Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 57


__ADS_3

Sebuah kapal besar dengan bendera dengan gambar tengkorak berkibar di tengah-tengah lautan, tidak ada yang mengira kapal raksasa itu bisa mengarungi lautan dan akan melewati pusaran air yang keras dari arah selatan, nasib kapal dan para penumpang kapal hanya ada dua kemungkinan, mereka akan selamat dari pusaran air yang mengalir hingga membentuk lingkaran besar, atau mereka akan masuk ke dalam pusaran air mengerikan dan mati di telan lautan yang gelap dan menyeramkan.


Tidak ada yang akan tahu nasib mereka. Seorang pria berjalan pelan mendekati seseorang yang sedang berdiri di atas geladak.


"Kapten, apa kapten yakin akan melewati pusaran air itu? bagaimanapun resiko yang akan anda ambil sangatlah besar kapten." Ucap seorang pria dengan dingin, dia pemuda berwajah tampan dengan mata biru sedalam lautan.


"Kau terlalu khawatir Ronald, kau pikir aku akan ditaklukkan oleh lautan semudah itu? aku tidak akan membiarkannya." Ucapnya.


"Apa tujuan anda pergi ke pulau hilang itu? wanita yang anda cintai telah wafat karena kebenciannya kepada anda."


"Haha, kau selalu tepat sasaran Ron, tetapi aku hanya ingin melihatnya, melihat garis keturunanku satu-satunya, aku ingin lihat seperti apa dia sekarang, atau dia begitu lemahnya sampai dia mati di gulung ombak saat aku menaruhnya di pinggir pantai? jika dia seperti aku, maka dia akan kuat menghadapi apapun, tetapi jika dia seperti ibunya maka dia akan mati dengan menyedihkan." Ucapnya, matanya memandang jauh ke lautan yang bebas, pria itu terkenal diantara para bajak laut, mereka bajak laut yang mengerikan karena mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja, bukan hanya menjarah hasil rampasan kapal, kadang mereka tidak meninggalkan jejak siapapun dari hasil jarahannya.


Dia dikenal dengan nama Kapten Furious Lewstin, seorang bajak laut yang tidak punya hati, apalagi perasaan cinta, tetapi sejak bertemu dengan wanita itu, dia tidak pernah berhenti memikirkannya bahkan dia menculiknya, dan ketika wanitanya wafat karena melahirkan seorang putrinya, dia begitu marah. Saking marahnya kepada bayi kecil tidak berdosa itu, dia menyimpannya di pulau Zaudetta, pulau yang sangat sulit untuk orang-orang berkunjung kesana.


"Yang anda maksudkan putri anda? dia adalah seorang wanita, bagaimana anda mengharapkan dia tumbuh kuat seperti anda, kapten."


Pria itu terkekeh. "Entahlah, tetapi aku ingin melihatnya untuk terakhir kali, setidaknya aku bisa melihat wajahnya sebelum kembali mengarungi lautan sebelum ajal menjemputku."


"Baik kapten, tentu saja kita akan ke pulau itu, bagaimanapun caranya."


***


Siang itu Edmund hanya duduk dan memperhatikan kesibukan Leona, dia sibuk mencuci, memasak dan mencari sayuran, meakipun dia beberapa kali mengatakan kalau dia punya uang untuk membeli apa yang diinginkannya.


"Kau mau kemana?" Tanya Edmund kepada Leona setelah dia mencuci baju dan mengambil keranjang sayurnya lagi.


"Kau mau ke kebun pria itu?"


"Mm, aku ingin mengambil kubis di sana, sepertinya kubis di dalam sudah habis, apalagi siang-siang seperti ini kubis di pasar sudah mulai layu."


"Jangan pergi ke sana, berhenti mencuri dari pria itu."


"Sudah berapa kali aku bilang aku tidak mencuri, sayuran itu aku sendiri yang menanamnya." Ucap Leona dengan jengkel. Suara langkah kaki seseorang terdengar cepat, seorang wanita gemuk dengan mengenakan celemek mendatangi Leona, tiba-tiba saja dia menarik rambutnya dengan kasar, hal itu membuat Leona terkejut.


"Jadi kau pencuri itu, kau yang mencuri kubis-kubisku sampai aku ingin memetiknya, sudan tidak ada lagi, begitupun dengan seladaku." Ucapnya sambil menarik kembali rambut leona dengan keras.


Leona berusaha mendorong wanita gemuk itu dengan keras hingga tubuhnya terpental ke belakang. "Tch sial, aku sudah tidak tahan lagi."

__ADS_1


"Kau bilang apa gadis tengik, kau pencuri menyedihkan."


Leona membelalakkan matanya dan turut memegang kedua pinggangnya, dia memang miskin, uangpun tidak punya, tetapi dia tidak akan membiarkan orang lain dengan seenaknya merendahkan dirinya, meskipun dia adalah ibu dari Latty dan Jastin.


"Mencuri, siapa yang mencuri, aku tidak mencuri, aku yang menanam sayur-sayuran itu di kebunmu, dan aku juga punya hak untuk memetiknya."


"Gadis kurang ajar, dasar gadis j4lang, beraninya berbicara ketika orang tua bicara kepadamu, dia berniat menyerang Leona tetapi dengan segera Edmund memegang tangannya, dan tidak bisa berkutik lagi.


"Kau, lepaskan tanganku, kau pemuda bodoh !"


Edmund hanya bersiul, dia diam dan hanya memperhatikan, dia tidak ingin bertengkar dengan seorang wanita, itu sangat memalukan baginya apalagi dia wanita paruh baya, tetapi dia bisa mengambil tindakan keamanan agar wanita tua ini tidak menyerang Leona.


"Aku memilih siapa orang yang kuhormati dan kuhargai, apa kau berharap saya menghormatimu jika kau memperlakukanku dengan rendah? kau pasti bermimpi, tidak akan, Never." Teriak Leona dengan mata membelalak di depan wajah Nyonya Caron.


Edmund melepaskan tangan wanita itu, dia lalu menggeram hendak menyerang kembali Leona, tetapi Jastin dan Latty tiba-tiba datang dan memegang ibunya.


"Mom kenapa sih, aku yang membiarkan Leona mengambil sayuran di kebun, dia yang membantu aku selama ini menyiramnya dan menjaga agar tanaman itu tumbuh subur dan tidak di rusak oleh hama, apa Mom pernah melihat aku ke kebun? semua itu Leona yang mengerjakannya." Ucap Jastin.


"Jangan mengajariku tentang memberi pelajaran wanita sialan itu, aku ingin menghapusnya dari desa ini, ayahmu pergi meninggalkan kita untuk selamanya gara-gara gadis ini, dia mengajak ayahmu ke pasar malam dan mempertemukannya dengan seorang wanita di sana, kau pikir aku tak tahu? gara-gara dia aku kehilangan cinta ayahmu." Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk Leona.


Leona mengerutkan alisnya, "Saya tidak pernah ke pasar malam bersama tuan Caron, apalagi memperkenalkannya dengan seorang wanita." Ucap Leona bingung. Jastin menepuk jidatnya.


Nyonya Caron menatapnya tidak mengerti. "Jangan menyalahkan dirimu untuk membela gadis tengik ini, Latty."


"Tidak, mom itu sungguh aku yang mengajak Dad kepasar malam sewaktu kecil dulu, aku masih ingat itu, pakaian Leona pada saat itu sama dengan yang aku punya, karena ayah selalu membeli gaun yang sama untukku dan untuk Leona, saat itu aku yang mengajak ayah ke pasar malam dan pada akhirnya bertemu wanita tengik itu. Aku tidak menyangka dengan mengajak ayah kesana adalah sebuah kesalahan besar, karena dia bertemu dengan cinta pertamanya, apalagi wanita itu telah menjanda." Ucap Latty.


Ibunya hanya membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menatap Latty dan Jastin, "Kenapa kau tidak memberitahu ibu?" Latty lalu menunduk.


"A-aku takut mengatakannya, Leona lalu membiarkan dirinya yang dituduh oleh ibu, dia mengatakan bahwa ibu sudah membencinya sejak dia tinggal di rumah kita, jadi sekalian saja dia menerima kesalahan itu tanpa harus menjelaskannya karena tidak ada gunanya ibu tahu bahwa itu aku ataupun Leona."


Leona mendengus dan memperbaiki rambutnya yang telah di tarik, sementara Jastin memperhatikannya dengan tatapan tajam.


"Kalian mempermainkan ibu?" Geramnya, "Aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian semua." Ucap wanita itu, dia lalu pergi dan meninggalkan mereka.


"Maafkan aku Leona, seharusnya sejak dulu aku mengakuinya." Ucap Latty dengan menyesal.


"Bukan masalah, tanpa tahu cerita itupun ibumu pada dasarnya tidak menyukaiku." Ucap Leona sambil memperbaiki rambutnya yang acak-acakan.

__ADS_1


"Kau mau pergi mengambil sayur? sini, biar aku yang menemanimu." Ucap Jastin.


"Tidak, leona lebih baik pergi bersamaku ke pasar, perjalanan panas begini tidak baik untuk tubuhnya."


"Siapa yang bilang, aku akan ke kebun." Ucap Leona, Jastin lalu tersenyum mengejek.


"Tapi aku ingin pergi sendiri, aku tidak mau kalian menemaniku, aku ingin mendinginkan kepalaku. Awas kalau kalian mengikutiku." Ancam Leona, dia lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga dengan canggung.


"S-sebaiknya kami pergi." Ucap Latty, dia menarik tangan Jastin, karena tatapan matanya tidak berpindah kepada Edmund.


***


Sudah 9 hari Edmund telah tinggal di rumah Leona, meskipun Edmund seorang yang berasal dari keluarga bangsawan tetapi semenjak tinggal bersama Leona, sedikit demi sedikit dia bisa beradaptasi dengan kehidupan desa meskipun awalnya sangat sulit, Edmund harus membantu Leona mengerjakan pekerjaan rumah, karena jika tidak, seharian Leona akan mengomelinya, sampai-sampai Edmund merasa Neneknya yang suka mengomel itu sedang bersamanya, karena Leona tidak akan berhenti mengomel kepadanya jika dia hanya bermalas-malasan saja di rumah.


"Ed, jemur pakaian yang sudah kucuci ini, karena hari ini aku akan kepasar pagi-pagi, harganya akan lebih murah jika aku datang pada pagi hari."


Edmund yang masih berbaring hanya mengangkat tangannya, tanda dia mendengarnya. Leona menggelengkan kepalanya lalu segera mengambil keranjangnya dan segera berangkat ke pasar.


"Kalau sampai aku kembali dan pakaian itu belum di jemur, kau akan tidur di luar." Teriak Leona dari luar rumah.


"Ck, gadis itu, seandainya dia berada di istana, dia sudah pasti akan di seret oleh pengawal kalau dia berteriak seperti itu kepadaku." Gumam Edmund, dia lalu mengangkat bokongnya dan memaksakan tubuhnya untuk bangun dan segera menjemur pakaian, jika tidak, Leona betul-betul akan menendangnya keluar.


Setelah menjemur semua pakaian, Edmund segera mandi, dia bermaksud mandi di sungai untuk menyegarkan badannya. Sudah begitu lama dia tidak menyentuh wanita, untuk itu dia harus menenangkan kesehatan jasmaninya dengan mandi air dingin setiap pagi agar dia sadar dan selalu berkepala dingin.


Setelah memakai pakaiannya, terdengar suara ribut-ribut dari luar, Edmund begitu terkejut, dia lalu berjalan cepat keluar dan melihat sekerumunan wanita mendatangi rumahnya.


Edmund berdiri di depan pintu rumah dan melihat Leona ada di sana, dia di pegang segerombolan wanita paruh baya. Edmund berjalan mendekati Leona.


"Ada apa ini?" Tanya Edmund, dia berjalan tenang dan menarik tubuh Leona kearahnya, karena para wanita menyeramkan itu seakan ingin merobek Leona berkeping-keping. Leona tidak terisak ataupun menangis, matanya hanya menatap tajam wanita tukang gosip itu.


Mereka semua sedikit menganga ketika melihat seorang pria sangat tampan


berjalan ke arah mereka dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hei Leona siapa pria tampan itu, kenapa dia berada di rumahmu, Hah?" Tanya salah seorang wanita bertubuh kurus dengan tulang pipi yang tinggi.


"Apa yang kalian lakukan padanya?!" Bentak Edmund, dia begitu geram dengan wanita-wanita yang ada di desa ini. Para wanita itu mundur karena bentakan Edmund.

__ADS_1


Gadis tengik ini mencari-cari masalah dengan Nona Marshmille, dia hendak mengganggu tunangan nona ini, jadi kami hendak memberinya pelajaran." Ucap seorang wanita sambil menunjuk seorang wanita muda berambut hitam yang berdiri di sana, dengan wajah tidak bersalah.


"Apa mata Leona begitu buta mengganggu tunangan orang yang wajahnya biasa saja itu, sementara ada aku tunangannya yang lebih tampan dari lelaki itu, kalau begitu kalian semua bodoh mau dibohongi oleh wanita itu." Ucap Edmund sambil menunjuk Wanita berambut hitam yang terlihat geram dan salah tingkah.


__ADS_2