
selama makan di restoran sampai selesai dan pulang kerumah mulut sella gak berhenti berceloteh yang di bahas seputar dua nama Rendra dan sakti.
Tiya sibuk membereskan belanjaan yang tadi dia beli, Yuri langsung mandi sedangkan sella sibuk membahas Rendra.
"Lo diam aja sih, jawab kek atau kasih solusi gitu" ujar sella memandang Tiya dengan kesal.
"gue harus jawab apa kan Lo tau jawaban nya apa? tadi ada Yuri di sindir orang tua nya Rendra, dia salah orang karena nyonya itu pikir Yuri adalah gue" terang Tiya
"sudahlah sell, gue udah nyaman dengan keadaan begini.
jangan ada lagi orang yang merendahkan gue,, kasian aura kalau dengar gue dihina orang terus" Tiya berkata dengan air mata yang tanpa sengaja sudah jatuh di pipinya.
sella langsung berhamburan memeluk sahabatnya, sella ikutan menangis pilu.
"maaf kalau kata-kata gue sudah bikin Lo sedih" ucap sella sambil menghapus air mata Tiya.
"jangan nangis lagi kan gue gak bisa liat Lo nangis,,hiks,,hiks" sella menangis tersedu-sedu.
Yuri mendengarkan dari balik pintu pun ikut bersedih, nasib Tiya tidak seberuntung wajah cantik nya.
sebagai wanita Yuri merasakan kesedihan, melihat perjuangan Tiya sangat lah tidak mudah.
Tiya sini biar gue yang lanjut beresin, Lo mandi sana? usir Yuri
mengambil alih barang yang mau di rapihkan.
Tiya pun masuk ke dalam kamarnya untuk bersih-bersih, sedangkan sella membantu Yuri.
"eh kok sepi ya? anak-anak pada kemana? tanya sella sambil celingak-celinguk
Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal
__ADS_1
"emang tadi Lo kemana aja? waktu ayah sama bunda jemput krucil"seru Yuri sambil bertolak pinggang
"eh gue mandi terus terima telpon, pas gue keluar cuma ada mbak sus,,dan mbak sus gak ada bilang apa-apa tuh" terang sella
ingin rasanya Yuri pukul kepala teman nya yang kadang suka bener tapi banyakan eror nya.
"sella besok Lo kan masuk kantor nih,, mending sekarang Bobo gih? perintah Yuri
"gue mau resign aja" ucap sella tanpa beban, asik memainkan kuku tangan nya.
" Lo kepentok di mana sih sell? kesal Yuri dengan ucapan sella
" kan gue bilang mau resign? masa iya kepentok tembok baru resign" ujar sella
kalau resign mau kerja dimana Malih? emang Lo udah ada tempat kerja baru" gerutu yuri
"belom ada, gue masih punya tabungan jadi bisa buat jualan" tutur nya.
"mau jualan apa? tanya Tiya
" cake aja sama kopi dan nanti gue bikin tempat ngopi paling nyaman" sahut sella
"mau area mana? kalau bisa yang dekat area perkantoran jadi kan bisa selalu rame" ide Yuri
" sewa tempat nya pasti mahal itu" ucap Tiya
"tapi kan akan sesuai sama pendapatan nya, coba aja di tambah ada menu makanan berat nya" terang Yuri
"coba besok pagi gue mau browsing dulu" ucap sella
mereka asik bertukar pikiran dan ide yang mereka punya sampai lupa kalau sudah jam 12 malam.
__ADS_1
"kita lanjut besok nanti gue bantu cari tempat nya,, ada klien gue yang tau soal tempat strategis" ujar Tiya
"ya udah kita istirahat mata gue udah ngantuk banget nih" seru Yuri.
mereka tidur bertiga dikamar tiya, tanpa sengaja Tiya melihat jendela kamar nya terbuka. ketika mau menutupnya mata nya melihat mobil yang dia kenal sangat baik.
"Rendra.. mau ngapain tengah malam begini" gumam Tiya lalu dengan cepat menutup jendela kamarnya.
Rendra kembali melihat rumah Tiya dan lampu nya sudah padam tanda kalau si empunya rumah sudah tidur.
Rendra pun menjalankan mobilnya untuk pulang kerumahnya, entah sampai kapan dia selalu seperti itu.
Tiya mata nya tidak bisa terpejam dilihat teman nya sudah pulas banget, dia bangun dan berdiri ke arah jendela dilihat mobil Rendra sudah pergi.
" untuk apa dia datang tapi gak masuk,, sudahlah biar aja mungkin mau nya seperti itu" lirih Tiya sambil merebahkan badan nya.
tidak lama dia pun tertidur pulas menyusul teman nya yang sudah bermimpi indah.
subuh berkumandang Tiya segara menunaikan kewajiban nya sebagai muslimah, selesai sholat Tiya menelpon aura untuk mengingatkan jangan lupa mandi dan sarapan karena Tiya gak mau anak nya merepotkan orang lain.
lalu Tiya coba berolah raga hari ini keliling komplek sambil pulang nya membeli sayuran.
selesai olah raga pagi, Tiya masuk ke dalam rumah nya dan di lihat teman nya belum ada tanda-tanda untuk bangun pagi.
"mbak sus, sudah sarapan pagi? tanya Tiya
" sebentar lagi Bu ini masih memasak makanan untuk sarapan ibu dan teman-teman nya" sahut mbak sus
"ya sudah saya di belakang ya mbak, kalau teman saya sudah bangun bilang saja saya di belakang" pinta nya
"mbak sus, jangan lupa kopi susu + singkong rebus ya? pesan Tiya karena dia paling senang menghabiskan waktu nya di belakang rumah.
__ADS_1