Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 68


__ADS_3

"Hei Aku siap." Ucap Leona baru saja keluar dari pintu tengah, dia berdiri di depan mereka berdua yang tiba-tiba mematung dan terkesiap menatap kecantikan wanita di depannya.


"Aku bisa melihat perbedaan besar, hanya karena kau mengenakan gaun mewah itu, yaah. Aku akui setidaknya kau terlihat seperti seorang putri bangsawan." Ucap Ronald, dia menopang dagu sambil menilai gaun indah yang dikenakan Leona.


"Kau terlihat sangat cantik, Leona." Ucap Jastin.


"Benarkah, aku hanya tidak terbiasa mengenakan gaun mahal seperti ini." Ucapnya sambil memutar gaunnya yang indah.


"Sekarang kita tidak memiliki banyak waktu, pesta sejak tadi sudah berlangsung, kita harus bergegas." Ronald dengan cepat naik ke atas kereta, dia yang akan menjadi kusir keretanya, sedangkan Jastin membantu Leona naik ke atas kereta dan menutupnya. Dia lalu duduk di samping Ronald.


Kereta melaju cukup cepat, Leona harus hadir di sana tepat waktu jika tidak, mereka tidak memiliki kesempatan. Akhirnya mereka tiba di depan kastil tuan Windsor. Leona keluar dari dalam kereta, dia ingin masuk tetapi tertahan oleh dua penjaga yang meminta kartu undangan resmi dari kediaman Windsor atau Alexander.


"Undangan anda, Nona. Kami tidak bisa membiarkan siapapun masuk tanpa undangan resmi dari dua keluarga." Ucap pria berpakaian prajurit dengan suara datar dan kaku.


"Tsk, mereka terlalu arogan hanya karena sebuah pesta." Gumam Ronald.


Ronald berdiri di depan kedua prajurit dan membisikkan sesuatu kepada mereka. "B-baik tuan, silahkan masuk." Ucap dua prajurit itu terlihat ketakutan.


"Hei, apa yang kau katakan kepada mereka berdua?" Tanya Jastin terlihat heran, Ronald tersenyum puas.


"Sederhana saja. Aku hanya katakan kepada penjaga itu bahwa kita perompak dari utara, mereka akan mengerti apa maksudnya jika aku mengatakan seorang perompak, dia menganggapku salah satu anak buah tuan Sean Nicholas Hoult, mereka tidak bisa berkutik jika aku menyebutkkan namanya."


"Sepertinya pestanya di adakan disana, cepatlah Leona, di dalam ada Edmund yang menunggumu." Ucap Jastin menepuk punggungnya memberi semangat.


"B-baik, aku pergi." Leona berlari-lari kecil dan akhirnya tiba di depan pintu utama, di dalam terlihat sangat ramai tetapi tidak terdengar apapun, hanya beberapa suara saja yang terdengar. Leona masuk dan menyusup di antara orang-orang dan akhirnya mendengarkan suara pria yang dirindukannya.


"Bagaimana Edmund, apa kau tidak memiliki alasan lain? jika tidak, aku sebagai bibimu akan mencarikanmu seorang gadis yang cocok untukmu.


"Seperti yang saya katakan bibi, berikan saya waktu dan ...."


"EDMUND ....


Semua orang berbalik dan menatap seorang gadis berteriak. Mereka semua menatap Leona. Dia akhirnya bisa melihatnya, rasa kehilangan karena yakin dia tidak akan bisa menemuinya lagi, membuat Leona tanpa pikir panjang berlari di ruangan besar itu hingga mencapai Edmund, dan ketika Edmund menatap ke arah Leona dengan wajah yang juga sama terkejutnya, dia melompat dan langsung memeluknya erat.


"Edmund. Aku sangat merindukanmu." Ucap Leona.


"L-leona? Bagaimana mungkin ...." Edmund balas memeluk Leona dan setelah itu memegang kedua bahunya untuk memastikan bahwa dia benar-benar Leona.


Dengan wajah merona dan air mata menggenang di pipi cantiknya, akhirnya Edmund bisa melihat wajah yang sangat di rindukannya. "Aku ... menyusulmu, aku tidak bisa bertahan hanya menunggumu saja, jadi aku menyusulmu." Ucap Leona. Edmund tersenyum dan memegang tangan Leona dan berjalan pelan ke depan Empress yang terkejut.


"Yang mulia, maafkan kami. Perkenalkan dia adalah Leona Lewstin, istriku." Ucap Edmund sedikit membungkuk. Leona turut membungkuk ketika melihat Edmund memberi hormat seperti itu.


Sean dan Laura berdiri tidak jauh dari sana, terlihat Laura mentautkan tangannya melihat adegan mesra antara Edmund dan istrinya, dia turut senang bahwa akhirnya dia menemukan wanita yang tepat untuknya, sementara Sean terlihat memikirkan sesuatu ketika mendengar nama Lewstin.


"Ada apa sayang?" Tanya Laura kepada Sean.


"Nama itu sangat aku kenal, tetapi mungkin nama Lewstin banyak di kota ini, karena setahuku Lewstin adalah seorang bajak laut dari selatan, dia termasuk partner kerjaku juga teman baikku selama di lautan."


"Apakah benar kau telah menikah dengan Edmund Alexander, Nona Lewstin?"


Leona terkejut, dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana tata cara menjawab dan cara memberi hormat kepada orang penting kerajaan. Edmund mengangguk memberi semangat, Leona membungkukkan sedikit punggungnya, dan menjawabnya.


"I-iya yang mulia." Ucapnya.


Edmund lalu memegang tangannya. "Kau berasal dari keluarga bangsawan mana? Sampai sekarang aku belum mendengar nama Lewstin di kota Cambridge." Tiba-tiba di sampingnya seorang wanita membisikkannya sesuatu.

__ADS_1


"Ah, kau berasal dari pulau tempat Edmund menghilang? dan kau yang menolongnya, Benarkah itu?"


"Iya yang mulia, Leona menolongku, dan kami akhirnya menikah."


Edmund berdiri di sana, ingin mendengar siapa saja yang berani bicara dan menentang pernikahan mereka, hanya terdengar bisik-bisik dari berbagai arah sejak tadi. "Edmund, kau tahu bagaimana peraturan kerajaan kita bukan? Tidak ada anggota keluarga kerajaan yang menikah dengan penduduk biasa apalagi dia berasal dari sebuah pulau terpencil." Ucap Empress saat itu juga. Edmund memegang erat tangan Leona.


"Ya, saya mengetahuinya yang mulia."


"Pernikahan kalian di kota ini secara hukum belum bisa di resmikan sebagai pernikahan sah, pembicaraan ini akan kita lanjutkan nanti di antara keluarga Windsor dan Alexander, untuk sekarang saya kira sudah cukup, bagaimana kalau kita mulai pestanya.


Wajah Leona memerah karena semua orang memandangnya, dia menjadi pusat perhatian orang-orang di pesta itu, membuatnya tidak nyaman. Edmund tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menggenggam tangan Leona dengan erat, dia tidak membiarkan siapa saja mendekati mereka, wajahnya terlihat mengerikan, ketika ada yang berani menghalangi jalannya.


"Edmund, kau baik-baik saja?" Ucap Leona ketika merasa tangannya terasa sakit karena genggaman erat tangan Edmund. Dia lalu tersenyum dan memegang pinggang Loena lebih dekat kepadanya.


"Edmund ! kau ingin kemana? ini pestamu, kenapa kau pergi begitu saja?" Ucap seorang wanita paruh baya yang memiliki rambut yang sama dengan Edmund.


"Aku akan membawa Leona beristirahat."


Ah, dia pasti ibu Edmund, apa yang harus kukatakan?


Leona mencoba menyapa wanita itu tetapi Edmund membawanya pergi sejauh mungkin dari pesta yang membuatnya marah dan jengkel. Dia memegang tangan Leona dan berjalan menjauhi keramaian di pesta itu.


"Edmund, seharusnya kau memberikan kesempatan untukku menyapa ibumu." Ucap Leona berusaha menyeimbangkan langkah Edmund. Dia akhirnya berhenti di sebuah taman, dan berbalik kepada Leona, Tanpa mengucapkan apapun, dia memeluk Leona, pelukannya sangat erat hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua. "Edmund, kau baik-baik saja, kau mabuk ya?" Ucap Leona, hal itu membuat Edmund terkekeh.


"Kau betul-betul Leona, aku pikir telah bermimpi dan membayangkan kau ada di pesta itu, kau tahu bagaimana aku menahan diriku untuk tidak memelukmu dengan erat di sana?" Ucapnya sambil mengangkat tubuh Leona hingga kakinya melayang di udara.


"Aku ... sangat merindukanmu, jadi aku menyusulmu, aku tidak bisa hanya menunggumu di pulau Zaudett, bagaimana jika kau datang ketika aku sudah menua?" Ucap Leona malu-malu.


"Aku tidak akan membuatmu menunggu selama itu." Bisik Edmund.


"Tsk, jangan pedulikan mengenai peraturan itu, biar aku yang akan mengurusnya, biar bagaiamanapun kau telah menjadi istriku." Ucap Edmund sambil menarik dagu Leona.


Tiba-tiba dia tersenyum ketika menatap Leona. "Jadi kau merindukanku, sampai kau berani meninggalkan pulaumu dan melintasi lautan mengerikan karena merindukanku?" Ucap Edmund.


"Uh, siapa yang bilang merindukanmu, aku hanya ... hanya ingin melihatmu saja." Leona memalingkan wajahnya, Edmund selalu membuatnya malu, dan merona.


"Aku mencintaimu Leona."


Leona berbalik ketika mendengar ucapan itu dari Edmund, seketika wajahnya memerah dan merona. Edmund lalu tersenyum tipis dan mulai terkekeh.


"Apa kau ingin aku mengatakan kalimat itu kepadamu?"


"A-apa? kau ... kau !" Leona melepaskan pegangan tangannya dan menendang kakinya. Leona berjalan menjauh darinya.


"Aku sangat serius dan kau bercanda, jangan mendekatiku, Edmund bodoh." Ucap Leona jengkel sambil menjauh darinya.


"Hei, tidak ada yang mengatakan bodoh kepadaku, jika prajurit mendengarnya mereka akan di bawa ke penjara bawah tanah."


"Tsk, siapa yang peduli." Ucapnya marah.


"Jangan marah, aku hanya bercanda. Aku sangat merindukan wajahmu yang cemberut." Ucap Edmund sambil menghalangi langkah Leona yang ingin pergi darinya.


"Aku mencintaimu."


Leona menatap mata coklat itu, wajahnya serius dengan tatapan yang tajam. "Aku bersungguh-sungguh Leona, kau tidak mempercayaiku?" Edmund mengangkat tangannya mengambil rambut Alyena yang menempel di keningnya.

__ADS_1


"Setiap hari hanya kau yang selalu berputar-putar di kepalaku, kau tidak tahu bagaimana aku ingin sekali kembali ke pulau Zaudett ketika aku di tawan di atas kapal oleh bajak laut itu, aku tidak ingin membiarkanmu sendiri lagi." Ucap Edmund sambil mengusap pipi Leona dan memegang pinggangnya agar dia tidak bisa menghindarinya.


"Hanya kau Leona, hanya kau yang selalu kupikirkan, setiap hari." Ucapnya. Leona menatapnya dengan wajah cemberut, membuat Edmund ingin tertawa melihat ekspresi wajahnya.


"Jika kau bercanda lagi, aku akan langsung pergi darimu." Ancamnya. Edmund tersenyum tipis.


"Aku minta maaf Nona Leona, tapi kau berada di kotaku, di teritoriku, siapapun tidak bisa melarikan diri dariku meskipun dia ingin lari sejauh mungkin, apalagi kau Nona dari pulau Zaudett. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku, kau sudah terperangkap denganku, tidak ada yang bisa lolos dariku jika aku sudah menginginkannya."


Ucapan Edmund membuat Leona kembali merona, dia menarik jas bagian depan Edmund dan memeluknya. Edmund lalu mencium Leona dengan segenap kekuatannya, dia mencurahkan segala kerinduannya kepada Leona dengan ciuman panasnya, seakan ciuman saja tidak cukup bagi Edmund untuk membuat Leona merasakan bagaimana dia begitu menginginkannya.


"Ekhem ehhem."


Suara itu tidak jauh dari mereka berdua. Edmund melepaskan ciumannya dan menatap mereka yang berdiri di sana, tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri.


"Tch, kalian mengganggu saja." Ucap Edmund kepada Ronald dan Jastin yang akhirnya mendatangi keduanya, sejak tadi mereka menunggunya untuk berhenti berciuman, tetapi karena tidak ada tanda-tanda mereka akan berhenti, jadi Ronald sengaja mengganggu mereka.


"Cari kamar, kalian akan mengganggu orang-orang yang lewat." Ucapnya sambil bersedekap.


Leona merona dan menyembunyikan wajahnya di dada Edmund, dia mengambil napas dalam-dalam karena sejak tadi dia sangat membutuhkan oksigen.


"Ada pesan dari kapten Lewstin, dia ingin bertemu kalian berdua besok siang, di restaurant terkenal di kota ini, kau pasti tahu kan tempatnya." Ucap Ronald.


"Oke kami akan datang." Matanya tertuju kepada Jastin yang berdiri di sana dengan wajah datar di belakang Ronald, dia kemudian berjalan dan berdiri di depan Edmund.


"Jaga Leona dengan baik, jangan membuatnya bersedih apalagi kami telah mendengar masalah status-status itu, jangan karena statusmu sebagai anggota kerajaan sampai membuat Leona menangis dan bersedih. Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan membawanya pergi darimu." Ucap Jastin tajam.


"Oh ya, bukan hanya Jastin saja, tetapi Kapten mengatakan akan menculik Leona darimu jika kau tidak menjaganya dengan baik, Edmund."


"Kalian beraninya mengancam, aku akan membunuh siapa saja yang berani mengambil milikku, sekarang Leona adalah milikku, tanggung jawabku, kalian tidak bisa ikut campur urusan rumah tangga orang lain." Ucap Edmund menatap mereka dengan marah.


"Tch, Pemarah sekali, oke kami akan pergi, kami pergi Leona, jaga dirimu baik-baik." Ucap Ronald dan Jastin. Leona melambaikan tangannya kepada mereka berdua.


Edmund lalu memeluknya dari belakang. "Jangan pikirkan semua yang kau dengar di pesta tadi, biar aku yang mengurus semuanya." Dia membawa Leona menjauh dari keramaian kediaman Windsor, dia membawanya ke mansion miliknya yang tidak jauh dari kastil milik pamannya.


Mereka masuk ke dalam kereta kuda yang akan mengantar mereka ke mansion, sepanjang jalan Edmund tidak melepaskan Leona, dia akhirnya menghentikan ciumannya ketika Leona kesulitan bernapas. Napas mereka beradu dengab panas. Edmund tidak sabar ingin tiba di mansion secepatnya.


***


Wanita itu menggigit ujung jari-jarinya lalu menghentak keras kakinya. Dia sejak tadi berjalan hilir mudik dari depan taman mencari sosok mereka berdua, dan dia tidak menemukannya.


"Sialan, saat penting seperti ini, kenapa wanita yang tidak jelas asal usulnya itu datang mengganggu rencanaku, tetapi aku masih memiliki peluang, pernikahan mereka belum dinyatakan resmi di kota ini, apalagi wanita itu berasal dari pulau yang tidak jelas."


"Ada apa Soffia, kenapa sejak tadi kau bergumam-gumam mengerikan di sana." Suara itu membuat wanita itu berbalik dan menatap kenan yang berjalan ke arahnya sambil menatapnya, dia memiringkan kepalanya lalu menilainya.


"Kau mau mendengarkan nasehat penting dariku? demi kebaikanmu sendiri, lupakan rencana yang telah tersusun di kepalamu itu. Jika kau merencanakan sesuatu yang membuat Edmund marah, bersiaplah menghadapi resikonya, tetapi jika kau berani mengambil resiko itu, kau harus siap menerima konsekuensinya kelak, suatu hari kau akan mengerti dengan ucapanku."


Dia pergi begitu saja setelah menasehati wanita itu. "Ck, bodoh ! Aku bukan tipe yang mudah menyerah hanya karena ucapan remehmu itu, kita akan lihat bagaimana gadis kampung itu menghadapi kerasnya menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan."


***


Malam itu Edmund tidak melepaskan Leona begitu saja, setelah mereka berdua makan malam, dan menghabiskan waktu bercerita di balkon kamar milik Edmund sambil memandang pemandangan kota Cambridge.


Tiba-tiba Edmund menyusupkan tangannya ke dalam kimono tidur Leona dan mengusap perutnya.


Leona terkejut, matanya menatap tajam kepadanya, menginginkannya dengan sangat, dia memberikan kecupan di bibir Leona dengan perlahan.

__ADS_1


Edmund mengangkat tubuh Leona dan membaringkannya di atas tempat tidurnya. Dia bernapas berat dan mulai mencium Leona dengan perlahan, dia menikmati kebersamaan mereka berdua, perlahan Edmund melakukannya dengan lembut tetapi Malam itu Edmund tidak bisa menahan-nahan dirinya lagi, dia ingin menunjukkan betapa besarnya keinginan dan cinta Edmund kepada Leona, hingga Leona merasa Edmund lebih kasar di bandingkan terakhir kali mereka melakukannya. Leonna mencengkram seprai di sekitarnya dengan kuat ketika Edmund melancarkan aksinya.


__ADS_2