
Reza sudah menjemput dan menunggu di depan rumah Tiya, sedangkan sakti sudah tiba di cafe yang mereka sepakati untuk melanjutkan pembicaraan bisnis yang akan segera mereka mulai.
sakti sudah memesan makanan yang tadi dia sudah tanya kan ke group chat, jadi mereka datang makanan pun siap tinggal di santap saja.
benar pas pasukan datang , makanan pun sedang di sajikan di meja makan. tanpa bicara lagi mereka langsung menyantap nya karena sudah lapar sekali.
"apa ada yang mau nambah makanan lagi" tanya Reza
"gak usah cukup" jawab Yuri
"kalau kurang gampang kok nanti tinggal pesan saja" ujar sakti
" Tiya itu kayak papa nya aura" bisik sella menunjukkan Tiya mantan suami nya.
"sttt , abaikan saja biar makan tetap berselera" bisik Tiya di telinga sella.
dugaan Tiya salah ternyata mantan suami nya Andi sudah melihat Tiya sejak turun dari mobil, Andi memperhatikan mantan istrinya sekarang sudah berubah makin terawat dan lebih cantik lagi.
kalau bukan karena Eli mungkin dia masih mempertahankan Tiya, karena mantan istrinya tidak pernah menuntut bahkan lebih mandiri.
"kamu dari tadi melihat ke wanita itu terus mas? siapa sih dia dan jangan bilang kamu mau deketin itu wanita" ucap wanita yang bersama Andi dengan kesal nya.
"oh,, dia mantan istri ku. ibu nya aura anak ku" terang Andi yang terus memandang ke meja Tiya.
"ya sudah, ngapain juga terus di lihatin. kamu gak lihat ada aku di samping mu" sarkas wanita itu.
Andi pun meminta maaf dan menggenggam tangan wanita nya dengan erat.
ada rasa menyesal tapi itu tidak akan mengembalikan keadaan lagi, baik Tiya atau aura seperti nya sudah jauh dari kata untuk kembali.
"Andi dengan istrinya atau pacar baru lagi? tanya Yuri ke Tiya yang didengar juga oleh Reza dan sakti.
Reza mencari sosok yang di bilang Andi tersebut.
"pacar nya kalau Eli pasti akan langsung datang ke meja kita" jawab Tiya dengan santai.
"huuuu,, dia gak bisa setia dengan satu wanita ya" seru sella
"hust biar saja itu masalah pribadi mereka" ujar Tiya yang tidak suka menilai orang dari luarnya saja.
__ADS_1
"kita mulai saja pembahasan soal cafe, takut nya makin malam sedangkan besok kalian sudah banyak banget orderan lagi" seru sakti
mereka mulai memberikan ide masing-masing yang akan di gabungkan jadi satu, karena satu kepala belum tentu akan setuju dengan ide yang satu nya lagi.
Reza mencatat nya apa-apa saja yang mereka inginkan, sakti dan Yuri sambil mendesign sedikit-sedikit dan sudah bisa menyimpulkan seperti apa jadi nya ruangan yang mereka mau.
"oke berarti untuk design interior sudah oke ya? gak ada yang di ubah lagi kan? tanya sakti
"iya ,biar besok gue udah bisa info barang nya" sela Reza.
"udah kok, itu kan emang dari awal yang kita mau"seru sella
"besok rencana nya kalian mau kemana? tanya Reza melihat ke arah Yuri
"gue mau nganter Tiya, lihat apartment. ada rencana mau tinggal disana" terang Yuri
yang hanya di iyakan oleh Tiya karena memang Tiya sudah yakin mau pindah kesana.
"tapi besok mau kerumah ayah ibu dulu, sudah lama gak kesana" ujar Tiya
"ya sudah nanti minta alamat apartemen nya saja, kita bahas bahan untuk barang-barang cafe di tempat baru saja" ledek Reza.
mereka berpisah di parkiran restoran, sakti yang akan mengantarkan Tiya,Yuri dan sella pulang.
Reza dapat telpon dari ayah nya untuk menjemput di bandara.
selama di perjalanan sakti banyak memberikan ide-ide yang sangat bagus karena dia mau cafe tersebut punya karakter sendiri.
Tiya lebih mengutamakan Semua kalangan bisa dapat menikmati cafe tersebut, akan ada live musik juga jadi mau yang kelas bawah pun bisa mengunjungi cafe tersebut.
" kalau dari kalangan kelas atas terus Yang ada cafe kita pemasukannya biasa saja" ucap Yuri
"kalau kita ambil semua kalangan, gue yakin bakalan rame terus"tegas Yuri
karena dia sangat jengah dengan pelayanan cafe yang melihat dari penampilan saja.
"eh kita sudah sampai ya" Tiya tertegun ternyata sudah ada di depan rumah nya
"eheemm ada yang kangen nih" ledek sella
__ADS_1
"kalau kangen bilang aja sih, gak usah pake malu" ledek sakti
yang di barengi tertawa Yuri dan sella karena sepanjang perjalanan pulang yang lain saling mengutarakan ide nya tapi Tiya hanya menatap jalanan saja. entah pikiran nya sedang kemana.
"apaan sih,, cuma cape aja kok" Tiya dengan muka merah nya langsung memukul lengan sakti
"beneran juga gak apa-apa" ledek sella
"udah yuu masuk, Lo mau mampir dulu? nanti dibuatkan kopi susu" ajak Tiya ke sakti
sakti melirik jam tangannya dan langsung mengiyakan untuk mampir sebentar.
"Tiya apa nomor telpon pak Rendra kamu blokir? tiba-tiba sakti bertanya
"gak kok, kenapa? tanya balik Tiya
"gak apa-apa kemarin dia ada nanya kabar kamu saja" ujar sakti
" apa kalian gak mau bicara berdua untuk menyelesaikan semua nya dengan hati yang dingin, dari pada seperti ini tidak ada kejelasan. kalau memang mau jadi teman, bertemanlah dengan sehat. tapi kalau kalian mau mencoba menjadi sepasang kekasih,apa salah nya mencoba" terang sakti dengan bijak nya memberi saran ke Tiya.
" dia sudah menghindari jadi itu jawaban nya" gerutu Tiya ada rasa kesal tapi ada rasa yang hampa di hati nya.
"saya gak mau berharap lebih dan saya sadar dengan diri saya, jadi biarkan kalau memang harus seperti ini. mencintai bukan berarti memiliki kan? tegas Tiya
"kalian sudah sama-sama dewasa tapi soal percintaan kadang orang dewasa menjadi bodoh" terang Yuri memandang wajah Tiya
"cobalah dulu saling mengerti dan kalau memang berteman lebih baik, kalian harus bisa bersikap sewajarnya bukan seperti ini"
Tiya mengerti maksud sahabatnya karena suasana seperti ini memang gak enak banget, kadang lari dari semua kenyataan juga percuma.
kalau ada kesempatan mungkin Tiya akan bicara layak nya seorang teman seperti dulu ketika dia kuliah.
tapi apa masih bisa sedangkan Rendra menurut hati Tiya sedang belajar melupakan Tiya saat ini.
"sudah malam, aku pamit nya" sakti melihat jam di tangannya sudah jam 11 malam
"hati-hati" ujar Yuri
sakti hanya mengusap kepala Yuri dan berjalan menuju mobil nya yang di parkir di depan rumah Tiya.
__ADS_1
Yuri dan Tiya hanya memandang kepergian sakti, entah di pikiran mereka sedang memikirkan apa.