
Malam ini, Devanendra memenuhi permintaan Awan untuk makan malam bersama di kediaman Awan. Duduk saling berhadapan di meja makan dengan berbagai hidangan tersedia.
"Dev, mari silahkan menikmati masakan istriku. Di jamin kamu suka dan pasti ketagihan karena masakan ini mengalahkan sajian yang ada di restoran bintang lima mana pun!!!". Awan malah mempromosikan hasil masakan Istrinya.
Ana hanya tersenyum malu malu sambil mencubit pelan paha suaminya.
"Iya, tentu!!!". Dev mulai mengisi piring kosongnya.
"Florentinus Andika, kamu tidak akan kenyang apabila hanya memandang putriku yang cantik ini tanpa makan masakan calon ibu mertuamu". Awan meledek Andi yang sedang memandang kecantikan Viola di hadapannya.
"Hehehe iya, Ayah Awan!!!". Andi salah tingkah lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaha kamu jangan malu maluin Ayah, sayang!!!". Dev ikut ikutan mengejek Putranya.
"Halah, kamu itu juga sama saja, Dev!!!. Ingat 20 tahun yang lalu!!!". Awan malah gantian meledek Dev.
"Itukan dua puluh tahun yang lalu, Tuan Hermawan!!!!". Dev malah sewot sendiri.
"Berarti kan memang kamu juga sama saja, Dev!!!".
"Apa kabar itu cinta pertama yang terpisah karena pilihan orang tua???". Awan malah semakin menjadi dalam mengejek Dev.
"Sebenarnya dulu aku ingin menjadikannya sebagai ibu sambung buat Andika, eh malah ternyata dia kabur ke luar negeri". Wajah Dev seketika berubah.
"Mana mau dia balikan sama yang tidak mau memperjuangkan dia sama sekali. Jika aku jadi dia, aku tidak mau!!!". Kata Awan.
"Dimana ya dia sekarang????". Dev seperti sedang berfikir.
"Yang pasti dia sekarang sudah bahagia dengan suami dan juga anak anaknya!!". Awan menekankan di setiap kata katanya.
Dev diam, tidak ada kata kata yang bisa Ia ucapkan.
Ana, Viola dan Andika hanya menyimak pembahasan dua orang sahabat yang tidak mereka ketahui arah obrolan itu.
Dev akhirnya menghela nafas dengan kasar.
"Yang pasti, dia adalah cinta pertama dan terakhirku!!!. Aku tidak pernah mencintai Saras, sampai dia meninggal pun aku tidak bisa mencintainya!!". Dev berkata dengan lirih.
"Sudahlah, Ayah!!!". Andika memang mengetahui detail cerita hidup Ayahnya. Tentang bagaimana Ayah dan Ibunya menikah hingga ada dirinya, bahkan hingga sampai Ibunya meninggal tidak mendapat secuil cinta dari Ayahnya pun dia tahu.
__ADS_1
"Nak, perjuangkan Viola. Jangan sampai kamu menyesal seperti aku!!!". Dev menyentuh bahu Andika yang duduk tepat di sampingnya.
"Suamiku, ini acara makan malamnya itu jadi di laksanakan apa tidak???". Ana berbisik di telinga suaminya.
"Ekhem!!". Awan berdehem lumayan keras.
"Maksud saya mengundang Tuan Dev sekeluarga datang ke kediaman saya malam hari ini, selain acara makan malam, saya ingin membahas tentang hubungan antara putri bungsu saya dan putra Tuan!!!". Awan sekarang berbicara lebih formal.
"Terimakasih atas undangan yang Tuan Hermawan berikan kepada kami, mohon maaf tanpa mengurangi hormat kami, Kakek dan Nenek Andika tidak dapat bergabung, sebab sedang melakukan perjalanan bisnis ke Italia!!!". Dev menanggapi.
"Sebelum kita bicara lebih jauh, ada baiknya kita nikmati dulu jamuan makan malam yang telah kami sediakan. Mari kita ambil sikap berdoa, doa saya hantarkan. Puji syukur... ... . . . . . . . . Amin!!". Awan selesai memimpin doa.
Semua orang yang duduk di sana, menikmati makan malam dengan tenang namun tetap santai.
Beberapa menit sudah berlalu, piring mereka telah kosong.
"Tuan Dev, alangkah baiknya kita sambung obrolan santai kita di ruang keluarga saja, Mari!!!. Dan Vio kamu ajak kekasih kamu untuk ngobrol di taman belakang saja!!!". Awan bangkit dari duduknya kemudian beranjak menuju ke ruang keluarga dan di ikuti oleh Dev dan Ana di belakangnya. Sedangkan Andika dan Viola malah menuju taman belakang.
__________________
.Di Ruang Keluarga.
"Ekhem!!. Langsung saja ke inti pembahasannya ya, Tuan!!!". Awan berdehem pelan lalu berkata.
"Ini tentang anak anak kita, mereka semakin dewasa. Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka???. Mereka sudah sering tidur bersama, aku yakin mereka hanya tidur dan tidak melakukan yang belum waktunya. Namun bukankah Iblis selalu mencari celah, Tuan???. Bagaimana menurut Anda???". Awan mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Soal itu saya setuju. Namun bagaimana dengan anak anak, Tuan???". Dev berkata sambil menganggukan kepalanya.
"Mohon maaf saya menyela!!!". Ana yang sedari tadi diam, kini bersuara.
"Silahkan Nyonya Hermawan!!!". Dev memberikan kesempatan untuk ikut mengemukakan pendapatnya.
"Putri saya masih kecil. Belum cukup umur untuk menikah. Dia masih harus mengejar impiannya tanpa terikat ikatan pernikahan. Toh Vio masih kelas sebelas sekolah menengah atas!!". Ana melayangkan protesnya sebab Awan tidak memberi tahu atas semua rencananya.
"Biarkan mereka bebas dulu, biarkan mereka saling mengerti dan memahami. Yang penting hubungan mereka kita pantau!!!". Ana melanjutkan perkataannya.
_____
Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Menikmati dinginnya angin malam di sebuah taman pribadi keluarga Hermawan.
"Sayang, kira kira Ayahku dan Ayahmu sedang membahas apa ya????". Vio bertanya.
Andi menghendikan bahunya lalu berkata, "Palingan ngomongin kita!!".
"Loh kok ngomongin kita???". Vio bertanya lagi.
"Nikah aja yuk, sayang. Kayak Rani sama Rey. Aku sudah bisa nafkahin kamu loh!!!". Andi malah mengalihkan pembicaraan.
"Nanti kalau aku sudah bisa mengejar karirku. Selain itu, aku juga ingin ayah kandungku yang menikahkan aku. Apa kata beliau nanti bila aku ingin menikah di waktu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas???. Aku ingin membuktikan pada beliau, bahwa aku harus sukses dan membuatnya bangga. Apa kata anak anak ayah yang lain nanti, pasti mereka akan mencemooh aku dengan kata kata buruk. Sebab kamu tahu???, ayahku tidak tahu adanya aku di dunia ini dan aku lahir dari sebuah jebakan yang menghancurkan hidup Ibuku!!!".
"Iya aku mengerti. Aku tahu jalan pikiran kamu. Aku akan bantu kamu saat menghadapi anak anak dari ayah kandungmu suatu saat nanti!!!". Andi mengelus puncak kepala gadis itu.
.
.
"Sayang, kamu jangan nakal ya kalau aku udah lulus dan tidak satu sekolah lagi sama kamu!!!!". Andi berbisik di telinga Vio sambil memeluk erat gadis itu dari belakang.
"Iya sayangku, tenang aja hati aku cuma untukmu. Kamu juga ya!!!". Vio berkata sambil menyenderkan tubuhnya pada tubuh jangkung yang memeluknya erat itu.
"Jangan kasih nomor ponselmu ke orang sembarangan!!!. Apalagi itu cowok".
"Apaan???, kamu itu yang harus jaga nomor ponsel dari warga asrama putri!!!". Vio sedikit ngegas.
"Besok aku akan bedain nomor ponsel pribadi dan untuk umum, sayang!!!". Jawab Andi enteng.
"Ohh jadi punya niat tebar pesona ini????. Kamu punya niat sebar sebar nomor ponsel????. Gaya es batunya rencananya mau di lelehkan??? Iya????". Vio melepaskan pelukan Andi lalu menghadap ke pemuda itu sambil berkacak pinggang.
"Eh enggak, Sayang!!. Bukan seperti itu maksud aku!!!". Andika menyesali perkataannya yang di nilai kurang pas itu.
"Oke, aku setuju. Satu nomor untuk umum. Tapi awas saja kalau kamu berubah jadi sok kegantengan!!!". Kata Vio lagi.
"Kan aku memang ganteng, Sayang!!!". Andi malah memasang wajah tengil sambil menaik turunkan alisnya.
"Pokoknya besok kalau kamu udah lulus, sebelum lanjut ke perguruan tinggi aku harus make over kamu jadi jelek!!!. Titik!!!". Kata Vio dengan penuh penekanan.
"Kok gitu???".
__ADS_1
"Kamu nggak mau???, yaudah terserah kamu!!!". Kata Vio.
"Iya iya Nyonya Florentinus!!". Akhirnya Andi mengalah juga.