
Laura merasakan desiran ombak menggoyangkan kapal, dia betul-betul berada di atas kapal perompak itu. Dia membelalak menatap Sean yang bersandar di pintu kabin kapal. Ketakutan menyertai wajah pucat Laura.
Apakah pria ini menculikku? apa yang harus aku lakukan? tidak ada siapapun kini yang dapat menolongku! Air matanya menetes tanpa diminta, mengapa hidupnya begitu mengenaskan? mengapa hal mengerikan ini menimpanya? hati dan tubuhnya terasa tercabik, tidak adakah seseorang yang dapat menolongnya?
Sean masih memandang Laura, tidak ada ekspresi di wajah tampannya. Hanya membiarkan Laura menangis, Laura mengambil barang apa saja dan melemparkannya ke tubuh sean.
"Lepaskan aku perompak ! aku tidak ingin ikut denganmu ." Laura terus menangis, Sean masih memandanginya, dia sama sekali tidak menghindari lemparan Laura.
Tangan Laura di pegang erat, mata safirnya menatap tajam Laura yang terisak, "Diamlah Laura atau aku akan memuaskan diriku lagi di tubuhmu, kau milikku, dan kau akan ikut denganku kemanapun aku pergi." Tangisnya pecah, seluruh tubuhnya sakit dan perih, mengapa perompak ini begitu kejam padanya?
Sein keluar dari kabin, seluruh awak kapal memandangnya mereka mendengar suara tangis seorang wanita di kamar kaptennya, baru kali ini sang kapten membawa seorang wanita di kapalnya, "Apapun yang kalian dengar, jangan pernah mendekati kabinku."
Sean naik ke geladak atas memerintahkan para awaknya untuk menaikkan jangkarnya yang terhubung dengan rantai yang terbuat dari besi. Beberapa orang mengangkatnya, mereka akan segera mengarungi lautan.
Laura menangis, dia ingin keluar dari tempat ini, perompak itu menculiknya. Dia meraba-raba kabin sempit itu, wangi dari tubuh sean sangat kental di ruangan sempit itu, kamar sempit ini pasti milik perompak itu, pikir Laura.
Dia mendapati pisau lipat yang tergeletak begitu saja di atas meja, Laura mengambilnya menyembunyikan di pakaiannya. Dia mengintip dari sela-sela kabin, dan melihat beberapa pria sedang sibuk menaikkan layar di kapal itu. Kapal mulai bergerak, deburan ombak menghantam kapal dan sedikit bergoyang, Laura berpegang pada pintu kabin agar dirinya tidak terjatuh.
Dia merasa pusing, sudah dua jam dia terkunci di kabin itu, bunyi pintu yang membuka membuat Laura segera kembali ke tempat tidurnya. Sean membawakan makanan lalu menaruhnya di atas meja. Dia menghampiri Laura, mengusap wajahnya, dan duduk di tepi tempat tidur.
Laura membenci sentuhannya, dia membuka matanya dan menangkap mata safir sedang mengamatinya. "Jangan menyentuhku Brengsek." Teriak Laura padanya.
Sean mengangkat tubuh Laura begitu saja tanpa memperdulikan caci maki Laura padanya. "Kau harus makan." Sean duduk di depan Laura menyodorkan makanan yang terlihat lezat di hadapannya.
__ADS_1
Laura membuang wajahnya, sedikitpun tidak menyentuh makanan itu meskipun wanginya membuat perut Laura berbunyi. Sean menatapnya tajam, dia lalu berdiri mengangkat Laura dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Laura memukul-mukul tubuhnya, mendorongnya begitu kuat, bisikan panas menjalar di telinga Laura.
"Pilihlah Laura, kau makan sekarang atau bercinta denganku sekarang di manapun tempatnya aku tidak keberatan, pasti orang-orangku akan senang mendengar erangan dan teriakanmu ketika kau mencapai klimaks, akupun menyukai suara merdumu itu Laura."
Laura terkesiap, sesuatu yang keras menempel ditubuhnya. Laura menghentikan gerakannya. "A..aku akan makan, jadi lepaskan aku brengsek."
Sean melepaskan Laura, tetapi ciuman kasar mendarat terlebih dahulu di bibirnya, membuat Laura kesulitan bernapas. Setelah mencium Laura dengan seenaknya Sean meninggalkannya, "Makanlah, aku akan membawakanmu pakaian ganti. Laura masih kesulitan bernapas karena ciuman sean yang tiba-tiba.
"Dasar penjahat, brengsek, perompak kasar, aku sungguh membencinya." Gumam Laura yang mulai menyuapi makanan ke mulutnya.
Beberapa awak kapalnya lalu bekerja terburu-buru sambil mengerling Sean yang baru keluar dari biliknya, tentu saja mereka mendengar teriakan dan sumpah serapah seorang wanita dari dalam biliknya.
Mereka semua tidak berkomentar, mereka pura-pura tidak mendengarnya. Sean berjalan menuju dek bawah mencari-cari pakaian yang akan dikenakan Laura.
"Gunakan pakaian yang ada di koper ini Laura." Dia mengamati Laura yang masih terduduk di meja makan dengan piring kosong dihadapannya. Laura tidak ingin memandang Sean.
"Aku ingin mandi", gumam Laura pelan, tubuhnya terasa lengket karena keringatnya, dan bau yang menguar dari tubuhnya sehabis bercinta dengan sean terasa mencekiknya.
Sean merapatkan bibirnya, "Wanita memang merepotkan." Dia lalu pergi sebentar kemudian dia kembali lagi membawa bak mandi yang terbuat dari kayu, dia menaruhnya di sudut, tanpa menyuruh orang-orangnya, dia mengerjakannya sendiri, mengambil air dan memenuhi tempat itu.
Laura mengamatinya, mengisi bak kayu itu dengan air sampai penuh, dia lalu memandang Laura. "Mandilah, atau kau perlu bantuanku? aku tidak keberatan." Senyumnya mengejek.
Laura mendelik padanya, "Pergi ! aku akan mandi." Kata Laura yang sekarang berdiri berhadapan dengan Sean.
__ADS_1
Sean bersandar di pintu sambil melipat kedua tangannya. "Kenapa, kau malu? percayalah Laura aku sudah menghapal setiap jengkal dari tubuhmu, jadi kau tidak perlu menyuruhku pergi."
Laura menggigit bibirnya, dia memang manusia brengsek. Laura tidak bergerak, dia hanya menatap Sean dengan pandangan marah. "Cih, baiklah kau boleh mandi sepuasmu." Sean menutup pintu dan mengawasinya dari luar.
"Dasar perompak kasar." Gumamnya, Laura membuka pakaiannya dan mulai merendam dirinya di bak yang cukup untuk tubuhnya meskipun agak kecil. Dia menggosok setiap bagian dari tubuhnya, nyeri di kedua kakinya sedikit demi sedikit telah menghilang. Laura menemukan aroma wangi mawar di koper itu dan menuangkannya di air tempatnya berendam.
Setelah berendam, Laura mencari-cari pakaian yang cocok untuk dikenakannya. Semua tampak mewah dan tentu cantik, akhirnya dia menemukan gaun sederhana berwarna plum yang indah, dia menyisir rambutnya dan mengikatnya, dia sangat tertarik dengan peralatan wajah yang ada dihadapannya, sedikit pewarna di bibirnya agar terlihat segar. Laura berencana melarikan diri ketika mereka akan berlabuh lagi, dia tidak ingin terlihat seperti seorang gelandangan ketika melarikan diri nanti. Dia mendengar seseorang membicarakan tentang desa yang berada tidak jauh dari kapalnya.
"Aku harus pergi, bagaimanapun caranya." Gumam Laura.
Sean membuka kabin dan mendapati Laura telah selesai membersihkan dirinya bahkan dia nampak cantik dan wangi. Sean tersenyum dan mendekati Laura yang mundur sampai ke tepi tempat tidur. Sean memeluk pinggangnya, menghirup aroma dari tubuh Laura, menjelajahi leher Laura dengan hidungnya, "Mengapa kau berdandan cantik laura? kau ingin menggodaku? Hem?" Laura memalingkan wajahnya, dia tersudut ditempat sempit itu. dan pria ini mulai menjelajahi tubuhnya, menghirup aromanya dan mengecup Laura dengan kecupan kecil di setiap sudut bibirnya.
Laura mendesah, suara desahannya membuat dirinya tersadar. Tidak ! dia tidak boleh terhanyut dalam dekapan pria ini, Laura mencoba mendorongnya, dia tidak ingin pakaiannya robek lagi.
Sean mulai memanjakan tangannya dengan menjelajahi setiap inci tubuh Laura dengan meremas atau mengusapnya, bibirnya mengecup seluruh wajah Laura dengan kecupan lembut hingga suara ketukan dari balik pintu membuatnya terhenti.
Sean menggertakkan giginya, matanya menyala dengan kemarahan mereka betul-betul mengganggunya, dia lalu membuka pintu dan melihat rembo berada dihadapannya.
"Kapten, kapal pesiar yang kita incar sudah bergerak, kita mulai bergerak? tanyanya.
"Ikuti kapal itu, aku akan segera ke geladak."
Sein kembali kepada laura tanpa berbicara dia langsung menerkam bibir Laura dan menciumnya begitu keras, Laura menjerit kesakitan, dia menjatuhkan Laura di tempat tidurnya dan sean mulai melakukan aksinya menghujam Laura membuatnya menjerit dan membawa laura sekali lagi ke tepi jurang ketika dia mendapatkan pelepasannya, percintaan mereka begitu singkat tetapi bilik itu begitu berantakan, Laura terbaring tidak berdaya, ia menatap baju yang di sukainya tergeletak mengenaskan di lantai dengan beberapa sobekan.
__ADS_1
Sean sudah mengenakan pakaiannya, dia mengecup kening laura dan segera keluar dari biliknya.