Viola

Viola
39


__ADS_3

Andi mulai membuka matanya, pandangannya tertuju pada Rey di depannya yang sedang memasang wajah khawatir.


"Rey, aku hanya membuat Viola kesusahan, benar katamu bahwa Dia menderita karena aku!!". Andi menatap kosong ke arah Reyhan.


" Bukan seperti itu maksudku, boss!!". Rey mengelap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


"Buktinya dia begitu ketakutan melanjutkan hubungan denganku!!!".


" Boss, bukan seperti itu!!".


"Benar Rey, rentetan peristiwa yang menimpanya adalah karena berhubungan denganku!!!".


" Bosss!!!".


"Apa Rey???".


" Kamu salah paham, Boss!!!".


" Dia tidak benar benar mencintaiku, Rey!!!".


" Bukan seperti itu maksudku, Boss!!". Rey ingin sekali memukul wajah orang di hadapannya agar orang itu bisa berpikir, hanya saja Ia tidak berani melakukan itu.


"Lalu apa, Rey????. Dia tidak peduli pada perasaanku!!!!. Dia lebih peduli pada rasa takutnya bila terus bersamaku. Aku ingin dia bertahan bersamaku, namun dia lebih memilih mundur daripada tetap bersamaku!!!". Andi berkata dengan lirih bersama dengan air mata yang mengalir deras.


" Bosss, aku akan selidiki siapakah pengirim teror itu. Boss bisa memberinya pelajaran!!". Ujar Rey dengan yakin.


"Benar, dengan tanganku sendiri aku akan memberinya pelajaran. Sampai dia menyesal telah mengganggu hubunganku!!!". Andi menanggapi dengan berapi api sambil meraih kembali botol yang masih tersegel di sampingnya.


" Boss, berhentilah minum!!". Rey menyambar sebotol minuman keras dari tangan Andi.


"Beraninya kamu, Rey!!". Andi menatap sengit ke arah Reyhan.


" Boss, jangan rusak diri sendiri seperti itu, rugi kamu beribadah dan bersedekah bila seperti itu!!".


"Diam atau kamu aku pecat dan aku akan cari sekertaris baru!!!".


" Boss, bagaimana bila Vio tahu betapa kacaunya dirimu saat ini???".


"Dia nggak bakalan peduli dengan aku!!!. Bahkan hingga aku mati pun dia pasti tidak peduli dengan perasaanku!!. Dia hanya takut dengan ancaman orang asing daripada takut kehilangan aku!!!!". Andi tetap menegak isi dari botol itu.


" Boss, bagaimana kamu akan memberi pelajaran kepada si pengirim teror itu, bila terus menegak alkohol seperti ini????".


Seketika, Andi melemparkan botol di genggamannya ke sembarang tempat hingga botol itu pecah dan isinya tumpah kemana mana.


"Aku yang akan mengabulkan isi surat itu, tapi kepada si otak dari teror itu!!!". Sisi buruk Andi kini benar benar muncul dan menguasai dirinya.


" Boss!!!!, Ingat Tuhan, jangan gila!!!".


"Jangan ajari aku, Rey!!!".


" Aku hanya mengingatkan, Boss!!!".


"Aku pasti akan menghancurkan wajahnya seperti boneka yang dia kirimkan itu. Aku akan membalas, bila perlu aku akan hancurkan wajahnya dengan cairan yang sama yang dia tumpahkan ke kaki Viola!!!".

__ADS_1


"Bosss????".


" Apa???".


Andi kacau, ini adalah kali pertamanya Reyhan melihat kondisi Andi yang sekacau ini.


Ponsel Reyhan bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk di ponselnya.


"Aku di depan unit Kak Andi. Buka pintunya!!". Suara Rani dari seberang sana.


" Iya, tunggu!!". Jawab Rey kemudian memutuskan panggilan telepon itu.


"Boss, Adik boss kesini!!!". Rey mendekati Andi.


" Biarkan saja, aku tidak peduli!!!". Jawab Andi.


"Bagaimana bila Vio juga ikut kesini dan melihat kekacauan ini??".


" Aku tidak peduli!!!". Jawab Andi singkat.


Reyhan keluar dari kamar Andi kemudian membukakan pintu untuk Rani.


"Kak Rey???, Dimana Kak Andi???? Aku ingin meminta maaf!!". Vio bersuara saat Reyhan menampakkan wajahnya.


" Lebih baik ayo masuk dan bersihkan dulu wajahmu sebelum menemui Andi!!". Reyhan mempersilahkan kedua gadis itu untuk masuk.


"Kenapa berantakan sekali, Kak???". Vio memandang isi ruang depan Penthouse itu.


Setelah beberapa menit, Vio dengan wajah cantiknya memasuki kamar pribadi Andi yang dulu pernah ia masuki sebelumnya. Saat pintu kamar itu mulai terbuka, Ia di sambut pemandangan yang sangat kacau. Andi dengan mata terpejam berbaring di ranjang itu dengan wajah kusut masih dengan seragam sekolah dan aroma alkohol yang langsung menusuk hidungnya juga asap rokok yang mengepul dari hidung serta mulutnya.


"Kak Andi, aku menyesal!!!!". Vio berkata dengan lirih.


Andi diam saja, kekecewaannya mengalahkan rasa cintanya pada gadis di depannya.


" Kak, aku menyesal. Sungguh, aku lebih takut jauh darimu dari pada isi kotak tadi!!". Vio menangis sejadi jadinya.


"Kak, Aku tahu kakak kecewa. Aku minta maaf, aku tidak ingin jauh dari kakak!!!". Vio memeluk Andi, namun Andi tidak membalas pelukan itu sama sekali.


" Kak, sungguh aku ingin kita ulang dari awal. Kak, Aku takut bila kakak jauh dari aku!!!". Vio menenggelamkan wajahnya pada dada Andi yang masih terbaring, bukan menghirup aroma citrus namun malah Alkohol dan asap rokok yang tercium.


"Kak Andi, aku minta maaf!!". Vio menangis namun Andi hanya diam saja tanpa merespon apapun.


" Rey, biarkan aku sendiri!!!". Teriak Andi masih dengan mata tertutup.


"Kak, aku minta maaf. Perkataan dan keputusan sepihak yang membuatmu kecewa, aku menyesalinya. Aku sangat mencintaimu. Aku lebih takut bila jauh darimu!!!". Vio mengeratkan pelukannya.


" Rey!!!". Andi mengeluarkan hawa dinginnya.


"Vi, kita keluar dulu yuk!!!". Rani menarik Vio keluar dari kamar Andi.


Setelah mereka keluar dari kamar pribadi Andi,


"Kak Rey, mengapa Kak Andi sangat berbeda???". Vio memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


" Andi memiliki kepribadian ganda, bukankah aku dulu pernah mengatakannya padamu, Vi???". Rani menyahut dan di balas anggukan kepala oleh Reyhan.


"Jadi???". Vio terlihat bingung.


"Aku merasakan bahwa yang kita lihat tadi adalah sisi lain dari Kak Andi, lebih baik kamu pulang dan jangan dekati dia sebelum dia yang mendekati kamu. Akan sangat berbahaya bila kamu nekat, Vi!!!".


_____________________


Viola sampai di kediamannya, setelah memasukan sekuter maticnya ke garasi, Ia mengambil langkah seribu untuk menuju ke kamarnya.


"Sayang!!!". Suara Ana menghentikan langkah Vio.


" Ibu!!!". Vio memeluk Ibunya lalu meluapkan emosi dalam hatinya di pelukan Ibunya.


"Sayang, sssstttt.. apa yang terjadi????". Ana sadar bahwa putrinya menangi, Ia lalu membelai lembut rambut panjang putrinya guna menenangkannya.


"Ayo masuk dulu ke kamarmu, dan ceritakan semuanya pada Ibu!!!". Ana menguraikan pelukannya lalu menggiring Vio untuk masuk kekamarnya.


" Sekarang ceritakan, apa yang terjadi!!!". Kata Ana setelah mereka memasuki kamar Vio.


"Hubunganku dengan Kak Andi telah berakhir!!!". Vio menangis sejadi jadinya.


"Ceritakan, sayang!!!". Ana menghapus air mata Vio yang mengalir deras.


" Tadi tadi tadi ada yang mengancam aku aku aku harus menjauhi Kak Andi, kalau tidak aku aku akan celaka!!!". Vio berkata di sela sela tangisannya.


"Ceritakan pelan pelan, sayang!!!". Ana kembali menghapus air mata putrinya.


" Aku takut dengan ancaman itu, aku aku aku memilih meninggalkan Kak Andi dengan rasa kecewanya. Aku aku menyesal, Ibu!!!!!". Vio memeluk Ibunya dengan erat.


"Lalu???". Ana masih setia mendengarkan perkataan putrinya.


" Dia kecewa dengan keputusanku. Dia pergi, aku menyesal Ibu!!!". Suara tangis Vio membuat Ana ikut menangis.


"Sssttttt... kenapa kamu tidak bertahan, sayang????. Bukankah baru kemarin Ibu mengatakannya????". Ana mengelus puncak kepala putrinya.


" Ibu, aku ternyata lebih takut bila tanpa Kak Andi!!!".


"Ssttttt... sudah cup cup cup, jangan menangis. Jalani apa yang sudah kamu pilih, sayang!!!".


" Ibu, aku menyesal!!!".


"Sudah sudah, itu adalah pilihan kamu. Terima itu, memang kita selalu menyesal di awal namun pada akhirnya, kita bisa belajar dari penyesalan itu!!". Ana memeluk sayang putrinya itu.


" Ibu, Aku harus bagaimana????????".


"Terima saja keputusanmu dan jangan merendahkan harga dirimu. Berdoa pada Tuhan, bila ijinkan untuk bersama kembali, maka akan kembali. Ingat, jangan menjatuhkan harga dirimu di hadapan laki laki. Jadilah elegan, wanita itu di kejar dan bukan mengejar!!!".


"Maaf, Ibu!!!".


___________________


...****************...

__ADS_1


__ADS_2