Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 55


__ADS_3

Penduduk di desa itu tidak lebih dari 300 orang, desa damai dan sepi serta penduduk yang tertutup, desa itupun terkenal dengan kisah-kisah mengerikan, entah bagaimana kisah di desa itu sampai di telinga bajak laut, padahal tidak pernah ada kapal yang singgah di pulau Zaudetta.


Pulau Zeudetta atau di sebut juga desa Zaudet dipimpin oleh seorang kepala desa, dia adalah Jhon Marshmille dan istrinya Megan Marshmille. Bersama penduduk, mereka membangun desa itu hingga sampai sekarang ini, masing-masing mereka memiliki kebun di tiap rumah, sehingga setiap warga desa tidak akan kekurangan makanan. Pasar kecil juga ada di desa itu, mereka menggunakan mata uang Poundsterling dalam berjual beli, kadang pun terjadi barter di pasar, jika kondisi mereka saling menguntungkan.


Leona berjalan bersama Edmund dipasar yang hanya ada pada hari tertentu saja, pasar dadakan yang menjual hasil panen perkebunan warga dan hasil ikan dari nelayan.


Hari itu Leona bermaksud membeli roti, dia mampir di toko roti bersama Edmund, meskipun uang Leona sangatlah pas-pasan, setidaknya dia harus membeli roti karena pria ini tidak suka dengan roti gandum yang di sediakannya di rumah.


"Hanya segini yang kau beli?" Tanya Edmund ketika melihat dua buah roti berbentuk panjang yang dibelinya. Leona mendengus dan menjulurkan tangan kepadanya.


"Berikan uangmu kalau kau ingin makanan yang lebih, aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli banyak roti." Ucap Leona masih dengan tangan yang terbuka terjulur kepada Edmund.


"Kau bercanda ya. Aku tidak membawa uang, aku kan terdampar di pulau ini."


"Ya sudah, untuk hari ini kita hanya punya roti mahal ini untuk makan siang kita." Ucap Leona sambil membayar roti yang dibelinya. Penjual itu menatap Edmund dengan pandangan menyelidik.


"Siapa dia Leona? Kau tahu bagaimana peraturan di desa kita? kau tidak boleh membawa orang luar ke desa ini." Ucap pria itu menatap keseluruhan diri Edmund.


"Apa kau menemukannya di pinggir laut? kalau kau menemukannya kau harus menyerahkannya kepada kepala desa, biar dia dan warga desa yang memutuskan hidup lelaki ini."


Edmund menatap pria itu sambil menggertakkan giginya, jika saja pria ini tahu siapa dia, lidahnya akan segera dipotong karena berani berkata kasar kepada keluarga kerajaan.


"Dia? dia adalah calon suamiku, meskipun dia berasal dari desa seberang dan kesulitan datang ke sini, tetapi dia tetap datang dan mengunjungiku, tenang saja kami akan segera menikah, dia adalah putra pemilik peternakan domba dari keluarga Browns." Ucap Leona dengan lancar, tidak terlihat di matanya bahwa semua yang dikatakannya adalah kebohongan semata.


Pria itu menyipitkan matanya memandang Leona. "Bagaimana kau mengenal lelaki desa seberang Leona, apalagi mengenal seorang pria di sana." Ucapnya curiga.


"Aku tidak harus menjelaskan semua urusanku Sir Fatt, tetapi kau bisa mengatakan kepada siapa saja bahwa aku mengenal Edmund sejak aku sering memancing di pantai, kami bertemu di sana dan menjalin cinta, kau bisa menyampaikan itu." Ucap Leona dengan lancar.


Mereka lalu keluar dari toko rotinya, sejak tadi Edmund menatapnya. "Menjalin cinta? calon suami? Kau bercanda ya?" Ucap Edmund sambil menyilangkan tangannya, dia memperhatikan gadis ini yang terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Aku harus mengatakannya, jika tidak, kau akan di bawa ke rumah kepala desa dan akan di perlakukan seenaknya oleh mereka, kudengar istrinya yang gendut itu tidak puas dengan suaminya yang sudah mulai menua, jika dia melihatmu kau bisa saja menjadi sasaran empuknya, apalagi warga di desa ini tidak senang dengan adanya pendatang baru, jadi terpaksa aku berbohong kepada pria itu, sebentar lagi gosip itu akan menyebar dengan dibumbui sentuhan erotis, lihat saja." Ucap Leona sambil tersenyum.


Edmmund terus memperhatikannya, wajahnya yang terlihat selalu tersenyum, rona merah alami di kedua pipinya, rambut coklat karamel terurai begitu saja dan terlihat jatuh di punggungnya dengan halus dan bola matanya yang hijau dan dalam. Meskipun gadis ini cantik, tetapi gadis tomboi pembangkang bukanlah tipe Edmund dalam memilih seorang wanita, pikirannya masih kepada Laura, wanita lembut dan polos, dia menginginkan wanita lembut yang selalu mendengarkannya.


Edmund kembali melirik gadis di sebelahnya, dia gadis tomboi yang memiliki ribuan rencana di kepalanya, dia tidak akan menurut kepada siapapun, jika bukan dari keinginannya sendiri, Edmund menggelengkan kepalanya, meskipun Leona cantik dan menarik, dia tentu saja tidak akan menyukai gadis ini, dia bukanlah tipe gadis yang menjadi impiannya.


***


Wanita itu berlarian dan masuk ke dalam rumah keluarga Caron, dia tersenyum puas setelah mendapatkan gosip segar dari pasar. "Dimana putramu, dimana dia, Helen." Ucap Wanita itu sambil mengatur napasnya yang sesak karena berlarian begitu selesai mendengarkan gosip ini.


Wanita bertubuh gemuk yang sedang mengenakan celemk itu keluar ke ruang tamunya dengan dahi berkerut. "Jastin sedang ke desa seberang di atas bukit sana, ada apa Relief, kau mendapatkan gosip lagi dari pasar?" tanyanya.


"Duduklah aku akan mengambilkanmu air putih."


"Oh terima kasih Helen, tetapi secangkir teh juga boleh, aku tidak akan menolaknya." Ucapnya dia terlihat tidak sabar ingin memberitahukan gosip segarnya.


"Kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan." Ucapnya sambil menyeruput teh panasnya.


"Kau tahu bahwa Leona menjalin hubungan dengan seorang pria dari desa seberang? pria itu terdampar di pinggir laut dan dia lalu berhubungan dengan pria itu, katanya lagi, mereka sering kali bercinta di atas kapal karam itu."


Mata wanita itu membelalak, terlihat marah dengan memperlihatkan wajah jijik ketika mendengarnya. "Dan yang paling penting, pria itu putra dari seorang peternak domba, mereka memiliki banyak domba, sayang sekali bukan, jika gadis itu yang mendapatkan pria pemilik peternakan." Ujarnya.


"Cih, bukan urusanku apa yang dilakukan gadis tengik itu, seharusnya kepala desa membawa mereka dan menanyakan dengan jelas asal pria itu, bagaimana jika pria itu seorang bajak laut? pulau Zaudetta kita ini memang tidak begitu luas tetapi terdiri dari tiga desa, jadi bisa saja dia seorang bajak laut yang menyamar menjadi putra pemilik peternakan di desa seberang."


"Aku tidak suka dengan keberadaan gadis itu, apalagi ketika melihat wajah bahagia yang selalu dia perlihatkan kepada kita." Ucapnya. Nyonya Relief hanya menaikkan alisnya melihat kebencian di wajah wanita itu, meskipun dia tukang gosip tetapi dia tidak membenci Leona, karena terkadang Leona sesekali membantunya jika dia berada dalam kesulitan.


***


Edmund berbaring di atas tempat tidur milik Leona, baru satu hari dia berada di sini, dia mengingat bahwa semalam Leona menyuruhnya untuk tidur di atas tempat tidurnya sedangkan dia sendiri tidur di atas anyaman itu, suasananya betul-betul sepi, lampu minyak yang berpendar terlihat remang-remang, semalam Edmund tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia memiliki kebiasaan tidur yang cukup rumit di bandingkan siapapun, dia masih mengingat bagaimana dirinya memesan seorang wanita untuk mengisi malam-malamnya, dia suka permainan kasar dan itu membuatnya bergairah, apalagi jika dia membuat wanita itu berteriak memintanya untuk berhenti.

__ADS_1


Tapi itu dulu, ketika dia masih berada di negaranya, semua keinginannya harus di penuhi, titahnya menjadi kewajiban yang harus mereka laksanakan, karena dia adalah salah satu keluarga kerajaan dan satu-satunya pewaris keluarga Alexander.


tidak ada yang berani mengatakan kepadanya bahwa dia bodoh, idiot dan umpatan-umpatan yang sering dilakukan Leona kepadanya.


"Kau ingin membuat apa?" tanya Edmund memecah keheningan.


"Sandwich isi sayuran." Jawabnya.


"Apa kau tidak bisa membeli telur? aku ingin makan telur." Ucap Edmund. Leona kembali menjulurkan tangannya dan meminta uang kepadanya.


"Berikan uangmu dan aku akan segera ke pasar terdekat untuk membelinya."


"Tch, hanya itu yang kau lakukan jika aku meminta sesuatu." Ucap Edmund, dia kembali mengingat-ingat pakaian yang di kenakannya ketika dia terdampar di pulau ini, di kantungnya sepertinya ada kantung kecil koin emas yang selalu di bawanya kemana-mana.


Edmund bangun dari tidurnya, dia kemudian mencari pakaiannya. Dia mendapatkannya terlihat rapi di atas meja, Edmund mengambilnya dan memeriksa kantungnya yang tertutup. "Yes, masih ada." Ucap Edmund lalu membuka kantung celananya dan mengambil kantung kecil itu. Dia membukanya dan mengambil satu koin emas, dia tersenyum, matanya mengarah kepada Leona.


"Hei, apa di sini ada penukaran emas dengan uang." Tanya Edmund.


"Mm, ada di pasar, memangnya kenapa, kau memiliki emas?"


"Hanya beberapa koin emas." Ucap Edmund. Mata Leona membulat, dia lalu meninggalkan masakannya, lalu berdiri di hadapan Edmund dengan mata membulat.


"Jangan lupa beli daging, ikan dan telur kalau kau sudah menukarnya, dan jangan sampai tersesat, dan kau harus tahu banyak orang licik di pasar, dia bisa membodohi orang-orang baru di desa dan....


Edmund menatapnya sambil bersedekap. "Aku bukan orang bodoh, Leona. Aku memang terdampar di desa ini tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ucap Edmund di hadapan gadis itu.


"O-okey kau tidak bodoh, kau bisa pergi sekarang, aku tidak bisa menemanimu, aku sibuk." Ucap Leona lalu kembali memasak makanannya kembali, dia melirik kepada pria itu yang telah keluar dari rumahnya.


"Ugh, dia mengerikan juga kalau marah." Gumam Leona.

__ADS_1


__ADS_2