
Leona berjalan di taman seorang diri, kali ini dia tidak ingin di temani oleh Edmund, karena dia ingin melakukannya sendiri, meskipun Edmund khawatir, Leona nanti kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, Edmund ingin menemaninya berjalan-jalan tetapi Leona menolak, meskipun semua ini baru baginya.
Leona menatap sepatunya yang berwarna gold dengan dress cantik yang dikenakannya, rambutnya di kepang rapi dengan sedikit aksesoris yang tidak berlebihan. Leona berhenti pada satu taman, di sana ada air mancur yang indah, dia duduk di tepinya dan memercikkan air di tangannya.
Matanya lalu mengarah pada kastil yang ada di hadapannya dan dia masih berdecak kagum, "Aku masih tidak percaya aku menikahi salah satu anggota keluarga kerajaan, bagaimana bisa Edmund terdampar di pulau Zaudetta dan datang padaku, takdir membawanya padaku dan sekarang aku menjadi menantu keluarga Alexander."
Matanya melirik kepada gadis-gadis yang baru saja masuk ke dalam gerbang yang di jaga oleh penjaga, mereka tertawa-tawa dan berbisik-bisik. Leona mengangkat alisnya, dia ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan, karena tidak ada kerjaan, dia mengendap-endap di belakang taman yang berbentuk labirin dan sembunyi di sana, dia lalu mendengarkan percakapan mereka.
"Kau sudah lihat wanita yang menjadi istri tuan Edmund?"
"Aku sudah melihatnya semalam, dia berlari seperti ini dan melompat kepelukan tuan Edmund, apa itu cara baru menggoda seorang pria, agar mereka tidak bisa menolak jika kita melemparkan tubuh kita kepadanya."
"Patut di coba, aku sedang mencari tuan Kenan, biasanya dia selalu bersama dengan tuan Edmund, apa aku harus melempar diriku di pelukannya seperti wanita itu? banyak ladys menggosipkannya."
Tch, di desa dan di kota semua sama saja, mereka bergosip di mana-mana, dan di sinilah aku menguping seperti biasanya, aku harus mencari informasi mengenai apa yang sedang menjadi topik di antara keluarga kerajaan, tetapi sepertinya kali ini aku yang menjadi topiknya.
Leona mengangkat gaunnya sedikit dan kembali mengendap-endap di belakang mereka.
"Bagaimana jika kita mengadakan pesta minum teh di kediaman tuan Windsor? Aku akan membujuk ayahku agar tuan Windsor memberitahu Nyonya Hault untuk mengadakan pesta minum teh, dan kita akan mengundang istri tuan Edmund dan Nona Soffia, itu pasti menjadi hal paling mendebarkan, aku suka konflik seperti ini, aku ingin lihat di antara mereka siapa yang paling kuat posisinya."
Wanita lain mengangguk menyetujui sambil mengipasi diri mereka, merasa cuaca cukup panas, apalagi di tambah dengan rencana mereka.
Leona mendengus, "Siapa Soffia?"
"Kau tahu sendirikan bagaimana j4lang itu begitu menginginkan tuan Edmund sejak dulu, dia mengatakan menunggu tuan Edmund dan akan menjadi istrinya, Tch lihat dia sekarang, dia menggoda pria di sana sini dan tidur dengan mereka sembari menunggu kepulangan tuan Edmund, kalau di suruh memilih, aku masih memilih istri tuan Edmund, meskipun dia berasal dari desa."
"Hmm, kau benar juga sih, kalau begitu kita langsung saja ke kediaman tuan Windsor, semoga saja Ayahmu ada di sana atau kalau tidak ada, kita bisa membujuk Nyonya Hault." Mereka para peggosip itu akhirnya pergi.
"Sepertinya aku memiliki lawan main yang baru, biasanya aku menghadapi Sarah, nyonya Marshmille dan beberapa wanita tukang gosip di pasar, kali ini aku akan menghadapi wanita-wanita bangsawan, apa mereka mengundangku ingin mempermalukanku? Tch, kita lihat saja apa yang akan aku lakukan ketika menghadapi kalian."
Leona berjalan perlahan dan mengingat nama sofia yang mereka sebut-sebut dari tadi dan Nyonya bernama Hault. "Hm, sepertinya aku akan sibuk."
Dia berjalan pelan menuju ke mansion, beberapa pelayan melewatinya sambil menunduk, tetapi salah satu dari mereka menatap Leona dengan wajah permusuhan, dia nyata-nyata memperlihatkan bahwa dia tidak menyukainya dan bahkan tidak menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan Raodet, ayo jalan, kau sungguh tidak sopan."
Wanita itu mengabaikan temannya, dia menghentak tangannya dan mengibarkan roknya di hadapan Leona, pelayan itu berdiri di depannya dengan percaya diri. "Nyonya, bisakah aku meminta kembali pekerjaanku yang sebelumnya, sejak dulu sebelum anda datang. Akulah yang menyiapkan segala keperluan tuan Edmund."
"Raodet, apa yang kau katakan, apa kau gila."
Ucap dua orang pelayan, mencoba menarik tangannya.
Leona mengangkat tangannya, menyuruh mereka untuk berhenti dan diam. "Biarkan dia bicara, aku ingin mendengarnya." Ucap Leona sambil berdiri tegap, dia tahu sekali apa yang diinginkan wanita ini.
Apa dia meremehkanku karena aku berasal dari pulau?
Leona memperhatikannya, "Aku ingin anda berbicara kepada tuan Edmund, agar saya yang akan menyediakan pakaian tuan Edmund lagi."
__ADS_1
Leona tersenyum miring kepadanya, sambil melipat kedua tangannya di depan pelayan itu, dia berjalan sambil menatapnya tajam.
"Apa kau memerintahku? Aku ingin tanya, apa statusmu di kastil ini?" Ucap Leona dengan wajah datar.
Wanita itu menggertakkan giginya, "Aku memang seorang pelayan dan ...
Leona mengangkat tangannya dan menamparnya dengan kuat hingga dia terjatuh di tanah. "Sepertinya kau lupa dengan kedudukanmu, kau pikir siapa dirimu memerintahku, apa kau pikir aku akan membiarkanmu bekerja di sini lagi setelah melihat tingkah lakumu yang kurang ajar?" Leona berdiri menjulang di depannya.
"Aku tidak ingin melihat wajahmu, jangan muncul di depan suamiku, kau paham." Ucap Leona. Pelayan itu memegang pipinya, dia seperti tersadar dan terlihat ketakutan.
Leona lalu pergi dan meninggalkan pelayan itu. "Kalian pikir bisa mengintimidasiku hanya karena aku berasal dari desa? Tch, aku ingin lihat cara kalian mengatasiku, kenapa tiba-tiba aku merindukan kampung halamanku?" Gumam Leona.
***
"Emdund, apa tidak apa-apa kau meninggalkan istrimu di luar sana? apa kau tidak tahu bagaimana mengerikannya wanita di kota Cambridge? Apalagi mereka tahu status istrimu dan dia berasal dari mana."
Edmund terkekeh, "Kau bisa berkata seperti itu, karena kau tidak mengenal Leona, dia suka mengendap-endap dan mencari ....
"Dia bisa di andalkan dan bisa beradaptasi, iya kan, sayang?" Edmund berhenti berbicara ketika Leona baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana? Apa kau bersenang-senang di luar? bagaimana hasil intaianmu, hmm?" Edmund memegang tangan Leona dan menyuruhnya duduk di sebelahnya, Kenan dan satu orang temannya bernama Sir Mark juga ada di sana. Mereka mengangguk sopan ketika Leona masuk.
"Lumayan, cukup menarik." Edmund terkekeh sambil memegang tangannya.
"Apa anda sudah terbiasa di sini? bagaimana menurut anda tinggal di kota Cambridge." Ucap kenan sambil tersenyum, matanya melirik pada tangan Edmund yang memainkan jari-jari Leona di sampingnya.
"Bagaimana jika aku mengenalkanmu dengan keponakanku, namanya Laura. Dia pasti menyambutmu dengan baik, aku bisa mengenalkanmu jika anda siap."
"Oh ya, aku akan senang bertemu dengannya." Leona menipiskan bibirnya karena Edmund sejak tadi mulai menjalankan tangannya.
"Apa sebaiknya kami pergi? sepertinya Edmund terlihat tidak sabar lagi." Ucap Mark yang melihat kemesraan Edmund didepan mereka. Leona lalu mencubit tangannya agar dia berhenti.
"Sebaiknya kau berhenti selagi aku masih mencubit, sewaktu-waktu kakiku bisa saja melayang." Gumam Leona jengkel.
Edmund tertawa, begitupun Kenan dan Mark. "Kau pasti tidak akan pernah bosan jika bersamanya, Edmund."
"Tentu saja, aku tidak akan bosan, jika dia melihatku duduk-duduk saja, dia akan menyuruhku memetik sayur di kebun orang." Ucapnya bersemangat.
Leona menatap Edmund sambil menyipitkan matanya, "Apa sekarang kau sedang melapor kepada mereka? tentu saja aku menyuruhmu mengambil sayuran, aku kan sibuk mencuci pakaian, aku tidak bisa mengerjakan semuanya, kau harus mengangkat bokongmu yang pemalas itu." Ucap Leona jengkel.
Kenan dan Mark yang mendengar cerita Leona, tidak bisa menahan tawanya. Sementara Edmund menutup mulut Leona agar tidak ada yang mendengarkan ucapan Leona.
"Kalian tidak pulang?" Ucap Emdund kepada mereka berdua, sejak tadi mereka tertawa membuat pelayan yang lewat berbalik ke ruangan mereka karena berisik.
"Sayang, kau tidak bisa mengatakan 'bokong' dengan semaumu, di sini tidak terbiasa dengan ucapan seperti itu."
"Tch, mana aku tahu."
__ADS_1
Pintu tiba-tiba membuka, seorang pelayan masuk dan membungkuk kepada mereka semua.
"Tuan, Nyonya Alexander sedang mencari Nona Leona."
"Siapa yang mengizinkan ....
"Maaf tuan, ada apa?"
"Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya Nona Leona, dia istriku. Kau seharusnya tahu panggilan apa yang harus kau katakan kepadanya, berapa lama kau kerja di sini." Geram Edmund.
Edmund sangat paham dengan situasinya, apalagi berkaitan dengan Leona, banyak yang menentang pernikahan mereka, karena status Leona yang bukan dari kalangan bangsawan apalagi dia berasal dari pulau yang jauh, serta belum ada peresmian dari keluarga Alexander mengenai pernikahan mereka.
Pelayan itu bergetar. "Mulai besok kau tidak usah lagi bekerja di sini, aku tidak mau melihat wajahmu." Pelayan itu sangat terkejut, setelah mendapatkan tamparan dari Leona, Edmund sendirilah yang mengusirnya.
"Aku tidak tahu kediamanmu memiliki pelayan yang tidak sopan, Ck ck." Ucap kenan dengan dahi berkerut yang dalam.
Wajahnya menjadi pucat, dia tertunduk di sana, lalu mundur pelan-pelan dari hadapan mereka." Setelah keluar dari ruangan itu, dia berlari sambil menangis, dia tidak tahu bahwa sedikit ucapannya itu membuatnya di pecat dengan mudahnya, padahal dia telah lama melayani tuan Edmund, dengan seluruh perasaannya. Dia berlari dan menangis di taman.
"Aku sudah memperingatimu sejak awal, kau saja tidak mendengar, kau tidak tahu istri tuan Edmund itu sangat special dibandingkan wanita-wanita lainnya." Ucap seorang pelayan yang bersandar di salah satu pohon sambil memakan apel. Pelayan itu memegang erat roknya dan menangis tertahan.
***
Edmund dan Leona hari ini keluar dari kastil karena mereka memiliki janji dengan Kapten Lewstin di salah satu restaurant, meskipun ibunya Edmund melarang kepergian Leona, karena menurutnya masih banyak yang harus di lakukan dan di pelajari Leona, tetapi Edmund tidak memperdulikan ucapannya, dia menatap wajah yang sempat protes itu dengan tatapan yang tajam mengerikan hingga wanita itu terdiam.
Dia memegang tangan Leona erat dan mengucapkan sesuatu kepadanya, sehingga dia balas menatap Edmund dengan marah.
"Kita pergi sekarang." Edmund menarik tangan Leona, sementara wanita itu dengan wajah mengerikan berbisik sesuatu kepada pelayannya.
Mereka sekarang berada di atas kereta, Leona sejak tadi berbalik kepada Edmund. "Apa yang kau bisikkan kepada ibumu, Edmund? sepertinya dia tidak senang mendengarnya."
Edmund tersenyum sinis. "Sejak dulu dia memang tidak pernah memperlihatkan wajah senang, apalagi ketika melihatku, jangan khawatir, sayang." Leona menggenggam tangan Edmund dan bersandar di bahunya.
Mereka tiba di salah satu restaurant dan di sana telah duduk kapten Lewstin, dia terlihat rapi dengan pakaian yang di kenakannya, serta rambutnya yang telah di tata licin kebelakang. Leona dan Edmund berjalan menuju Kapten Lewstin, tetapi seseorang memanggil nama Edmund.
"Hai Edmund. Apa kabar, aku tidak menyangka kita berjumpa di sini." Wanita itu lalu mengulurkan tangannya berharap Edmund mengambilnya dan mungkin mencium punggung tangannya, karena begitulah yang dilakukan seorang pria jika bertemu dengan seorang Ladys.
Edmund hanya menatapnya tanpa menggerakkan tangannya.
"Ck, seperti biasa kau sopan sekali jika menghadapiku." Sarkas Sofia.
"Jangan bicara seakan kau mengenalku dengan baik, aku tidak pernah punya urusan denganmu." Ucap Edmund dingin.
Ucapan Edmund sama sekali tidak mempengaruhi wanita itu. "Kami akan mengadakan acara minum teh di kediaman Nyonya Hault kau pasti datangkan, Nona Leona."
"Apa kau Nyonya Hault?" tanya Leona. Wanita itu lalu tertawa.
"Tentu saja tidak Silly, aku juga diundang olehnya."
__ADS_1
"Jadi kenapa kau mengundangku, kau hanyalah seorang tamu, Silly." Leona mendengus dan mereka meninggalkan wanita itu dengan marah.