
Pulau itu berada di sebelah utara, letaknya sangat jauh dari pulau-pulau berpenghuni. Ada sebuah pulau yang di sebut pulau hilang, atau pulau berhantu. Di pulau yang hilang itu ada sebuah desa terpencil, meskipun terpencil, desa itu sungguh makmur dengan segala aktivitas penduduk desa. Zaudetta nama pulau itu, untuk mencapai desa itu sangatlah sulit, kapal-kapal harus melewati arus yang mengerikan, jika kau selamat maka kau akan dipastikan akan berada di pulau itu.
"Kita ada di mana?" tanya Edmund ketika mereka berjalan 15 menit dari tepi pantai ke desa itu. Hamparan ladang dan rumah penduduk menjadi pemandangan pertama yang di dapatinya, senyuman Leona terpancar dari wajahnya.
"Sekarang kita berada di desaku, namanya desa Zaudeta, penduduk di sini tidak begitu banyak, aku bahkan bisa menghapal nama-nama mereka bahkan sampai rumah di ujung sana."
Edmund menatap wajah ceria gadis yang memapahnya ini, dia lalu menatapnya. "Dan kau sendiri tinggal di mana?"
"Apa? Ah, aku tinggal di dekat pepohonan besar di seberang sungai, meskipun sedikit agak jauh dari rumah penduduk lainnya, tetapi rumah itu adalah rumahku, hasil jerih payahku sendiri selama bekerja."
"Kau bilang kau tinggal sendiri di sini nona Leona?" Tanya Edmund.
"Euh, jangan panggil aku dengan sebutan Nona, panggil namaku saja, dan aku akan memanggilmu dengan Edmund, adil bukan?" Dia memperlihatkan senyumnya dan memapah Edmund menuju ke rumahnya.
Pandangan aneh dan bisik-bisik penduduk desa ketika melihat kedatangan Edmund yang langsung di banjiri gosip dari rumah ke rumah.
Tch, Gadis lugu ini hanya tersenyum kepada mereka semua, padahal gosip jelek dan mata mengerikan di tujukan padanya dan tentu saja padaku**.
"Kau yakin kau bagian dari penduduk desa ini, ada apa dengan wajah-wajah mereka, Leona?"
"Hah? Mereka selalu seperti itu, jangan khawatir mereka sebentar lagi akan baik kepadamu karena kau pria tampan." Ucapnya ceria.
Gadis itu membawa Edmund di jalan yang berkelok-kelok dan jalan yang cukup sulit di lalui. "Coba lihat di sana, itu rumahku, kau bisa istirahat dan aku akan membuatkan makanan untukmu."
Edmund masih di papah oleh gadis berambut coklat karamel itu, dia selalu tersenyum ceria, wajahnya memang cantik tetapi pakaian yang di kenakannya sangatlah kusam dan kumal seperti baju-baju bekas yang di belinya di pasar dan di gunakannya kembali. Akhirnya mereka telah tiba di rumah kayu itu, diantara seluruh rumah yang ada di sini, rumah inilah yang letaknya paling jauh dan begitu kecil, meskipun kecil, tetapi tempatnya bersih dan asri, pagar kecil mengelilingi rumah itu dan beberapa bunga yang mekar merambat di kayunya.
"Kau tinggal di sini?" Tanya Edmund setelah Leona mendudukkanya di salah satu kursi di depan teras rumah.
"ya, sejak usiaku 15 tahun aku sudah tinggal di sini, kau tahu? kau pasti tidak percaya dengan yang akan kukatakan, rumahku ini dulunya tidak berbentuk sama sekali, sepanjang hari aku hanya tidur di atas pohon besar itu, lalu jastin memanggilku tinggal di rumahnya meskipun ibunya sangat galak, dia yang membantuku membuat rumahku ini."
Edmund melihat sekelilingnya, rumah itu cukup nyaman untuk di tinggali, meskipun ada beberapa bagian dari dindingnya yang terlepas dan perlu di perbaiki, pohon-pohon kecil tumbuh di sekitar bawah rumah kayu bercat coklat itu. Sederhana tetapi nyaman, di bawah pohon ada ayunan yang terbuat dari kayu.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, udaranya sebentar lagi akan dingin, desa kami sangat dekat dengan lautan, jadi angin dari laut langsung berhembus ke desa ini."
Edmund masuk ke rumah gadis ini, tampak ruang tamu kecil dan beberapa kursi yang juga terbuat dari kayu. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat anyaman yang panjang, sepertinya gadis itu biasa makan dan melakukan aktivitasnya di atas anyaman itu.
"Kemarilah, kau bisa istirahat di atas tempat tidurku dan aku akan membuatkanmu sesuatu, oh ya, ganti pakaian basahmu itu, apalagi kau berbau air laut dan panas matahari, sebaiknya kau membersihkan tubuhmu di belakang dan aku akan mencari baju ganti untukmu."
Gadis itu bicara tanpa henti menjelaskan semuanya, tanpa mencurigai atau menanyakan siapa pria yang di tolongnya itu.
Edmund bersedekap mengamati dari belakang gadis yang usianya 20 tahun itu, dia sibuk kesana kemari dengan senandung di bibirnya.
"Leona, kenapa kau menolongku?" tanya Edmund.
Leona berbalik, sepertinya dia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Edmund. Alisnya mengerut ke dalam, dia seperti berpikir keras.
"Kenapa? karena kau butuh pertolongan, kau akan mati kalau kau berbaring di pantai itu." Jawabnya, dia kembali melakukan aktivitasnya untuk membuat makanan. Edmund membuka bajunya yang basah, dia berjalan menuju tempat yang di tunjuk oleh Leona.
Dia tidak melihat apapun di sana selain sungai dan batu.
"Dimana lagi, kalau bukan di sungai itu." Ucap Leona, dia tertawa dan tergelak melihat kebingungan di wajahnya.
"Aku hanya bercanda." Leona lalu menunjuk ruangan kecil tepat di sampingnya yang menghubungkan dengan aliran air sungai.
Tatapannya tajam menatap gadis itu lalu menyipitkan matanya memberikan peringatan. Leona lalu berhenti tertawa dan membalikkan tubuhnya.
"Ck dia pria pemarah."
Setelah mandi dan membersihkan tubuhnya, Edmund merasa sangat segar, apalagi airnya begitu dingin, Edmund mengenakan handuk milik Leona yang menggantung di pinggulnya.
"Aku akan memakai baju apa?"
"Tunggu sebentar." Leona membuka lemari kecilnya dan mengaduk-aduk di dalamnya, dia akhirnya menemukan pakaian yang pantas di kenakan oleh Edmund, modelnya pun tidak begitu berbeda dari pakaian yang di kenakannya tadi.
__ADS_1
"Baju ini pas di tubuhmu, cobalah." Ucap Leona, tanpa malu berdiri di hadapan Edmund sambil bersedekap menunggunya berpakaian, dia ingin melihat apakah dia cocok mengenakannya atau tidak.
Edmund mengangkat satu alisnya sambil melipat tangannya di depan dada. "Kau yakin ingin berdiri di sana menatapku selagi aku mengenakan pakaian ini?" Ucap Edmund.
Gadis itu sedikit terkejut, "Haha, aku lupa, aku ingin melihat pakaian itu pas di tubuh besarmu atau tidak." Ucap Leona lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kedapur dengan santai.
Edmund mengenakan pakaiannya, baju polo berwarna putih yang hangat sangat pas di tubuhnya, di padu dengan celana kain polos berwarna navy.
"Aku sudah boleh berbalik?" Ucap Leona.
"Oke."
"Wuow, kau sangat cocok mengenakannya di bandingkan jastin, tentu saja, bahumu yang lebar dan rambutmu yang panjang sangat pas sekali." Leona memujinya sambil bertepuk tangan.
"Sudah selesai memujinya?"
"Ehhm tentu, aku sangat senang pakaian yang kuambil dari kapal-kapal karam itu akhirnya berguna juga." Leona mengambil makanan yang telah dia sediakan di atas anyaman di atas lantai, dia lalu menepuk anyaman itu dan menyuruh Edmund untuk duduk bersamanya.
"Duduklah, kita akan makan siang, kau pasti lapar, aku juga lapar."
Edmund duduk dan saling berhadapan dengan Leona. "Makanan ini mungkin terlihat sederhana, tapi rasanya lezat, cobalah."
Edmund menatap makanan yang terhidang di depannya, dua buah roti gandum dengan mentega di atas piring kecil dan sayur-sayuran serta dua gelas susu.
"Kenapa? kau tidak lapar?" Ucapnya, sambil mengambil sepotong roti dan mengoleskan mentega di atasnya.
"Aku tidak lapar." Gumam Edmund. Dia lalu berdiri meninggalkan tempat duduknya dan segera keluar dari rumah gadis itu. Wajahnya memberengut marah, dia merasa terlihat ironis dan menyedihkan. Dia adalah seorang tuan muda yang merupakan pewaris satu-satunya keluarga Alexander, dia berakhir di pulau ini karena menolong pria bajak laut yang merupakan saingannya sendiri, agar Laura berhenti menangis histeris memanggil pria itu.
"Ada apa dengannya, apa dia tidak suka roti gandum ini?" Ucap Leona sambil memeriksa rotinya.
"Masih bagus koq." Ucapnya lagi. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan pria itu, apa dia tidak lapar atau karena makanannya tidak cocok di lidahnya? Apa perlu aku membeli roti yang lainnya?" Leona bergumam-gumam sendiri sambil memotong rotinya sendiri dan memakannya.
__ADS_1