
Sebulan setelah kepergian sean, hati Laura masih begitu terluka dia mencoba melakukan banyak hal agar pikirannya tentang Sean dapat di lupakannya tetapi tempat itu tidak aman baginya, Edmund beberapa kali mencoba membawa Laura, untung saja Ethan yang cerdas selalu mencari akal agar Laura dapat meloloskan diri, Bertha selalu menemani Laura ketika dia sendirian.
"Kau yakin laura?"
"Aku yakin Bertha, terima kasih untuk bantuanmu selama ini, katakan kepada Ethan aku sangat berterima kasih kepadanya karena selalu membantuku." Senyum Laura.
Malam itu Laura berangkat dengan sembunyi-sembunyi, dia menutupi tubuhnya dengan jubah panjang agar tidak ada yang mengenalinya.
Dari kejauhan dia melihat kereta kuda Edmund bersama Kenan, Laura membungkukkan tubuhnya, berjalan perlahan. Kereta kuda itu melewatinya tanpa curiga sedikitpun.
Laura tiba di tempat Sean, dia masuk sebentar dan menemukan sekantung besar uang di dalam laci, padahal sebelumnya uang itu tidak ada di sana, apakah Sean yang menaruhnya? Pikir laura.
Laura menatap rumah itu sebentar dan akhirnya diapun pergi meninggalkan desa Cambridge.
~
Kini Laura telah berada di atas kapal yang akan mengantarnya ke desa pirita, semua itu mengingatkannya kenangan dan percintaannya bersama Sean selama di Lautan.
Laura menatap air laut yang kelihatan berwarna hitam kebiruan ketika malam hari.
"Miss, sebaiknya anda berada di dalam, udara sangat dingin." Kata seorang pelayan dari kapal itu. Laura segera masuk ke dalam dan menunggu untuk beberapa hari kedepan untuk sampai ke tempat tujuannya.
Setelah beberapa hari berada di lautan, akhirnya Laura tiba di desanya yaitu desa pirita tetapi tempat itu sudah banyak berubah, desa itu sangat berkembang.
Laura memandang desanya dia kemudian memegang perutnya.
"Hanya kau dan mommy sekarang." Ucap Laura mengelus perutnya, lalu berjalan menuju kediaman orang tuanya.
~
~
~
"Max ! Max...."Teriak seseorang dari kejauhan, dia mencari-carinya sejak pagi tadi, anak itu pandai sekali bersembunyi, tidak ada yang bisa menemukannya selain ibunya sendiri.
"Kau masih bersembunyi? kemarilah, ibu akan ke perayaan kali ini", Ucapnya membujuk. Dia setengah berjalan seakan-akan tidak tertarik dengan pencariannya.
__ADS_1
"Ok sebaiknya aku beli apa ya? oh ya coklat, aku sukaaa sekali coklat". Teriaknya.
Mata tosca itu bersinar di tempat persembunyiannya dengan berlari kencang dia memeluk wanita yang tengah memegang boneka kelinci buatan ibunya sendiri.
"Aku ikut". Suaranya nyaring melengking.
Wajah kecilnya yang tampan dengan rambut hitam dan wajah yang menyerupai pria itu merajuk dan memeluk lutut ibunya, Laura lalu berlutut membersihkan wajah kotornya dari bekas blueberry liar yang di makannya di dekat hutan dan melekat di sekitar mulutnya.
"Max akan ikut ibu jika kali ini max menjadi anak yang baik". Ucap Laura di sela-sela membersihkan mulut max anaknya yang masih berusia 5 tahun itu, tangannya yang begitu kecil memeluk leher ibunya dan mengecup pipinya.
"Ok, mommy max akan menjadi good boy". Ucapnya sambil memegang kedua pipi ibunya yang lembut.
"O..o lihat tangan kotor ini? perutmu akan sakit max jika kau bermain di sembarang tempat". Kata Laura sambil mengangkat max di gendongannya.
"Jangan khawatir mom, aku hanya memetik buah berry liar di hutan dekat rumah, aku sama sekali tidak mencari cacing". Kedipnya pada ibunya. Laura mengecup pipi max sambil tersenyum menatap anaknya.
Laura menatap putranya yang tampan mengingatkannya akan Sean yang telah meninggalkannya di malam itu. Tahun-tahun telah berlalu sejak kepergian Sean kini usia putranya menginjak 5 tahun, wajah tampannya semakin menarik perhatian, dia adalah Sean kecil bermata tosca seperti ibunya.
Semenjak Sean meninggalkan laura malam itu dunianya terasa runtuh, hari-harinya diisi dengan tangisan, sebelum dia meninggalkan Cambridge, laura mencari apa saja yang berkaitan dengan Sean tetapi Seakan-akan dia hilang di telan ombak, laura berkeliling mencarinya di semua tempat tetapi dia seperti menghilang begitu saja.
Laura telah kehilangan semuanya, hanya janin yang dikandung laura yang menjadi bukti keberadaan Sean.
Edmund tidak menyerah begitu saja, dia selalu datang menemui Laura ingin memilikinya tetapi tanpa ikatan apapun, dan malam itu Laura akhirnya lari dari kota Cambridges, dengan beruntungnya Laura kembali ke kediaman Sean yang sudah di segel, dia meninggalkan sekantung uang di lacinya hingga Laura mengambilnya dan menjadikan bekalnya untuk pergi dari kota Cambridges.
~
Udara di desa pirita menjadi kebanggaan tersendiri baginya, Laura akhirnya kembali ke kampung halamannya, tempat itu sungguh telah berubah menjadi kota pirita yang ramai. Sore itu Laura membawa sekeranjang roti untuk dibawa ke tokonya, Setelah laura belajar cara membuat roti dari lori maka diapun membuka toko roti di pasar, apalagi roti gandum hitam menjadi favorit di kota itu. Max sedang memegang tangan Laura melihat-lihat festival kembang api yang akan di rayakan di kota itu, dengan semangatnya dia berteriak meminta ibunya agar menggendongnya.
"Max kau berjanji akan mendengarkan ibu bukan? kita akan ke toko dulu setelah itu kita akan berkeliling sampai max puas, oke?" ucap Laura membujuk anaknya yang rewel.
"Oky mom". dengan mulut membentuk kerucut.
Laura meninggalkan roti-rotinya yang disimpannya di etalase kaca, setelah itu dia menguncinya lalu menutup tokonya dia akan membuka tokonya setelah dia berkeliling dengan max, lampion-lampion berwarna warni telah di pasang di atas sungai. Hari masih sore sehingga lampion itu belum di biarkan terbang di udara, max membeli segala macam mainan dan permen yang di sukainya meskipun Laura hanya akan mengizinkannya memakan permen itu sedikit demi sedikit nantinya.
"Laura ! Laura ? Suara itu begitu besar hingga membuat Laura berbalik dari perhatiannya terhadap max.
"Merry? ada apa mengapa kau berlarian?" Tanya Laura melihatnya yang mengatur napasnya karena berlari tadi.
__ADS_1
"Sir Davis ingin memesan roti-rotimu besok siang, dia menginginkan 100 roti sudah siap besok siang, akan ada pesta penyambutan, dan dia memesan seluruh makanan yang ada di pirita termasuk roti-rotimu", Jelas Merry.
"Benarkah??" ucap Laura dengan tersenyum lebar, "Trims Merry aku sungguh berutang padamu". ucap Laura memegang kedua tangan Merry.
"Ok sayang bukan masalah besar, ngomong-ngomong dimana max?" tanyanya.
Laura berbalik seketika wajahnya menjadi pucat.
"Max..! max di mana kau max." Laura berteriak-teriak di setiap sudut toko mencari-cari putranya yang hobi menjelajah.
Max berlarian mengikuti anak-anak yang sedang bermain di tepi sungai ingin menyalakan lampion-lampion itu, dia bergembira dan bertepuk tangan sambil melompat-lompat di tepian sungai. Kakinya tiba-tiba tergelincir hingga tubuhnya jatuh kedepan dan akan tercebur ke sungai, seseorang memegang tubuhnya yang mungil menahannya agar tidak jatuh.
"kau baik-baik saja?" tanyanya.
Max menatap wajah pria di hadapannya, dia merajuk tiba-tiba wajahnya memerah, dia lalu menangis keras, "MOMMY!" teriakannya menggema sehingga max dan pria itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.
"Ini untukmu." Kata pria bangsawan itu yang memberikan satu lampion berwarna emas, "Kau akan menyalakannya ketika malam tiba kan?" tanyanya.
Wajah kecil max mengangguk.
"Ya sir."
"Bagus, jangan menangis lagi", Bisik pria itu.
"Kapten, gubernur Kouth telah menunggu anda di kantornya", Ucapnya.
"Oke rembo."
Dia lalu berbalik dan menatap bocah kecil bermata tosca itu. "Antarkan anak ini kerumahnya dengan selamat rembo." ucapnya.
"Baik kapten."
Max memegang tangan rembo yang besar.
"Kau tahu dimana ibumu?" tanyanya.
"Tentu, aku tinggal di daerah sini, dan aku tidak takut dengan wajahmu yang jelek dan gendut." Kata max dengan suara mungilnya yang terbata-bata.
__ADS_1
Rembo mencibirkan bibirnya mendengarkan ocehan max kepadanya, tetapi ada yang aneh dari bocah ini, mengapa wajahnya mirip sekali kapten ya? pikir rembo setelah memperhatikan dengan seksama bocah kecil yang ada di pegangannya.