
Seminggu lagi pesta akan di gelar di kapal terbesar milik tuan Kent Windsor, yaitu pesta pernikahan antara Laura dan Sean, rencananya tuan Windsor ingin mengadakan pesta di atas kapal laut yang akan mengelilingi Eropa selama sebulan, dia ingin seluruh kerabat dan teman dekat hadir untuk menyambut hari bahagia itu.
"Kenapa kakek ingin mengadakan pestanya di atas kapal? Apakah tidak terlalu berlebihan, lagi pula aku menyukai pesta sederhana saja hanya Keluarga kita saja yang turut hadir." Ucap Laura merasa cemas dengan segala persiapan dan kesibukan di kediaman itu.
"Kakekmu ingin yang terbaik untuk cucunya sayang, lagi pula baru kali ini ayah terlihat begitu bersemangat dengan pesta yang digelarnya." Ucap nyonya Scarlett, mereka berdua berada di taman sore itu sambil minum teh bersama dan mengawasi max yang sedang bermain dengan kelincinya.
Max begitu gembira, dia sedang berlarian ke sana kemari bersama kelinci kecil pemberian Kenan untuknya, dia sangat senang bermain dengan kelinci itu sampai-sampai dia ingin membawanya ke tempat tidur ketika malam hari tiba.
"Dimana Sean, Laura?" Tanya nyonya Scarlett.
"Semenjak siang dia sudah keluar ibu, Sean memiliki teman-teman di Cambridge dan ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan."
"Kau bahagia bersamanya?" Tanya ibunya membelai rambut laura.
"Aku mencintainya ibu." Ucap Laura tersenyum.
"Ya, benar sayang, kau harus hidup bahagia bersama dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu." Ucap Scarlett dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Ibu? Apakah ibu mencintai ayah?" Laura tiba-tiba bertanya kepada ibunya.
"Aku...menyayangi dan menghormati ayahmu Laura, dia sangat berarti dalam kehidupan ibu."
"Ibu??" Mata Laura membelalak, dia terkejut mendengar kata-kata ibunya.
Scarlett tersenyum, matanya menatap langit indah berwarna oranye di sore itu, dia seakan memutar kembali memori yang tersimpan jauh di ingatannya. Scarlett lalu memandang Laura.
"Hati seorang wanita sedalam samudera di lautan Laura, ibu menyembunyikannya di hatiku, meskipun sudah begitu lama terjadi, tapi pada akhirnya aku bersama dengan ayahmu, dan aku mensyukurinya karena kami berdua memilikimu."
"Apa..apa maksud ibu?" Tanya Laura dengan wajah heran.
"Jangan mengatakan pada ayahmu, jika dia mengetahui aku menyebut nama orang itu dia akan marah besar sayang." Ucap Scarlett.
"Dulu...aku mencintai seorang pria yang sama seperti Sean, dia juga seorang perompak, tapi cinta kami tidak bisa bersama...ibu telah meninggalkannya di lautan dan menikah dengan ayahmu." Bisik nyonya Scarlett, wajahnya seperti merindukan seseorang yang jauh di sana.
"Dimana orang itu sekarang ibu?" Tanya Laura.
"Dia telah wafat Laura, badai menerjang kapalnya dan dia tidak pernah kembali ke daratan eropa hanya puing-puing kapalnya saja yang ditemukan terdampar di pantai."
Scarlett menatap langit sore lalu tersenyum, aku bahagia kau bersama dengan Sean, orang yang mencintaimu." Bisik Scarlett.
"Jadi.. bagaimana dengan ayah? Apakah dia tahu ibu pernah mencintai pria itu?" Tanya Laura tertarik dengan kisah ibunya.
__ADS_1
Senyumnya mengembang. "Tentu dia tahu sayang, karena aku mencintai musuhnya, lalu pada akhirnya aku menikah dengan George, dia adalah musuh bebuyutan Ravael.
"Ravael?" Ucap Laura.
"Ya, namanya Ravael, dia juga seorang perompak yang hidup di lautan lepas.
Mata Laura membulat, dia tidak pernah tahu kisah ibunya hampir begitu mirip dengan kisahnya bersama Sean, tapi dia tidak mau kisahnya berakhir sama dengan ibunya, Laura tiba-tiba gemetar dan begitu takut memikirkannya.
"Ibu, maafkan aku bertanya seperti ini, apakah aku putri ayah? Itulah mengapa ayah membuangku di Estonia?" Tanya Laura.
Wajah Scarlett terkejut dia lalu menggeleng keras kepada Laura.
"Kau putri kami Laura, ayahmu adalah George, dia melakukan hal itu karena permintaan nenekmu yang sakit-sakitan, dia begitu mempercayai takhayul tentang Seseorang bermata tosca, itu hal terkonyol yang pernah aku dengar, dan kakekmu setuju dengan ibu, takhayul itu memisahkan kita berdua begitu lama."
Laura tersenyum sedih mendengarnya, meskipun begitu hal tersebut telah berlalu.
"Ibu? Apakah ibu bahagia bersama ayah?" Tanya Laura.
"Ayahmu mencintai ibu dengan tulus laura, dia merawat ibu yang sakit-sakitan ini tanpa mengeluh sedikitpun dan selalu berada di samping ibu, sedikit demi sedikit hatiku terbuka untuknya Laura." Ucap Scarlett.
Laura memegang kedua tangan ibunya dan memeluknya.
~
Siang itu kapal-kapal yang datang dari beberapa negara sedang bersandar di pelabuhan Cambridge, beberapa kapal dagang turut singgah di kota Cambridge Karena badai semalam telah merusak beberapa bagian kapal mereka.
Sean dan orang-orangnya telah berkumpul di salah satu kapal besar yang baru bersandar, mereka sedang mengadakan pertemuan.
"Pastikan, kapal yang bersandar di kota ini tidak mengadakan kerja sama dengan Bangsawan bernama Walter, umumkan kepada semua kapal-kapal dagang yang singgah di kota ini untuk meminta izin dariku jika mereka ingin bertransaksi dengan pria bernama Walter."
"Baik kapten." Ucap mereka semua.
"Sir, kapal-kapal dari Kopenhagen yang telah bersandar ingin menemui anda."
"Mereka membawa barang-barang yang bagus sir, mereka ingin mengadakan kerja sama dengan kapal milik Walter." Ucap Al.
"Katakan kepada mereka, jika mereka masih tetap ingin bekerja sama dengan walter, kapal mereka akan sangat beruntung di lautan nanti, karena para pembajakku akan menunggu mereka di sana." Ucap sean.
"Baik kapten."
"Al, kau sudah mengerjakannya?" Tanya Sean.
__ADS_1
"Sebentar lagi mereka semua akan datang kapten."
"Bagus, kita perlu sedikit bersenang-senang dengan kehancuran Walter, aku ingin melihat wajahnya ketika waktu itu tiba."
~
Barang-barang berjatuhan di lantai dan berserakan, Walter memukul keras mejanya.
"Semua ini rencanamu Sean, aku tahu kau yang melakukan semua ini." Ucapnya dengan suara bergetar .
Kapal-kapal yang biasanya bekerja sama dengannya telah kembali ke lautan dengan ketakutan, seluruh barang-barang yang akan di bawanya ke Eropa Utara telah di bajak oleh perompak dan Walter mengalami kerugian begitu besar.
"Kita akan lihat bagaimana wajahmu ketika hari itu tiba Sean." Bisik Walter.
~
Laura sedang menyisir rambutnya yang panjang ketika Sean baru saja tiba dan membuka pintu kamar. Dia menghampiri Laura dan mengecupnya.
"Maafkan aku sayang, aku pulang terlambat lagi." Bisik Sean.
"Hem, ya Sean, akhir-akhir ini kita begitu jarang bersama, kau begitu sibuk." Laura merajuk dan membelakangi Sean.
"Maafkan aku, tapi aku senang kau belum tidur." Bisik sean menggoda Laura dengan mengecup bibirnya sampai ke tengkuknya.
"Kau harus mandi Sean, aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Laura mendorong Sean yang tidak berhenti menelusuri tubuh Laura dengan tangannya.
"Oke, oke sayang..." Sean mengambil napas panjang, "aku merindukan max, dia pasti sudah tidur."
"Dia tadi berpura-pura tidur dan berharap aku tidak memergokinya membawa masuk kelincinya ke dalam kamarnya." Laura tertawa mengingat wajah max yang terkejut ketika Laura memergokinya menyelinap di koridor ingin pergi ke taman dan membawa kelincinya.
~
Dua hari lagi pernikahan Laura dan Sean akan digelar besar-besaran, seluruh persiapan telah rampung dan semuanya telah di persiapkan di kapal pesiar itu. Keluarga-keluarga telah datang dari beberapa negara di Eropa untuk menghadiri pernikahan Laura dan Sean.
"Mommy, mom..kita akan naik kapal besar itu??" Ucap max sambil menunjuk kapal pesiar yang terlihat dari kejauhan.
"Ya sayang, kau suka?" Tanya Laura.
"Ya mommy, aku sangat menyukainya?" Ucap max dengan wajah berbinar, Laura tahu putranya ini sudah tidak sabar ingin menjelajahi kapal besar itu.
Mereka semua turun dari kereta ketika mereka tiba di pelabuhan dan akan naik ke kapal pesiar yang akan berkeliling Eropa. Laura memegang tangan Sean dan max dan melangkah bersama menuju kapal pesiar itu.
__ADS_1