Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 24


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan kedua pria itu hari-hari Laura tidak tenang, seakan Edmund berada dimana saja. Hari dimana aku bertemu dengannya bersama pria bernama kenan membuatku gemetar dengan tatapan matanya, aku tahu apa yang dipikirkan pria itu, dia ingin melanjutkan apa yang terhenti kemarin malam dan itu membuatku panas dingin.


Malam itu Rossie terlelap dia sama sekali tidak mendengar hujan yang deras disertai Guntur yang menggelegar, aku terkejut dan menutup selimut rapat-rapat di tubuhku. Laura begitu ketakutan, dia mendengarkan langkah kaki dari arah tangga matanya membulat dan semakin merapatkan tubuhnya.


Suara napas semakin mendekat kepadanya diiringi tetesan basah yang jatuh dilantai membuat Laura terisak ketakutan. "Laura?" suara serak pria memanggil-manggil namanya.


Laura perlahan membuka selimutnya, dan menatap sosok pria yang berdiri dihadapannya, dia tersenyum miring tubuhnya basah semua, Laura menyalakan lampu minyak dan menatap Edmund, "Mengapa kau kebasahan seperti ini?" tanya laura, dia langsung mengambil kain untuk diberikannya pada Edmund.


"Aku merindukanmu jadi aku datang, biarpun hujan deras seperti ini." Kata Edmund santai seakan tindakan yang dilakukannya hal yang wajar.


Laura menutup pintunya dan menguncinya. "Rossie akan marah jika dia mengetahui ada seorang pria di dalam kamarku." Gumam laura marah menatapnya.


Rambutnya basah dan dengan cepat dia membuka kemejanya, sehingga tubuhnya terekspos dihadapan Laura, mata Laura naik turun menatapnya dia lalu membelakangi Edmund dan mengeratkan pakaian yang dikenakannya.


"Kau harusnya pergi dari sini sebelum Rossie bangun." Kedua tangannya memeluk erat Laura di pinggangnya, dan mengecup lehernya serta Rahangnya. "Dia tidak akan terbangun, badai di luar sangat berisik."


Laura terkejut setiap kali Edmund menyentuhnya, Laura berusaha menghindari pelukan Edmund tetapi dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan tertawa seperti itu lagi." Gumamnya di leher laura.


"Aku tidak suka." Dia memutar tubuh Laura lalu menghadapnya.


"Apa maksudmu..?" Suara Laura teredam dengan ciuman Edmund, "Kali ini Jangan menolakku Laura." Bisik Edmund di sela-sela ciumannya, "atau aku akan berbuat kasar padamu."vMata mereka saling menatap.


"Tidak, aku tidak mungkin bisa, aku...aku mencintai seseorang." Gumam Laura melepaskan diri dari Edmund. Dia berjalan menuju pintu kamarnya setengah berlari agar dia cepat keluar dari kamarnya, bahkan kamarnya pun sekarang tidaklah aman, pikir Laura.


Rahang Edmund begitu keras, matanya berkilat berbahaya, dengan cepat dia mendorong pintu, dan menarik Laura kepelukannya. "Kau sudah kuperingati Laura, jangan menolakku atau aku tidak perduli lagi jika aku berbuat kasar kepadamu", geramnya.


Dia menggendong Laura dan membawanya ketempat tidurnya sendiri, Laura mencoba mundur tetapi kakinya ditarik keras oleh Edmund. Tanpa ragu Edmund mencabik pakaian Laura sehingga tubuh Laura terhempas keras di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Edmund, tidak....aku tidak mau, lepaskan aku." teriak Laura ketika Edmund sudah menjulang di atasnya mendorong dirinya diantara kaki Laura membuatnya teriak keras tetapi laura menendangnya, dia tidak mau di sentuh oleh Edmund, tetapi Edmund yang marah menampar Laura hingga ia jatuh pingsan.


Laura tidak sadarkan diri, Edmund yang tidak pernah menerima penolakan begitu murka kepada Laura, sehingga tanpa kesadaran penuh dia melukai Laura. Edmund menatap luka-luka di sekujur tubuh gadis itu. Dia menggendong Laura keluar dari rumah Rossie dan membawanya ke dalam kereta.


"Berangkat ke villaku". Suara serak edmund membuat kusir itu mengangguk dan segera melajukan keretanya.


~


Udaranya begitu dingin, cuaca diluar begitu gelap, dari jendela kamar Laura dapat melihat sedikit cahaya yang masuk meskipun sedikit. Dia bergerak sedikit tetapi dia kemudian merasakan sakit teramat sangat di pipi dan lengannya, dia tidak bisa bergerak kemudian ingatannya membawanya ketika Edmund memaksanya setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi karena pingsan. Laura menangis, air matanya tidak berhenti jatuh dikedua mata toscanya.


Suara pintu yang dibuka membuat Laura membuang wajahnya, Edmund duduk di kursi dihadapan Laura dia sama sekali tidak berbicara, hanya menatap tubuh Laura yang hanya tertutupi selimut putih.


"Menangislah sepuasmu Laura tidak ada seorangpun yang datang ke tempat ini, hanya aku yang mendengar suara tangismu". gumamnya.


"Sudah aku katakan kepadamu, aku bukan orang yang sabar menunggu Laura, jika aku mengatakan sesuatu kau harus mendengarku, kau paham." Dia menghampiri laura, tahu bahwa Laura masih merasakan sakit akibat perlakuan kasar darinya.


Dia menggendong Laura melepaskan selimut yang menutupinya dan membawanya ke kamar mandi, air hangat menyambut kulit pucat Laura yang kemerahan, dan terdapat beberapa luka di tubuhnya. Laura sedikit merintih ketika air hangat menyambut tubuhnya.


"Berendamlah beberapa menit, panggil aku jika sudah selesai." Dia kemudian berdiri lalu mengecup bibir Laura lembut dan meninggalkan kamar mandi.


Laura mencoba bergerak dan perih yang dirasakannya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Dia kembali menangis, merasa tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri diperlakukan seenaknya oleh Edmund. Setelah beberapa menit berendam Edmund kembali membuka kamar mandi, dia lalu mengangkat tubuh Laura dengan entengnya, kemeja yang dikenakannya basah semuanya, air menetes-netes di lantai kamar itu tapi Edmund sama sekali tidak memperdulikannya.


"Kenakan pakaian ini." Dia menaruh di atas tempat tidur gaun yang sangat indah berwarna violet, Edmund membungkus tubuh Laura dan mengeringkannya dengan hati-hati.


"Masih sakit?" tanyanya, Laura mengangguk seketika, "Aku tidak akan minta maaf, ini semua kesalahanmu." Kata Edmund selagi mengeringkan rambut Laura yang basah.


"Dia menatap wajah Laura, dia kemudian Menggeram dan melemparkan handuk ke tubuh Laura.


"Kau bersihkan sendiri, jika tidak aku akan menyerangmu sekarang juga". Dia membanting pintu kamar dan meninggalkan Laura yang kemudian mengenakan dress itu.

__ADS_1


Hujan deras seperti mengejek Laura yang sedang melamun di depan jendela kamar, dia memeluk dirinya sendiri, Rossie pasti khawatir, dia pasti mencari-cariku bagaimana aku bisa menghubunginya? mengapa pria itu mengurungku di villa ini? sudah dua hari aku di sini, meskipun begitu Edmund tidak pernah menyentuhku.


"Kenapa kau duduk di situ? anginnya sangat kencang." Gumam Edmund menutup jendela kamar dan menggendong Laura ketempat tidur.


"Berbaringlah sebentar, sarapan sebentar lagi siap". Laura tidak berkata-kata apapun padanya.


Laura berbaring miring dan tidur beberapa saat, jejak basah terasa di permukaan kulitnya, bibirnya terasa bengkak, laura membuka matanya dan melihat Edmund sedang mengecupnya, mata mereka bertemu, Edmund tersenyum.


"Kau sudah bangun? kau tidur lama sekali Laura." Bisik Edmund di tengkuk Laura.


"Kita makan siang sekarang." Tangan besarnya menggendong Laura seperti anak kecil, dia tidak terlihat kesulitan ketika menggendongnya.


"Mengapa kau melakukan ini padaku Edmund?" bisiknya di sela-sela gendongannya pada Laura.


Dia lalu berhenti berjalan, "Mungkin karena aku menyukaimu." Dia lalu mendudukkan Laura dikursi dan memerangkapnya pada kedua tangannya.


"Terima aku Laura, jangan menolakku", kata Edmund parau.


~


Seorang pria baru saja turun dari kereta kuda dengan setelan jasnya yang panjang dan wajah yang begitu tampan membuat wanita-wanita yang melihatnya berbalik dan tersenyum padanya.


"Selamat datang tuan Hault, sudah lama kami menunggu kedatangan anda." Seorang pria sedikit menunduk ketika melihatnya.


"Bagaimana? kau sudah menemukan tanda-tanda keberadaannya?" tanya Sean padanya.


"Kami sudah menyelidikinya tuan, ada beberapa kasus perempuan yang hilang atau tinggal dikediaman para bangsawan di kota ini.


"Jadi, bagaimana? kau menemukannya?" tanya Sean.

__ADS_1


"Berdasarkan ciri-ciri yang anda kemukakan, kami menyelidiki beberapa kediaman bangsawan terkenal yang mengambil seorang wanita untuk dijadikan pelayan. Dan salah satunya adalah tuan Kent Windsor". Sean menaikkan alisnya dan tersenyum tipis.


"Sebentar lagi kita akan bertemu Laura". Senyuman sinis di bibirnya membuatnya terlihat mengerikan.


__ADS_2