
sampai di rumah sella langsung masuk karena badan nya mulai demam, Tiya meminta mbak sus membuatkan teh jahe untuk sella.
Yuri memberikan Paracetamol untuk sella, Reza sambil gelisah melihat sella demam.
Yuri menepuk bahu Reza "kalau nanti masih panas, gue akan telpon Lo?
"iya, kabarin gue ya. biar gue bawa panggilkan dokter" sahut Reza
" ya udah kita pulang yuk,," ajak sakti karena sudah malam dan sakti pun gak enak sama Rendra yang masih menunggu dari kejauhan.
mereka berdua pamit , Yuri masuk kekamar menemani sella yang sedang di kerok sama Siti.
Tiya hendak ke depan rumah mengunci pintu pagar, ketika sudah dikunci Tiya membalikkan badan hendak kembali masuk ke dalam rumah. tapi langkah nya terhenti karena ada suara yang memanggilnya.
"tiyaaa..." panggil Rendra
Tiya mematung tanpa menoleh kebelakang karena kaget apa benar itu suara Rendra.
"bisa bicara atau kamu ada waktu kapan kita bicara berdua? tukas Rendra
Tiya masih mematung seolah kaki nya berat untuk di gerakan, mereka saling diam tanpa bicara.
Tiya pun membalikkan badan nya, dan menatap Rendra dari balik pagar rumah nya.
Rendra gak sadar kalau Tiya sudah membukakan pintu pagar rumah nya.
"kamu mau bicara sekarang atau besok,, masuklah. " ajak Tiya karena merasa gak enak hati bicara di luar.
"hari sudah malam, istirahatlah.. mmm kalau kamu besok gak sibuk, aku jemput kamu jam 1 siang "ujar Rendra yang melangkah mendekati Tiya lalu mencium kening Tiya.
"selamat malam, have anice dream.." bisik Rendra di telinga Tiya.
membuat si empunya terpaku tanpa bisa berkata apa-apa, sampai Rendra menghilang dari pandangan matanya dia tetep tidak bergerak.
apa ini mimpi.." Tiya menepuk pipinya
apa itu Rendra..." lirih Tiya sambil mencubit tangan nya.
__ADS_1
bener itu Rendra,, sejak kapan dia ada di sini...Yaa Tuhan apa ini jawaban dari semua pertanyaan hamba.." gumam Tiya
Tiya pun masuk kedalam rumah nya , lalu masuk kekamar untuk melihat sella yang ternyata sudah tertidur pulas dan sudah gak demam lagi.
Yuri ada di belakang Tiya membuat Tiya terlonjak kaget
"astaghfirullah.. Tiya menepuk dada nya kaget
"dari tadi masuk gue lihat, Lo bengong aja? ada apa..?" tanya Yuri
"ada Rendra tadi di depan, gue sempat bertemu dan besok dia minta waktu untuk bicara. hmmmmm.. kemungkinan besok jam 1 siang dia jemput gue" terang Tiya karena cuma Yuri dan sella yang paham akan isi hati nya.
"pergilah... bicarakan yang terbaik untuk masa depan kalian. jika harus berteman, bertemanlah tanpa ada ikatan" tutur Yuri
"istirahat lah,, sudah malam.." ucap Yuri yang langsung rebahan di samping sella.
seperti pagi yang kemarin, sibuk itu lah suasana di rumah Tiya sekarang.
Tiya memulai menyebutkan bahan apa saja yang akan di campur di adonan, uti mengikuti perintah Tiya.
begitu pun dengan Dewi dan yang lain nya semua membuat adonan yang sama.
kebetulan arem-arem daging, tahu isi baso, cake mentega,puding karamel, risoles. jadi semua bisa di siapkan nanti malam dan pagi nya tinggal di goreng untuk tahu dan risoles.
puding mbak sus sedang membuat nya biar besok sudah jadi.
tak terasa waktu sudah memasuki jam makan siang, sebagian orderan sudah di ambil dan ada yang kirim juga.
"tiyaaaa.."panggil sella
"iya.. tunggu sedang packing kue yang mau di anter" teriak Tiya
"ini ada yang cari,Lo. katanya udah ada janji jam 1.." seru sella malas memberitahu Tiya siapa yang datang, biar Tiya bisa menebaknya.
sepi gak ada jawaban lagi dari Tiya, ternyata dia sudah masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju nya.
"aduh pake lupa lagi kalau ada janji,,bagus teman nya sakti jadi ketemuan nya sore.." gerutu Tiya yang sudah rapih dan keluar dari kamar.
__ADS_1
"Yuri nanti kita ketemuan di ruko ya,,gue pergi dulu dan tolong cek pesenan juga.." celoteh Tiya yang membuat Yuri menatap dengan tatapan malas nya.
"ya elah beluman juga,, udah nanti gue sama Yuri yang urus. sekarang pergi sana.." sella terus mendorong Tiya untuk segera keluar dari dalam dapur.
"bentar gue cuma mau ngecek aja kok.." kesal Tiya
"udah itu urusan gue,,"usir sella
Tiya mendelik kesal sambil menghentakkan kaki nya ke lantai, lalu berjalan ke arah ruang tamu. Rendra sedang menunggunya sampai memejamkan mata nya, ada rasa gak tega membangungkan Rendra.
karena suara berisik sella dan Yuri, akhirnya Rendra terbangun juga.
"maaf jadi ketiduran.."ucap Rendra dengan gugup
"gak apa,,kalau masih ngantuk biar kamu tidur dulu aja.." tukas Tiya yang gak lama duduk di hadapan Rendra.
"boleh ke kamar mandi dulu gak,,"ijin Rendra
"silakan,, Taukan dimana kamar mandi nya.." sahut Tiya
Rendra pun berjalan ke arah kamar mandi, sempat berpapasan dengan mbak sus.
setelah dari kamar mandi, Rendra kembali menghampiri Tiya ketika hendak duduk mereka di kejutkan kedatangan Reza.
"cumiiiii, gue telpon gak di angkat. sampe gue belain Dateng kek presiden aja, Lo.."kesal Rendra
"idihhh jam segini sibuk lah bro.." sarkas Yuri
"gue mau kasih liat Lo barang yang Lo mau,, emang gue kurang kerjaan apa gangguin, Lo banget.." sebal Reza dengan jawaban Yuri.
Reza tidak sadar kalau kakaknya sedang memperhatikan dia begitu pun dengan Tiya.
" ya udah hayooo kita ke ruko aja sekarang, terus barang yang gue mau berapa harga nya, Kalau mahal jangan.." ujar Yuri
Reza mendengus kesal sekali.
pas Reza mau duduk baru dia sadar ada dua manusia yang sedang melihat dia berdebat.
__ADS_1
"eh.. ada penonton yang baik " seru Reza sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.