
esok nya Kiki memenuhi undangan makan malam dari bunda ayu, Tiya sangat sibuk di dapur memasak beberapa macam menu.
mamih sakti hanya membantu meracik sayuran tidak lupa Tiya membuat cake.
bunda dan ayah sangat senang ketika Tiya membuat cake.
hati nya begitu bahagia, entah kenapa dia bisa melupakan Rendra sejak kehadiran Kiki.
Kiki tidak pernah lepas komunikasi sejak saat itu,bahkan saling bertukar cerita soal kandas hubungan pasangan mereka masing-masing.
"Tiya,, itu tamu yang di tunggu sudah datang.."ujar ayah
"kok cepet banget,padahal belum waktu nya.."Tiya melihat jam di dinding.
lalu mencuci tangan nya dan keruang tamu menghampiri Kiki.
"hai..kok cepet banget sampai nya. belum siap nih? ujar Tiya
"gak apa-apa hanya pengen lebih awal aja datang nya,biar bisa kenal sama aura. kamu lanjut saja,biar aku ngobrol dengan om dan aura di depan.."sahut Kiki
"ya sudah kalau gitu, kamu mau teh atau kopi.."tawar Tiya
"kopi boleh tapi gula nya satu sendok dan jangan di aduk ya.."pinta Kiki
Tiya pun bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi, dan cekatan Tiya membuat kopi yang sudah pasti sangat harum. tidak lupa dengan beberapa potong kue,yang tadi dia buat.
terdengar dari dalam suara tertawa aura dan ayah serta Kiki, mereka padahal baru kenal seperti sudah kenal lama.
"Tiya..di bawa ke halaman belakang saja, lebih enak kita makan di sana.."perintah ayah.
"ya sudah, aku bawa ke belakang saja,, ayah mau kopi juga atau teh? jawab aura dan bertanya lagi ke ayah Bambang
"teh pahit saja ..sekalian buatkan untuk aura cucuku.."jawab ayah
Tiya langsung masuk lagi ke dalam untuk membuat teh,
"biar bunda saja yang buat, kamu lanjutkan masak saja.."ucap bunda
"baik Bun,, loh mamih kemana? tanya Tiya
"sedang di halaman belakang menata meja.."tunjuk bunda
Tiya menyiapkan masakan untuk makan malam dengan cepat,tanpa tiya sadari di depan rumah sudah ramai dengan sella dan Yuri.
bahkan putri sudah bersama aura,mereka berlarian kebelakang.
tiya belum menyadari kedatangan teman dekatnya sama sekali, dia masih fokus dengan masakannya
setelah masakan jadi, dia langsung membawanya ke halaman belakang untuk di hidangkan.
"loh mamih kok banyak banget piring nya.."tanya Tiya
__ADS_1
mamih memicingkan mata nya dan berpikir kalau Tiya belum tahu jika sella dan Yuri sudah datang.
"tuh lihat..tunjuk mamih
Tiya langsung membalikkan badan nya, dan tak percaya kalau di dalam ada Yuri dan sella.
Tiya tersenyum melihat dari luar temannya yang sedang mengintrogasi Kiki.
Yuri dan sella dengar cerita dari Reza,gak sabar untuk mengenal kiki. dengan rasa penasaran mereka langsung menyusul ke kota Y, sampai di rumah kediaman orangtua Yuri kaget lah mereka ternyata benar ada seorang laki-laki yang mereka tebak pasti itu Kiki.
heboh lah mereka bertiga, sampai gak percaya dengan hitungan hari Tiya bisa move on dari Rendra.
"tiyaaaaa,,"teriak sella
"ya ampun kalian akhirnya nyusul juga.."sahut Tiya
"iyalah kayak gak tau aja kita gak bisa jauh.."cebik Yuri
"apa lagi Lo kabur bawa emak bapak gue..sampai lupa itu orangtua ninggalin anak nya.."protes Yuri
yang lain hanya tertawa saja, apa lagi ayah Bambang hanya memasang bola mata malas nya saja.
"lebay .."sahut ayah Bambang
"idihhh takut ah kena lebay.."ujar Yuri
"itu lebah cumiiiii.."seru Tiya
"saya suka persahabatan yang seperti keluarga itu, Tan..jarang Loh Tan? ucap Kiki yang menatap terus kearah tiga orang itu.
"oh ya Yuri, sella. kenalin ini Kiki.."ujar Tiya
"udah kenal tadi di dalam.."cuek Yuri
"idiiih gak asik ahhh.."Rajuk sella
Tiya menajam kan mata nya maksud sahabatnya itu apa, Tiya belum paham.
"ayoo kita mulai makan saja .."ajak bunda
"iya nanti keburu dingin .."timpal mamih
mereka menempati kursi mereka masing-masing dan langsung memulai makan yang di komandoi ayah Bambang.
"Ki,,nanti kita main catur ya.."ajak ayah Bambang
"sip, om.."sahut Kiki
"eleh, gak dimana-mana caturr teross.."sindir Yuri
"sirik aja,, "sahut ayahnya
__ADS_1
Yuri langsung membola matanya,ayahnya seolah lupa akan diri nya.
sella hanya terkekeh geli melihat Yuri merajuk.
"Lo itu ibarat putri yang tertukar, jadi ayah dan bunda sudah menemukan anak nya yang asli..hahahhahaha.."ledek sella
yang membuat Yuri makin kesal saja.
"paling ngga bilang, wahai anak ku..ayah sangat rindu pada mu..ini baru datang malah di tanya, udah gajian belum.."gerutu yuri yang membuat mamih tersedak
"noh calon mertua sampe tersedak.."tunjuk Tiya
"sini sama mamih ,sekarang mamih yang akan perhatikan kamu.."seru mamih yang langsung di peluk oleh Yuri
"berarti sekarang ganti bunda sama mamih aja deh.. tuh bunda udah sibuk sama kedua cucu nya ..cebik Yuri
seperti nya Yuri malam ini mau protes dengan bunda dan ayah tapi malah di cuekin.
"sudah lah kamu kan sudah dewasa, masa mau iri sama Anak kecil.."ujar bunda yang mengusap rambut anak nya dengan sayang.
"semua kami sayang,tidak ada yang kami bedakan.."timpal ayah.
dua bocil terkekeh mentertawakan Yuri , Yuri langsung memasang wajah pura-pura sedih.
"sini Tante nanti aku traktir es krim, tapi uang nya pakai uang Tante dulu ya.."ujar putri
Yuri langsung menepuk jidat nya, dan memberikan tanda setuju. tapi dia melirik ke arah Kiki, seolah otak nya mengatakan wajib di eksekusi..tawa jahat terlihat dari wajah Yuri.
sella sudah membaca gelagat jahat temannya, hanya menghela nafas saja.
Tiya juga sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan teman nya yang satu ini.
"nak Kiki ayo kita di dekat meja sana saja,yu.."ajak ayah
"eits tunggu dulu mr.bambang,,"seru Yuri
"apa lagi, ayah mau main catur..sambil ngopi ganteng.."jawab ayah nya Yuri
"tidak semudah itu furgoso,, Kiki harus ikut aku dan dua bocil dulu.."tunjuk Yuri ke arah putri dan aura yang sudah mengangkat alis nya
"ya salam .."Tiya menepuk jidat nya
"oh iya,mba Yuri ada perlu dengan saya? atau mau di antar kemana? tanya Kiki
"heheehe peka juga mas Kiki.."jawab Yuri
"ya sudah jangan lama-lama.."ucap ayah
"paling besok baru pulang,."sahut Yuri yang dapat toyoran dari ayah nya.
ayah gak punya hati, anak secantik putri salju masa di Toyor.."lirih Yuri.
__ADS_1