
Mereka semua menatap kapten mereka yang baru saja bergabung. "Er..rembo kau sudah menemukan posisi yang tepat?" tanya Al agar mengalihkan perhatian mereka semua dari suara jeritan dan erangan dari bilik kaptennya.
Sean tampaknya tidak tergganggu dengan sikap mereka dengan tenang di memperhatikan posisi peta dan menunjuk beberapa tempat yang menjadi tujuan akhir dari pergerakan kapal itu.
"Kita hanya perlu menunggu mereka berlabuh dan segera beraksi, ingat ! jangan ada kesalahan apapun." Kata Sean tegas memandangi mereka satu persatu.
"Kita tahu pos penjaga di perbatasan akan menghentikan kapal yang tidak memiliki izin, sebaiknya kita berlabuh di mana?" tanya Roland di sebelah Al.
"Di sini ! Tunjuk Sean pada peta, setelah rapat mereka selesai, Sean ingin kembali ke Laura.
"Kapten...er ini untukmu." Roland memberikan botol kecil pada Sean.
"Dan apa ini Roland ? Tanya Sean menatap Roland tajam.
"Ee..itu minyak, itu....em obat mengurangi sakit di tubuh ketika akan...". Roland menggaruk kepalanya. Sean mencium botol itu dan wangi jasmine tercium begitu wangi, dia mengambilnya dan menaikkan sebelah alisnya menatap roland, "Kau tahu hal seperti ini?" tanya Sean curiga.
"Aku membelinya untuk istriku kapten, wanita menyukai jika tubuhnya di pijat membuat mereka rileks dan er....". Roland kembali menggosok hidungnya yang tidak gatal.
"Ok, saran yang bagus Roland." Sean tersenyum dan kembali ke biliknya.
"Aku tidak mau mendekati kamar kapten Sean, teriakan wanita itu membuatku..." Seseorang memukul kepala Roland.
"Tidak ada yang boleh mendekati bilik kapten, sebaiknya kalian semua berjaga."
~
Kemeriahan pesta masih berlangsung setiap malamnya membuat Edmund betul-betul bosan. Selama di kapal dia hanya bermalas-malasan dan sesekali mendatangi pantry mengambil sendiri minumannya.
"Rupanya anda di sini tuan Alexander, kami mencari-carimu." Edmund berbalik ingin sekali dia memutar matanya, dia ayah dan ibu Rosalie.
__ADS_1
"Sepertinya Rosalie salah paham padamu, dia mengira kau tidak menginginkan pertunangan ini tuan Alexander, kami berusaha membujuknya kau tenang saja."
Edmund menatap mereka seakan mereka tuli, "Apa yang dikatakan putri kalian memang benar, saat ini aku tidak menginginkan pernikahan." Keduanya menganga tidak percaya, Rosalie kini merajuk memegang lengan ibunya.
"Aku akan berbicara kembali dengan Mr. Alexander, sepertinya dia mabuk sayang." Edmund menutup matanya, mereka sangat menyebalkan, dimana nenek menemukan mereka? pikir Edmund. Dia keluar ingin menghirup udara segar, dia memandang lautan yang tidak berujung seketika wajah Laura menyusup begitu saja dipikirannya. Dia masih merasakan bibir manisnya yang menyentuh bibirnya.
~
Sean menatap Laura yang masih tertidur, tubuhnya tertutup dengan selimut putih, Sean berbaring di sebelahnya memeluk erat dan mengecup puncak kepalanya. Sial ! mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini ketika dia melihat laura? dia seperti candu baginya, wangi tubuhnya membuat sean menelan ludahnya.
Laura terbangun merasakan sensasi panas dan nikmat di tubuhnya, Sean kini memijit-mijit punggung Laura sampai ke telapak kaki Laura, membuat Laura rileks, Sean mengusap sesuatu ke seluruh tubuhnya, wanginya sangat Laura suka, napas Sean mulai memburu, Laura tahu Sean menginginkannya tetapi dia mencoba menahannya. "Miliki aku malam ini.." Bisik Laura di telinga Sean. "Tapi, biarkan aku keluar ke geladak esok hari, aku sudah lama tidak melihat sinar matahari." Laura mencoba membujuk Sean.
Sean menatap Laura bergairah, "Ok, besok kau boleh keluar, dengan satu syarat berikan dirimu seluruhnya kepadaku, jangan menolakku, kau mengerti." bisik Sean padanya.
Laura mengangguk patuh membuat sean menggeram, mereka menghabiskan malam panas mereka dengan erangan dan desahan yang panjang di malam itu.
Pagi menyambut mereka, Laura betul-betul sangat kelelahan tubuhnya terasa remuk, Sean tidak membiarkannya tidur sama sekali, ketika matahari mulai menyingsing diapun terlelap. Napas mereka beradu sepanjang malam, percintaan panas mereka membuat awak-awak kapal menjauh dari bilik sean. Laura membuka matanya dan menatap pria yang memeluknya erat di pelukannya, sedang bernapas ringan.
Laura mencoba bergerak, dia lalu meringis terasa perih di kedua kakinya, dia berjengit menahan sakit. "Masih terasa nyeri... tapi aku masih bisa berjalan." bisik Laura.
Sean bangun dari tidurnya duduk begitu saja dan melihat seluruh tubuh Laura yang dipenuhi bercak-bercak merah di tubuhnya. Mengapa semalam dirinya begitu kasar? dia tidak menahan-nahan dirinya semalam ketika dia bercinta dengan Laura dia melakukannya begitu kasar.
"Berpakaianlah, kita akan ke geladak." Sean berdiri tidak perduli dengan ketelanjangannya di depan Laura dia mengenakan pakaiannya lalu meninggalkan laura.
"Aku menunggumu di atas Laura."
Laura mencoba berdiri, tetapi sakit ditubuhnya sangat terasa, dia mengumpat. Brengsek itu, apa yang dia lakukan pada tubuhku? Laura mencoba membersihkan dirinya, dia mengenakan pakaian yang berada di dalam koper, dia mengenakan dress panjang berwarna biru langit dipadu dengan warna pink lembut, desainnya sangat cantik, apalagi dikenakan oleh Laura yang memiliki kulit putih pucat membuatnya terlihat sangat cantik dan mempesona.
Laura membuka pintu itu, sudah beberapa hari dia terkurung di sana, angin laut menampar tubuhnya, dia merasa sangat hidup dan semilir angin membuat tubuhnya lebih ringan. Dia berjalan memandangi lautan luas yang terhampar dihadapannya.
__ADS_1
Beberapa awak kapal saling menyenggol, baru kali ini dia melihat wanita yang di sekap kaptennya berhari-hari itu keluar dari biliknya.
"Pantas saja kapten terpesona dan menculiknya, dia sangat cantik." Kata rembo pada beberapa temannya.
"Baru kali ini aku melihat wanita yang begitu cantik." Kata Roland menggeleng. Sesuatu memukul kepala mereka.
"Jangan sampai kapten mendengar kalian, dia akan membuang kalian ke laut kalau dia mendengarnya."
Sean melihat Laura sedang memandangi lautan, senyumnya terpampang di wajahnya. Baru kali ini dia melihat gadis itu tersenyum.
"Kau suka pemandangannya?" tanya Sean mendekati Laura.
"Ya, sangat indah." jawab Laura tanpa memandang Sean yang berada di sampingnya. tiba-tiba wajahnya di tarik oleh Sean dan ciuman panjang mendarat dibibir Laura.
"Ya, aku juga menyukai pemandangannya." Laura menggertakkan giginya, apakah pria ini tidak pernah puas? semalam dia melakukannya seperti orang kesetanan. Pelukan erat menempel ditubuh laura. Sean memeluknya dari belakang, lalu mengecupnya dengan kecupan lembut, membuat Laura meremang.
"Berhenti mengintip bodoh, kapten akan melihatmu!" Roland menarik rembo yang menatap keduanya terang-terangan.
"Beruntung sekali kapten, aku juga ingin memiliki seseorang di sampingku." Kata rembo berkhayal.
~
Kapal pesiar mewah itu akan langsung menuju ke London, Edmund sudah muak dengan pesta tidak berguna yang berlangsung beberapa hari, dia berjalan-jalan ke anjungan, menatap laut yang tidak berujung, beberapa lumba-lumba mengiringi perjalanannya.
Edmund melihat beberapa awak kapal sedang sibuk, dia lalu menghampirinya. "Ada apa? ada masalah?"
"Sepertinya badai akan menyerang malam ini, sebaiknya anda masuk ke dalam sebelum malam tiba." Kata seorang awak kapal yang berjaga. Edmund mengangguk sesekali menyesap minumannya.
"Badai? dia lalu menatap langit yang cerah. "Mungkinkah? di hari yang cerah seperti ini?"
__ADS_1
Kapal Sean tidak begitu jauh dari kapal pesiar meskipun begitu, mereka menjaga batas agar tidak terlalu dekat, mereka nanti akan curiga.
Sean menarik tangan Laura mengajaknya ke anjungan melihat langsung laut dari atas kapal, Laura tersenyum melihat betapa luasnya samudera yang terbentang. Sementara dirinya di sekap oleh perompak yang menginginkan dan memiliki tubuhnya dengan seenaknya dan semaunya. Laura menghembuskan napasnya panjang, bagaimana hidupku nanti? pikirnya.