Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 15


__ADS_3

Keheningan malam membuat laura merinding, meskipun tubuhnya kelelahan, dia masih mengingat wajah menyeramkan dari Edmund yang ingin menyakiti dirinya. Dia lalu menyelimuti tubuhnya.


"Apa yang harus kulakukan? dia akan datang esok hari, apakah aku harus berlari ke Sean? tapi bagaimanapun aku tidak mau terkungkung di bilik kapalnya dan tidur dengannya setiap malam, tubuhku akan remuk jika aku bersama dengannya, dan aku masih takut menghadapi badai di lautan, besok aku akan memikirkannya. Mata Laura kian memberat, tubuhnya menjadi rileks dia akhirnya tertidur dengan pulas.


"KAPTEN ! KAPTEN..." teriakan rembo malam itu mengagetkan mereka yang sedang beristirahat di atas kapal.


"Dimana kapten?" teriak rembo.


"Ada apa? kenapa kau teriak-teriak rembo?" Sean baru saja keluar dari biliknya malam itu.


Rembo mengambil napas, mencoba menormalkan napasnya yang memburu.


"Di hutan...aku melihat, aku melihat wanita itu maksudku wanitamu sedang diserang oleh seseorang."


Sean mengerutkan alisnya, "Wanitaku? maksudmu Laura?? ada apa dengannya !" Rembo mendorong Al lalu memberikan contoh apa yang telah terjadi pada Laura di hutan. Seketika Sean melompat keluar dari kapal dia menggeram dan langsung saja berlari di gelapnya hutan. Kabut dan kegelapan malam menyelimutinya, tapi yang ada hanya suara binatang malam yang bersahutan. Mereka telah pergi? rembo, si bodoh itu mengapa dia tidak menolongnya ketika melihatnya? mata Sean menatap sesuatu yang berkilau di tanah yang lembab itu.


"Liontin? bukankah ini liontin milik Laura, aku ingat aku mengembalikannya sewaktu bersama dengannya di pantai tadi tanpa dia mengetahuinya? Siapa yang berani menyerangnya?"


Sean berlari menembus kegelapan malam langsung menuju kediaman lori. Rumah itu sudah gelap gulita, kabut menutupi pemandangan malam, Sean berlari kencang mencari celah agar dia dapat melihat Laura dan yakin bahwa dia baik-baik saja.


Dimana kamarnya? Seketika Sean menemukannya, dia sedang menatap sosok di balik selimut yang tertidur lelap, kini dia bernapas lega.


"Gadis itu tidak apa-apa." Dia turun dengan perlahan dan menghampirinya, duduk di tepi tempat tidur yang sempit dan menatap wajahnya. Alisnya mengkerut melihat darah kental yang membeku di ujung bibirnya. Rahangnya seketika bergerak-gerak, ototnya mengencang, siapa yang berani melakukannya? akan kubunuh mereka yang berani menyentuh milikku.


Sean membaringkan tubuhnya di samping Laura mendekapnya erat dan dengan lembut mengecup bibirnya yang terluka, "Kau milikku Laura ! tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhmu kecuali aku ! kau mengerti?" Sean lalu memejamkan matanya hingga matahari menyingsing.


Bunyi burung bernyanyi menyambut pagi, Laura mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi begitu berat, dia lalu merasakan napas yang hangat menghembus wajahnya, matanya seketika terbuka, Sean? kenapa dia ada di sini?


Laura memandangnya dan mengamatinya, wajah tampan yang kasar..perompak kasar dan liar yang menculikku, memiliki tubuhku dengan seenaknya, diriku dipaksa untuk menerima dirinya di tubuhku, lalu bagaimana dengan hatiku? tiba-tiba saja Sean membuka kedua matanya dan menatap mata berwarna tosca cerah memandangnya, dia lalu tersenyum dan mengecup bibir Laura .

__ADS_1


"Pagi.. bagaimana tidurmu?" tanyanya.


"Em baik, bagaimana denganmu?" tanyanya kepada Sean. Dia berpikir sebentar lalu tersenyum, "Aku memimpikanmu."


"Benarkah? senyum Laura, "Mimpi apa?" tanyanya.


"Aku bermimpi kau sedang teriak di bawahku dan mendesah karena sentuhanku." Dia lalu terkekeh melihat Laura yang membelalak dan memukul dadanya. Laura ingin bangun dari tempat tidurnya yang sempit, tetapi sean memegang tubuhnya dan menariknya untuk kembali tidur di dadanya.


"Sean lepaskan aku, lori sebentar lagi akan bangun", bisiknya. Sean lalu menarik wajah Laura dan menciumnya tanpa sadar Laura sudah berada di bawah Sean.


"Jangan khawatir dia tidak akan terbangun jika kau kecilkan suara desahan merdumu sayang." Dia tersenyum mengejek. Matanya berkilat lalu seketika menyerang bibir Laura seperti seorang yang sedang kehausan dan mendapatkan air hingga dahaganya dapat dihilangkan.


Laura membalas ciuman sean meskipun dia mencoba mengatasinya dengan kewalahan. Sean menggeram di bibir Laura, mengambil seluruh apa yang dimiliki Laura, napas mereka berdua bersahutan memburu dengan keinginan yang dalam.


Sean lalu memainkan jari-jarinya hingga Laura merasakan desakan untuk melepaskan tubuhnya bebas hingga tubuhnya bergetar hebat, "Sean...! teriak Laura memanggil namanya. Seketika Sean tersenyum lalu mengecup kembali bibir Laura, dengan sekali hentakan dia berada di dalam diri laura merasakan kehangatannya, giginya menggertak, suara desahan Laura membuat sean bergerak dengan kasar, Laura tidak perduli lagi jika lori mendengar desahannya, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


"Laura? katakan padaku..apa yang terjadi semalam, rembo melihatmu bersama seorang pria." Seketika tubuh Laura berjengit, ketakutannya kembali menguasai, "Aku takut Sean.."


"Takut? takut pada siapa?? Suara Sean berubah tegas berbahaya. "Em dia pemilik kapal pesiar." kata Laura kaku.


"Kapal pesiar? tanyanya, apa yang dia lakukan padamu? Sean tiba-tiba memutar tubuh Laura Membuatnya berjengit, ia lalu menatap bibirnya yang luka.


"Apa yang dia lakukan Laura !!?" geramnya.


"Er, dia mencoba menciumku." Laura tidak mau memandang sean. "Ada yang lainnya? tanyanya lagi. Laura menggeleng. Sean lalu bangun dari tidurnya.


"Aku pergi dulu, ada yang harus aku lakukan." Dengan tergesa-gesa dia mengenakan pakaiannya, lalu mengecup bibir Laura, "aku akan segera kembali." dia tersenyum lalu pergi begitu saja.


"Dengan seenaknya dia pergi begitu saja, ugh tubuhku terasa remuk." gumam Laura mencoba bangun dan segera membersihkan dirinya.

__ADS_1


~


Malam itu dia memikirkannya, gelisah mewarnainya, baru kali ini hati dan tubuhnya membara terasa terbakar begitu dalam, ingin rasanya meremukkan gadis itu ditangannya, dirinya terbakar amarah, Edmund menutup matanya terbayang tangisan Laura yang memaki padanya, ciumannya yang kasar hingga menyakiti wanita itu.


Angin laut berhembus menerpa tubuhnya, dia masih terpaku menatap lautan yang tak berujung, Apa yang sebenarnya kuinginkan dari gadis itu? dia hanyalah wanita yang memberikan tubuhnya pada seorang perompak. Desahan Laura terngiang-ngiang dikepala Edmund, "Sial !! wanita jalang, beraninya dia menyusup di pikiranku." Edmund segera berdiri mencari sesuatu untuk menghilangkan wajah Laura yang selalu menghalangi pandangannya.


~


Roti gandum baru saja matang siap di sajikan dan dijual, sebentar lagi penduduk desa akan datang membeli, Laura sedang sibuk mengatur beberapa roti-roti yang berbeda dan menyusunnya hingga terlihat cantik, bunyi lonceng dari pintu masuk membuatnya mengangkat kepalanya. Edmund sedang berdiri dihadapannya tanpa berbicara hanya menatap Laura.


Tubuh Laura bergetar, sial ! aku lupa jika pria ini akan datang, aku begitu sibuk memanggang roti, pikir Laura.


Kemeja putih melekat pas ditubuh bidangnya, lengan bajunya digulung dibawah sikunya, rambutnya yang coklat masih basah dan aroma yang kuat dari dirinya menyerbu ruangan kecil itu. Dia melangkah pelan menatap langsung wajah laura, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di kaca, tanpa berbicara sedikitpun.


Tubuh laura kaku, dia memikirkan cara bagaimana melarikan diri dari sini, ada lemari kaca yang panjang yang memisahkan mereka, hal itu membuat sedikit kelegaan di hati Laura, setidaknya dia bisa mengambil waktu ketika berbalik dan lari.


"Apa...apa yang anda inginkan sir?" cicit Laura.


Dia tersenyum lalu memandangi roti-roti dari balik kaca, "Apa yang kuinginkan? kau pasti mengetahuinya dengan jelas Laura."


"Apa maksud anda sir?" cicitnya. Laura mundur perlahan.


Wajah tampannya seketika menyeringai jahat menatap tubuh Laura dengan pandangan merendahkan. "Tubuhmu, aku menginginkannya, berapa perompak itu membayarmu?" Matanya menyipit menatap dada Laura dengan tidak sopan. Laura merasa sangat terhina dia memejamkan matanya mencoba menahan air matanya yang sebentar lagi mengalir, "Jangan ganggu aku brengsek !!" teriaknya.


Dia tertawa pelan, "Brengsek? pertama kali mendengarnya Laura, jadi...kau ingin tahu seberapa brengseknya aku?" Matanya berkilat tajam menatap tubuh laura.


"Datang padaku dengan sukarela Laura, atau kau lebih memilih jika orang-orangku yang mengejarmu dan membawamu dihadapanku ? bagaimana tawaranku Laura? Waktumu sejam dari sekarang, jika kau lebih memilih lari dariku, mereka akan mengejarmu seperti anjing pemburu, kau pasti tidak menyukainya."


Laura mundur beberapa langkah hingga tubuhnya menabrak tembok di belakangnya. Apa yang harus aku lakukan? Kau ada dimana Sean?

__ADS_1


__ADS_2