
Pertemuan diantara awak-awak kapal Sean berlangsung cukup lama, hal itu membuat Laura begitu khawatir, dia menunggu Sean di kamarnya. Laura menatap jam yang tergeletak di atas meja, tepat pukul 1 malam.
"Mengapa Sean belum kembali juga?" Ucap Laura dengan cemas.
Sean mengakhiri pertemuannya dengan awak-awak kapalnya setelah menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, diapun akhirnya pulang dengan kereta kudanya.
"Sudah larut begini? Laura pasti akan marah, aku sudah berjanji agar pulang lebih awal." Ucap Sean memandang pemandangan malam yang sepi dari dalam kereta kudanya.
Kereta tiba-tiba berhenti di dekat hutan yang gelap, Sean menatap kusir yang ada di depannya.
"Ada apa? Mengapa kereta berhenti." Tanyanya.
Suara ribut-ribut itu membuat Sean keluar dari keretanya, terdengar suara kekehan beberapa pria dengan tubuh besar menatap sean.
"Sean Nicholas Hoult bukan?" Ucap pria tinggi besar dengan mata tertutup perban. "Sudah begitu lama kita tidak bertemu, kau ingat luka ini? Ulahmu ini yang akan menjadi kematianmu kali ini." Ucapnya.
Sean terkekeh, tanpa mengucapkan sepatah kata, Sean menyerang keempat pembajak yang merupakan musuh Sean dahulu sejak dia menjadi perompak. Tidak butuh waktu lama Sean dapat menghabisi mereka semua.
"Kita pergi."
Ucap Sean pada kusir kuda yang ketakutan melihat perkelahian itu. mereka semua bergelimpangan di tanah dengan mengaduh kesakitan, meskipun Sean bukan perompak lagi, tetapi dirinya yang liar dan hebat dalam bertarung tidak pernah terlupa, kecakapannya dan kelihaiannya dalam menyerang musuh melekat di dirinya, dia masih sama hebatnya ketika dia masih menjadi seorang perompak.
"Mengapa mereka ada di sini? Siapa yang memerintah mereka untuk menyerangku?" Ucap Sean.
Sean tiba di kediaman tuan Kent Windsor, sudah begitu larut ketika dia sampai. Sean berjalan menuju ke dalam kastil megah itu, nampak seorang pelayan wanita tengah berdiri di koridor. Wajahnya cukup cantik dengan rambut pirangnya, kancing bagian atas terbuka lebar dengan sengaja memperlihatkan dadanya yang begitu menyembul.
"Malam tuan hoult, apakah anda ingin makan malam? Aku akan menyediakannya." Ucap wanita itu dengan berani.
Tanpa menunduk pelayan wanita itu menatap langsung ke wajah Sean.
"Tidak perlu." Ucap Sean tanpa menatapnya dan kembali berjalan menuju ruangannya.
Sean berjalan meninggalkan pelayan mencurigakan itu, dia mengerlingnya dan melihat wajahnya, baru kali ini ada seorang pelayan yang begitu berani berbicara seperti itu, Sean mencurigainya, setelah pembajak, sekarang seorang pelayan wanita? Sean yakin seseorang dengan sengaja melakukan ini, Siapa dalangnya?
"Ck, ini semakin menarik !" Bisik wanita itu tersenyum miring.
Sean masuk kedalam kamar dan mendapati Laura yang tertidur pulas di atas sofa dengan buku yang hampir jatuh di tangannya. Sean menghampiri Laura dan menggendongnya lalu membaringkannya ke tempat tidur.
Laura terbangun dan mendapati Sean sedang membaringkannya di atas tempat tidur.
"kau baru pulang Sean? Mengapa kau lama sekali?" Tanyanya.
Sean melepaskan mantelnya dan menggantungkannya lalu melepaskan kemejanya. Laura terduduk di atas tempat tidur, menatap Sean yang masih sibuk membuka pakaiannya.
"Aku terlalu lama bercakap-cakap dengan yang lainnya sayang sampai lupa waktu." Ucap Sean.
__ADS_1
"Kau sudah makan malam?" Tanya Laura.
"Sudah Laura, jangan khawatir."
Sean masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ingatannya kembali kepada pembajak yang menghalanginya tadi, dia yakin seseorang merencanakan semua ini, tapi siapa? Sean tahu musuhnya ada dimana-mana dan mereka memiliki dendam kepadanya.
Sean keluar dari kamar mandi dan melihat Laura sudah terlelap, dia naik ke atas tempat tidur dan menarik Laura ke dalam pelukannya.
~
Pagi itu udara begitu segar, Laura terbangun pagi-pagi sekali, lalu mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Laura mengernyitkan alisnya berpikir siapa pagi-pagi sekali mengetuk pintu kamarnya.
Seorang pelayan wanita tengah membawa sarapan kepada mereka, tetapi anehnya sarapan yang di sajikan hanya untuk satu orang saja.
Laura menatap wanita berpenampilan seksi itu meskipun pakaian yang dikenakannya masih pakaian pelayan di kediaman kakeknya.
"Aku membawakan sarapan untuk tuan Sean, karena semalam mungkin tuan Sean tidak makan dan....
Laura menyilangkan kedua tangannya lalu menatap tajam kepadanya dari ujung kaki hingga ke wajahnya, wanita ini dengan sengaja melepaskan beberapa kancing baju atasnya, hingga memperlihatkan dadanya yang besar menonjol keluar.
"Siapa yang memerintahkanmu membawa sarapan untuknya? Aku tidak memintanya, dan berani sekali kau memanggilnya dengan namanya." Ucap Laura tajam.
"Aku hanya khawatir terhadap keadaannya." Ucapnya tanpa merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.
Laura maju beberapa langkah dia begitu dekat dengan wanita pelayan ini.
"Tidak ada yang menyuruhku nyonya, aku sendiri yang ingin melakukannya karena aku khawatir....
Sebuah tamparan keras melayang di pipi pelayan wanita itu, dia segera memegang pipinya.
"Siapa kau mengkhawatirkannya?" Laura begitu marah melihat tingkah wanita ini, mengapa dia begitu berani mengganggu Sean terang-terangan di hadapannya, apakah dia begitu memandang rendah kepadanya? Sehingga dengan berani ingin merayu Sean.
"Lagi pula aku mengenal semua pelayan yang ada di sini, siapa kau? Aku akan membicarakan ini dengan tuan Windsor agar memecat pelayan tidak tahu malu sepertimu."
Wajah wanita itu memerah, dia masih memandang Laura dengan tatapan benci.
"Ck, baiklah..cukup ! Aku tidak mau bermain lagi, aku bosan dengan suruhan-suruhannya meskipun dia membayarku cukup tinggi tentu saja, katakan padanya aku berhenti, aku tidak mau berurusan dengan tuan Kent windsor." Ucap wanita itu dan dia segera pergi meninggalkan Laura yang berdiri menatap kepergiannya.
"Apa maksudnya? Siapa yang menyuruhnya?" Ucap Laura sambil menggigit-gigit kukunya.
Max mengendap-endap di belakang ibunya dan memeluk kakinya dari belakang.
"Mommy?!" Teriak max sehingga Laura terkejut.
"Max?? Kau mengangetkan mommy." Ucap Laura memegang dadanya. "Bayi kecilku sudah bangun?" Ucap Laura menggendong max dan mengecup pipinya.
__ADS_1
"Aku bukan bayi, mommy. Max sudah besar." Ucapnya serak karena baru saja bangun tidur.
"Tetapi kau tetap bayi kecilku max." Bisik Laura dan menggelitik tubuh max hingga suara tawanya membangunkan Sean, dia sekarang sudah bangun dan segera menghampiri keduanya.
"Mengapa suaramu begitu keras Laura sayang, aku mendengarmu marah-marah, ini beberapa kalinya aku mendengar suara marahmu." tanya Sean sambil bersandar di tempat tidurnya. Max melompat di pangkuan ayahnya dan memeluknya erat.
"Bukan apa-apa, cuma seorang wanita yang membawakan sarapanmu, dan hanya sarapanmu saja." ucap Laura tajam. "Sepertinya Seseorang memerintahkan wanita itu untuk merayumu, apalagi wanita itu cantik dan seksi". ucap Laura dengan ketus.
Sean menarik tangan Laura dan memeluknya.
"Jangan marah sayang, mereka bukan apa-apa untukku, secantik apapun dia." bisik Sean sambil mengecup rahang Laura yang masih jengkel dengan wanita tadi.
"Aku suka melihat wanita cantik, tapi cantiknya harus seperti mommy." ucap max nimbrung.
"Benarkah?? berarti max mirip dengan daddy." ucap Sean sambil menggelitik max yang tertawa- tawa senang.
~
"Kalian semua bodoh ! sebenarnya apa yang kalian kerjakan? untuk mengurus satu orang saja kalian tidak becus." teriak Edmund, Jon Walter duduk di kursi sambil menggeleng menatap wajah mereka yang sudah babak belur akibat pukulan Sean semalam.
"Dia terlalu kuat sir, kemampuannya yang terkenal sebagai perompak Sepertinya belum hilang." ucap salah satu pria itu.
"Hmph, bilang saja kalau kalian semua pengecut." ujar Jon Walter.
"Sepertinya aku harus turun tangan kali ini, wanita yang kuperintahkan mengganggu Sean juga tidak berhasil, aku akan bertemu langsung dengan Sean, aku punya rencana yang lebih menarik." ucap Jon Walter.
~
Hari ini akan di adakan pesta untuk menyambut kesembuhan Nyonya Scarlett, Karena semakin hari kesehatannya semakin membaik, tuan Windsor ingin merayakan hari kegembiraan ini dengan mengundang seluruh keluarganya.
"Tuan Windsor suka sekali berpesta." ucap Sean.
"Ya, tetapi pesta yang di adakannya bukan tanpa alasan Sean, kata pelayan di sini setiap ada kabar yang membahagiakan dia pasti membuat pesta dan mengundang keluarga besarnya.
"Oh ya? jadi, kapan pesta pernikahan kita akan di selenggarakan?" tanya Sean.
"Setelah pesta ini Sean, kakek juga ingin mengadakannya dengan cepat sayang." bisik Laura.
Malam itu begitu ramai di kediaman tuan Kent windsor, para tamu undangan yang merupakan kerabatnya sendiri berkumpul di sana, Edmund hadir dengan seorang wanita dan dia mengundang Jon Walter ke acara itu dan hal tersebut membuat wajah tuan Kent Windsor menatap tidak suka dengan kehadiran teman Edmund itu.
"Menarik, aku betul-betul ingin melihat calon isteri Sean, sampai-sampai kau melakukan semua ini hanya untuk wanita itu." ucap jon. wanita yang bergelayut di tangannya kemudian menatap Jon Walter.
"Sean hadir di sini? benarkah?" tanyanya.
"Ya Rianna, tentu kau masih mengingatnya bukan? dia dulu menyukaimu sebelum dia menjadi seorang perompak, dan sekarang dia hadir di sini sebagai calon menantu keluarga Kent windsor." ucap jon dengan wajah benci.
__ADS_1
"Menarik, aku ingin bertemu dengannya, sudah begitu lama aku tidak berjumpa dengan Sean." Ucap wanita itu sambil tersenyum tipis.