinggallah Dio dan Jojo yang ada di ruang utama Penthouse itu.
"An, lulus SMA kamu mau lanjut kemana??". Dio membuka obrolan.
"Universitas XX, kedokteran. Sama ambil Ekonomi menegemen!!!". Jawab Andika.
"Gila, itu otak apa CPU???". Jojo bersuara.
Lagi lagi Andika hanya menghendikan bahunya sebagai jawabannya sambil menyalakan sebatang rokok favorit nya.
"Orang pinter mah bebas!!!". Dio menyindir.
"Kalau kamu, Di??". Tanya Jojo pada dio yang berada tepat di sampingnya.
"Sama kayak Andi, Universitas XX ambil kedokteran juga. Kalau kamu, Jo???". Dio balik bertanya.
Jojo menghela nafas,
"Aku lanjut kuliah di Canada. Untuk Universitas mana, aku belum terfikirkan. Aku harus menyusul kedua orangtuaku ke Canada. Sambil membantu urusan perusahaan keluarga!!". Jojo berkata lirih. Sejujurnya berat hati meninggalkan kelima sahabatnya.
"Nih, di lap!!!". Andi menyodorkan sebuah tisu kepada Jojo, yang sangat terlihat sedang menahan air mata.
"Anjir!!. Apaan sih???". Jojo memukul pelan bahu Andi lalu menyambar tisu yang Andi sodorkan padanya.
__ADS_1
Andi dengan gerak cepat, memeluk Jojo hingga Ia pun ikut menangis. Saat tahu kedua sahabatnya sedang menitikkan air mata, Dio pun ikut bergabung dalam aksi peluk itu.