Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 83


__ADS_3

Wanita itu makan dengan tergesa, dia berusaha tidak menarik perhatian orang-orang, dia ingin segera ke belakang, ingin mengambil tanaman mahal itu dan jika dia beruntung, dia bisa menjualnya kembali dengan harga mahal.


Setelah makan, pelayan itu berjalan santai seperti biasanya, dia menatap kepada siapa saja yang melihatnya dengan pandangan curiga. Dia juga harus berhati-hati karena kepala pelayan itu mencurigainya dan mengawasinya.


"Mereka tidak akan mengawasiku kan sepanjang waktu, apa mereka tidak ada kerjaan terus-terusan mengikutiku?" Ucapnya sambil melihat orang-orang di sekelilingnya.


Dia berjalan menjauhi mereka semua dan pergi ke belakang mansion, semua sampah-sampah berkumpul di sana. Maurin memeriksanya dan mencari-cari pot yang ditaruhnya. Ada sebuah pot bunga hias di sana, dia berjalan dan mengambilnya. Dia terkejut karena bunga yang di ambilnya sangat berbeda dengan bunga miliknya. "Sial, sepertinya aku di jebak." Ucap pelayan itu, dia membanting pot bunga itu hingga hancur dan hendak berlari.


"Apa sekarang kau mengakuinya bahwa yang menaruh bunga beracun itu adalah kau, Maurin?" Kepala pelayan beserta pelayan lainnya berkumpul di sana menatapnya tajam.


"Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan." Geram wanita itu. Dia membanting pot bunga itu di hadapan mereka tanpa rasa takut.


"Bukti-bukti sudah ada, perkataan apa lagi yang ingin kau sampaikan, Maurin?"


"Aku hanya melihat bunga cantik ini di pembuangan sampah, jadi aku mengambilnya, memang kenapa? Apa itu salah?" Ucapnya mengelak.


Suara langkah kaki membuat mereka semua berbalik. Edmund berdiri di sana dengan wajah murka.


"T-tuan anda kemari? Saya ingin melaporkan mengenai kepala pelayan yang mencoba memfitnahku dengan semua ucapan tidak masuk akalnya, bukan aku yang meletakkan bunga ini di kamar Nyonya Varya." Ucapnya.


"Kau ingin mengatakan kau tidak bersalah? semua yang kau lakukan membuat Nyonya Leona dalam bahaya, apalagi dia sedang hamil." Edmund melangkah ke depan karena sekali lagi wanita itu memandangnya tanpa rasa takut sedikitpun, seakan dia sudah gila. Satu tamparan keras mendarat di pipinya, mereka semua terkejut bukan main.


Wanita itu terduduk di tanah, dia tidak menyangka bahwa tuannya sendiri yang menamparnya hingga dia terjatuh seperti itu.


"Berani sekali kau berbuat sesuatu yang membahayakan Istriku, apa kau sudah bosan hidup? berani sekali kau tinggal di mansionku ini. Tangkap wanita ini dan jebloskan dia ke penjara ibukota."


"Baik tuan."


Wanita itu meronta sekuat tenaga ingin membebaskan diri dari cengkraman mereka. "Tuan, bukan aku pelakunya. Aku hanya mengikuti perintah Nyonya Alexander untuk menghabisi Nyonya Leona. Tuan, anda tidak bisa menjebloskan aku ke dalam penjara. Aku memiliki seorang anak yang menungguku di rumah. Tuan, tolong aku."

__ADS_1


"Seharusnya kau berpikir seperti itu sebelum kau melakukan perbuatan jahatmu itu Maurin." Ucap kepala pelayan sambil menggelengkan kepalanya. Mereka menyeret maurin sekuat tenaga, terdengar suara maurin yang berteriak-teriak histeris di saksikan oleh semua orang-orang yang berada di dalam mansion.


***


Leona menyaksikan semua itu, pelayan yang berteriak-teriak histeris dengan cengkraman kuat di tangan kanan dan kirinya. Leona keluar dari kebunnya dan melihat wanita itu meronta sekuat tenaga.


"Nyonya, tolong aku. Bukan aku yang melakukannya. Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan Nyonya Alexander kepadaku, dia menginginkan anda tidak memiliki seorang keturunan dari keluarga Alexander, Nyonya. Tolong aku."


Mereka terus menyeretnya hingga keluar dari mansion, mereka memaksanya naik ke dalam kereta kuda dan mengurungnya di dalam. Kereta kuda itu kini melaju menuju ke ibukota.


"Kau melihatnya?" Suara itu membuat Leona berbalik. Edmund memeluknya agar dia tidak menatap wanita itu.


"Aku baik-baik saja, Edmund. Kau terlalu khawatir, di pulau Zaudet aku sering menyaksikan hal-hal seperti ini koq. Jangan pikir kelakuan wanita itu membuatku bersedih. Aku tidak akan sedih hanya untuk orang-orang seperti mereka." Gumam Leona.


Mata Edmund beralih kepada kedua tangan Leona yang kotor. Dia lalu mengambil saputangannya dan membersihkannya. "Kita masuk ke dalam, sebentar lagi udara akan dingin." Leona menganggukkan kepalanya.


Wanita itu sedang bersenandung di taman, sambil memegang perutnya yang sudah sembilan bulan. Setiap hari merupakan hari kebahagiaan Leona dan Edmund. Tanpa mengalami peristiwa mengerikan ataupun insiden yang melibatkan keluarga Alexander. Setiap hari berjalan normal seperti biasanya. Sejak Leona hamil, dari hari ke hari, Edmund selalu berada di sisinya, dia tidak membiarkan Leona seorang diri, dia bahkan meminta kepada Sean agar mereka sesekali bertemu, dan mengadakan acara minum teh bersama Istrinya Laura.


Kesempatan itu di gunakan Leona menanyakan detail mengenai kehamilan, serta proses persalinan yang menyakitkan, tetapi dengan penjelasan Laura yang berpengalaman. Apalagi Laura sekarang mengandung anak ketiganya, membuat Leona sedikit lega. Dia bisa menanyakan apapun kepada Laura.


***


Persiapan kelahiran Leona sudah mencapai puncaknya. Dua orang bidan dan satu dokter dan perawat lainnya telah berada di ruangan khusus di mansion mereka, meskipun ayah Edmund bersikeras agar Leona di bawa ke kastil tetapi Edmund menolak, dia sudah percaya dengan pelayan-pelayan yang ada di mansionnya di bandingkan kastil milik ayahnya yang di penuhi banyak pelayan milik ibu tirinya.


Leona telah berada di ruang persalinan, sementara keluarganya menunggu bersama-sama di ruang tunggu. Ayah Leona serta mertuanya turut hadir. Seluruh pelayan menyambut pangeran kecil yang sebentar lagi lahir. Edmund berdiri dengan cemas, sejak tadi dia mondar mandir sambil menautkan jari-jarinya.


"Jam berapa di mulai?" Tanyanya.


"Sebentar lagi tuan."

__ADS_1


Para pria tidak diizinkan mendekati ruangan persalinan, meskipun itu suaminya sendiri, yang berada di sana hanyalah beberapa perawat dan bidan yang akan membantu proses kelahiran.


***


"Kenapa lama sekali?" Ucap Edmund terlihat panik dan marah.


"T-tuan, sebaiknya anda duduk tenang, jangan panik. Nyonya akan baik-baik saja," Ucap kepala pelayan ketika membawakan teh kepada mereka semua yang sedang menunggu dia berusaha menenangkan mereka semua.


Dia mengikuti saran kepala pelayan dan menunggu dengan tenang. Menunggu membuat Edmund tidak sabar, dia menggoyang-goyangkan kakinya, lalu kembali berdiri dan mengintip ke ruang persalinan, mencoba mengetahui apa yang terjadi. Terdengar suara Leona yang mengerang dan teriakannya tertahan. Edmund menyuruh kepala pelayan untuk melihat keadaannya. "T-tuan, Nyonya Leona sedang berjuang, saya mohon anda tenang, tuan. Agar Nyonya Leona bisa melakukannya dengan baik."


Setelah menunggu beberapa lama yang serasa mencekiknya, Edmund tiba-tiba berdiri ketika mendengar suara bayi yang menangis lantang.


"T-tuan, anak laki-laki tuan. Selamat tuan Alexander, Nyonya Leona melahirkan seorang putra tampan." Ucap pelayan itu berlari-lari ketika dia baru saja mendapat informasi dari salah satu perawat.


"B-benarkah?" Dia bergegas mendekati ruangan bersalin Leona. Tampak wajah pucat dengan kening berkeringat, Leona tampak kelelahan. Edmund mengecup keningnya. "Beristirahatlah sayang, aku ada di sini." bisik Edmund sambil menghapus buliran keringat di keningnya.


Furious Lewstin yang juga turut ada di sana, sangat bergembira dengan kehadiran cucunya, dia menatap bayi mungil yang ada di dalam box bayi yang berada di samping tempat tidur ibunya.


"Kalian keberatan kalau aku memberikan nama untuk cucuku?" Ucap Lewstin menatap Leona dan Edmund.


"Tentu saja kami sangat senang ayah." Ucap Leona. Mendengar Leona memanggilnya dengan sebutan ayah tanpa canggung, ada sesuatu yang terasa tercekat di tenggorokannya, "Baiklah, aku sebagai kakeknya akan memberikan nama untuk cucu pertamaku yaitu Traian artinya ksatria yang pemberani, aku menemukan nama itu pada satu buku ketika aku berada di kapal." Suara deheman terdengar dari arah belakangnya.


"Aku pun ingin memberikan nama untuk cucuku. Aku kakeknya yaitu dari keluarga Alexander akan memberikan nama Marc yang artinya pria bagaikan perang." Ucapnya bangga. Edmund menatap mereka berdua dengan putus asa.


"Kenapa nama putraku memiliki arti tentang peperangan? Aku tidak mau dia menempuh bahaya di medan perang." Ucap Edmund kurang setuju dengan pemberian kakek-kakeknya.


"Aku menyukainya." Ucap Leona tersenyum lemah, jadi namanya adalah Traian Marc Alexander, di panggil Trai atau Ian." Ucap Leona.


"Aku akan memanggilnya Traian." Ucap Edmund sambil menatap bayinya yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2