
Hal yang mengerikan yang paling ditakutkan oleh Laura yaitu jika dia dipisahkan dari orang-orang yang dicintainya, sekarang ini di hadapannya sedang duduk wanita yang menjadi ibunya, wajah pucatnya membingkai dengan senyuman, sudah beberapa jam dia bercengkrama bersama ibunya.
"Ibu harus beristirahat, ini sudah begitu larut." Ucap Laura memperhatikan keletihan diwajahnya.
Dia membelai wajah Laura dan tersenyum tipis, "baiklah sayang, kau juga harus istirahat, besok kita lanjutkan pembicaraan kita lagi. Oh ya, aku belum bertemu dengan cucuku, sekarang aku memiliki seorang cucu yang tampan." Bisiknya.
Nyonya Scarlett kembali ke kamarnya setelah beberapa lama berbincang dengan Laura. Pintu ditutup oleh Laura dan dia berjalan di koridor panjang yang meliuk, seorang pria tengah berdiri dengan canggung di sana sambil menunduk seperti sedang berpikir keras.
Wajahnya lalu berubah ketika Laura berjalan mendekatinya.
"Em, Laura...." Ucapnya, dia tertunduk dan entah apa yang ingin diucapkan pria yang menjadi ayah Laura ini, kata-katanya seakan hilang di telan bumi.
"Maafkan ayah Laura, semua kesalahan ayah." Ucapnya. Wajahnya terlihat begitu sedih, kecewa.
"Ayah?" Ucap Laura, dia lalu berbalik cepat menatap putrinya.
"Jangan meminta maaf lagi, aku sekarang hidup bahagia ayah, sebaiknya ayah menemani ibu dia terlihat lelah." Ucap Laura sambil tersenyum tipis.
Dia setengah tersenyum, dia mengangkat tangannya ingin memegang kepala Laura. "Sekali lagi ayah ingin meminta maaf padamu sayang, ayah bersalah telah membuangmu sejak kecil, semuanya kesalahan dan kebodohan ayah." Ucapnya.
Air matanya mengalir di pipinya dengan wajah penyesalan yang begitu dalam. Laura melangkah mendekati ayahnya dan memeluknya. "Aku senang bisa bertemu ayah dan ibu, aku mensyukuri karena aku masih bisa melihat ayah dan ibu, jadi jangan meminta maaf lagi ayah." Ucap Laura.
George membelai rambut putrinya dan mencium keningnya. "Ayah menyayangimu Laura, terima kasih karena kau kembali bersama kami." Ucapnya.
Laura kembali ke kamarnya dan mendapati Sean dan max sudah tertidur pulas, wajahnya terlihat lelah, tetapi dia begitu bahagia dengan pertemuan dengan keluarganya hari ini.
Laura membaringkan tubuhnya di samping max dan Sean, dan memeluk max yang berada di sampingnya. Laura mulai terlelap dan tertidur pulas.
~
Edmund berada di dalam kereta, dia sedang mengawasi seseorang, Jon Walter keluar dari rumah seorang wanita dan menggandengnya lalu tidak berhenti menciumnya dengan liar. Suara ciuman mereka membuat Edmund jijik mendengarnya, tetapi dia masih bertahan di sana menatap mereka yang sedang bergumul tanpa memperdulikan lalu lalang orang-orang yang lewat.
Akhirnya dia melepaskan ciumannya dan membiarkan wanita itu pergi. Edmund turun dari kereta kudanya dan menghampiri Jon Walter yang hendak masuk ke dalam kediamannya.
"Jon Walter." Ucap Edmund.
Dia berbalik dan menyipitkan matanya ingin mengenal sosok yang berdiri di kegelapan.
"Edmund? Kau di sini?" Ucapnya.
"Ya, aku di sini sejak tadi menunggumu." Dia mengutarakan kekesalannya karena begitu lama dia bermain-main dengan wanita tadi.
"Kejutan." Ucapnya, dia terlihat mabuk, tubuhnya bergoyang tak menentu.
"Kau mabuk Jon, nanti saja kita berbicara jika kau masih belum sadar." Ucap Edmund hendak berbalik badan.
"Kau sungguh tidak sabaran seperti biasanya Edmund, ada apa? Mengapa kau malam-malam datang kemari, ini seperti bukan dirimu."
"Aku memiliki berita menarik untukmu." Ucap Edmund tersenyum miring.
__ADS_1
"Berita apa?"
"Aku yakin kau pasti tahu Sean Nicholas Hoult, putra dari Robert Hoult."
Wajah Jon tiba-tiba berubah, dia sudah mendengar keberhasilan Sean tentu saja, dan itu membuatnya tidak suka.
"Ada apa dengannya? Aku tentu tahu siapa Sean."
"Bagaimana jika kau mengulangi peristiwa beberapa tahun yang lalu, sama seperti yang terjadi kepada ayahnya, bukankah itu menyenangkan?" Ucapnya.
Jon Walter tertawa keras dan mengusap-usap kedua tangannya.
"Rupanya banyak yang tidak suka dengan keberhasilan Sean, aku pikir aku satu-satunya yang ingin menyingkirkannya." Ucapnya tajam.
"Jika kau ingin menyingkirkan pria itu aku punya ide untukmu tetapi itu tidak gratis Jon." Seringai Edmund.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya.
"Para pembajakmu." Senyumnya membuat edmund terlihat menakutkan.
~
Pagi itu cukup cerah setelah semalam hujan cukup keras membasahi kota Cambridge, Laura terbangun karena sesuatu yang bergerak-gerak di tubuhnya, suara kecupan membuat Laura membuka matanya dan merasakan Sean sedang bergerak-gerak di tubuh Laura.
"Sean?" ucapnya.
"Akhirnya kau bangun sayang, kau tertidur cukup lelap, jam berapa semalam kau kembali ke kamar?" ucap Sean sambil menyembunyikan wajahnya di leher laura dan mengecupnya di sana.
"Sst, jangan berisik sayang, nanti max terbangun." bisik Sean yang mulai bergerak cepat dan membawa Laura ke dalam dunia Sean dan membawanya ke tepian sehingga dia menemukan pelepasannya.
Napas Laura mulai normal sehabis percintaannya dengan Sean, dia bangun dan menatap Sean kembali tertidur pulas. Laura mengambil handuknya dan melilitkannya di tubuhnya, dia begitu berkeringat dan ingin segera mandi. Sesuatu membuat Laura berbalik dan membuka sedikit tirai di jendela kamarnya.
Laura begitu terkejut, Edmund berdiri di sana menatap Laura dari seberang bangunan di kastil itu dengan smirk di wajahnya, mata tajamnya membuat Laura segera menutup tirai jendela cepat-cepat dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Mengapa dia ada di sana?" ucap Laura, tubuhnya tanpa di minta turut bergetar, mengapa Edmund tidak menyerah kepadaku, sebentar lagi aku akan menikah dengan Sean, apa yang dia harapkan padaku? lagi pula aku tidak menyukainya sedikitpun tentu saja, karena cintaku hanya untuk Sean.
Laura bergegas mandi dan segera keluar dari kamar mandi.
"Sean sedang duduk di kursi sambil memandang Laura yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mengapa kau begitu lama Laura?" tanya Sean.
"Benarkah? aku tidak menyadarinya." ucap Laura menghindari tatapan Sean.
Dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil dress panjang berwarna biru langit yang begitu indah di kulit Laura. Sean menatapnya, setiap gerakan Laura yang sedang mengenakan pakaiannya, dia menatapnya lalu menyandarkan kepalanya di telapak tangannya.
"Kau menyembunyikan sesuatu Laura, apa itu?" tanya Sean.
Laura mengenakan pakaiannya dihadapan Sean. "Aku tidak menyembunyikan apapun Sean!" Ucap laura lalu menghampiri Sean dan menyuruhnya menarik resleting dari dress di punggungnya. Sean menariknya hingga menutupi punggung Laura.
__ADS_1
Laura menatap Sean dan segera duduk di pangkuannya. "Baiklah aku akan memberitahukanmu." Laura menghembuskan nafasnya.
"Aku melihat Edmund berada di seberang kamar kita, dia berdiri di sana." ucap Laura yang menatap kilatan mata Sean dan rahangnya yang mengencang.
Laura tiba-tiba mengecupnya, "Jangan marah Sean, aku tidak ingin kau marah sepagi ini sayang." Bisik Laura.
"Aku tidak marah." Sean menarik Laura ke pelukannya dan mengecup keningnya. Mata Sean berkilat tajam, wajahnya yang marah tampak mengerikan.
"Aku akan keluar sebentar Laura, aku akan bertemu rembo dan yang lainnya, mereka semua ada di Cambridge setelah mendengarkan kedatanganku." ucap Sean.
"Hm, oke Sean, jangan pulang terlambat, aku khawatir jika sesuatu terjadi kepadamu." bisik Laura di pelukannya.
Sean mengecup puncak kepala Laura dan memeluknya erat. "Tidak ada yang akan terjadi sayang, aku akan kembali sebelum makan malam." ucap Sean.
~
Suara ribut-ribut di kediaman tuan windsor terdengar begitu ceria, sejak kedatangan Max semuanya nampak terhibur dengan kelucuan max yang suka membuat gaduh dan suka menjelajahi tempat itu.
"Jadi, anda adalah nenek dan kakekku?" Ucap max di hadapan ayah dan ibu Laura. Max bertanya sopan dengan mulut yang belepotan karena banyaknya buah berry yang dia makan.
Ibu Laura tertawa senang, setiap kata-kata max membuatnya tertawa, dia nampak cantik dengan tawa di wajahnya.
"Max? beri salam yang benar kepada kakek dan nenek." tegur Laura kepada max. Dia mengulurkan tangannya yang juga kotor karena buah berry yang menempel di kedua tangannya.
"Jangan takut dengan tangan kotor ini nenek, karena ini adalah hasil pencarianku mencari buah berry dengan susah payah." ucap max bangga.
"Berapa banyak yang kau makan max?!" tegur Laura menarik tubuh max dan menghapus mulutnya yang mungil itu dengan saputangan.
"Cukup banyak untuk menghindari paprika dan wortel mommy." ucapnya. Scarlett sekali lagi tertawa dengan tingkah menggemaskan max dengan pipi tembemnya.
"Kemarilah sayang, nenek ingin memelukmu." ucap Scarlett, max menghampiri ibu Laura dan berdiri di hadapannya, pelukan hangat dan ciuman mendarat di kedua pipi max.
Ayah Laura membawa max di pangkuannya, dan menatap wajah max. "Maukah kakek membantuku?" Ucap max berbicara dengan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa max?"
"Maukah kakek memakan wortel dan paprikaku sebentar siang? aku akan membawakan buah berry jika kakek membantuku." ucap max.
George membisikkan sesuatu di telinga max, tetapi wajahnya berubah menjadi cemberut dan turun dari pangkuannya.
"Aku lebih baik bekerja sama dengan nenek saja." ucapnya putus asa ketika George menolak permintaan max karena Laura melotot menatap max dan ayahnya.
~
Kereta Sean berhenti di sebuah rumah makan yang cukup sepi, dia turun dari keretanya dan masuk ke dalam, di sana sudah berkumpul orang-orangnya, dan beberapa awak kapalnya.
"Kapten !" teriak rembo dengan senyum menghiasi wajahnya.
Sean menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengah mereka semua.
__ADS_1
"Bagus, kalian semua sudah datang, kali ini ada sesuatu yang mesti kalian kerjakan dan ini melibatkan pria bernama Edmund Alexander, kali ini aku akan memastikan dia berhenti mengusik lauraku, dan juga ! Jon Walter, sepertinya selama ini dia dan keluarganya baik-baik saja hidup di kota ini, jadi kita harus bersenang-senang bukan?" ucap Sean dengan kilatan jahat di matanya.