
setiap pagi Tiya ada kerjaan baru, dia membuat cake untuk di kirim ke cafe nya Kiki.
mereka lebih banyak berinteraksi sekarang, bahkan hari-hari Tiya seakan lupa oleh nama Rendra.
sedangkan di Jakarta,Rendra masih mencari dimana Tiya, tapi hubungan Deby dan Rendra seperti dapat lampu hijau dari Bunda nya Rendra.
bahkan setiap hari Deby selalu mengantarkan makan siang untuk Rendra.
"sayang,ini Makan siang mu sudah siap..ini menu kesukaan mu Loh.."seru Deby
"berhenti panggil aku dengan panggilan seperti itu..jangan membuat orang salah paham.."kesal Rendra
"loh..kan memang kita akan bertunangan. kenapa harus marah? Deby mendekati Rendra sambil memeluk tangan nya
Reza tadi nya ingin bertemu dengan kakak nya, langsung mundur setelah mendengar penuturan Deby.
"ternyata sudah sejauh ini ya,,gue pikir kakak gue suruh orang cari Tiya untuk melanjutkan hubungan mereka. ternyata gue salah,kalau hanya untuk menyakiti Tiya lebih baik aku diam saja.."lirih Reza.
dari cctv ternyata Rendra tahu ada adiknya mau masuk ternyata malah mundur dan berbalik pergi.
bahkan sakti saja, selain urusan kerjaan. sudah jarang dia datang keruangan Rendra, karena selalu ada Deby.
"besok kan kita akan mencari cincin tunangan, kamu mau yang seperti apa mas? tanya deby manja
"carilah sendiri kan yang mau tunangan kamu dan bunda ku..ingat bukan mau ku.."geram Rendra
tapi Rendra tidak pernah menolak deby jika bermanja dengan nya.
"oh..ya..masa bukti nya kamu selalu gak bisa menolak ajakan ku.."Deby mencium pipi Rendra
"menjauhlah,, aku sedang sibuk.."Rendra mendorong Deby
dan Deby hampir jatuh.
"mas..kenapa harus kasar..? kesal Deby
"salahmu,,aku bilang menjauh malah nempel aja seperti ulat bulu..kesal Rendra
Deby menghentakkan kaki nya saking kesal,lalu dia duduk di sofa seperti biasa sampai Rendra selesai kerja.
"mas,,ayo makan.."bujuk Deby
"mas.."panggil lagi deby
lalu Rendra menghampiri Deby dan duduk berhadapan Deby.
__ADS_1
lalu Deby dengan senyum mengembang menyiapkan makanan untuk Rendra.
"makanlah yang banyak.."Deby menyodorkan kembali sayur kesukaan Rendra
Rendra makan dengan lahap tanpa bicara apa pun, lalu selesai makan dia kembali ke meja kerja nya. melanjutkan kerjaan nya kadang melirik tajam ke arah Deby.
"apa kamu gak mempunyai pekerjaan?? selalu ada dikantor ku.."sarkas Rendra
"kan mau punya tunangan jadi untuk apa, aku bekerja keras dan percuma punya karyawan handal tapi tidak bisa bekerja dengan baik.."sombong nya
membuat Rendra menatap jengah dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.
sedangkan di ruangan sakti, nampak sakti sedang menerima panggilan telpon dari Reza.
Reza meminta sakti untuk datang ke cafe karna cafe sudah benar-benar selesai sesuai harapan mereka berlima.
bahkan diluar dugaan mereka, cafe yang sudah di renovasi sangat bagus sekali.
Reza mengirimkan gambar tersebut ke Tiya dan Yuri, bahkan saat pembukaan nanti Tiya rencana akan hadir bersama Kiki.
dan ada rencana Kiki akan memasukkan beberapa kue andalan nya.
pagi ini Reza,sakti,sella dan Yuri nampak sudah mulai sibuk di cafe, rencana nya hari ini pembukaan cafe mereka.
"apa kamu siap jika bertemu dengan Rendra? gue yakin dia akan datang dan dia yakin Lo juga bakalan ada di acara pembukaan cafe kita.."ungkap Yuri
lalu Tiya melihat ke arah jendela,dan menghembuskan nafas nya.
"gue gak akan lari terus dan sudah saat nya, mau sekarang atau pun nanti akan sama saja. siap atau pun tidak siap ,semua sudah di atur yang kuasa.."terang Tiya dengan suara yang tenang.
"apa Lo menyukai Kiki,,?"tanya Yuri
"entahlah..dulu jujur iya,gue sangat mengagumi pria itu.."jawab Tiya jujur
"ya sudahlah..semoga Lo bisa melewati ini semua.."peluk Yuri
"sakit kalau mendengar orang mengucap nama Rendra..tapi semoga akan terhapus dengan seiring dan berjalannya waktu.."lirih Tiya lalu kembali melanjutkan membuat cake nya.
mereka sibuk dengan tugas nya masing-masing, sore nya para undangan sudah memenuhi cafe yang akan segera di buka.
nampak hadir Kiki ada di barisan orang tua Tiya,bahkan orang tua Yuri serta sella nampak berbaur.
tidak lupa mamih sakti yang juga ikutan sibuk mendekorasi ruangan.
Kiki nampak serius bicara dengan ayah Tiya,bahkan sekali-kali mereka tertawa lepas.
__ADS_1
bahkan orang melihatnya seperti Anak dan ayah, begitu akrab nya.
"hai serius banget.."Reza memberi salam ke ayah Tiya
"oh kalian sudah saling kenal? tanya ayah Tiya
"iya om, waktu di kota Y.."timpal Kiki
ayah Tiya mengangguk paham dan bahkan memberikan semangat kepada kedua anak muda tersebut.
ternyata dugaan Reza dan lain nya benar, Rendra tidak ada sendiri ada Deby dan bunda nya juga.
ayah Reza menghampiri Reza dan ayah Tiya, mereka saling menatap seolah pernah kenal lama.
"Umar..ini kah kau.."tunjuk ayah Reza ke arah ayah Tiya
"Roni,,apa benar kamu.."seru ayah Tiya
"ya ampun bang kemana saja,aku sampai tanya ke saudara-saudara yang lain,mereka hanya bilang kau tinggal di Jakarta saja.."terang ayah Reza
Reza dan Kiki saling memandang, bahkan bunda Reza mendengar percakapan suami nya langsung kaget.
"apa benar itu bang umar.."bathin nya, lalu tanpa sengaja bunda Rendra matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal sahabat lama nya yang menikah dengan sepupu nya.
dugaan nya benar,ibu Tiya menghampiri suami nya. untuk mengajak bergabung dengan anak-anak nya.
"ayah..bisa nanti di lanjutkan lagi..itu Tiya sudah meminta kita bergabung.."ujar ibu Tiya dengan sopan
"Bu ..ini roni.."ibu Tiya langsung memicingkan mata nya dan hanya berkata.."apa kabar Ron? senang bisa bertemu dengan kalian lagi.."tutur ibu Tiya
ada rasa sakit ketika mendengar saudara-saudara suami nya,bahkan teman nya yang menjadi istrinya Roni juga menghina keluarga ibu Tiya.
ingin rasa nya menjauh dari keluarga itu,tapi semua sudah di atur yang maha kuasa.
tanpa sengaja mata ibu Tiya menatap tajam teman masa lalu nya, dia langsung membuang muka begitu saja.
lalu berjalan menghampiri mamih nya sakti dan bunda Yuri.
"Sri..Sri.."panggil bunda Rendra
"maaf anda memanggil nama saya!!"tunjuk ibu Tiya ke wajah nya
"apa kamu lupa dengan ku.."tutur bunda Rendra
"sangat bahkan ,,maaf saya tidak tahu anda nyonya.."jawaban ibu Tiya seolah menekan,bahkan tidak ingin kenal lagi.
__ADS_1