Wanita Yang Tak Pernah Di Anggap

Wanita Yang Tak Pernah Di Anggap
BAB 102


__ADS_3

akhirnya ibunya Tiya menyetujui usulan suami nya, Tiya menikah di kota s dan kebetulan Tiya juga tidak menginginkan ada nya pesta cukup syukuran saja.


begitupun dengan Rendra, mereka berdua hanya ingin resmi sebagai suami istri dan orang tua untuk aura.


setelah mendaftarkan ke KUA setempat, tanggal pernikahan pun sudah di tentukan dan pihak keluarga menyetujui nya.


Rendra memberitahu ayah nya saja, dan tidak ingin bunda nya hadir di hari pernikahan nya itu.


Reza sempat membujuk kakaknya tapi Rendra tetap berkeras hati.


"mas, kenapa? apa harus berkeras hati dan tidak mau berdamai dengan bunda mu. ibu yang melahirkan mu itu restu nya lebih kita utamakan saat ini, agar rumah tangga kita langgeng."ujar Tiya


Rendra hanya diam saja tak mengindahkan ucapan Tiya, sehingga Tiya cemberut kesal.


"ayolah masa mau nikah pada main diam-diaman begini,"ledek Yuri.


"biasa ujian mendekati orang menikah kan begini."timpal Kikan


"Tiya, masak gih..bayi gue lapar nih."perintah sella


Kikan dan Yuri menepuk jidat nya dengar ucapan sella,ingin rasa nya Yuri memukul mulut sella.


satu jam sebelum ijab kabul di mulai, Rendra mau pun Tiya nampak gelisah.


bahkan berkali-kali Yuri menenangkan Tiya untuk bersikap tenang.


Kikan bahkan sudah gemas sekali dengan tiya yang bolak balik tidak karuan dan berkali-kali pihak MUA mentouch up wajah Tiya lagi.


ada seseorang masuk keruangan tiya, nampak sella sedang menggandeng ibu mertuanya.


bunda Rendra langsung memeluk calon menantu nya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari anaknya.


"bunda minta maaf atas kelakuan bunda selama ini."tutur bunda nya Rendra yang terisak tangis nya.


"untuk apa bunda meminta maaf, karena tidak ada yang salah.justru Tiya lah yang meminta maaf sebagai anak kami di posisi yang salah harus nya meminta ijin untuk menikah."ungkap Tiya

__ADS_1


"tidak sayang tapi bunda yang salah terlalu mengatur kehidupan Rendra sehingga dia membenci bunda"terang bunda Rendra


"ayo acara akan di mulai, sudah semua tidak ada yang salah lebih baik kita saling menerima dan berdoa semoga pernikahan Rendra dan Tiya langgeng sampai maut memisahkan."terang bunda ayu ibu nya Yuri.


Rendra lebih banyak menundukkan wajahnya saking gugup dan entah kenapa dia ingin melihat bunda nya.


Reza serta ayah nya terus berada di sampingnya, sesekali berbicara dengan ayah nya Tiya karena mereka masih saudara jauh.


ayah Tiya dan ayah Rendra terkadang tertawa terbahak-bahak karena ada ayah Yuri yang hobi nya melucu.


"kak itu penghulu sudah datang."bisik Reza


"sakti mana? tanya Rendra


"itu bayi nya lagi rewel Kak, mungkin gak nyaman dengan keramaian."ujar Reza


tiba-tiba ada yang menepuk bahu Rendra, dan Rendra pun menoleh melihat siapa yang menepuk bahu nya.


"maaf kan bunda nak? tiba-tiba sang ibu memeluk anak yang sudah hampir satu tahun lebih pergi dari hidupnya


"maaf kan Rendra juga Bun."sahut Rendra yang memeluk erat sang ibu serta meminta restu pernikahan nya yang sebentar lagi akan di mulai.


"sudah, sudah..Ayo calon mempelai pria sudah di tunggu."lerai ayah Bambang


lalu Rendra mencium tangan ibu nya dan meminta restu, tidak lama dia mengikuti ayah Bambang untuk duduk di hadapan pak penghulu.


Rendra mendengar nasehat pernikahan lalu mengikuti ucapan pak penghulu dengan satu tarikan nafas Rendra mengucapkan nya dengan lantang.


"sah, sah..sah.."ujar penghulu


"saaahhh ."sahut para undangan


Rendra pun bersujud syukur, lalu dia kembali berdiri dan menanyakan di mana istrinya


"sabar kali , nanti juga keluar istrinya masa iya kita mau tukar."cebik ayah Bambang

__ADS_1


"ya kan sudah sah,om..masa masih di umpetin saja."ujar Rendra


yang mendapat cubitan dari ayah nya sendiri.


"bisa gak sabar, itu orang pada tertawa."bisik ayahnya


lalu pengantin perempuan pun berjalan di iringi sahabat dan aura serta putri dan Sena.


ketika Rendra mau memeluk istri nya dengan cepat ayah Bambang berada di tengah-tengah mereka


"eits tanda tangan dulu kalau belum tanda tangan gak ada peluk-pelukan."pinta ayah Bambang


sontak semua yang ada di tempat acara tertawa melihat kelakuan mereka.


Tiya memasang bola mata malas nya lalu meminta Yuri untuk menarik kursi agar dia bisa duduk di hadapan penghulu untuk menandatangani surat nikahnya.


tidak lama Rendra pun sudah duduk di samping istrinya yang ikut juga menandatangani surat nikah nya juga.


lalu memasangkan cincin di jari manis istrinya begitupun dengan Tiya yang memasangkan juga di jari manis Rendra.


lalu Rendra mencium kening Tiya, dan mengucapkan terimakasih sudah bersedia mendampinginya dan menerima dirinya kembali.


pernikahan mereka berjalan dengan lancar bahkan sangat bahagia terlihat dari kedua mempelai.


Tiya dan Rendra menikmati hari-hari sebagai suami istri dan orang tua untuk aura.


Rendra lebih banyak perhatian untuk kedua orang yang sangat dia sayangi.


kebahagiaan bertambah ketika Tiya melahirkan anak pertama dari Rendra dengan jenis kelamin laki-laki.


Rendra tidak membedakan kasih sayang terhadap anak-anak nya itu.


TAMAT


SAMPAI JUMPA DI CERITA BERIKUTNYA.

__ADS_1


__ADS_2