
Max mengelilingi tubuh Laura dan mengamati perutnya, dia menyandarkan kepalanya di perut ibunya. Laura dan Sean tersenyum melihat tingkah putranya.
"Dimana bayinya mommy?" Ucap max.
"Dia masih ada di perut ibu sayang, kaupun seperti itu sebelum mommy lahirkan." Ucap Laura mengusap wajah putranya.
"Apakah max bersenang-senang bersama nenek dan kakek?" Tanya Laura.
"Emm ya, sedikit." Ucap max masih menyandarkan kepalanya di perut ibunya.
"Kenapa sedikit?" Tanya Sean.
"Nenek dan kakek memiliki banyak tamu, dan mereka tidak melepaskan aku, dia memelukku seharian." Ucap max dengan wajah lelah dan cemberut.
Laura tertawa, "Mereka takut jika max nanti hilang di kapal besar ini, lihat saja kapal ini begitu luas bukan?" Laura lalu memeluk putranya.
"Mommy, aku mau berjalan-jalan dan melihat laut mommy." Ucap max merajuk, dia kemudian menatap ayahnya yang masih berbaring di sampingnya.
"Kita pasti akan ke sana max, biarkan ibumu istirahat dulu." Sean lalu menarik Laura dan memeluknya. Wajah max cemberut melihat ayahnya, dia menyusup di antara ayah dan ibunya dan berbaring di sana.
"Tapi kapan? Mengapa mommy hanya berbaring? Apakah karena bayi itu?" Tanya max.
"Sebentar lagi ibu akan baik-baik saja sayang, kau bermain saja bersama anak-anak yang lainnya di luar." Ucap Laura mengecup pipi putranya.
"Max menghembuskan napasnya, "Oky mommy." Max kemudian segera melompat dari atas tempat tidurnya lalu berlari keluar kamar dan segera menutup pintunya.
"Max tidak akan bisa tidur jika dia tidak menjelajahi seluruh isi kapal ini." Ucap Laura kepada Sean yang memeluk tubuh Laura erat.
"Hem...ya sayang, karena dia mirip denganku."
"Apakah masih nyeri?" Tanya Sean sambil menjelajahi tubuh Laura dengan tangannya, Mata Laura membulat menatap Sean, dia tertawa melihat Laura dengan terkejut.
"Aku bercanda sayang." Semalaman sean tidak keluar dari kamar dan masih bercengkrama bersama Laura hingga suara ketukan di tengah malam menyadarkannya dari tidurnya.
"Jam berapa ini?" Bisik Sean, dia melihat Laura dan max yang sudah tertidur pulas, suara ketukan kecil terdengar kembali.
Sean berdiri lalu mengenakan mantelnya dan segera membuka pintu kamar.
"Kapten, ini aku Rembo." Bisik rembo di depan pintu sambil melirik ke dalam kamar. "Sejak tadi kapten sudah ditunggu dengan yang lainnya, tapi Albert bilang kapten sedang sibuk." Ucap rembo cepat.
"Aku akan segera ke sana."
"Baik kapten."
__ADS_1
Sebenarnya Laura sudah melarang Sean untuk keluar tetapi pertemuan ini begitu penting, dia akhirnya berangkat dan menemui orang-orangnya yang berkumpul di tempat yang telah di tentukan meskipun tempat itu tentu saja tersembunyi dan jauh dari keramaian orang-orang.
~
Sean berjalan melewati koridor sempit dia beranjak ke distrik 3 dimana tempat itu hanya di peruntukkan untuk orang-orang umum, dia sengaja mengadakan pertemuan di tempat kecil itu agar tidak menarik perhatian.
Sean membuka pintu kamar itu dan nampak meja panjang dan kursi-kursi yang telah di duduki oleh separuh orang-orangnya. Mereka berdiri ketika Sean sudah hadir di sana.
Dia kemudian duduk dan menatap mereka yang hadir di sana.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanyanya.
"Sejumlah barang di masukkan di tempat persembunyian kapten, kotak besar itu mungkin saja senjata." Ucap Albert.
"Selain itu? Bagaimana Edmund dan Jon walter, apakah dia ada di kapal ini?" Tanya Sean.
"Sejak orang-orang naik ke atas kapal ini, kami tidak melihatnya kapten, baik Edmund maupun Walter, kami sudah memeriksa di tiap distrik, dan kamar-kamar, tetapi mereka tidak ada di sini, hanya nenek dan keluarga dari kediaman Alexander saja yang datang."
Sean memikirkan rencana yang akan di lakukan Edmund dan Jon, mengapa dia tidak naik di atas kapal ini?
"Perhatikan kapal-kapal yang terdekat, mungkin saja dia bersama para pembajak untuk menyerang kapal ini, kau mengerti dengan yang aku maksudkan, jika sedikit saja terjadi kejanggalan, biarkan kapal yang lainnya mendekat, kau mengerti?" Ucapnya.
"Baik tuan."
Dengan cepat Sean keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar di mana Laura dan max berada, jaraknya cukup jauh untuk kembali ke kamarnya.
~
Laura terbangun, dia melihat Sean tidak ada di sana, tubuhnya tidak sakit lagi, Laura kemudian turun dari tempat tidur dan memakai jubah panjang berwarna merah marunnya. Dia menatap dari jendela kaca pemandangan laut yang terhampar luas dan deburan ombak di malam itu. Suara ketukan membuat Laura menatap pintu kamar dan beranjak untuk membukanya.
Wajahnya terlihat terkejut menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya.
"Ed..Edmund?" Ucap Laura.
Dia tersenyum miring menatap wajah cantik Laura.
"Malam Laura, kau masih belum tidur? Dimana Sean?" Tanyanya.
"Dia sedang pergi." Ucap Laura.
"Dia pergi pada jam segini, sudah begitu larut bukan? untuk sekedar berjalan-jalan di malam hari, kau yakin dia tidak menemui wanita lain di luar sana?" Ucapnya, matanya seakan menelanjangi Laura yang menatapnya dari ujung kaki hingga ke kepala.
"Apa yang ingin kau katakan?" Ucap Laura menatapnya marah.
__ADS_1
"Ck, perompak tetaplah perompak Laura, dia tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita saja bukan? Bukankah kau tahu sendiri bagaimana kehidupan Sean sebelumnya."
Laura menatap Edmund dengan tajam.
"Sebaiknya kau pergi, Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan." Laura menutup pintu kamarnya setengah ia hendak menutupnya.
"Ini kesempatan terakhirmu Laura, jangan menikah dengannya, atau....
"Atau apa?" Suara Sean yang berat berada di samping Edmund, dia melangkah mendekati Edmund dengan wajah begitu marah.
Edmund tersenyum miring. "Kau datang Sean, aku hanya ingin menemui dan menyapa Laura."
Sean begitu dekat dengan wajah Edmund, tinggi tubuh mereka sama. Sean seakan ingin meremukkan wajahnya dengan keras, jantung Laura berdegup kencang melihat mereka berdua saling memandang dengan tatapan membunuh.
"Jangan pernah mengganggu Laura lagi, dia milikku dia sebentar lagi menjadi istriku." Bisik Sean dengan nada rendah mengancam.
Edmund menyeringai, "itupun jika dia menikah denganmu besok." Edmund melangkah melewati Sean dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Sean menatapnya dari kejauhan, tangannya mengepal keras yang melihat Edmund pergi menjauh.
"Sean?" Ucap laura.
Sean menarik tangan Laura lalu menutup pintu kamarnya.
"Kau dari mana saja Sean?" Bisik Laura.
"Aku ada pertemuan dengan rembo dan yang lainnya sayang." Ucap Sean membuka mantelnya dan menggantungkannya. Laura masih menatap punggung Sean, kata-kata Edmund terngiang di telinganya.
'Perompak tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita.'
Sean berbalik lalu menatap wajah laura. "Apa yang dikatakan brengsek itu kepadamu Laura? Apakah kau mempercayai kata-katanya di bandingkan dengan ucapanku?" Ujar sean terdengar marah.
"Aku mencintaimu Laura, kau tidak mempercayaiku?" Mata Sean menatap laura begitu tajam. Laura tersenyum dan membaringkan tubuhnya di dada bidang Sean.
"Tentu saja aku mempercayaimu Sean." Bisik Laura di pelukan Sean.
~
Suasana di pagi itu begitu sibuk, Laura sejak tadi pagi sudah di ruangan lain untuk di dandani, sementara tamu-tamu sudah berada di tempat acara, kapal itu di sulap menjadi tempat yang begitu berbeda, nuansa putih dan gold mendominasi tempat yang begitu luas itu, suasananya begitu mewah dan indah dengan hiasan-hiasan di setiap dindingnya di lengkapi dengan sulur-sulur panjang berwarna putih mengkilap layaknya mutiara di lautan.
Sean sudah siap di tempat itu untuk mengikrarkan janji setia mereka, balutan gaun dan jas sudah memenuhi kapal Cruise Whisper of the seas, alunan musik lembut yang mengiringi setiap kedatangan para tamu undangan. Terlihat wajah tuan Windsor, ibu dan ayah Laura berada di sana menyambut para tamu yang hadir.
Seseorang menatap mereka dari kejauhan, wajahnya begitu tenang, tetapi ada kemurkaan di wajah tampannya.
"Ini pilihanmu Laura, aku sudah memperingatimu." Ucap Edmund, dia lalu pergi dan bergabung dengan Jon Walter dan para pembajak lainnya.
__ADS_1