
berasa di cubit hati Tiya mendengarkan cerita hati nya Rendra, ada rasa lebih di hatinya. rasa sayang itu kembali muncul, apa bisa dia mendamaikan hati aura untuk menerima Rendra sebagai bagian hidup Tiya nanti.
apa ini terlalu jauh untuk Tiya berpikir Rendra akan melamarnya.
Tiya menggelengkan kepala nya dengan samar tanpa Rendra lihat, Rendra terus memandang ke arah pantai.
hari ini dia putuskan untuk bisa mengambil hati Tiya, apapun keputusan Tiya. Rendra juga harus menerima nya.
apa lagi Rendra sedang pendekatan dengan aura tanpa tiya tahu, hasil kerja sama dengan orang tua Yuri.
"maaf kalau tanpa Kamu tahu aku terlalu berharap lebih dengan mu,, dan maaf juga sudah mencari tahu tentang rumah tangga mu juga.." tutur Rendra sambil menatap langit malam.
"malam ini aku hanya ingin kamu tahu semua tentang perasaanku terhadap mu,, fathiya " ucap Rendra dengan menekan nama Tiya.
Tiya menoleh sebentar ke arah wajah Rendra ingin mencari kebohongan di mata itu, tapi tidak Tiya temukan yang ada hanya ada rasa cinta yang begitu dalam.
"apa aku salah mencintaimu?? tanya Rendra
"apa aku salah ingin memperjuangkan mu ?
"apa kalau aku berjuang sendiri kamu biarkan saja? aku ingin kita berjuang bersama, jangan takut dengan ibu ku.."
"biarkan dia dengan ego nya,, aku tak perduli selagi ayah ku memberikan restu ku untuk mengejar orang yang aku cintai.." terang Rendra
"aku tau kalau ibu ku sudah membuat kamu terluka dan merasa tidak di hargai, ibu ku terlalu banyak bergaul dengan ibu-ibu sosialita yang tak pernah menghargai orang di bawah level mereka.."
"ayah ku kecewa sebenarnya tapi ibu ku sangat keras kepala, mungkin suatu hari nanti dia akan menyadari itu semua.." jelas Rendra
malam pun beranjak semakin larut,, Rendra mengajak tiya untuk pulang. Rendra tidak meminta pendapat Tiya tentang isi hati nya, Menurut Rendra biarlah dia tahu dulu.
perlahan pasti Rendra yakin tiya akan membuka diri untuk nya.
"kita pulang sudah malam, gak bagus untuk badan mu. angin nya semakin kencang.." ucap Rendra yang masih menggenggam tangan Tiya.
Tiya hanya menganggukkan kepala nya tanda setuju dan dia juga sudah sangat mengantuk.
sesekali Rendra mengusap kepala Tiya dan membelai rambutnya dengan rasa kasih sayang.
"kamu pikirkan lagi tentang aku dan kamu ,, aku gak mau menjadi kekasih tapi aku ingin menjadi suami mu dan ayah sambung bagi aura.."jujur Rendra
__ADS_1
yang membuat hati Tiya terperanjat kaget,, karena Tiya hanya berpikir untuk mereka menjalin hubungan pacaran saja dulu.
untuk menikah Tiya harus berjuang meluluhkan hati aura.
"Yaa Allah berat banget nih,, apa aura bisa menerima Rendra?? bathin tiya
"semoga ada jalan terbaik dari semua ini,,,"doa Tiya
sesampai di dalam mobil, Rendra memandang wajah Tiya. wajah yang selalu ada di pikiran nya setiap detik, ada nama nya di setiap hembusan nafas nya.
"tetaplah seperti ini, jadilah Tiya yang rendah hati dan mandiri" ucap Rendra sambil membelai pipi Tiya.
jangan ditanya warna muka Tiya, sudah memerah seperti tomat. kalau ada teman-teman nya sudah pasti jadi bahan ledekan.
ada rasa aneh menjalar dalam tubuhnya, ada rasa gak rela kalau Rendra melepaskan tangan nya.
"apa ini jatuh cinta yang sesungguhnya.." lirih Tiya
"jantung tolong kondisikan,, apa aku terkena serangan jantung ya,, detak nya semakin kencang saja.."gerutu Tiya sambil mengerucutkan bibirnya.
"kamu lapar atau ada yang mau di beli dari tadi kita belum minum loh.." tanya Rendra
"beli minum saja kalau ada minimarket.." sahut Tiya
Tiya memandang jendela tanpa sadar matanya langsung terpejam, Tiya tertidur pulas sampai Rendra mampir ke minimarket pun dia gak bangun sama sekali.
tiba di depan rumah nya, Rendra hanya memandang wajah yang sedang tertidur dengan damai. sekali-kali dia mengecup tangan Tiya tapi si empunya gak bangun juga.
Rendra masuk ke dalam rumah Tiya untuk minta tolong Yuri membukakan pintu kamar Tiya, Rendra akan menggendong Tiya untuk menidurkan di kamarnya.
karena malam semakin larut.
"baringkan di samping sella saja pak.." ujar Yuri
Rendra membaringkan Tiya dan tidak lupa menyelimuti sang wanita pujaan nya serta kecupan hangat dikening Tiya dia tinggalkan.
"aku titip ya,, dan aku permisi pulang dulu.." pamit Rendra
"iya pak,, hati-hati..hooamm" Yuri menjawab sambil menguap karena dia juga sudah mengantuk.
__ADS_1
besok sudah dikejar pesanan lagi, Rendra pamit dan keluar rumah di dengan cepat Yuri langsung mengunci pintu.
"astaghfirullah mbak sus ngagetin aku aja.." Yuri memegang dada nya
"maaf non,, saya pikir siapa? jawab mbak sus
"kok mbak belum tidur sih.." tanya Yuri
"ini non mau sholat tahajud, pas lihat lampu ruang tamu masih menyala jadi saya cek ke depan deh.." terang mbak sus
Yuri hanya ber oh saja lalu langsung masuk kekamar karena sudah ngantuk berat.
sedangkan mbak sus langsung melakukan sholat tahajud ya.
pagi hari Tiya bangun telat, sedangkan yang lain sudah sibuk.
bagus kemarin sore karyawan sudah membuat adonan sesuai resep yang Tiya kasih tanpa mengurangi bahan yang sudah di resepkan.
jadi pekerjaan orderan hari ini sangat santai dan tidak dikejar waktu lagi, Tiya bangun ternyata semua orderan sudah siap di kirim.
"aduh maaf aku kesiangan, maaf banget.." ucap Tiya merasa gak enak hati.
"tadi gue bangun pagi cek suhu badan Lo panas jadi gak tega bangunin ya,, sana makan dulu baru minum obat.."perintah sella
"pesanan cake catatan nya ada di meja,, "sahut Tiya
" sudah tadi di cek Yuri,, sebentar lagi baru mengerjakan adonan cake nya" jawab sella
"ibu sudah bangun,, mau di buatkan teh jahe atau apa Bu? tanya mbak sus
"gak usah mbak,, sudah dibuatkan sella.." jawab Tiya sambil tersenyum.
kalian sudah makan.." sapa tiya ke karyawan nya
"jangan lewatkan sarapan atau makan ya,, jaga kesehatan itu yang penting.." seru Tiya
"sudah Bu,, kami sudah sarapan tadi jam 6 pagi.." ujar Leni karyawan dari saudara mbak Darmi
"kamu betah tinggal disini?? kalau ada apa-apa tolong beritahu saya ya.." terang Tiya
__ADS_1
"betah banget Bu bahkan sangat betah seperti ada dirumah sendiri, bisa bertemu teman-teman yang baik.." jawab Leni berbinar mata Leni karena bahagia bisa bekerja dan dapat tinggal tanpa harus membayar, makan pun di jamin.
uang gaji nya utuh bisa dia kirim ke ibu nya di kampung, Tiya dan Yuri sangat baik kepada nya.