
Tiga minggu sudah berlalu, Shasha menemani Vio untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk mengikuti Masa Orientasi Siswa. Kebetulan juga, Shasha merupakan salah satu anggota OSIS.
,Di Kamar Vio.
"Vi, Papan nama dari sterofoam dan kertas manila sudah kamu buat belum???".
" Sudah, Kak. Tinggal mendekorasi dan mewarnainya kok".
"Coba lihat!!!".
" Sebentar!!". Vio mengambil benda itu dari meja belajarnya.
"Bagus.... Pita warna merah nya mana?????". Shasha mengamati name tag itu.
" Ada, Kak. Tapi belum aku pasang". Vio menunjukan segulung pita kain warna merah yang sudah dibelinya.
"Oke oke. Kunciran rambut 3 warna nya sudah???".
" Sudah, Kak!!!. Ini!!!". Bio mengambil ikat rambut yang terbuat dari karet dengan masing masing berwarna merah, kuning dan hujau.
"Oke. Kamu besok dandan yang cantik kaya gini ya, Vi!!!". Shasha mengelus pipi Vio.
Memang kesehariannya sekarang, Vio selalu merias diri. Entah itu saat keluar rumah ataupun hanya saat berdiam diri di rumahnya.
" Besok aku pikirin dulu deh, Kak!!!". Vio hanya menjawab singkat sambil tersenyum.
"Kamu jadi besok berangkat sekolahnya cuma pakai sepeda???".
" Jadi kok, Kak!!!. Seterusnya aku mau pakai sepeda".
"Kenapa nggak bareng aku aja sih, Vi??? Kita kan satu tujuan!!!".
" Enggak enak, Kak!!. Takut ganggu privasinya Kakak!!". Vio mengutarakan isi hatinya.
"Hahahaha apaan sih kamu????. Enggak papa lagi!!!". Shasha hanya tertawa garing.
" Tidak, Kak. Terimakasih!!!".
"Hahahahaa terserah kamu aja deh!!".
Semua persiapan sudah lengkap. Besok pagi Vio tinggal mengenakan atributnya dan mulai memasuki Sekolah barunya.
" Shasha, Vio!!!. Makan malam dulu, Nak!!!". Ana berteriak di balik pintu yang tertutup.
"Iya, Bu!!!". Jawab mereka serempak kemudian bergegas menuju meja makan.
________________
" Duduk dulu, Ibu ambilkan makanan untuk kalian!!". Ana ke dapur untuk mengambil makanan yang baru selesai di buatnya dengan di bantu Mbok Minah.
"Aku bantuin ya, Bu!!!!!". Vio mengikuti langkah Ana.
"Bu, Mbak Ita sekalian di suruh buatin es capuccino cincau untukku ya!!!". Shasha berteriak sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Iya, Sayang!!!". Ana berlalu sambil geleng geleng kepala.
"Shasha, Kamu kan udah besar, bisa buat sendiri kan???". Awan menegur Shasha.
" Ihhh apaan sih, Yah????. Apa gunanya pembantu coba?????". Shasha menghentikan aktivitasnya lalu menatap Awan.
"Sudah sudah.. Mbak Ita baru buatkan itu, sebentar lagi juga di antar kesini". Ana menegur Shasha sambil membawa semangkok besar berisi sayur sop. Dengan Vio di belakangnya membawa sepiring lauk dan sambal di mangkuk kecil.
" Duduk, Vi!!!. Sekarang kita makan!!!". Ana kemudian mengambilkan masing masing satu porsi untuk mereka..
"Ibu, Aku ambil sendiri saja!!!".
" Baik. Pelan pelan!!!".
"Iya, Bu!!!".
" Non Shasha, Ini es nya!!!". Mbak Ita menaruh minuman yang di pesan Shasha.
"Taruh situ saja, Mbak!!!".
" Shasha......!!!!". Awan sedikit terganggu dengan tingkah Shasha.
"Makasih, Mbak!!!". Shasha memutar matanya malas.
" Sudah Sudah. Sayang, makan dulu. Main ponselnya nanti lagi ya!!!". Ana menegur Shasha dengan lembut.
"Iya, Bu!!!". Shasha menaruh ponselnya disampingnya.
"Mau!!!". Shasha menatap Ana dengan mata yang berbinar.
" Kamu jangan terlalu manjain Shasha, An!!!. Lihat, Dia sudah besar!!!". Awan menegur istrinya yang terlalu memanjakan anaknya.
"Apaan sih Ayah?????". Shasha memanyunkan bibirnya.
" Sudah sudah. Buka mulutnya, Sayang?!!!!". Ana mulai menyuapi Shasha.
"Vio, Gimana sudah beres semuanya???".
" Sudah, Ayah!!!".
"Bagus!!!".
" Terimakasih ya, Kak. Kakak sudah menemani Aku buat cari perlengkapan yang di butuhkan!!!". Vio menatap Shasha yang berada di sampingnya.
"Oke, Santai!!!". Shasha menjawab singkat.
" Ayah bersyukur, memiliki dua orang putri yang cantik dan baik. Saling kerjasama dan saling membantu!!!". Awan tersenyum tulus dari hatinya.
"Iya, betul itu. Ibu juga sangat bersyukur memiliki kalian. Yang satu manjaaaa nya nggak ketuluangan yang satu mandiri. Kalian bisa saling melengkapi keluarga ini!!!". Ana menyahut.
" Iya dong!!!". Shasha menyahut sambil mengunyah makannannya.
....
__ADS_1
"Besok gimana, Vio mau bareng aku nggak??? kalau mau bareng, ya berangkat pagi pagi, secara aku kan anggota OSIS!!". Shasha menengok Vio yang masih menikmati makanannya.
" Enggak Kak, aku mau berangkat sendiri saja!!!". Vio menolak tawaran Shasha.
"Yaudah terserah. Ayah, Ibu aku sudah selesai , mau masuk duluan!!!!". Shasha lalu meninggalkan meja makan kemudian bergegas ke kamarnya.
" Iya sayang, selamat beristirahat!!!". Ana menyahut.
"Vio, Kamu yakin mau naik sepeda????". Ana meragukan niat putrinya.
" Aku yakin, Bu!!". Vio menjawab dengan mantap.
"Kamu nggak gengsi??? Secara hampir seluruh siswa di sana berasal dari golongan menengah ke atas. Biasanya mereka akan mengendarai sepeda motor dan mobil!!!". Awan mencoba membujuk Vio.
" Tidak, Ayah!!!. Aku ingin terlihat bagaimana aku seharusnya. Mempunyai teman yang mau menerima aku apa adanya tanpa memandang uang. Maafkan aku Ayah, bukannya tidak mendengar perkataanmu!!!". Vio menundukan kepalanya.
"Baik bila itu mau kamu, Sayang. Tapi ingat, jaga diri baik baik. Bila ada yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, kamu harus lapor pada Ayah!!!".
" Iya Ayah, terimakasih!!!".
"Sekarang masuklah ke kamarmu, Sayang!!!. Beristirahatlah besok pagi biar Ibu bangunkan kamu!!!". Ana bersuara.
" Iya Ibu, selamat malam!!!. Aku mencintaimu Ibu". Vio menyalimi Ana kemudian memeluk Ana sangat erat.
"Iya, Sayang!!!. Ibu sangat sangat mencintaimu!!!". Ana membalas pelukan putrinya sambil mengecup kening putrinya berulang kali.
" Ayah, selamat malam!!!. Aku juga mencintai Ayah!!!!!". Vio melakukan hal yang sama, yang Ia lakukuan dengan Ibunya.
"Iya sayang, Ayah juga mencintaimu. Selamat malam dan selamat beristirahat!!!". Awan mengecup kening Vio singkat.
________________
Setelah Vio tidak terlihat oleh pandangan mereka, Mereka melanjutkan obrolannya.
" An, Bagaimana kamu mendidik Vio????, Mengapa Dia begitu mandiri dan bisa berfikiran dewasa????".
" Bukan aku, Mas yang mendidiknya. Melainkan keadaan yang memaksa dia untuk hidup!!!".
"Kamu tahu, An??? Aku sudah menawarkan mobil padanya, tapi dia menolak. Aku memberikan uang saku yang sama dengan Shasha, dia juga menolak!!!".
" Mas, kami terbisa hidup apa adanya. Kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan uang!!!".
"Tapi, setelah aku bujuk dia untuk menerimanya. Dia akhirnya dia mau menerima buku rekening dan ATM dariku. Namun saat aku cek pengeluarannya sampai detik ini, tidak sampai 2juta rupiah yang dia habiskan!!!. Sedangkan Shasha, uang lima juta satu minggu selalu minta lebih". Awan menunjukan aplikasi mobile banking yang ada di ponsel pintarnya ke hadapan Istrinya.
Awan memang memberikan buku rekening beserta ATM kepada kedua putrinya, Ia juga mentransfer dengan nominal yang sama. Namun tanpa mereka ketahui, Awan selalu memantau pengeluaran kedua putrinya itu melalui aplikasi mobile banking yang terinstal di ponsel pintarnya.
" Keadaan kami dahulu yang mendidik dia, Mas!!!". Ana menatap suaminya.
"Aku hanya berharap dia tidak berubah. Biarkan Shasha yang mempunyai gaya hidup seperti itu. Viola jangan sampai. Semoga saja Vio bisa melanjutkan Perusahaanku bila waktunya sudah tepat!!!". Awan menerawang jauh ke depan.
" Mas, jangan seperti itu. Lihatlah status Vio, dia hanya anak tiri. Selamanya akan menjadi anak tirimu!!!. Prioritaskan Shasha. Jangan Viola!!!". Ana kemudian beranjak ke kamarnya dan meninggalkan Awan sendirian.
__________________
__ADS_1