
Benar benar Andi mengajak Vio untuk mampir ke Apartemen pribadinya.
"Sayang, beristirahatlah di kamarku. Aku akan merokok sebentar!!!". Andi menuju balkon kamarnya sambil membawa sebungkus rokok, kemudian dengan lihai menjepit sebatang rokok filter berwarna putih dengan bibirnya dan lalu menyalakan pematik apinya.
"Aku ikut!!". Vio mengekor Andi di belakang.
"Maaf ya, bila kamu terkena asap rokok nantinya!!".
"Aku hanya ingin melihatmu dalam kepulan asap!!". Vio masih mengekor di belakang Andi.
"Sayang, kamu nggak papa bila aku merokok di depanmu????". Andi menatap Vio dalam.
"Aku sih nggak masalah. Kamu malah terlihat lebih manis saat asap rokok itu keluar dari mulutmu!!!". Vio berkata jujur.
"Benarkah???". Andi tersenyum jahil.
"Iya. Kamu sangat manis, sayang!!!".
"Masa iya???". Andi menyemburkan asap itu tepat di wajah Vio.
"Ya nggak gitu juga kali, yang!!". Vio memukul Andi dengan pelan.
"Hahaha iya iya maaf!!!". Andi mengacak rambut kekasihnya itu.
"Beneran kamu sangat manis, dan aku menyukainya. Padahal dari penampilanmu yang selalu terlihat sangat rapi, bukan mencerminkan seorang perokok.
"Kamu ini aneh, sayangku. Padahal kata teman temanku, banyak perempuan yang membenci seorang laki laki perokok!!".
"Itu kan mereka, kalau bagiku ya kamu terkesan tambah manis saat kamu menyesap sebatang rokok dengan bibirmu lalu menghembuskan kepulan asap dari hidung dan mulutmu!!!".
"Tambah manis atau tambah yang lain???. Hemmm???". Andi tersenyum jahil menatap Vio.
"Apaan sih ga jelas banget???". Wajah Vio malah bersemu merah.
"Iya iya!!".
"Hmmm.... Kamu mulai merokok sejak kapan, Sayang???". Vio berdiri tepat di samping Andi.
"Sejak aku bisa beli Penthouse ini dan aku bisa mendapatkan uang dari jerih payahku dalam membantu Ayahku mengurus perusahaannya!!". Andi berkata jujur.
"Apakah keluargamu tahu bahwa kamu seperti kereta api uap???".
"Kok kereta api uap????". Andi mengernyit bingung mengartikan kata kiasan yang keluar dari mulut Vio.
"Iya, kereta api uap kan keluar asap!!!". Vio tersenyum lima jari.
"Hmmm... Semua tahu, kecuali Kakek dan Nenekku!!". Jawab Andi setelah mengeluarkan asap dari hidungnya.
"Ohh Pantas saja kamu tidak berani merokok saat di mansion!!".
"Hahahaha bukannya tidak berani, tapi aku hanya mencegah perang dunia terjadi di mansion itu!!".
"Sama saja, itu!!!". Vio terkekeh mendengar alasan Andi yang menurutnya aneh.
__ADS_1
"Hmm sayang, aku seneng loh kita sama sama kayak sekarang ini!!!". Andi membuang puntung rokok yang sudah menurutnya tidak bisa di sesap lagi itu ke lantai lalu menginjaknya.
"Oh ya???". Vio kaget sebab Andi memeluknya dari belakang secara tiba tiba.
"Iya!!". Andi membenamkan wajahnya ke tengkuk Vio.
"Hmmm sayang, kamu tahu nggak???". Andi bertanya kemudian.
"Enggak, kan aku bukan cenayang!!!".
"Aku tersiksa saat kamu memutuskan hubungan ini secara sepihak waktu itu!!". Andi berkata dengan lirih di telinga Vio.
"Maafkan aku, aku sebenarnya pun juga sangat tersiksa, saat kamu cuek dan dingin kepadaku selama beberapa minggu!!!". Air mata Vio menetes tanpa Ia sadari.
"Iya aku juga minta maaf. Kenapa kok kamu juga diem sama aku??".
"Aku diam, sebab takdir perempuan itu di kejar bukan mengejar. Aku hanya bisa, merutuki kebodohanku!!!". Air mata Vio malah semakin deras tanpa Andi sadari.
"Aku selalu memperhatikanmu, sayang. Saat kamu mendapat perilaku tidak menyenangkan pun, naluriku juga ingin sekali memelukmu dan melindungimu. Namun, karena misiku untuk menangkap otak dari sebuah teror dan semua perilaku tidak menyenangkan itu terjadi, maka aku hanya pura pura diam dan memerintahkan Rey untuk membantumu!!!". Andi memberikan penjelasannya.
"Jadi???". Vio mengusap air mata itu dengan kasar lalu berbalik badan untuk menatap Andi.
"Rey datang karena aku yang menyuruhnya, sayang!!!". Andi berkata sambil menangkup pipi Vio.
"Jadi kamu tidak benar benar mengacuhkan aku???". Vio seakan tidak percaya.
"Sayang, aku kan sudah mengatakan alasanku tadi!!!".
"Sebenarnya, aku dan Reyhan sudah mengetahui bahwa otak dari teror dan pembullyan itu adalah Shasha. Namun, semua itu tanpa bukti. Dan aku harus mendapatkan bukti itu sebelum mengadilinya!!".
"Kamu mau jenguk dia???". Tanya Andi dengan lembut.
Vio menjawab dengan dua buah anggukan kepala.
"Nanti kita jenguk dia sama sama ya!!!".
Dan lagi lagi Vio hanya menganggukkan kepalanya..
"Sayang!!!". Andi kembali menangkup wajah Vio dan pandangan mereka bertemu.
Vio hanya diam, merasakan hembusan nafas Andi di wajahnya.
"Sayang, bila aku di berikan dua pilihan terakhir dalam hidupku, antara mencintaimu dalam diam atau bernafas walau hanya sesaat. Aku akan memilih nafas. Sebab dengan nafas aku akan mengatakan sebuah kalimat 'Aku mencintaimu Violaku' di saat saat terakhirku itu!!". Andi mengatakannya penuh dengan kesungguhan dari hatinya.
Deghh. Jantung Viola seperti berhenti berdetak secara tiba tiba.
"Aku mencintaimu dengan kesungguhan. Bukan hanya sebatas mengagumi kecantikanmu ataupun karena rasa inginku sebagai seorang laki laki untuk menyentuh tubuhmu. Aku berjanji, tidak akan kurang ajar padamu dengan melecehkanmu dari bahumu ke bawah selama kita belum menikah. Pegang kata kataku, sayang. Bila aku melanggar janjiku, kamu bisa menamparku berulang kali atau bahkan membunuhku!!". Andi menangkup wajah Vio.
"Aku percaya. Bila kamu mau macam macam pun, pasti sudah kamu lakukan semalam. Secara aku dan kamu tidur berdua di ranjang yang sama dengan pintu terkunci dan ruang kedap suara!!!".
"Terimakasih, sayangku!!!". Andi langsung membawa Vio kedalam pelukannya.
Pelukan hangat penuh kenyamanan, hanya itu yang Viola dapat rasakan.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Bila aku selama beberapa minggu yang lalu mengacuhkanmu!!!".
Vio hanya menganggukan kepalanya dan lebih menenggelamkan wajahnya ke pelukan Andi.
"Maafkan aku yang membuatmu menangis sepanjang malam. Maafkan aku, karena aku nilaimu jatuh!!!".
Vio mengangkat kepalanya lalu menatap Andi lekat.
"Kamu tahu????". Vio terkejut mendengar perkataan Andi.
"Semuanya aku tahu!!!". Jawab Andi kemudian.
"Semuanya???". Vio tambah terkejut.
"Iya sayangku. Sebab Ayahmu yang mengatakan semuanya padaku!!!".
"Semuanya????". Vio terlihat salah tingkah.
Andi hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayah Awan yang mengatakannya???". Vio masih tidak percaya oleh apa yang di tangkap oleh indera pendengarannya.
"Iya Paman Awan yang mengatakannya. Kamu tahu, aku hampir saja di hajar oleh ayahmu setelah dua hari kamu mengakhiri hubungan kita waktu itu!!!".
"Haahhh???". Wajah Vio terlihat sangat jelek sekarang.
"Kamu menangis histeris di setiap doa malammu. Mengharapkan aku. Lalu kamu menangis setiap pulang sekolah, mengadu kepada Ibumu tentang aku yang sudah tidak peduli lagi padamu, lalu.....!!". Andi mengatakannya dengan senyum jahil disetiap perkataannya.
"Stop!!!". Vio menutup kedua telinganya. Dia malu, sangat malu. Ingin rasanya Ia berteriak sekarang untuk menghilangkan rasa malunya.
"hehe!!". Andi malah menampilkan senyum lima jari.
"Gayanya aja sok cool, tapi ternyata aslinya itu mulutnya kaya ibu ibu di tukang sayur. Kalau tahu iya di pendam saja. Jangan kaya gitu!!". Kata Vio mengejek.
"Kok ibu ibu di tukang sayur???". Andi mengernyit bingung.
"Ya karena kebanyakan mereka itu cerewet cerewet!!!".
"Gini gini fansku banyak loh sayang!!. Kemarin aja saat mereka tahu kita pacaran, ada banyak hati yang terpotek secara masal!!!". Andi malah memasang wajah tengilnya.
"Idihh!!!".
"Nggak percaya nih kamu???". Andi mengambil ponselnya dari meja yang terletak sampingnya.
"Enggak mau tahu!!!".
"Nih lihat!!!". Andi memperlihatkan chat di ponselnya yang sudah seperti asrama putri itu.
"Loh loh kok kaya asrama putri???. Mana semuanya isinya galau semua lagi!!!". Ujar Vio menanggapi.
"Hahahahaa aku nggak peduli. Aku juga nggak menanggapi. Malah kamu yang barusan membuka Chat mereka!!!".
"Loh.. tunggu tunggu, bukannya kamu kemarin beli ponsel baru ya??. Kok nggak di pakai???". Vio membolak balik ponsel Andi di tangannya.
__ADS_1
"Ohh... itu??. Ayo kita masuk dulu!!!". Andi menggenggam tangan Vio lalu membawanya menuju kamar pribadinya.