
Akibat terlalu banyak menegak minuman beralkohol, Andika lupa bahwa kekasihnya sedang tidur di kamar pribadinya.
Reyhan pun juga ikut bergabung dengan mereka.
Kacau!!!.
Ruang utama Penthouse Andika sangat kacau. Botol bekas minuman keras itu berserakan dimana mana. Pelakunya sudah terkapar di lantai, hanya tinggal Reyhan dan Andika yang belum terkapar. Di antara mereka ber enam, hanya Andika yang bisa bertahan walaupun takaran yang mereka tegak sama.
"Bos, aku harus pulang. Sudah tidak kuat aku!!!". Reyhan berjalan ke arah pintu utama.
"Bagaimana dengan mereka berempat???". Andi menunjuk ke empat sahabatnya yang terkapar di lantai.
"Biarkan saja!!!". Reyhan terlihat tidak peduli.
"Yasudah!!!. Aku juga mau masuk!!!". Andika masuk ke kamarnya.
.
.
Dengan keadaan mabuk parah, walaupun tidak sampai terkapar, Andika masuk ke kamarnya. Di lihatnya Viola yang sedang tidur cantik di balik bed cover miliknya.
"Apa aku benar benar mabuk berat????". Andika memijat pelan pelipisnya.
"Sampai aku berhalusinasi ada Vio di sini!!!". Andi bergumam sambil mengucek matanya berulang kali. Sepertinya Andika benar benar mabuk berat, hingga Ia tidak ingat bahwa Ia meninggalkan kekasihnya di kamar itu.
Mendekatlah Andi ke arah Vio, lalu membelai wajah cantik dan manis itu.
"Apa ini nyata????". Andika menepuk pipinya berulang kali.
Dengan bergegas, Andika mellummat bibir manis kekasihnya. Hingga Vio terbangun karena kaget.
"Sayang!!!". Vio mendorong wajah Andi menjauh.
"Bagaimana bisa halusinasiku bisa mendorong wajahku????". Andi bergumam lirih namun masih bisa di dengar oleh Vio.
"Alkohol????, kamu mabuk berat????". Vio menyingkap bed cover yang menutup wajahnya lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayangku!!!". Andi memeluk Vio dari belakang. Lalu mengecup leher jenjang dengan sedikit memberi jilattan.
"Lepass!!!". Vio memberontak dari pelukan Andi.
"Sssttt diamlah, Sayang!!!. Kamu tahu, di dunia nyata bagian tubuhku yang lain tidak mau bereaksi saat bersamamu. Namun, saat aku berhalusinasi dan membayangkan dirimu dia baru mau bereaksi!!!!". Andi membaringkan Vio dengan kasar lalu mengurung gadis itu dengan pelukannya.
"Gila kamu, Ini nyata bukan halusinasi!!!". Vio mencoba melepaskan diri dari kungkungan Andi.
"Huhh kenapa kamu begitu nyata???". Andi mengelus bibir manis Vio.
"Minggir!!!. Ini aku nyata!!!!". Vio berteriak di telinga Andi.
Andi mengabaikan teriakan Vio.
Dengan pelan namun pasti, Andi mengecup bibir yang sudah menjadi candunya itu, kemudian mellummatnya kembali dengan kasar, menggigit pelan bibir itu kemudian menyisipkan lidahnya pada mulut kekasihnya. Deep kissing yang kasar hingga Vio menitikan air matanya. Ciuman itu sangat dalam dan semakin dalam, bahkan tangan Andi yang semula diam, kini mulai berjalan jalan. Dengan satu tangan membungkam mulut Vio, Ciuman itu turun ke leher putih gadis itu dan membuat banyak tanda aneh yang belum pernah dia lakukan.
Plakk!!!.
Tangan Vio yang bebas, menampar pipi Andi dengan sangat keras karena tangan Andi yang lain sudah mulai merremas area sensitiv Vio.
Andi diam, mungkin kesadarannya sedikit kembali saat tangan halus Vio menampar pipinya.
Andi masih diam,
.
__ADS_1
.
.
.
Masih diam,
.
.
.
.
Diam
.
.
.
.
Dan.....
.
.
.
.
Dengan sekuat tenaga Vio mendorong Andi semakin menjauh darinya, kemudian Ia pergi menuju ke kamar mandi dan lalu menguncinya dari dalam.
Vio mengotak atik ponselnya lalu menghubungi seseorang,
Setelah dering ketiga, panggilan itu terhubung.
"Halo Kak Rey!!!". Vio berkata sambil ketakutan.
"Ini aku, Vi. Rani!!. Kamu kenapa????". Suara Rani yang terdengar.
"Kak Rey mana???". Vio berkata sambil gemetar.
"Sebentar, ya!!!". Rani menjawab.
"Halo, Vi???". Suara Rey terdengar sedikit serak.
"Kak Rey, Kak Andi mabuk berat. Aku takut!!!. Cepatlah kemari. Tolong!!!!. Kak Andi menakutkan!!!!". Suara Vio sambil menangis dan gemetar jadi satu.
"Kamu dimana???". Tanya Reyhan.
"Penthouse Kak Andi!!!. Aku sembunyi di kamar mandi pribadinya!!!".
"Baik, jangan kemana mana!!!. Aku jalan ke sana sekarang!!!". Rey mewanti wanti.
"Cepatlah!!!!". Lalu Vio memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
_________________
__ADS_1
Di kamar pribadi Andika
Andika berbaring dengan gusar, memikirkan apakah Ia sedang berhalusinasi atau nyata. Kepalanya sungguh pening rasanya. Berulang kali Ia menyentuh pipi kirinya, namun rasa perih akibat tamparan itu sangat terasa.
"Vio, bayanganmu terasa sakit saat menamparku!!!". Andi bergumam sendiri.
Brakk!!!.
Pintu kamar Andika terbuka, nampaklah Reyhan dan Rani yang terlihat khawatir.
"Bos???". Rey mendekati Andi yang sedang bergumam sendiri.
"Astaga, mengapa Rey juga begitu nyata????". Andi bergumam saat mendapati Reyhan ada tepat di wajahnya.
"Ck!!!. Hangover parah!!!". Rey bergumam lalu mendekati nakas samping ranjang Andi, kemudian mengambil sebuah pil berwarna putih dari sebuah plastik klip.
"Apa yang akan kamu berikan pada kakakku, Sayang????". Rani menegur suaminya saat pil itu hendak di masukan ke mulut Andi.
"Ini adalah obat penawar, aku juga sudah meminum pil ini tadi sebelum masuk ke unit kita!!!". Reyhan menjelaskan dengan ekspresi tanpa dosanya lalu memasukan pil itu ke mulut Andi.
"Kamu tadi juga ikut Kak Andika dan mereka minum alkohol???". Rani melotot ke arah suaminya.
"Sedikit, sayang!!!". Reyhan menjawab.
"Bagaimana mungkin sedikit????, Kakak dan mereka saja bisa separah ini!!!". Rani menunjuk ke arah kakaknya dan ke empat pemuda yang terkapar di ruang tamu.
"Beneran cuma sedikit, Sayang!!!". Reyhan menyakinkan.
Hukk hukkk hukkkk. Andika terbatuk batuk.
"Boss???". Reyhan menyapa Andika dan memastikan bahwa Bosnya sudah sadar.
"Apa???". Jawab Andika sarkas sambil memijit keningnya.
"Pusing, Bos???". Tanya Reyhan.
"Viola mana???". Andi menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Oh iya!!!". Rey memukul kening nya sendiri.
Bergegaslah Reyhan menuju ke kamar mandi kemudian mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
"Viola, ini Aku!!. Buka pintunya!!!". Rey mengetuk sambil berteriak.
Ceklek!. Pintu kamar mandi itu terbuka dan nampaklah Vio dengan rambut kusut dan air mata di pipi yang belum kering. Dan tunggu!!!. Kissmark di leher vio yang terlihat sangat jelas.
"Sayang???". Andi mendekat namun Vio malah melangkah mundur.
"Jangan mendekat!!!". Vio terlihat sangat ketakutan.
"Dia sudah sadar, Vi!!!". Reyhan bersuara. Viola langsung menghentikan pergerakan kakinya lalu menatap Andi.
"Sayang, aku minta maaf atas perlakuanku yang membuatmu takut!!!". Andi terlihat memelas.
Rani dan Reyhan pun sadar diri lalu keluar dari kamar itu dengan membawa empat butir pil yang sama yang Rey berikan pada Andi. Kini Rey ingin memberikan pil itu ada keempat sahabatnya.
"Kamu sudah sadar???". Vio menatap mata Andi yang kini tepat ada di hadapannya.
"Iya sayang, maafkan aku!!!". Andi menarik Vio kedalam dekapannya.
"Sayang apa ini semua aku yang buat????". Andi terkejut saat melihat banyak kissmark di leher kekasihnya itu.
__ADS_1
Vio hanya menganggukaan kepalanya sambil menitikan air mata.