Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 21


__ADS_3

Suara tetesan hujan membuat Laura tersadar, dia merasa hangat dan nyaman, perlahan dia membuka kedua matanya, tempat itu dipenuhi dinding berwarna putih, ruangan yang cukup besar, kasur yang empuk dan jendela tepat dibelakang tempat tidur, Laura mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya.


"Dimana ini?" gumamnya. Suara ribut-ribut terdengar dari luar kamar, dia berdiri dan menyadari bajunya sudah diganti dengan dress putih panjang , rambutnya tergerai bebas, wajah pucatnya membingkai diwajahnya.


Dia membuka balkon kamar itu, lalu matanya menatap terkejut tepat dihadapannya sebuah kastil yang megah, temboknya menjulang tinggi dibeberapa tempatnya dihiasi berbagai bunga, bentuknya kerucut, dan dilatarbelakangi dengan sungai yang indah.


Rambutnya yang tergerai di sapu angin senja, semilir angin membuat tubuhnya rileks meskipun begitu perutnya keroncongan dia begitu lapar. Seseorang membuka pintu kamar dan seorang wanita yang cukup tua menghampiri Laura.


"Kau sudah sadar? untunglah, kau tidak sadarkan diri sejak semalam, siapa namamu nak?" tanyanya dengan tersenyum ramah.


"Namaku Laura mam." Kata Laura sopan.


"Kau sangatlah cantik, dan jangan panggil aku mam, aku bukan nyonya dirumah ini, panggil aku Rosie, aku kerja di tempat ini sudah puluhan tahun aku bekerja kepada tuan dirumah ini bahkan anak-anaknya pun aku yang mengasuhnya sampai mereka sudah menikah."


Wanita tua itu terus memandangi Laura seperti dia pernah melihatnya di suatu tempat.


"Bersihkanlah dirimu setelah itu turunlah kebawah dan sarapan kau pasti lapar." Laura menghampiri Rosie dan memeluknya erat.


"Terima kasih sudah menolongku, aku pasti sudah mati jika kau tidak menolongku." Dia menepuk-nepuk pundak Laura.


"tidak perlu berterima kasih, sesama manusia kita harus saling membantu, oh ya kalau kau tidak punya tujuan kau bisa kerja di tempat ini sayang, jika kau mau."


Laura mengeratkan pelukannya dan menangis di bahunya, dia mengangguk cepat membuat Rosie tersenyum. "Mandilah, aku menunggumu di dapur."


Laura tersenyum dia sangat bersyukur karena orang yang menolongnya sangatlah baik, pakaian sudah tersedia diatas tempat tidur ketika dia selesai mandi, dia kemudian memakainya, rambutnya diikat separuh dan yang lainnya rambutnya dibiarkan tergerai, perlahan Laura membuka pintu kamar dan mendapati anak tangga dari batu, setelah beberapa langkah akhirnya dia sampai di dapur tempat Rosie sedang membuat beberapa cangkir teh.


Dia berbalik dan tersenyum, "Kemarilah sayang, aku sudah menyiapkan beberapa hidangan sederhana untukmu, kau pasti menyukainya."


Laura duduk dan mulai melahap hidangan yang tampak lezat itu, Setelah meminum secangkir teh matanya teralihkan dengan pemandangan di luar.


Rossie berbalik dan menyadari tatapan Laura yang menyaksikan pemandangan di luar.


"Rumah ini dibangun oleh tuan untukku, katanya aku terlalu tua untuk tinggal bersama pelayan-pelayan lainnya." Dia tersenyum senang mengingat-ingat kembali masa lalunya.


"Aku hanya ke sana ketika tuan memintaku menyiapkan makanan kesukaannya, atau pasokan makanan di dapur sudah berkurang, aku yang ditugaskan untuk mengatur isi dapur mereka." Kata Rossie yang menjelaskan.

__ADS_1


Dia menatap Laura sambil berpikir sebentar tugas apa yang harus dikerjakan gadis muda ini, wajahnya sama sekali bukan tampang seorang pelayan melainkan wajah seorang nona besar. Wajahnya yang begitu cantik dengan mata tosca cerah mengingatkannya dengan wajah seseorang.


"Siapa pemilik kastil ini Rossie?" Laura bertanya sambil menatap dari jendela keindahan kastil itu, Rossie lalu tersenyum tipis sambil berdiri.


"dia seorang duke terkenal, dia bekerja di pemerintahan dan juga kerabat dari Empress, namanya tuan Kent Windsor."


Laura hanya mengangguk tetapi dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Rossie, dia tidak pernah mempelajari gelar-gelar kebangsawanan di Inggris, laura hanya tahu mereka yang memiliki segalanya adalah seorang bangsawan.


~


~


~


Tidak terasa sudah sebulan Laura tinggal bersama dengan Rossie dia betul-betul sangat membantunya, Rossie tidak perlu lagi berjalan kesana kemari mengelilingi kastil, cukup Laura mengirim memo yang di serahkan ke koki dapur di kediaman itu dan Laura sangat senang melakukannya, itu adalah pekerjaan sangat mudah untuknya.


"Laura sayang antarkan sup ini kepada pelayan yang ada di sana, katakan sup ini untuk nyonya Scarlett, cepatlah pergi sebelum sup itu dingin." Dengan membawa nampan Laura berjalan membawa sup yang akan dibawakannya kepada pelayan di sana. Dia melewati kebun bunga yang sangat indah dia lalu tersenyum, "sangat indah", gumam laura.


Seorang wanita yang duduk di tengah-tengah kebun melirik sekilas seorang gadis berambut panjang hitam kecoklatan, dia memalingkan wajahnya tatkala Laura berbalik wanita itu terkejut, mata tosca balas menatapnya dia tersenyum sopan sambil sedikit menunduk, jantung wanita itu berdetak cepat.


"Apa yang terjadi mengapa nyonya seperti ini?" Pria itu tidak lain adalah suaminya sendiri George yang baru melihat reaksi istrinya setelah bertahun-tahun diam dan hanya duduk memandangi bunga-bunga di taman.


"Katakan padaku apa yang terjadi dengannya? Scarlett, sayang ! katakan padaku." teriak george, kemudian dia menggendong istrinya masuk kedalam rumah dan segera menghubungi dokter pribadi yang menangani nyonya Scarlett.


"Baru kali ini aku melihat dia bereaksi seperti itu, apa yang dilihatnya?" gumam George berjalan bolak balik didepan kamar istri yang sangat dicintainya itu.


~


Laura memberikan supnya sesuai permintaan Rossie dia kemudian kembali dari mengantarkan sup itu, dia memandang kastil besar itu dan menatap dari kejauhan beberapa kerumunan ladys yang berjalan dengan anggun memakai dress panjang berwarna warni. Dia tersenyum tipis, "Mereka sangat cantik". Gumam Laura.


Laura berjalan kebelakang kastil dan menemukan rossie sedang menggali sesuatu dikebun.


"Rossie? kau sedang apa?" tanya Laura penasaran. Rossie terus menggali dan menemukan gundukan seperti batu dan melemparkannya ke keranjang sayur.


"Temanku memberikan bibit ketela, untuk itu aku harus merapikan tanah yang dipenuhi batu-batu ini." Katanya dengan suara parau.

__ADS_1


"Bolehkah aku membantumu?" senyum Laura menatap Rossie. Dia kemudian tersenyum, "Tidak usah sayang tanganmu akan kotor, oh ya kau cukup memetik beberapa bunga di ujung sana." dia menunjuk bunga di dekat sungai.


"dan rangkailah di vas itu, aku suka makan malam dengan meja yang tertata rapi." Laura dengan senang hati mengiyakan dia lalu berlari kecil sehingga tidak lama kemudian dia sampai di tepi sungai.


Senandung lagu keluar dari bibir Laura. Di sana terdapat bermacam-macam jenis bunga yang indah, ada bunga petunia berwarna kuning pucat, bunga iris berwarna violet, bunga dari tanaman bugenvil berwarna ungu yang cantik serta banyak yang lainnya seperti bunga tulip, pentas dan bunga mawar, sampai-sampai Laura bingung mana yang akan dipetiknya.


~


~


"Nenek betul-betul kecewa padamu, wanita anggun dan cantik itu kau sia-siakan begitu saja dasar pria bodoh, aku tidak mau tahu ! kau yang mengacaukan acara pertunanganmu kau sendirilah yang menyelesaikannya, minta maaflah kepada pamanmu, lagi pula Kenan katanya sudah pulang dari Kopenhagen, kau bisa bertemu juga dengannya."


Edmund mengacak-acak rambutnya, dia menuruti neneknya dengan bersiap kerumah pamannya untuk meminta maaf.


"Paman pun tidak akan perduli, aku bertunangan atau tidak, dia sibuk mengurusi Empress dan menantunya yang sakit." Kata Edmund sambil mengancingkan kemejanya.


Dia akhirnya selesai dan bersiap menuju kediaman pamannya, kereta kuda melaju kencang tidak lama kemudian dia tiba di kediaman Kent Windsor yang di jaga oleh lima orang penjaga berpakaian hitam, dia membuka gerbang yang terbuat dari besi itu dan membiarkan kereta Edmund masuk.


Edmund turun dari kereta kudanya, dan pandangannya jatuh pada sepupunya, Kenan Windsor anak kedua dari tiga orang bersaudara, "Haha, sepupuku yang mesum akhirnya membatalkan lagi pertunangannya, kau membuatku kagum." Teriak Kenan yang menyapa edmund, dia tersenyum miring menatap kenan, pria ini sama sekali tidak berubah sangat pengganggu meskipun latihan kemiliteran sudah membuatnya uring-uringan.


"Kau jangan iri dengan prestasiku sepupu, aku tidak menyukai ikatan." Kata Edmund malas, Kenan membawa Edmund menemui George kakaknya, "Dimana George?" tanya Kenan kepada seorang penjaga.


"Tuan George bersama nyonya Scarlett di kamarnya tuan." Jelasnya.


"Tidak usah mengganggunya karena kehadiranku Kenan." Kata Edmund cuek.


"Oh ya dimana Carolina?" Tanya Edmund.


"Dia sedang di Swiss bersama tunangannya, Minggu depan baru akan kembali." jelas Kenan .


"Cih membosankan, lalu paman Kent?" Tanyanya lagi. Kenan menggaruk hidungnya yang tidak gatal, "Dia masih di istana, kerjaannya belum selesai, mungkin malam nanti baru akan pulang."


"Jadi, lakukan sesuatu kenan untuk menghilangkan kejenuhanku." Kata Edmund menyandarkan dirinya di kursi yang empuk. Kenan ikut duduk dan berpikir sebentar.


"Kau mau berkeliling? ada sesuatu yang membuatku tertarik." kata-katanya membuat Edmund menyeringai senang menatap Kenan.

__ADS_1


__ADS_2