Viola

Viola
51


__ADS_3

Dengan latar masih berada di Mansion milik Keluarga Andika. Vio terbangun di tengah malam. Mengerjabkan matanya beberapa kali dan mendapati pandangannya terasa asing di sebuah kamar mewah. Lalu menoleh ke samping kanannya, di lihatnya Andika sedang tertidur pulas di balik bed cover yang menutupi sebagian wajahnya dan Guling yang memisahkan mereka.


"Sayang???". Vio bergumam sambil membelai lembut wajah kekasihnya itu.


"Hemmmm". Sahut Andi yang masih memejamkan mata.


Cup!. Vio malah mendekati wajah kekasihnya itu lalu mendaratkan ciumannya di pipi kanan Andi lalu melanjutkan tidurnya.


___________________


Sinar matahari pagi sudah menembus tirai tipis yang menutupi jendela kaca kamar itu. Andi meregangkan otot ototnya sambil menengok ke samping kirinya, hanya ada guling yang masih di tempatnya.


"Sayang??". Andi mencari Vio yang tidak ada di tempatnya.


Dengan langkah tergesa gesa, Ia keluar dari kamar itu lalu menuruni anak tangga satu demi satu dan mencari keberadaan kekasihnya itu.


"Dimana Viola???". Andi membentak salah satu asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan hidangan sarapan pagi di ruang makan.


"Ada di dapur, Tuan!!!". Asisten itu menghentikan aktivitasnya lalu menjawab pertanyaan Andi dengan menundukan kepalanya.


Tanpa menyahut satu kata pun, Andi dengan langkah lebarnya, bergegas menuju dapur untuk mencari keberadaan kekasihnya.


"Sayang!!!". Andi memelankan langkahnya, saat matanya melihat seorang gadis manis dengan dress A-line warna biru laut yang Ia belikan semalam.


Vio menoleh ke arah sumber suara.


"Selamat pagi, Kak Andi!!!". Vio menyapa Andi singkat lalu melanjutkan aktivitasnya bersama Ina.


"Kamu ngapain?????, biarkan Ina yang mengerjakan!!!". Andi menghampiri Vio yang sedang melipat lumpia.


"Aku membuat sedang membuat lumpia, Kak!!!". Jawab Viola tanpa melihat ke arah kekasihnya.


" Hmmm!!". Andi mendekati Vio.


Tiba tiba, Vio di kagetkan sebuah bisikan di telinga kirinya.


"Sayang, aku bukan kakakmu!!!". Andi berbisik sambil memeluk Vio dari belakang.


"Kak, apaan sih???. Ada Mbak Ina itu loh!!!". Vio malah ngedumel mendapatkan perilaku menyebalkan dari kekasihnya itu yang tidak tahu tempat.


"Biarin. Aku nggak peduli, Sayang!!". Andi mengecup rambut Vio dari belakang.


"Kak Andi, aku malu!!!". Vio berusaha melepaskan pelukan Andi.


"Aku bukan Kakakmu. Aku adalah kekasihmu. Jangan panggil aku dengan sebutan Kakak!!!". Andi malah mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak peduli. Kak Andi, cepat lepaskan aku!!!".


Tidak mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan tingkah Andi sedari tadi.


"Ekhem!!!". Suara wanita tua yang berdehem mengagetkan Andi.


"Nenek!!". Andi melepaskan Vio lalu menghampiri wanita tua itu.

__ADS_1


"Karena gadis manis ini, kamu baru mau pulang dan menginap di rumah, sayang???". Nenek mulai menyindir Andi.


"Bukan begitu, Nek!!!". Andi malah bermanja pada neneknya itu.


"Sudah berani ya, kamu bawa gadis cantik ke kamarmu???". Nenek menarik telinga kiri Andi dengan gemas.


"Aku nggak macam macam, Nek. Sumpah!!!".


"Hemmm... nggak macam macam. Tapi satu macam!!!". Nenek menarik telinga cucu kesayangannya itu lebih keras lagi.


"Sakit Nenek, bukan seperti itu. Aku hanya tidur, juga ada guling sebagai penyekatnya!!!".


"Benarkah????".


"Sungguh!!!. Tanya saja padanya!!!". Andi mengusap telinganya yang memerah akibat di tarik oleh sang Nenek.


"Apakah Cucuku berbuat macam macam padamu, Nak???". Nenek menghampiri Vio yang masih melipat lumpia dengan di bantu oleh Ina.


Vio menghentikan aktivitasnya lalu menundukan kepalanya menghadap Nenek.


"Tidak, Nyonya!!. Kak Andi sangat baik dan tidak pernah macam macam!!!". Vio masih menundukkan kepalanya.


"Hey.. Angkat kepalamu!!!". Nenek menangkup kedua pipi Vio.


" Maaf, Nyonya!!!". Vio tidak berani menatap wanita tua di hadapannya itu.


"Panggil aku nenek. Siapa namamu, sayang???".


"Viola, Nyo eh maksudku Nenek!!!". Vio sangat gugup di perlakukan seperti itu.


" Maaf, Nenek!!".


"Nek, Viola takut padamu!!!". Andi malah merangkul kekasihnya di hadapan neneknya.


"Andika Andika!!!". Nenek menggelengkan kepalanya.


" Maaf, Nenek!!". Vio melepaskan rangkulan Andi.


"Apa yang kamu buat, Nak??". Pandangan Nenek tertuju pada penggorengan berisi lumpia.


"Saya membuat lumpia, Nek. Bersama Mbak Ina!!!".


"Wah pasti enak. Nenek tunggu di dalam ya!!!".


"Iya, Nenek!!!". Vio masih menundukan kepalanya.


"Andika, ikut Nenek!!!". Nenek menatap Andika dengan tajam.


Viola melanjutkan menggoreng Lumpia dengan di bantu oleh Ina. Sedangkan Andi mengekor neneknya.


______________________


Di sebuah ruangan yang berada di lantai Atas, yang di yakini sebagai ruang kerja Dev. Disinilah Andi sekarang. Seperti terdakwa kasus pembunuhan, Ia menghadap tiga orang dewasa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Andika, berapa usiamu???". Tanya seorang laki laki tua di hadapannya.


"19 tahun di tahun ini, Kek!!!". Andi menatap lawan bicaranya.


"Hmmmm... Pantas saja sudah berani membawa seorang gadis ke rumah ini. Bahkan tidur dalam satu kamar!!!".


"Sungguh, Kakek. Aku tidak melakukan apapun. Hanya tidur saja!!!". Andika berkata jujur.


"Seorang laki laki normal, dan di hadapkan dengan seorang gadis berparas cantik berada pada satu kamar yang tertutup rapat dan kedap suara dan tidak melakukan apapun, itu sangat mencurigakan!!!". Kakek menatap tajam cucunya.


"Maaf kakek, aku memang laki laki normal. Namun disaat melihat dia tertidur pulas di dekatku, aku tidak tertarik untuk melakukan hal yang tidak bermoral padanya sama sekali!!!". Andi menundukan kepalanya.


"Benarkah???". Kakek memicing curiga.


"Sungguh kakek, aku hanya ingin menjaganya. Naluri sebagai laki laki normal pada diriku seakan hilang bila bersamanya. Aku mencintainya dengan tulus, menyayanginya dengan sungguh. Bukan karena hawa napsu seorang laki laki pada seorang gadis cantik!!!". Andi berkata dari hatinya.


"Dev????, kamu tahu bahwa putramu membawa seorang gadis di kamarnya???". Kakek menatap Dev yang sedari tadi diam melihat sidang di hadapannya.


"Orang tuanya yang menitipkannya padaku!!". Dev menjawab singkat.


"Dan kamu menyuruh anakmu untuk tidur sekamar dengan seorang gadis????". Nenek menatap tajam Dev.


"Mah, aku yakin anakku tidak akan berbuat hal yang macam macam. Aku percaya padanya seratus persen!!!". Dev mengangkat kepalanya dan menatap kearah Ibunya.


"Terus bagaimana bisa orangtuanya menitipkan gadis itu kepadamu, Dev????".


"Dia putri Awan, Mah. Awan mempercayakan dia padaku. Sebab putrinya yang lain sedang menjalani operasi di Rumah Sakit!!!".


"Sejak kapan Awan memiliki dua putri???".


"Viola itu anak sambung Awan. Namun sudah di anggap sebagai anak bungsunya!!!".


Dev menghela nafas dengan kasar berulang kali lalu mendekat pada putranya.


"Aku percaya pada putraku, Andika tidak akan mengecewakan aku. Seandainya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Aku yakin putraku akan bertanggung jawab. Iya kan, sayang???". Dev menyentuh bahu putranya.


"Aku masih suci Ayah!!!. Aku tidak pernah macam macam. Sungguh Ayah!!!. Paling hanya sebatas menciumnya. Tidak lebih!!!". Andi berkata jujur.


"Lakukan yang menjadi hakmu nanti, setelah kamu menikah. Masa depanmu masih panjang. Sebagai satu satunya pewaris perusahaan, kamu harus bisa belajar bertanggung jawab dengan dirimu sendiri!!". Dev menatap Andi tajam.


"Iya Ayah. Aku mengerti!!!".


"Satu hal yang harus kamu tahu, kamu masih perlu melanjutkan sekolahmu. Kamu baru kelas 11 sekolah menengah atas. Yang dua bulan lagi baru akan masuk kelas 12. Kamu masih terlalu kecil dalam berfikir. Jangan menuruti hawa napsu mu!!!. Kamu masih harus mengejar gelar sarjanamu sebagai syarat pewaris perusahaan!!". Dev menyentuh bahu Andi.


"Iya, Ayah. Aku mengerti. Dan aku berjanji, aku juga bukan laki laki brengsek yang menuruti hawa napsu!!!".


"Bagus!!!". Dev keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Andi bersama Kakek dan Neneknya.


"Andika Andika. Mata kamu juga pintar ternyata. Memilih gadis secantik dan semanis dia!!!". Nenek menepuk bahu Andi.


"Hehehhehe!!". Andi hanya terkekeh mendengar kalimat dari neneknya.


"Sudah. Kamu mandi sana, langsung ke ruang makan!!!". Nenek keluar dari ruangan itu dan di ikuti Kakek di belakangnya.

__ADS_1


________________


__ADS_2