Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 46


__ADS_3

Kapal pesiar itu bernama Cruise Whisper of the seas, kapal pesiar mewah raksasa yang memiliki berat 250 ton merupakan kapal milik tuan Kent Windsor yang di pesan langsung dari Norwegia, kapal ini dapat menampung 1400 tamu yang di sebar dalam 3 distrik.


Fasilitas begitu mewah yang di sediakan di kapal itu membuat orang-orang yang naik ke atas kapal berdecak kagum dengan segala kemewahan yang di perlihatkan. Baru kali ini Laura naik ke atas kapal sebesar ini dengan segala kemewahan yang ada, tuan Kent Windsor serta ibu dan ayahnya sudah ada di sana sedang duduk dan bercengkrama bersama tamu lainnya.


Sebentar lagi kapal akan berangkat mengarungi lautan selama sebulan dan akan bersandar di beberapa tempat di Eropa setelah itu kembali lagi ke pelabuhan di Cambridge.


Pernikahan Laura dan Sean akan di selenggarakan besok, Sean Laura dan max sudah berada di ruangan yang telah di sediakan untuk mereka, ruangan khusus yang begitu mewah dan sangat luas serta disuguhi pemandangan yang spektakuler dari kamar mereka karena dapat melihat pemandangan laut yang terbentang luas.


"Ada apa Sean? Kau terlihat gelisah?" Tanya laura yang memperhatikan ekspresi Sean, dia sejak tadi diam dan sorot matanya seakan waspada menatap orang-orang yang hadir di sana.


"Benarkah? Mungkin aku hanya lelah." Bisik Sean.


"Kau lelah? Baru kali ini kau mengakui kau lelah Sean, kau biasanya tidak pernah lelah." Ucap Laura heran dengan kata-kata Sean, sepertinya Sean sedang menyembunyikan sesuatu.


Sean berdiri dan memeluk Laura erat-erat. "Aku mencintaimu." Bisiknya. Laura tersenyum dan balas memeluk Sean.


"Aku juga Sean, mencintaimu."


"Dimana max?" Tanya Sean.


"Dia sedang bersama ayah dan ibu, dia sudah tidak sabar ingin menjelajahi kapal ini." Ucap Laura.


Sean tiba-tiba mengangkat Laura dan membaringkannya di atas tempat tidur. Lalu menyerang bibirnya hingga Laura mengeluh karena ciuman sean yang kasar.


"Bukankah kau lelah Sean?" Tanya Laura menaikkan satu alisnya, senyuman Sean mengembang.


"Aku tidak akan pernah lelah untuk yang satu ini." Bisik Sean yang mulai menjelajahi tubuh Laura dan melepaskan perlahan dress-nya yang panjang hingga tubuhnya terpampang di hadapan Sean.


"Max perlu adik jadi aku harus usaha bukan?" Ucap Sean kembali menutup bibir Laura dan memanjakannya dengan ciuman lembut perlahan hingga begitu dalam. Laura sudah tidak sabar menunggu hujaman Sean, beberapa keluhan terdengar dari bibir Laura ketika Sean menggodanya.


"Sean?!" Ucap Laura lalu balas mencium Sean dengan napas memburu. Ketika sean mulai bergerak cepat dengan irama yang diinginkan Laura, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya.


Sean masih bergerak keras sementara suara ketukan dari luar pintu kembali terdengar keras.


"Mommy Daddy??" Ucap max.


Suara max terdengar oleh Sean tetapi kali ini dia tidak bisa menghentikan apa yang tengah di lakukannya.

__ADS_1


Terdengar suara seorang wanita mengatakan kepada max untuk datang nanti saja, Sepertinya itu suara ibu Laura yang mengantar max ke kamar Sean dan Laura.


"Max bermain dengan nenek saja, bagaimana? Sepertinya ayah dan ibumu sedang sibuk." Ucap Scarlett.


"Sibuk??" Ucap max merajuk tetapi akhirnya pergi bersama ibu Laura.


Suara Laura menggema di kamar itu, Sean masih tidak melepaskannya hingga Laura mengeluh dan mencoba mendorongnya. "Sean ukh cukup..." Ucap Laura dengan napas yang memburu dan tubuh yang bergerak kasar.


Sean seperti tidak mendengarkan permintaan Laura yang sudah letih dan tubuhnya tidak bisa menanggung lagi hujaman Sean yang seperti orang kesetanan, dia bergerak kasar dan menuntut, tubuhnya sekali lagi bergetar hebat seakan membawanya ke tepi jurang ketika mendapatkan pelepasannya.


Sean masih tidak berhenti, dia mencium Laura begitu ganas, membuat Laura terkejut karena Sean begitu kasar kepadanya, hal seperti ini pernah Laura alami ketika Sean melakukannya di kapal dahulu ketika dia masih menjadi seorang perompak.


Pada akhirnya Laura tidak bisa menanggung lagi hujaman Sean dan beberapa kali teriakan-teriakannya hingga dia jatuh pingsan.


Laura terbangun dengan tubuh yang seakan remuk dan sakit di bagian sensitifnya, dia tidak mampu menggerakkan kakinya, setiap kali bergerak dia berjengit karena perih yang dirasakannya.


Laura menatap ke luar jendela, hari sudah malam, dia melewatkan makan siang dan makan malam, ini semua karena sean.


Sean baru saja keluar dari kamar mandi dan terlihat segar dia segera mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaiannya, Sean lalu menatap tubuh polos Laura dan segera mengambil selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Kau sudah bangun sayang." Ucap Sean mengecup pipi Laura. Dia berjongkok di hadapan Laura dan melihat wajah Laura yang marah kepadanya.


Sean terkejut, dia tidak menyangka laura akan menangis karena perbuatannya, dia menyadari kesalahan dirinya yang terlalu kasar kepada Laura, tubuhnya begitu tegang karena orang-orang Walter sudah menyelinap ke kapal pesiar ini dan tentu saja Sean harus waspada.


Laura tidak mau memandang Sean, dia masih menangis. Sean menatap wajah Laura, dia lalu menggendong Laura dan membawanya ke kamar mandi lalu mendudukkannya di bathtub agar perihnya dapat hilang.


"Aku ingin sendiri." Bisik Laura.


"Tidak, aku akan disini sampai kau selesai." Ucap Sean menatap tajam Laura. Dia ikut bergabung bersama Laura padahal dia sudah mandi sehingga seluruh bajunya basah semua, dia memeluk erat tubuh Laura.


"Laura, maafkan aku sayang." Bisik Sean di tengkuknya.


Laura tidak bergerak, dia tidak berkata apa-apa, dia marah kepada Sean karena tidak mendengarkan permohonannya untuk berhenti.


Mereka berdua terdiam, Sean berusaha membujuk Laura tetapi dia tidak menggubrisnya, dia masih marah kepada Sean. Setelah beberapa lama di dalam bathub, Sean akhirnya berdiri dan mengangkat laura lalu membawanya ke tempat tidur, setelah itu dia mengeringkan tubuhnya dan tubuh Laura dengan handuk.


Sean mengambil dress Laura di dalam lemari dan memakaikannya perlahan lalu menatap laura berharap dia tidak marah lagi.

__ADS_1


"Masih sakit?" Tanya Sean.


Laura tidak mau menjawabnya, dia mendiamkan Sean dan juga tidak mau memandangnya. Sean menatap Laura begitu lama, dia kemudian berdiri lalu mengganti bajunya yang basah dan keluar dari kamar.


Tubuh Laura sudah semakin membaik perihnya sudah hilang, entah mengapa dia ingin sendiri dan menangis saja, tubuhnya juga begitu sensitif, Laura hanya ingin marah-marah kepada Sean. Tiba-tiba perutnya mual dan pusing dia berjalan menuju kamar mandi tetapi dia tidak sanggup ke sana, dia terjatuh dan akhirnya pingsan.


Sean kembali dengan membawa makanan, dia membuka pintu kamar lalu terkejut ketika melihat laura yang jatuh pingsan.


~


"Dia sedang hamil tuan, usia kandungannya sudah seminggu." Ucap dokter itu, Sean terkejut mendengarnya.


"Be.. benarkah?" Ucap Sean yang khawatir dengan kandungan Laura karena tindakan kasarnya tadi ketika mereka bercinta.


"Dokter, apakah tubuhnya tidak apa-apa jika kami melakukan **** ketika dia sedang mengandung?" Tanya Sean.


"Tidak apa-apa selama kalian melakukannya dengan aman dan kandungan istri anda tidak lemah, aman untuk dilakukan tetapi sebaiknya perhatikan kondisi tubuhnya, karena tubuh ibu hamil itu sangat sensitif." Ucap dokter itu, setelah menjelaskan beberapa hal kepada sean, akhirnya dokter itu pergi.


Laura membuka matanya dan menatap Sean yang duduk di sampingnya sambil memegang tangannya.


"Kau masih marah?" Tanya Sean. Laura menatap Sean lalu menggeleng perlahan.


"Jangan marah sayang, aku minta maaf karena tindakan kasarku, aku tidak akan....


"Jangan minta maaf Sean, aku tidak ingin kau menahannya, aku ingin dirimu seluruhnya, aku tidak lemah Sean." Bisik Laura, dia tidak ingin Sean menahan-nahan dirinya ketika mereka sedang bercinta.


Sean tersenyum, lalu ikut berbaring di samping Laura. "kali ini aku harus menahannya tentu saja, karena aku tidak ingin menyakiti bayi kita." Bisik Sean kepada Laura membuatnya tiba-tiba berbalik lalu menatapnya.


"Bayi?" Ucap Laura.


"Ya sayang, kau sedang hamil." Ucap Sean memeluk erat Laura.


"Benarkah??" Ucap Laura dengan wajah tersenyum senang.


"Benarkah??" Suara itu mengagetkan mereka berdua, Sean lupa mengunci pintu kamarnya. Mereka menatap ibu Laura yang tersenyum bahagia dan max yang sedang berdiri di ambang pintu mendengarkan percakapan mereka.


"Bayi?? Apakah dia laki-laki atau perempuan dad? Aku harap adikku tidak merepotkanku nanti." Ucap max dengan wajah pura-pura tidak perduli.

__ADS_1


@


Jangan lupa yaaa tmn2 readers πŸ’• tekan like, vote serta comentnya πŸ‘πŸ™„πŸ˜Š slalu ku tunggu...


__ADS_2