
Saat ini Leona berada di pelukan Edmund, di dalam kamar Leona. Suara napas mereka terdengar di dalam kamar berukuran kecil itu, hanya jendela kecil yang menjadi penerang di dalam kamar. Mereka masih berpelukan sementara napas mereka sudah mulai berangsur normal.
Edmund masih memeluk Leona, merekatkan pelukannya. "Bagaimana kau bisa menemukan desa terpencil ini sayang?" tanyanya.
"Hm, aku menemukannya begitu saja, meskipun jalanannya rusak, aku tetap memilih tinggal di desa ini, kemungkinan orang yang mencariku ke desa ini sangat kecil. Tapi kau menemukannya." Ucap Leona. Edmund tersenyum mendengarnya.
"Kau tahu berapa desa yang aku lewati untuk mencarimu? Untung saja aku demam. Jika tidak, aku akan meninggalkan desa ini tanpa menemukanmu."
Leona mengangkat kepalanya. Rambutnya tergerai bebas di sisi kanan bahunya. "Jika kau pergi, mungkin kau tidak akan pernah menemukanku, aku sangat pandai bersembunyi."
"Ya aku tahu, kau bahkan bisa membuat rumah pohon dan bersembunyi di sana, itulah mengapa aku sangat khawatir tidak bisa menemukanmu. Kalau nanti kembali ke kota Cambridge, aku akan memberikan hadiah kepada kepala pengawal itu, karena dia membawamu kepadaku."
Leona memeluk Edmund dan meletakkan wajahnya di dadanya. "Dan anehnya kau masih bisa melakukannya meskipun dalam keadaan sakit, dan tidak sadar. Bukankah itu berbahaya, bagaimana jika yang datang bukan aku, apa kau tetap akan menarik wanita lain dan tidur dengannya?" Ucap Leona sambil memukulnya.
Edmund terkekeh. "Malam itu aku bisa mencium wangimu, meskipun aku tidak sadar sepenuhnya, tetapi aku yakin kaulah yang berada di sampingku, jadi aku sama sekali tidak ragu membawamu ke tempat tidur, apalagi kau memanggil namaku seperti biasanya ketika kita bercinta.
Pipi Leona memerah. "A-aku harus bangun dan menyiapkan makan siang, kita berada di dalam kamar seharian, kau bahkan tidak sempat makan pagi dengan benar."
"Aku lebih suka seperti ini, aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu di atas tempat tidur seperti ini. Sudah sangat lama kita tidak menghabiskan waktu seperti ini karena aku sangat sibuk sewaktu di Cambridge, kau bahkan tidak membairkanku menyentuhmu karena kau marah padaku."
"Mm, kau benar. Tapi apa kau masih bisa melakukannya tanpa makan apapun? Maksudku energimu akan berkurang dan staminamu akan ....
"Apa kau meragukanku Nyonya Edmund?" Ucap Edmund sambil menaikkan satu alisnya.
"B-bukan begitu, tapi ....
Leona tidak bisa berkutik, akibat provokasinya, Edmund sekali lagi membuktikan dia sanggup melakukannya, kini dia telah menguasai bibirnya dan menguasai tubuh Leona sepenuhnya.
****
Wanita itu berjalan di taman kediaman Alexander. Dia adalah ibu tiri Edmund. Meskipun mereka sudah mengetahui latar belakang Leona, dan mengetahui bahwa dia juga adalah seorang bangsawan terkenal dan memiliki hubungan baik dengan kerajaan. Tetapi wanita itu masih tidak puas. Dia sudah terlanjur tidak suka pada Leona, apalagi wanita itu pernah melawannya seperti Edmund menatap dirinya dengan wajah permusuhan.
Dia harus memikirkan cara agar wanita itu tersingkir dari kehidupan Alexander. Masih banyak wanita bangsawan lain yang sudi menikah dengan Edmund. Meskipun dia bukan Sofia sekalipun.
"Siapkan pakaian bepergianku, aku ingin pergi ke suatu tempat."
"Baik Nyonya."
kita akan lihat bagaimana wanita itu menyingkir dari kehidupan Edmund. Seorang putri bangsawan dan bajak laut? jangan membuatku tertawa. Ayah Edmund mungkin telah menerimamu dan luluh karenamu tetapi aku tidak. Aku tidak akan membiarkan darah bajak lautmu berakhir dengan keluarga Alexander."
***
Hari itu Leona memasak untuk mereka berdua. Sementara Edmund membantunya memotong-motong sayuran di samping Leona. Sesekali dia mencuri ciuman Leona ketika dia berjalan atau leona tidak sengaja menyenggol tubuhnya di dapur sempit itu. Dan mereka akan berakhir di tempat tidur begitu saja, dan semua akan kembali tertunda karena Edmund enggan melepaskan Leona.
Setelah beberapa kali ancaman, akhirnya Edmund mendengarkan Leona dan mereka makan bersama."
"Leona, kau masih ingin berada di desa ini? Ayahmu dan lainnya ingin bertemu denganmu, mereka mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika kita mengunjungi mereka. Jika kau mau, kita bisa kembali kapan saja ke desa ini."
__ADS_1
Leona mengangguk. "Akupun ingin bertemu dengan Ayah, Jastin dan Ronald. Aku juga ingin bertemu dengan Laura. Dia banyak membantuku." Edmund menghentikan makannya dan memandang Leona dengan perasaan menyesal.
"Maafkan aku Leona, aku tidak tahu keputusanku sangat menyakitimu." Ucap Edmund sambil memegang tangan Leona.
"Mm, waktu itu Kenan yang membawaku ke rumah Laura. Apa dia tidak mengatakan sesuatu kepadamu?" tanyanya.
Edmund tertunduk dan mengingat-ingat pertemuannya dengab Kenan. "Ya, dia mengatakannya kepadaku dengan wajah marah, baru kali ini dia begitu marah kepadaku, wajah marahnya menyeramkan." Ucapnya, membuat Edmund tertawa.
Saat Edmund bersama lagi dengan Leona, dia betul-betul tidak melepaskan pengawasannya kepada istrinya, meskipun Leona sedang mencuci pakaina atau sedang mencuci piring, dia pasti akan membantunya, Leona sedang memperbaiki kebun di halaman rumahnya. Edmund ada di sampingnya ikut melakukan apapun yang Leona lakukan.
"Aku mau ke pasar."
"Tunggu sebentar, aku mau memakai bajuku, aku ikut." Dengan cepat dia memakai bajunya karena sejak tadi dia bertelanjang dada setelah memperbaiki halaman rumah. Leona menatapnya. Keringat mengalir di keningnya.
"Edmund. Kau tidak lelah? lihat, keringatmu banyak sekali." Ucap Leona mengambil saputangannya dan mengusap lembut keringatnya. Dia tersenyum dan tanpa ragu mencium Leona padahal mereka berada di keramaian.
"E-edmund kau kenapa sih, banyak orang di sini." Bisik Leona sambil tertunduk malu karena beberapa orang melihatnya dengan tersenyum-senyum, bahkan mereka saling menyenggol dan ternganga.
"Aku hanya tidak mau kau hilang dari hadapanku. Aku sudah cukup merasakan rasa kehilanganmu, dan itu seakan membunuhku, membuatku kesulitan bernapas, dan terasa hampa, semua yang kulakukan seperti kosong dan tidak memiliki arti apa-apa ketika kau tidak bersamaku. Aku hanya tidak mau kau meninggalkanku lagi." Dia memegang tangan Leona dan menayatukan jari-jari mereka.
"Jadi, aku bisa mengatakan aku akan mati jika sekali lagi kau mencoba meninggalkanku, Leona." Ucap Edmund.
"A-aku tidak akan melakukannya jika saja ide bodohmu itu tidak muncul di kepalamu itu. Tsk, akupun tidak mau pergi, memangnya itu salahku? Salahkan peraturan itu yang membuatmu berpikiran menikahi wanita kodok itu." Ucap Leona dengan jengkel. Meskipun Leona marah kepadanya. Edmund sama sekali tidak mengendurkan jemarinya, dia malah semakin menggenggamnya erat.
"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi. Yang penting kau telah kembali bersamaku." Ucap Leona.
Mereka singgah di beberapa toko dan berbelanja kebutuhan rumah, serta berbagai barang yang di perlukan Leona. Seorang pria tiba-tiba menyapanya. "Hai, bukankah kau nona yang kemarin?" Ucap Seorang pria yang di temuinya di toko ketika dia membeli bibit sayuran.
"Siapa dia Leona?" tanya Edmund.
"Ah, maafkan ketidaksopananku Namaku Vincent Grey." Ucap pria itu mata abu-abunya menatap Edmund dan genggaman tangan Edmund di tangan Leona.
"Perkenalkan dia Edmund Alexander, dia suamiku." Ucap Leona.
"Senang berkenalan dengan anda berdua." Dia menjabat tangan Edmund dan dia akhirnya pergi.
"Baru beberapa hari kau di desa ini dan sekarang kau memiliki kenalan seorang pria?" Edmund menatap Leona sambil menyipitkan matanya.
"Hanya kebetulan saja ketemu sewaktu membeli bibit sayuran." Ucap Leona mengangkat bahunya dan kembali menarik Eemund membeli barang-barang lainnya.
****
Terdengar suara tertawa dari dalam ruangan, kepala pengawal melaporkan bahwa Nyonya Leona telah di temukan dan sekarang ini dia berada bersama Edmund di desa itu.
"Biarkan mereka bersama menghabiskan waktu, anggap saja mereka melakukan bulan madu, agar secepatnya aku memiliki cucu-cucu, aku sudah tidak sabar mendengar kabar baik mereka.
"Kau boleh pergi."
__ADS_1
"Baik tuan."
****
Kepala pelayan itu keluar dari ruangan tuan Alexander dan akan kembali menuju postnya untuk berjaga. Tiba-tiba saja Nyonya Alexander menghalangi jalannya.
"Kepala pengawal Dean, bagaimana kabar menantuku? Aku sungguh mengkhawatirkannya, boleh aku tahu di desa apa menantuku dan Edmund berada?" Ucap Nyonya Alexander dengan wajah sedih.
"Nyonya, mereka berada di Desa Leaf."
"Ah, benarkah? Lain kali aku akan mengunjungi mereka dan membawakan makanan lezat untuk menantu tersayangku." Dia pergi dan meninggalkan kepala pengawal yang masih menatapnya dari kejauhan.
Nyonya Alexander sedang memberikan surat kepada pelayan wanita secara sembunyi-sembunyi. "Bawa ini, dan suruh dia lakukan seperti yang tertulis di kertas ini, separuhnya akan aku berikan kalau pekerjaan mereka telah selesai"
"Baik Nyonya."
Senyuman tersungging di bibir tuanya.
kali ini keluarga Alexander bisa terselamatkan berkatku, mereka harusnya berterima kasih atas kerja kerasku, aku akan mencabut semua rumput liar yang mencoba masuk di keluargaku.
***
Pelayan itu memakai tudung berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Malam itu dia mendatangi lorong kecil yang gelap, sebuah gubuk yang di jaga oleh pria bertubuh tinggi besar. Setelah dia sampai, pelayan itu menyerahkan surat yang di tulis oleh Nyonyanya.
"Lakukan seperti yang tertulis di dalam surat, ini bayaran kalian. Setengahnya akan Nyonya berikan jika tugas kalian telah selesai."
"Oke, kami mengerti, Nona."
Pelayan itu berjalan melintasi lorong kecil bermaksud untuk kembali ke kastil, ketika suasana semakin sunyi. Seseorang menarik tangannya dan membekap mulutnya dan membawanya ke suatu tempat.
"Jangan banyak bergerak, jika kau masih ingin hidup. Lakukan seperti yang kami suruhkan, kau mengerti."
"B-baik." Ucap pelayan itu ketakutan. Dia di bawa ke tempat berkumpulnya kapal-kapal besar dan juga ada kapal perompak. Seorang pria tua memandangnya dengan wajah murka.
"Katakan, apa yang di rencanakan oleh Keluarga Alexander."
****
Bulan bersinar kembali menerangi desa Leaf, saat itu, setelah mereka makan malam, keduanya tengah duduk di teras rumah sambil berpelukan menikmati indahnya bulan dan bintang yang bertaburan.
"Aku suka kau yang bersamaku setiap waktu Edmund. Dan saat santai kita bisa bersama seperti ini." Ucap Leona menenggelamkan kepalanya di dada Edmund dalam-dalam.
"Aku juga sangat menyukainya, menghabiskan waktu bersamamu seperti ini membuatku melupakan waktu, bahkan waktu terasa sangat cepat berjalan." Jawabnya.
"Hmm ya, suatu hari jika kita kembali ke Cambridge kau akan sibuk kembali, bukannya aku melarangmu untuk mengerjakan tugas-tugasmu, aku pun senang kau menghabiskan waktu bersama teman-temanmu, tetapi aku ingin kau menyediakan waktumu untukku, dan tidak memikirkan tentang pekerjaan."
"Tentu sayang, jika aku melakukannya lagi kau bisa menarikku dan membawaku menjauh dari semua pekerjaan itu. Tetapi hal itu tidak akan terjadi lagi. Waktu itu mereka bersandiwara, membuatku menyetujui pernikahan konyol dengan wanita itu."
__ADS_1
"Hmm aku tahu, karena aku ada di sana melihat kalian semua." Ucap Leona merajuk.
"Benarkah? Maafkan aku, hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji." Ucap Edmund. Malam itu mereka menikmati kebersamaan mereka dan saling bercanda, tanpa mengetahui ada sekelompok pembunuh yang sedang menuju ke desa Leaf untuk melenyapkan Leona.