Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 29


__ADS_3

Malam itu begitu dingin hingga dinginnya menusuk ke tulang, Laura menatap Sean dan tidak tega membiarkan Sean tidur di sofa, dengan sekuat tenaga Laura membawa Sean ke tempat tidur agar dia merasa nyaman dan tubuhnya tidak sakit ketika dia terbangun nanti, Laura akhirnya menguap menahan kantuknya, dia memeluk Sean sambil tertidur di sampingnya.


Udara begitu dingin malam itu sayup-sayup terdengar rintik hujan, sepasang mata hitam yang tajam terpaku memandang wanita yang tertidur di sebelahnya, dia mengusap wajah nan cantik yang telah mengandung bayinya.


"Aku bukan pria yang baik Laura, aku adalah seorang perompak hidupku berada di lautan yang keras, aku...tidak bisa kehilangan semuanya, aku mencintaimu tapi...aku tidak rela kehilangan semuanya, aku pria yang bisa meninggalkan semuanya demi menggapai apa yang aku inginkan, dan keinginanku untuk membalas dendam sama sekali belum terwujud".


"Bencilah aku, kutuk aku Laura...Kau tahu aku bukanlah pria yang baik sejak awal kita bertemu. "Aku mencintaimu."


Sean mengecup bibir lembut Laura, ekspresi di wajahnya seakan-akan dia telah hancur.


"Maafkan aku."


Dengan wajah dingin dan kaku dia mengambil mantel panjangnya, mengambil seluruh yang berhubungan tentang dirinya, tidak satupun Sean meninggalkan kenangan dan jejak tentang dirinya pada Laura.


Sebelum membuka pintu kamar Sean lalu berbalik menatap Laura yang tengah tidur lelap dengan wajah cantiknya yang terpantul dari cermin.


"Mungkin yang akan kulakukan ini akan membuatku menyesal seumur hidupku Laura, selamat tinggal."


Ucap Sean, dia akhirnya pergi meninggalkan Laura dan kembali kelautan bersama awak-awak kapalnya menjelajahi tiap sisi lautan yang luas.


~


Pagi itu terasa begitu dingin, Laura membuka kedua matanya lalu tangannya menggapai-gapai di sebelahnya mencari Sean, dia melihat di sampingnya tempat tidur itu kosong dan begitu dingin.


"Sean? Ucapnya lirih.


Laura terduduk di atas tempat tidurnya lalu mengedarkan pandangannya di seluruh kamarnya.


"Kemana Sean pagi-pagi begini?" Ucap Laura lalu dia turun dari tempat tidur mencari keberadaan Sean.


Dia berjalan menuju kamar mandi tapi Sean juga tidak ada di sana. Dia melangkah menuju pintu kamar, mungkin saja Sean sedang ada di lantai bawah, tetapi sesuatu menghentikan langkahnya matanya menatap lemari yang terbuka dan segala sesuatu di atas meja sean kosong tidak ada sedikitpun barang-barang Sean yang ada di sana.


Hati Laura menjadi gelisah dia melangkah cepat menuju lemari pakaian dan membukanya lebar-lebar tidak ada apapun di sana bahkan sehelai baju Sean tidak ada di lemari itu.


Dia memandang mejanya dan membuka satu persatu laci meja Sean tidak ada satupun barang-barangnya.


Laura berlari menuju lantai bawah sambil berteriak-teriak.


"SEAN ?! SEAN !"


Laura berteriak sambil menangis membuka semua pintu rumahnya hanya angin dingin yang menerpa tubuhnya pagi itu.

__ADS_1


Laura berlari mengitari taman hingga menuju taman belakang tidak ada satupun petunjuk tentang keberadaan Sean.


Laura menangis terisak-isak, dia memegang dadanya sambil memukul-mukulnya.


"SEAN !" Teriak Laura.


"Kau meninggalkanku dan anakmu, kau kemana Sean !" Teriaknya. Air matanya tidak berhenti mengalir, dunianya terasa goyah, mengapa Sean begitu tega meninggalkannya? Apa kesalahan Laura padanya?


Laura menangis dan tubuhnya jatuh dan tertidur di atas rerumputan yang dingin sambil terisak masih memanggil nama Sean.


Angin dingin menerpa tubuhnya, Laura mencoba bangkit dan berjalan sempoyongan menuju pintu rumah dan masuk ke dalam.


"Aku membencimu sean!"


"Kau meninggalkanku dan anakmu." Napas Laura memburu, dia begitu sedih marah seluruh perasaannya bercampur aduk, dia tengah hamil dan Sean tidak ada di sisinya.


Laura memakai mantelnya lalu segera menyusuri jalanan yang dingin di pagi itu, dia segera pergi dari rumah itu dia hendak menuju ke rumah Bertha, dia tidak tahan sendirian.


Suara ketukan membuat Bertha terkejut dia membuka pintu rumahnya lalu menatap Laura dengan wajah pucat dan air matanya tidak berhenti mengalir. Dia memeluk Bertha.


"Laura ada apa denganmu?"


Laura hanya menangis dan menggeleng sedih. "Aku pusing Bertha, bawa aku ke tempat tidur. Ucap Laura, merasakan mual dan sakit di kepalanya.


"Istirahatlah, aku akan segera membuatkan sup hangat Laura." Ucap Bertha bergegas ke dapur.


Laura memandang cahaya yang masuk lewat jendela kecil di sampingnya, air matanya kembali mengalir di pipi pucatnya.


"Jika kau pergi meninggalkanku, jangan pernah datang mencariku lagi." Ucap Laura.


~


Tuan Windsor sedang duduk sarapan dengan putranya, seorang pelayan datang padanya lalu membisikkan sesuatu kepadanya.


Kenan dan edmund yang duduk di sana hanya mengerlingnya lalu melanjutkan sarapannya.


"Ada apa? Mengapa pagi-pagi sekali kau datang?" Tanyanya kepada seorang pria yang berdiri di hadapannya.


"Tuan, nona Laura menghilang, kediaman tempatnya tinggal sudah kosong, aku sempat masuk Karena pintu yang dibiarkan terbuka begitu saja."


"Apa maksudmu menghilang? Cari ! Dimana keberadaannya." Bentaknya.

__ADS_1


"Siapa yang memiliki tempat itu?"


"Saya menyelidikinya tuan, dan pria itu seorang perompak, Sepertinya nona Laura memiliki hubungan dengan pria itu."


"Benarkah? Seorang perompak?"


"Temukan dia segera."


"Baik tuan!" Dia menunduk dan segera keluar dari ruangannya.


~


Sudah dua minggu Laura berada di tempat bertha, dia sama sekali tidak keluar dari rumahnya selain karena dia sering pusing, dia takut jika bertemu dengan Edmund dan akan menyakitinya lagi.


Laura sedang sendirian di rumah Bertha, dia sedang merajut sweater kecil untuk bayinya kelak, suara ketukan di pintu membuat Laura mengalihkan perhatiannya. Dia berdiri dan mengintip dari sudut jendela, Edmund sedang berdiri di sana menatap pohon tua yang berdiri kokoh dan sekali lagi ketukan terdengar dari pintu itu.


"Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" Bertha telah kembali dari pasar, dengan beberapa belanjaan yang di bawanya.


"Di mana Laura?" Tanya edmund.


"Laura? Dia sudah pergi tuan seminggu yang lalu, katanya dia ingin mengunjungi kerabatnya di kota sebelah tuan." Ucap Bertha dengan suara mantap tanpa mengalihkan pandangannya.


"Benarkah?" Ucap edmund dengan suara ragu.


"Seorang kerabat?" Ucapnya.


"Beritahu aku jika dia telah kembali."


"Baik tuan." Ucap Bertha. Edmund dengan mudah mempercayai Bertha dengan Acting hebatnya.


Dia membuka pintu dan segera menguncinya, Laura sedang jongkok di sudut dapur dan mengintip kembali ke jendela.


"Dia sudah pergi?" Tanyanya.


"Ya, pria itu sudah pergi."


Laura menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, dia menghembuskan napasnya.


"Bertha aku harus pergi dari kota ini, aku tidak bisa hidup dalam ketakutan seperti ini."


"Kemana kau ingin pergi laura?" Tanyanya khawatir.

__ADS_1


"Aku...ingin kembali ke desaku, di tempat kelahiranku desa pirita di Estonia, aku akan membesarkan anakku di sana."


__ADS_2