
Kastil Alexander
Keluarga bangsawan, bahkan masyarakat di kota Cambridge di hebohkan atas penangkapan Nyonya Alexander terkait rencana pembunuhan kepada menantunya sendiri Leona Lewstin. Minggu itu, semua gosip seputar keluarga Alexander, baik di kalangan bangsawan ketika mereka berkumpul bersama, bahkan di istana, gosip itu pun meluas di kalangan masyarakat menengah di kota Cambridge.
"Aku tidak akan puas jika wanita tua itu hanya di penjarakan beberapa tahun saja, dia harus mendapatkan akibatnya ketika dia berhadapan dengan keluarga Lewstin." Ucap Furious Lewstin geram. Dia memanggil salah satu awaknya agar berangkat ke mansion Alexander.
"Pergilah ke mansion menantuku Edmund, katakan kepadanya. Aku ingin makan malam bersama mereka berdua."
"Baik kapten."
***
Hari itu Laura berkunjung ke kediaman Leona, dia mengkhawatirkannya, setelah mendengar informasi tentang gosip-gosip yang beredar, dia ingin menghibur Leona, mungkin saja dia sedang bersedih karena ibu Edmund dengan tega ingin menghabisi nyawanya.
"Laura." Senyum cerah terpancar di wajah Leona, dia melambaikan tangannya kepada Laura. Tidak ada wajah sedih atau kecewa di wajah Leona bahkan dia tersenyum sangat cantik.
"Kau datang? Terima kasih Laura, semua bantuanmu membuatku lebih percaya diri dan tidak putus asa, saat aku sedih dan terpuruk. Aku senang bisa kembali ke kota Cambridge lagi dan bertemu denganmu."
"Bukankah itu hal wajar yang di lakukan oleh teman, jadi jangan pernah sungkan meminta tolong padaku." Mereka berbincang-bincang cukup lama di taman. Leona dan Laura menikmati waktunya bersama.
"Kau baik-baik saja Leona, maksudku kau pasti sedih dengan semua yang telah terjadi." Ucap Leona.
"Hm, tidak juga. Aku sekarang merasa lega. Mereka yang berusaha menghabisiku telah di tangkap."
"Sepertinya tidak semuanya, Leona. Sofia masih berkeliaran, kau tahu bagaimana murkanya wanita itu ketika Edmund pergi, saat sebentar lagi mereka akan mengucapkan janji pernikahan. Erm menurut apa yang aku dengar, keluarga Alexander dan Ridle mencoba untuk kedua kalinya menikahkan Edmund dan Sofia, tetapi sekali lagi Edmund pergi begitu saja, bahkan dia mengatakan sesuatu yang membuat Nona Sofia marah besar. Aku takut wanita itu ingin melakukan sesuatu kepadamu."
"Jangan khawatir, apapun yang akan di lakukannya aku siap menghadapinya."
***
Keluarga Ridle ada di sana ketika penangkapan Nyonya Alexander terjadi. Sofia melihatnya sambil menyilangkan tangan di dadanya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, jika dengan menangkap Nyonya Alexander membuatmu berpikir semua akan bahagia, kau salah besar, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Wanita itu kembali masuk ke dalam kereta kudanya. Sudah sejak lama dia menunggu Leona kembali ke Cambridge. Entah bagaimana caranya dia akan membuat mereka berdua menyesali perbuatannya.
***
Hari itu pagi-pagi sekali Edmund berangkat ke istana untuk mengerjakan pekerjaannya. Dia baru saja akan naik ke kereta dengan di antar oleh Leona sampai di depan gerbang. Saat itu Sofia Ridle ada di sana.
__ADS_1
"Edmund? Kau datang?"
Mereka berdua berbalik, Edmund tidak jadi naik ke atas kereta. Dia berdiri di samping Leona.
"Aku tidak tahu kau telah datang Edmund, sudah lama aku menunggumu, karena Leona telah datang, bagaimana jika kita berbincang-bincang sebentar, ada yang ingin
aku sampaikan kepada kalian berdua."
"Sampaikan sajandi sini, jangan mencoba merencanakan hal kotor, atau kau akan menyesalinya." Ucap Edmund dingin.
Leona melipat kedua tangannya lalu menatap wanita itu. "Apa yang ingin kau katakan." Wajah Sofia tampak tertunduk, dia berjalan mendekat ke Edmund.
"Bisakah kita bicara berdua dulu?" Ucapnya.
"Edmund tidak akan kemana-mana wanita ular, kau kodok betina. Katakan, apa yang ingin kau katakan, jangan berbelit-belit. Aku muak berpura-pura di hadapanmu, wanita sepertimu tidak akan mengerti jika hanya sekedar peringatan."
Dia menggeram keras. "Aku hamil Edmund." Ucapnya.
"Terus kenapa kalau kau hamil." Ucap Edmund.
"Apa kau pikir kita pernah menghabiskan malam bersama? Kau gila ya, aku bahkan tidak pernah menyentuhmu. Kau mabuk? Kalau kau ingin mengetahui siapa ayah dari anakmu, kau harus menanyakan pria-pria yang tidur bersamamu setiap pesta berlangsung." Ucap Edmund geram.
Edmund mendengus. "Apa kau bermimpi? Aku bilang aku bahkan tidak pernah menyentuhmu, malam itu ketika kau mabuk sehabis pesta, kau mungkin menghabiskan malammu bersama entah siapa pria yang menawarkan dirinya untuk membawamu ketika kau berusaha menempel kepadaku. Dan apa kau gila kejadian itu sudah terjadi 6 tahun yang lalu." Ucap Edmund jengkel.
Leona menatap jijik padanya tanpa berusaha menutup-nutupinya. "T-tapi Edmund bukankah kau pernah berjanji padaku, jika aku menunggumu maka akhirnya kau akan kembali kepadaku."
"Wanita gila ini, betul-betul tidak waras." Gumam Leona.
"Apa kau bilang."
"Aku bilang kau tidak waras. Kenapa kau begitu rendahan, apa kau tidak memiliki malu? kau adalah putri bangsawan, tetapi kenapa kau memohon seperti orang menyedihkan mengungkit masa lalu yang tidak pernah terjadi? kau pikir rencanamu akan berhasil untuk menyakitiku? hanya karena masa lalu kotormu itu?" Ucap Leona tajam.
"Kau !" Dia berusaha menampar Leona, tetapi tentu saja Leona yang lebih tinggi darinya bisa menangkisnya.
"Sampai kapan kau menjadi gadis menyedihkan seperti ini? berhenti mengganggu suami-suami orang, carilah kebahagiannmu sendiri. Berhenti usik kebahagiaan orang lain. Jika kau tidak berubah, hanya rasa iri, benci dan sakit hati yang tertinggal di dirimu. Waktu akan terus berjalan dan hanya itu yang terus kau lakukan, usiamu tidak akan muda lagi, dan umur akan menangkapmu, saat kau menyesalinya saat umurmu sudah tua, maka itu sudah terlambat. Haa ini hanya sekedar nasehat dariku. Pergi ! dan jangan ganggu Edmund lagi. Jika kau masih berusaha mengganggunya, kau akan berhadapan denganku, aku akan menggunting seluruh rambutmu hingga botak, supaya kau berhenti mengganggu suami orang. Kau tahu? itu tradisi di desaku. Dan aku akan melakukan hal itu padamu, kau mengerti."
Sofia ternganga mendengar kalimat panjang Leona, tanpa mengucapkan apa-apa dia lalu pergi, dan rencananya untuk membuat Leona cemburupun gagal.
__ADS_1
"Nasehat yang bagus sekali sayang, kau hebat." Ucap Edmund sambil memeluk istrinya sebelum dia naik ke atas kereta. "Aku akan kembali sebelum sore." Dia melambaikan tangannya.
"Ughh. Aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita itu atau keluarga Alexander." Sofia berjalan seorang diri di kota Cambridge dan sepertinya ucapan Leona sedikit melekat di memorinya.
Waktu akan terus berjalan dan hanya itu yang terus kau lakukan, usiamu tidak akan muda lagi, dan umur akan menangkapmu, saat kau menyesalinya saat umurmu sudah tua, maka itu sudah terlambat.
"Ugh wanita itu pandai juga bicara."
***
Siang itu utusan dari Ayah Leona pun datang. Jadi mereka harus bersiap-siap untuk hadir dan makan malam bersama. Restaurant mewah yang berada di tengah-tengah kota Cambridge terlihat memukau. Kereta kuda milik Edmund berhenti dan mereka berdua turun dari kereta kuda.
Edmund dan Leona terlihat serasi dan sangat menawan. Beberapa bangsawan yang makan di sana memberikan anggukan singkat dan terkadang menegur mereka berdua.
"Silahkan ikut kami tuan, lewat sini." Ucap seorang pelayan kepada mereka berdua mengantar ke tempat yang lebih privat. Pelayan itu berhenti pada sebuah pintu khusus berwarna emas dengan hiasan bunga menjadi motifnya.
"Silahkan masuk tuan dan Nyonya. Tuan Lewstin telah menunggu di dalam." Mereka berdua masuk. Kapten Lewstin telah duduk di sana dengan pakaian formalnya, meskipun sekarang ini bajunya terlihat berantakan karena dia sudah tidak terbiasa dengan kemeja dan jas.
"Akhirnya kalian datang juga, duduklah." Leona dan Edmund duduk.
"Bagaimana kabarmu Leona, kau pasti sudah mengalami banyak hal." Ucapnya. Leona mengangkat bahunya.
"Mm, ya aku mengalami semuanya, tetapi itu semua aku anggap sebagai pelajaran bagiku, dan semua itu membuat kami lebih kuat dalam mempertahankan rumah tanggaku." Ucap Leona sambil menatap Edmund yang tersenyum kepadanya.
"Ah, baiklah sekarang ini kau pintar sekali bicara dan mengomel, Leona. Kau mirip seseorang yang aku kenal. Ucap tuan Lewstin.
"Sebentar lagi makanan akan datang, semua jenis makanan di restaurant ini telah aku pesan untukmu, kau bisa makan sepuasmu." Tidak lama kemudian semua menu tersaji di atas meja, jenis makanan Western dan makanan seafood pun terhidang dengan lezat.
Leona tertarik dengan seafoodnya, dia mencicipinya, tanpa dia sangka dia lalu menutup mulutnya seperti ingin muntah, cepat-cepat dia mengambil saputangannya di dalam tas, dan menutup hidungnya. Baunya pun sungguh sangat menyengat hidung, hingga Leona kembali ingin muntah. Saat itu mereka berdua berbalik. Edmund memegang Leona dan menundukkan wajahnya ingin melihatnya.
"Leona kau sakit?" Ucapnya.
Leona menggelengkan kepalanya. "Ugh aku benci aromanya."
Lewstin memperhatikan Leona dan memanggil orang di luar ruangan. "Panggil dokter sekarang juga.
"Baik kapten."
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit dokter pun datang, sedangkan Leona sudah menjauh dari semua makanan itu dan berbaring di ruang istirahat. Setelah dokter memeriksa Leona. Senyum mengembang tercetak di wajahnya.
"Selamat tuan Alexander, istri anda hamil. Usia kandungannya baru seminggu. Selamat sekali lagi." Saat itu Edmund mendekati Leona dengan wajah tidak percaya, dia kemudian memeluknya dan memberikan kecupan di wajahnya. Kapten Lewstin terdiam dan kaku, mendengar bahwa sebentar lagi dia punya cucu membuatnya terkesima. Di usianya yang sekarang tidak muda lagi dan sewaktu-waktu kematian dapat menjemputnya membuat dirinya terharu, karena dia masih bisa melihat putrinya dan juga dapat menantikan kehadiran cucunya yang akan lahir di dunia ini.