
Disinilah Viola, di dalam ruang OSIS yang terkunci dari luar. Melihat lihat ruangan ini dari berbagai sisinya. Matanya tertuju pada layar ponsel Andi yang ternyata hanya di tinggal di atas meja kerja itu.
"Nomor tidak dikenal???". Vio bergumam setelah membaca tulisan nama pemanggilnya.
Tidak sengaja Vio malah menggeser tombol berwarna hijau ke atas.
" Sayang???????".
"Kamu kemana aja sih?????".
" Aku tungguin kamuuu!!".
" Halooo????".
"Sayang??????".
"Haloooo?????".
Panggilan telepon Vio putus secara sepihak.
tessss tesssss tesssss. Air mata Vio mengalir deras di pipinya yang halus itu. Ingin rasanya Ia pergi dari tempat itu, namun pintu terkunci dari luar. Jutaan jarum menusuk hatinya, sakit sekali. Seorang yang Ia cintai, memiliki hubungan dengan perempuan lain. Air mata itu mengalir sangat deras, hingga Ia terisak di dalam diam.
Ceklek!!!!!
Pintu itu terbuka, Andi datang dengan satu kantong plastik berisi makanan dan beberapa minuman kaleng yang baru saja Ia dapatkan dari kantin sekolah.
"Sayang???". Andi mendekati Vio yang mengelap air matanya menggunakan telapak tangan dengan kasar.
"Kamu menangis?????". Andi menangkup wajah Vio dan menatap mata sembab itu.
"Apa yang terjadi????". Andi bertanya lagi.
Vio hanya diam namun air mata itu luruh tanpa bisa Ia tahan.
"Sayang????". Andi menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Katakan!!!!. Kenapa kamu menangis, sayang???". Andi memeluk Vio, namun Vio hanya diam tidak membalas pelukan itu.
"Sayang????". Andi mendekap Vio erat.
" Katakan sayang, Bagaimana aku tahu bila kamu tidak mau bicara???".
Ponsel Andi berdering kembali, menampilkan nomor tidak di kenal itu lagi. Vio melihat gerak gerik Andi yang sedang menatap layar ponsel itu. Tanpa Andi sadari, air mata Vio jatuh lebih deras.
"Halo???". Andi menjawab telepon itu.
"......"
__ADS_1
Andi lalu memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Heiii... Sayang???. Kok kamu tambah nangis???". Andi menatap mata Vio dalam.
"Karena ini kamu menangis???". Andi mengangkat ponselnya hingga ke wajah Vio.
Vio masih diam dengan air mata mengalir deras.
" Sssstttt... katakan!!!". Kata Andi dengan lembut.
"Jika iyaa, Baik. Silahkan kamu boleh cek isi ponsel ini. Bebas. Aku tidak akan melarangmu untuk mengecek apapun yang kamu inginkan!!!". Andi menyerahkan ponselnya kepada Vio.
"Sandinya adalah angka nol dua kali, di ikuti tanggal dan bulan jadian kita!!!". Andi kemudian duduk di kursinya.
Vio hanya diam, ponsel Andi Ia letakkan di meja.
"Sayang, katakan!!!. Apa tadi kamu mengangkat telepon di ponselku???". Andi mendekati Vio yang hanya diam itu.
" Oke, aku minta maaf. Tapi, katakan apa kesalahkanku hingga kamu diam dan menangis seperti ini???". Andi merengkuh kembali tubuh Vio kedalam pelukannya.
"Aku minta maaf, sayang. Katakan, hal apa yang membuat kamu jadi seperti ini????". Andi mengecup puncak kepala Vio berulangkali.
" Kak Andi???, Apakah kakak memiliki kekasih lain???". Suara Vio terdengar tenang.
"Sayang???, Apa yang kamu katakan????". Andi kaget setelah mendengar pertanyaan Vio.
" Katakan, Kak!!!". Suara Vio masih terdengar tenang, walau sedikit serak.
"Kakak tidak berbohong????". Vio mencari kebohongan di mata Andi.
" Tidak Violaku!!. Kamu adalah gadisku satu satunya, dan aku berharap bisa sampai selama lamanya bila Tuhan berkehendak!!!". Andi meyakinkan kekasihnya.
"Kakak, mengapa tadi ada yang memanggilmu dengan sebutan 'sayang'?????". Vio mulai membuka suaranya.
"Tadi kamu mengangkat teleponku, sayang???". Andi menerka nerka. Dan Vio malah menganggukkan kepalanya.
Andi menghela nafasnya kasar lalu mengotak atik ponselnya di depan Vio, mengecek siapa yang menghubunginya beberapa menit yang lalu.
Dan ketemu!!!!. Nomor yang sama dengan nomor yang baru saja menelponnya.
"Sayang, katakan padaku!!!. Apa yang dia katakan???". Andi bertanya kembali.
"Dia mencarimu, dia memanggilmu 'sayang'. Dia menunggumu!!!!!!". Vio tidak bisa membendung air matanya, Ia sungguh kecewa pada kekasihnya itu.
" Sayang, Aku hanya mencintai kamu. Aku mohon percaya padaku. Kamu adalah satu satunya kekasihku. Atau bila kamu mengijinkan, aku akan umumkan hubungan kita di sekolah ini?!!". Andi berkata dengan sungguh sungguh.
"Tidak, Kak!!!". Ucap Vio lirih.
__ADS_1
" Aku ingin hubungan kita baik baik saja, Sayang!!!". Andi menenggelamkan Vio kedalam pelukannya.
"Kak, Apakah kakak bersungguh sungguh mencintai aku???". Hati Viola kini penuh dengan keraguan.
" Sayang, bila kamu mengijinkan. Hari ini, di sekolah ini di saksikan oleh semua warga sekolah ini dan para pengurus yayasan, termasuk ayahku sendiri, aku akan mengumumkan hubungan kita!!!". Andi mengatakan dengan penuh keyakinan.
Vio hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku mohon sayang, jangan ragukan perasaanku untukmu. Aku mencintai kamu dengan tulus, bukan karena gairah atau apapun. Aku mohon, percayalah!!!". Andi mengecup puncak kepala Vio.
" Kak Andi, semoga saja kata katamu bisa aku pegang!!!". Vio mulai tersenyum kembali setelah mendengar penjelasan Andi.
"Sssttttt..!!!!. Aku bukan kakakmu, tapi aku adalah kekasihmu!!!!!. Jangan panggil aku dengan sebutan 'Kakak' bila kita sedang berdua seperti ini!!!". Andi meletakkan jari telunjuknya di bibir Vio.
" Sayang!!". Vio menenggelamkan wajahnya ke dada Andi dan menghirup aroma citrus yang sangat Ia sukai itu.
"Lihat aku!!!". Andi menangkup wajah Vio.
"Mintalah penjelasan terlebih dahulu padaku. Percayalah, Aku tidak akan menduakan cintamu. Hanya kamulah perempuan satu satunya yang aku cintai di dunia ini setelah mendiang ibuku!!!". Andi lalu mengecup kening Kekasihnya itu dengan lembut.
" Maafkan aku, yang telah lancang mengangkat teleponmu!!!". Vio menundukan kepalanya.
"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Silahkan bila kamu ingin mengecek ponselku!!!. Percayalah, bila aku tidak pernah menanggapi ribuan pesan masuk dari mereka. Maafkan aku, bila kamu sakit hati!!!".
Vio menganggukan kepalanya.
Andi meluapkan seluruh emosinya, pada setiap kecupan di kening Vio, lalu turun ke hidung dan tujuan utamanya adalah bibir Vio yang terasa manis itu. Kecupan berubah menjadi hisapan kemudian lidah mereka bertemu dan saliva mereka bertukar. Andi menahan tengkuk Vio dengan satu tangannya lalu memperdalam ciumannya. Tangan yang satunya Ia gunakan untuk mengelus pipi dan membelai rambut panjang kekasihnya itu. Hingga mereka larut dalam emosinya masing masing. Waktu berlalu begitu cepat, hingga bel tanda pulang sekolah terdengar dari Speaker kecil yang terpasang di sudut ruangan itu.
Vio ingin melepaskan ciuman itu. Namun Andi masih menahan tengkuknya.
"Tetap seperti ini, sayang!!!". Andi berkata dengan lirih.
" Maafkan aku, bila aku hari ini kurang ajar padamu. Percayalah, aku tidak akan lebih kurang ajar dari ini!!!". Andi berbisik di telinga Vio.
Mereka melanjutkan aktivitas itu, semakin dalam dan semakin dalam lagi. Hingga wajah mereka memerah dengan mata sayu.
Hingga ponsel Andi yang berdering menghentikan mereka. Panggilan telepon dengan tulisan 'Ayah' tertulis jelas di layar ponselnya. Ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo???". Andi menyapa ayahnya, sambil mengelap bibir Vio dengan ibu jarinya.
" Buka pintunya, ayah di luar!!!".
"Iya Ayah!!!". Andi lalu memutuskan panggilan telepon itu.
____________
"Ada Ayahku diluar, Sayang!!". Andi berkata pada Vio.
__ADS_1
"Bagaimana ini?????". Vio terlihat ketakutan.
" Kita temui dia, jangan takut. Ayahku tidak akan menggigitmu!!!". Andi menggandeng tangan Vio lalu membukakan pintu dan mendapati ayahnya bersama Reyhan dan Rani di balik pintu itu.